Masuk“Siapa kau sebenarnya, Celina?”
Debaran jantung Celina semakin tak bisa dikendalikan. Nyeri di dadanya ikut berdenyut menusuk. “K-kau … tahu, namaku?” David tersenyum tipis, “orang-orang yang mengejarmu berteriak lantang sekali. Aku hanya menebak.” Bohongnya halus. David masih menatapnya, menunggu jawaban Celina yang terlihat pucat. Gadis itu memaksakan senyum, tatapannya turun pada sepasang bibir tipis David. Ia menelan ludah, dan berpaling ke arah lain. “Baiklah, aku mengerti jika kau masih tidak ingin bicara apa pun tentang siapa dan kenapa dirimu sampai seperti ini.” David menarik tubuhnya ke belakang, sedikit menjauh tapi tak melepaskan tatapan tajamnya. “Kau aman disini, tapi aku tetap berharap sedikit penjelasan darimu.” Celina mengepalkan tangan dibalik selimut. Kecemasan melanda dan saat ini, sungguh ia begitu takut dan tak mempercayai lelaki tampan yang berdiri di hadapannya. Melihat tak ada respon berarti selain tatapan curiga dan kecemasan, David akhirnya memutar tubuh dan melangkah pergi. Tapi sebelum ia keluar kamar, suara Celina menghentikannya. “Tunggu, boleh aku tahu siapa namamu?” David menoleh sedikit. “David. Sir Arthur David Lawrence Knight.” “Namaku Celina … Celina Louise Valemont.” Dengkusan halus terdengar Celina, David seolah tengah mengujinya. “Terimakasih … atas pertolonganmu, aku berhutang nyawa padamu … Tuan.” David berbalik, “dan aku harap kau bisa membayarnya dengan baik tanpa kurang sedikitpun … Nona Valemont.” Celina terpaku di tempatnya, menatap ketidakberdayaan dirinya saat ini. Dikhianati tunangan dan sahabatnya sendiri adalah hal paling menyakitkan yang tak pernah terbayangkan. “Jason … Natasya, aku bersumpah akan membalas semua ini.” Ucapnya geram dengan suara gemetar menahan tangis. Seorang pelayan wanita masuk sambil mendorong troli kecil berisi sup hangat dan obat. Usianya sekitar tiga puluhan, raut wajahnya terlihat ramah tapi tetap tenang—tipe orang yang terbiasa melayani tanpa banyak bertanya. “Syukurlah kau sudah siuman sepenuhnya, Nona?” tanyanya pelan tak meninggalkan senyum. Celina mengangguk kecil. “Ya … terima kasih.” Pelayan itu menata mangkuk di meja samping ranjang. “Tuan David memerintahkan agar kau beristirahat penuh hari ini. Tidak boleh banyak bergerak.” “Tuan David …” Celina mengulang lirih, tapi ragu melanjutkan. Pelayan itu kembali tersenyum tipis. “Beliau jarang membawa tamu ke rumah ini. Terlebih seorang wanita.” Celina sedikit terkejut. “Kau sudah lama bekerja di sini?” “Hampir tujuh tahun.” “Berarti … kau mengenalnya dengan baik.” Pelayan itu berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Cukup baik.” Celina menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. “Namanya panjang sekali,” ucapnya seolah sambil lalu. “Sir Arthur David Lawrence Knight … sedikit aneh, apa dia keturunan bangsawan?” Pelayan itu tampak ragu sesaat, lalu menjawab, “Keluarga Knight memang termasuk keluarga lama dan sangat berpengaruh.” “Benarkah? Seberapa besar pengaruhnya?” Celina menoleh cepat. “Cukup berpengaruh untuk selalu diundang ke Buckingham dan Holyroodhouse. Keluarga Knight cukup berpengaruh dalam bisnis dan politik.” Jawab pelayan itu hati-hati. “Nama Knight sangat dikenal luas.” Jantung Celina berdegup sedikit lebih cepat. “Yeah, aku mengenal satu diantaranya dan aku kurang yakin jika dia bagian dari Knight family.” Ucapan Celina membuat pelayan itu terdiam dan menatapnya bingung. “Itu sangat tidak mungkin, Nona.” Celina menyendokkan sup-nya sedikit dan kembali bertanya. “Apakah … Tuan David punya anak?” tanyanya penuh selidik. Pelayan itu mengangkat alis tipis. “Tentu. Seorang putra tapi …,” ia menoleh ke arah pintu, takut jika ada orang lain yang mendengar. “Aku yakin, itu hanya anak angkat atau mungkin anak asuh Tuan Besar saja.” Celina menahan napas. “Apa maksudnya?” Deheman