ログイン“Ma... Marielle...? Akhirnya aku bisa kembali bertemu denganmu.” Sebelum Marielle sempat merespons sapaan penuh ketidakpercayaan itu, Grand Duke Aldric melangkah lebih maju. Menyadari atmosfer emosional yang mulai menyelubungi udara di antara mantan suami-istri tersebut, Aldric sengaja menarik perhatian dengan suara baritonnya yang berat, memecah ketegangan yang menyesakkan dada. “Cukup pertunjukan emosional di tengah badai ini, Yang Mulia,” sapa Aldric dingin, sebelah tangannya masih enggan lepas dari pinggang Marielle. Matanya menyapu barisan karavan kerajaan di belakang sang Raja sebelum kembali menatap tajam manik hitam Cassian. “Tapi, ada satu hal ganjil yang menarik perhatian saya sejak tadi. Dimana Ratu Elira?” Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Cassian berubah mengeras. Bayangan wajah Elira yang pucat saat pingsan kemarin pagi kembali melintas di benaknya. Ia menatap sepupunya dengan tatapan penuh kemenangan kecil yang dingin. “Ratu tidak ikut,” jawab Cassian teg
“Jaga dirimu dan calon anak kita baik-baik, Elira,” bisik Raja Cassian lembut, jemarinya mengusap pipi sang Ratu sebelum mengecup keningnya penuh kehangatan di ambang pintu istana. Ratu Elira mengangguk lemah, melepaskan genggaman tangan suaminya dengan berat hati. “Hati-hati di jalan, Yang Mulia. Badai musim dingin di barat sangat berbahaya.” Cassian menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan sebelum berbalik dan menuruni undakan tangga istana, di mana kereta kuda berpelindung baja telah menunggunya. Perjalanan dari ibu kota menuju Valerante bukanlah jarak yang pendek. Menembus jalanan bergunung-gunung dan hutan pinus yang tertutup salju tebal membutuhkan waktu penuh satu hari satu malam nonstop, dengan pergantian kuda di setiap pos penjagaan terluar. “Yang Mulia, apakah Anda ingin menginap di salah satu desa saat malam tiba?” tanya Rowan saat kereta kuda mulai berjalan keluar istana. “Tidak usah. Aku ingin segera sampai di Valerante. Aku ingin sekali bertemu secepat
“Apakah kereta kuda kerajaan sudah siap untuk keberangkatan ke Valtore, Rowan?” tanya Raja Cassian dengan suara rendah yang dingin, manik matanya menatap tajam ke arah peta wilayah utara yang terbentang di atas meja kerjanya.Count Rowan, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan sang Raja, segera merunduk hormat dengan gestur yang terlatih sempurna. Ia merapikan gulungan dokumen di tangannya sebelum menjawab dengan nada terukur, memastikan tidak ada satupun detail kecil yang terlewat dari pengawasan ketat sang penguasa.“Semua armada pengawal khusus, perbekalan logistik tahan dingin, serta dokumen peninjauan proyek Valerante sudah disiapkan sejak subuh, Yang Mulia,” lapor Rowan tangkas. “Kuda-kuda terbaik dari kandang kerajaan juga telah dipasangi pelindung es khusus. Kita bisa berangkat kapan pun Anda memberikan perintah.”Cassian mengangguk tipis, raut wajahnya menyiratkan ketegasan mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Perjalanan menuju Balerante di tengah punca
“Aku mohon, jangan menangis. Hatiku sesak saat melihatmu seperti ini,” bisik Aldric lirih.Tangannya kembali merengkuh tubuh Marielle kembali dalam pelukannya. Ia menghirup aroma Lavender yang selalu ia bisa hirup setiap kali dekat dengan wanita itu.Untuk sesaat, Aldric hanya diam mengelus punggung Marielle pelan naik turun. Perlahan, dirinya juga mengeratkan pelukannya. Gestur yang sangat tidak biasa ia tunjukkan pada Marielle selama ini.“Terima kasih, Grand Duke sudah mendengarkan keinginan saya,” ucap Marielle parau.“Sshhh… tidak apa-apa… memang aku yang salah.”Di hadapan Aldric, Marielle menunduk dalam-dalam, mengeluarkan isakan tertahan yang terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Bahunya bergetar hebat, menciptakan ilusi keputusasaan yang sangat sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.“Marielle, apa kau masih menangis?” “Mmm…”Aldric menghela nafas berat. Ia tidak menyangka akan bersikap lembut seperti ini. Rencana yang awalnya agar pergerakan Marielle bisa ia kendalik
“Marielle... apa kau menangis?” bisik Aldric lirih, nada suaranya kehilangan seluruh kedinginan dan otoritas mutlak yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang Grand Duke yang agung.Sentuhan tangan Aldric di bahunya terasa begitu nyata, namun alih-alih menepisnya seperti biasa, Marielle justru merosot pelan ke lantai kamarnya. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sejak pagi runtuh seketika. Di hadapan pria yang telah merenggut satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Isakannya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.Aldric terpaku di tempatnya. Pria yang terbiasa bersikap sombong, dingin, dan memperlakukan dunia sesuka hatinya itu mendadak merasa seolah ada cengkraman tak kasat mata yang meremas dadanya hingga sesak. Melihat air mata mengalir deras di pipi Marielle, membuat rasa bersalah yang asing menusuk tajam relung hatinya, menghadirkan rasa sakit yang jauh lebih menyiksa ke
“Tidak mungkin menghancurkan tempat tinggal seorang wanita yang kau sukai?” ucap Marielle mengulang kalimat pria itu dengan nada suara yang bergetar hebat akibat perpaduan antara amarah dan rasa tidak percaya.Tangan Aldric yang tadi sempat menyentuh helaian rambutnya ditepis dengan kasar. Marielle mundur dua langkah, menjaga jarak dari sosok penguasa Valerante yang menatapnya dengan senyuman tipis penuh kepemilikan. Manik peraknya menyalang tajam, memantulkan bara emosi yang siap meledak kapan saja.“Bentuk kasih sayang macam apa yang menghancurkan satu-satunya tempat pulang seseorang, Grand Duke?” seru Marielle sinis, tawanya terdengar hampa dan dingin. “Jika ini cara Anda menunjukkan ketertarikan, maka cara Anda tidak ada bedanya dengan seorang tiran haus darah!”Aldric tidak marah mendengar ejekan itu. Sebaliknya, sebelah alisnya terangkat perlahan. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya, menikmati bagaimana wanita di hadapannya meradang dalam sangkar yang i
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk







