LOGIN“Mereka membawa Celina ke sana!”Tatapan David dan Daniel langsung berubah tajam bersamaan. Tanpa ingin membuang waktu, mereka berlari maju bersama menembus hujan dan peluru. Sesekali, Dominic melindungi keduanya dengan kemampuan menembak jitu dan sabetan katana yang presisi.Pintu gudang tua itu dibanting terbuka. David dan Daniel langsung masuk dengan nafas memburu, dengan pistol terangkat tinggi. Tapi langkah mereka mendadak terhenti.“Selamat datang Tuan-tuan Knight.” Irene menyapa dengan tawa kecil. Tatapan keduanya jatuh pada Celina yang terduduk lemah di lantai dingin. Kedua tangannya terikat di belakang kursi besi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi, dan nafasnya pun kacau. Tapi yang paling membuat jantung kedua bersaudara itu berdebar kencang adalah … cairan kemerahan yang merembes diantara dua kaki Celina.“Celina …,” David memanggilnya dengan suara bergetar. Celina menatap lemah ke arahnya.“Aku baik-baik saja.” Sahutnya pelan setengah sadar.Dominic mengepalkan ta
“Turunkan senjatamu, David.” Dominic mendekat perlahan, tangannya menekan turun tangan David.Irene mundur perlahan sambil menyeret tubuh Celina yang lemah. Tangannya mencengkeram bahu Celina erat, sementara pistol itu masih menempel di pelipisnya.Rafael Ortega melindunginya hingga mereka berhasil melarikan diri.“Kau tidak akan lolos dari kejaran mereka.” Kata Celina.Irene berdecak sinis, mendorong kasar tubuh Celina agar berjalan cepat. “Kalau begitu, kejar aku sampai neraka.”Rafael berusaha menahan diri. Situasi mereka belum aman dan ketika memasuki salah satu gudang tua, ia mencengkeram lengan Irene kasar. “Hentikan kegilaanmu!” desisnya tajam.Celina nyaris terseret jatuh. Tapi Irene bahkan tidak peduli. Ia terus berjalan,menatap lurus ke depan.“IRENE?!” Rafael menghentikan langkah wanita itu, menariknya kasar.“Kenapa … kau menyesal?” Tatapannya tajam.“Hentikan apa yang ada dalam pikiranmu. Kita harus pergi sekarang.” Rafael menatapnya tajam.Irene diam sejenak lalu menjaw
Mesin mobil meraung kasar membelah jalanan.David duduk di kursi depan dengan rahang mengeras. Tangannya terkepal begitu kuat hingga urat di punggung tangannya menonjol jelas. Bayangan wajah Celina terus menghantam pikirannya tanpa ampun.Dan lebih buruknya lagi Daniel ada di sana bersama Irene.Dominic melirik sekilas ke arahnya. “Kau harus tenang saat sampai nanti.”“Aku tidak butuh nasehat.” desis David dingin.“Tapi kau butuh akal sehat.” balas Dominic tegas. “Kalau Irene benar-benar kehilangan kendali, satu kesalahan kecil bisa membahayakan mereka semua.”David terdiam. Nafasnya terasa sesak. Setiap detik yang terlewat terasa seperti menghancurkan kewarasannya sendiri.Celina adalah istri sahnya yang tengah hamil sementara Daniel adalah adik kandungnya. Cinta segitiga diantara mereka membuat situasi semakin rumit.Sementara di tempat lain, tepatnya rumah tua di tepi pelabuhan milik keluarga Vescari. Irene terlihat berdiri di balkon, menatap laut lepas yang begitu luas.Hatinya sa
David tak menunggu mobil berhenti sempurna. Ia melompat turun dan bergegas menerobos pintu yang nyaris tak berbentuk lagi.“Cari mereka, dan temukan yang hidup.” Ucapnya dingin sambil memperhatikan sekitar.Anak buahnya segera menyebar mencari saksi hidup yang masih bisa didapat. David berjalan menyusuri tangga, rumah mewah itu benar-benar kacau. Jendela kaca besar di lantai bawah nyaris hancur seluruhnya, darah dimana-mana, mayat-mayat terbujur kaku di sembarang tempat, lubang-lubang peluru menghiasi dinding, menghancurkan koleksi keramik mahal dan lukisan antik yang dikoleksi Daniel.David menghela nafas panjang, ia memaki dirinya sendiri yang selalu terlambat. “Andai aku tidak terpancing untuk memeriksa orang-orang bodoh itu …,” gumamnya pelan.David memeriksa satu persatu kamar, berharap menemukan petunjuk tapi tak ada yang tersisa. “Tuan,” Ketua tim keamanannya berbisik, mata David terbelalak.David bergegas turun dan menuju ruangan yang dimaksud. Jantungnya berdebar kencang s