keras terdengar dari luar dan pelayan wanita itu buru-buru membereskan tugasnya. “Anda bisa meletakkan disini jika sudah selesai, Nona.” katanya seraya bergegas. “Eh, tapi ini ..,” Pelayan wanita itu bahkan tidak menoleh padanya. Celina dibuat semakin penasaran. “Jason juga memiliki nama keluarga Knight. Tapi … ah, tidak. Memiliki nama keluarga yang sama belum tentu memiliki hubungan. Hanya saja, aku sedikit merasa aneh.” gumamnya sendiri seraya mengaduk-aduk kuah sup. Aroma wangi butter dari sup tak bisa mengalihkan pikiran Celina. Kepalanya berdenyut kencang, luka di dadanya kembali nyeri. Ia segera meminum obat pereda nyeri yang sudah disiapkan. “Jason Knight … David Knight.” Celina memijat ringan pelipisnya. “Aku rasa …mereka memang tidak ada hubungannya. Ini hanya kebetulan saja.” Celina memejamkan mata, menenggelamkan diri dalam selimut. Pereda nyerinya bekerja cepat dan memberi efek kantuk yang luar biasa. Sementara itu di ruangan khusus, David terus memantau kondisi Celina. Ia mendengar seluruh percakapan Celina dan pelayannya. Setelah beberapa lama terdiam dan hanya menatap layar monitor, David bersuara. “Bereskan semua foto dan hal yang terkait dengan Jason dari mansion ini. Jangan ada yang tertinggal satupun.” “Tuan?” Steve tak mengerti maksud David. “apa perintahku kurang jelas?!” “Ehm, tidak Tuan. Tapi kenapa?” Tanya Steve memastikan. “Waktunya mengurus hal yang seharusnya aku lakukan sejak lama, Steve. Dan gadis itu memberiku kesempatan emas.” Steve berpikir sejenak tapi kemudian matanya membulat sempurna. “Saya mengerti, Tuan.” David tersenyum licik, “Ingat tidak boleh ada yang menyebut nama Jason, terutama … di depan Celina!”Mendengar suara yang memanggil namanya, anak kecil itu langsung menoleh cerah. Ia menyambar mobil-mobilan dari tangan David dan bergegas pergi. “Thanks, Uncle.”Jantung David seolah berhenti seketika. Senyum itu mengingatkannya pada Daniel. “Anak itu …,”David segera mengikuti langkah kecil anak itu, tak peduli dengan teriakan Steve dan stafnya untuk kembali. Ia terus mengikuti hingga akhirnya, langkah David berhenti.David membeku di tempat saat melihat mereka berjalan pergi menuju area taman belakang hotel. Degup jantungnya semakin keras.“Dominic … apa yang dia lakukan disini?”Naluri yang selama tiga tahun tak pernah mati kini seperti menjerit di dalam kepalanya. Hatinya terasa sangat tidak tenang.Lalu David melihatnya.Seorang wanita berdiri membelakanginya di dekat air mancur kecil. Rambut coklat yang lembut dan postur tubuh wanita itu, mengingatkannya pada Celina.“Mommy!” Anak kecil tadi menghampirinya dengan riang. Wanita itu berbalik perlahan lalu tersenyum lebar menyamb
Dua anak kembar Celina sudah tertidur setelah kelelahan bermain seharian. Dominic membanjiri mereka dengan hadiah, bermain dengan anjing peliharaan, dan tentu saja berlomba adu cepat remote control di arena yang sengaja dibuat khusus Dom.Rumah besar itu akhirnya sunyi, hanya suara kayu perapian yang terbakar pelan memenuhi ruangan.Celina berdiri di dekat jendela sambil memandangi salju yang jatuh. Sementara Dominic duduk tenang di sofa belakangnya, membaca data pada tablet tipis di tangannya.“David semakin buruk.”Kalimat itu membuat Celina menarik nafas dalam. Ada kerinduan bercampur ketakutan di dalamnya.“Selama tiga tahun terakhir dia nyaris menghancurkan dirinya sendiri.” lanjut Dominic masih dengan nada datar.Celina menunduk. Sebenarnya, ia tidak terlalu terkejut dan sudah menduganya.“Dia masih mencarimu.” Dominic mengangkat tatapan.Napas Celina terasa sesak.“Ia tetap menjalankan Heatrix dan Knight seperti biasa, tapi hidupnya berantakan.” Dominic berhenti sejenak. “Alkoh
Langit malam masih dipenuhi bau asap dan besi terbakar ketika David akhirnya siuman. Kepalanya terbalut perban tipis. Ia berjalan mendekat didampingi Steve. Api belum sepenuhnya padam. Lampu kendaraan darurat memenuhi area dengan kilatan merah dan biru yang menyakitkan mata. Potongan beton hangus berserakan di mana-mana, sementara sisa ledakan kedua membuat sebagian bangunan benar-benar runtuh ke bawah dermaga. David berjalan menembus garis pembatas tanpa memperdulikan teriakan petugas. “Tuan! Area ini berbahaya—” seorang petugas kepolisian menghalanginya. David mendorong lelaki itu begitu saja. Matanya liar mencari ke segala arah. “CELINA!” teriaknya lantang. Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara api kecil yang masih menyala di antara puing. Nafas David mulai memburu. Tangannya gemetar saat memindahkan bongkahan beton dengan tangan kosong meski telapak tangannya terluka dan berdarah. “Daniel!” serunya lagi dengan suara gemetar. Tetap tidak ada jawaban. Steve
EPILOG Hujan turun dengan deras, celina menyelinap keluar kamar dengan berhati-hati. Tiba di bagian belakang rumah, pria bermantel gelap mendekatinya.“Kau yakin akan melakukannya? Jika kau melakukannya … maka tidak ada jalan kembali lagi bagimu.” Dominic berkata sekali lagi memastikan keputusan Celina.Celina terdiam sesaat lalu tersenyum. “Ya, demi kebaikan semuanya.”Dom mengusap kasar wajahnya dari air hujan. “Aku tidak suka ini, Celina. Kau membahayakan nyawamu sendiri.”“Aku tahu.”“Kau tidak ingin anak itu?” Tanya Dominic bingung.“Justru karena aku menginginkannya. Dan aku ingin dia hidup tenang bersamaku.”Dominic menghembuskan nafas frustasi. “Ini ide gila, Celina. Sangat gila.”“Hanya kau yang bisa membantuku, Dom.”Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya Dominic setuju. “Baiklah.”Ia mengeluarkan kotak kecil berisi suntikan serum berwarna biru metalik. “Tapi dengan syarat, kau harus mengikuti rencanaku.”Dominic menarik tangan Celina.“Apa yang kau lakukan, Dom?”
“Mereka membawa Celina ke sana!”Tatapan David dan Daniel langsung berubah tajam bersamaan. Tanpa ingin membuang waktu, mereka berlari maju bersama menembus hujan dan peluru. Sesekali, Dominic melindungi keduanya dengan kemampuan menembak jitu dan sabetan katana yang presisi.Pintu gudang tua itu dibanting terbuka. David dan Daniel langsung masuk dengan nafas memburu, dengan pistol terangkat tinggi. Tapi langkah mereka mendadak terhenti.“Selamat datang Tuan-tuan Knight.” Irene menyapa dengan tawa kecil. Tatapan keduanya jatuh pada Celina yang terduduk lemah di lantai dingin. Kedua tangannya terikat di belakang kursi besi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi, dan nafasnya pun kacau. Tapi yang paling membuat jantung kedua bersaudara itu berdebar kencang adalah … cairan kemerahan yang merembes diantara dua kaki Celina.“Celina …,” David memanggilnya dengan suara bergetar. Celina menatap lemah ke arahnya.“Aku baik-baik saja.” Sahutnya pelan setengah sadar.Dominic mengepalkan ta
“Turunkan senjatamu, David.” Dominic mendekat perlahan, tangannya menekan turun tangan David.Irene mundur perlahan sambil menyeret tubuh Celina yang lemah. Tangannya mencengkeram bahu Celina erat, sementara pistol itu masih menempel di pelipisnya.Rafael Ortega melindunginya hingga mereka berhasil melarikan diri.“Kau tidak akan lolos dari kejaran mereka.” Kata Celina.Irene berdecak sinis, mendorong kasar tubuh Celina agar berjalan cepat. “Kalau begitu, kejar aku sampai neraka.”Rafael berusaha menahan diri. Situasi mereka belum aman dan ketika memasuki salah satu gudang tua, ia mencengkeram lengan Irene kasar. “Hentikan kegilaanmu!” desisnya tajam.Celina nyaris terseret jatuh. Tapi Irene bahkan tidak peduli. Ia terus berjalan,menatap lurus ke depan.“IRENE?!” Rafael menghentikan langkah wanita itu, menariknya kasar.“Kenapa … kau menyesal?” Tatapannya tajam.“Hentikan apa yang ada dalam pikiranmu. Kita harus pergi sekarang.” Rafael menatapnya tajam.Irene diam sejenak lalu menjaw