Pintu kamar terbuka keras.Cornell masuk dengan nafas sedikit memburu sambil membawa tas medis hitam di tangannya. Gavin muncul tepat di belakangnya dengan wajah tegang.“Apa yang terjadi?” tanya Cornell cepat.Daniel langsung menepi memberi jalan. “Dia tiba-tiba kesakitan.”Cornell segera berjongkok di depan Celina yang masih duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya. Wajah Celina pucat, nafasnya pendek-pendek.“Celina, dengar aku.” Suara Cornell jauh lebih lembut. “Rasa sakitnya seperti ditarik atau menusuk?”Celina menggeleng lemah. “Kram ... dan sesak.”Cornell mengangguk pelan lalu mulai memeriksa denyut nadinya. Daniel berdiri tak jauh dari sana, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari Celina sedetik pun.Ruangan itu terasa begitu sunyi sampai suara nafas mereka terdengar jelas.Cornell akhirnya menghembuskan napas pelan. “Untuk sementara tidak ada pendarahan. Itu kabar baik.”Daniel langsung bertanya cepat. “Sementara?”“Dia stres dan terlalu tegang.” Cornell berdiri per
Daniel beberapa kali menatap ke jendela. Celina masih dalam pelukan hangatnya di dalam selimut lembut. Setelah ciuman dalam dan menuntut itu Daniel membawa Celina ke kamar untuk beristirahat.Meski Daniel benci harus melewatkan kesempatan bercinta dengan Celina tapi ia berusaha menahan diri— menepati janjinya.Celina sudah memejamkan mata beberapa menit lalu tapi Daniel tetap terjaga. Intuisinya mengatakan sesuatu bakal terjadi dalam waktu dekat. Itu membuatnya gelisah.Suasana diluar terlalu sunyi … terlalu tenang. Membuat Daniel semakin waspada.“Ada apa?” Celina rupanya merasakan kegelisahan Daniel.Daniel tersenyum tipis. “Tidak, tidurlah.” Jawabnya singkat.Tapi Celina tak mau percaya begitu saja, ia menatap Daniel yang kembali menatap keluar jendela.“Kau berbohong padaku.”Daniel menurunkan pandangannya, menatap mata indah Celina yang begitu jernih. Ia tak menjawab, memilih mencium lembut kening Celina.“Semua baik-baik saja,”Tapi senyuman dan ketenangan itu hanya sementara. S
Cahaya pagi merayap masuk melalui celah tirai, dan jatuh lembut di seprai yang sedikit kusut. Celina membuka mata perlahan. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat di mana ia berada dan apa yang terjadi.Ia menarik nafas pelan. Semalam, Celina dan David hanya mengobrol ringan sampai akhirnya D
Jason berdiri di ruang keluarga dengan tangan mengepal kuat. Ia yakin sekali ayah dan istri barunya ada ditempat itu. Pikiran Jason terus tertuju pada Celina. Jason menatap foto keluarga yang tertempel di dinding batu di atas perapian. David, dan Jason kecil mengapit seorang lelaki tua penuh wibaw
Celina berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Wajahnya sudah tak sepucat sebelumnya, meski lingkar samar di bawah matanya masih terlihat. “Lihatlah betapa kacaunya diriku.” Ucapnya pelan, menyisir rambutnya pelan.“Anda masih terlihat cantik, Nona.” Pelayan wanita yang selama
Langkah Natasya menghentak lantai marmer Global Resources Tower. Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika ia sudah lebih dulu melangkah keluar. Tak ada yang berani menyapa. Mereka memilih menghindar atau menundukkan kepala saat wakil presiden Global Resources itu bermuka masam. Natasya menahan







