MasukDi ruang kerja CEO yang hening, Alin duduk bersila di atas sofa kulit. Jemari lentiknya sibuk membalik-balik berkas ringkasan akuntansi yang dibawakan Anton. Keningnya berkerut fokus, bibirnya sesekali bergumam kecil menghafal istilah-istilah laporan keuangan.Rizan duduk di balik meja kerjanya. Matanya berpura-pura menatap layar laptop, tetapi konsentrasinya buyar total. Tatapan pria itu berulang kali mencuri pandang ke arah sofa.Dalam hatinya, Rizan masih tidak menyangka. Gadis delapan belas tahun yang awalnya ia duga hanya akan menjadi beban di tengah intrik Atmajaya, ternyata memiliki otak yang sangat encer. Binar matanya yang jujur dan keberaniannya saat membungkam Felix tadi terus berputar di pikiran Rizan. Ada rasa bangga yang aneh, yang makin sulit Rizan sangkal.Rizan menekan tombol intercom di mejanya, memanggil sekretaris kepercayaannya. Tak sampai satu menit, pintu diketuk pelan dan Anton melangkah masuk."Anton," panggil Rizan setengah berbisik saat Anton sudah berdi
Ruangan mendadak hening.Senyum meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Felix mendadak luntur. Pupil matanya membesar, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka gadis delapan belas tahun yang dikira "orang desa tidak mengerti apa-apa" ini bisa menemukan selisih angka sekecil itu hanya dalam sekali pandang."A-apa?" Felix tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Ibu Alin pasti salah lihat. Itu cuma penyesuaian kurs mata uang asing antara euro dan rupiah—""Kurs mata uang asing?" potong Alin tenang, namun suaranya tegas. Ia menggeser lembaran verifikasi bank ke depan Felix. "Di sini jelas tertulis transaksinya dalam mata uang dolar Amerika, Pak Felix. Selisihnya hampir dua miliar rupiah. Apakah penyesuaian regulasi di Jerman sebiaya itu?"Felix membisu. Peluh dingin mulai terbit di pelipisnya.Rizan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kini menegakkan tubuh. Sorot mata hitamnya menajam, memancarkan aura dingin beracun yang sanggup
Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin yang senyap, Rizan duduk tegap sambil membaca laporan di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang makin mempertegas auranya sebagai pemimpin tertinggi PT Maple Syrup Atmajaya.Di sampingnya, Alin duduk dengan gaun formal berwarna krem pastel yang sederhana namun anggun. Ia sesekali melirik profil samping wajah Rizan. Pria itu tampak sangat fokus, seolah kejadian semalam di depan kamar tidak pernah terjadi."Masih mau menatap saya seperti itu?" suara Rizan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.Alin tersenyum tipis, tidak merasa tertangkap basah. "Muka Mas Rizan hari ini datar sekali. Masih kepikiran omongan aku semalam ya?"Rizan akhirnya mematikan layar tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap Alin dengan mata hitamnya yang tajam."Alin, kita sedang menuju kantor," ucap Rizan dengan nada rendah dan penuh penekanan. "Simpan godaan konyolmu itu untuk di rum
"Bagus. Karena mulai esok... kamu harus berdiri di sampingku sebagai istri seorang Rizan Atmajaya."Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan absolut. Alin memberikan anggukan kaku, sebuah penghormatan formal yang ia pelajari dalam beberapa hari terakhir. Ia melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak, meniru langkah tegas Rizan yang tidak pernah ragu.Koridor mansion Atmajaya terasa seperti lorong penjara bagi Alin. Dinding marmer yang dingin, lukisan-lukisan keluarga yang angkuh, dan kesunyian yang menekan. semuanya menuntut satu hal, kesempurnaan.Alin mengeratkan genggaman tangannya. Kuku-kukunya memutih. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar—klik—topeng itu retak.Bruk.Alin tidak mampu lagi menahan beban itu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai, tersungkur di atas karpet beludru yang tebal. Napasnya memburu, paru-parunya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.Isakan tertahan keluar dari bibirnya, pecah menjadi suara tangis yan
Asap tipis dari cangkir espresso hitam milik Rizan membubung pelan di ruang kerja utama mansion Atmajaya. Ruangan bernuansa kayu mahoni gelap dan kaca tebal itu terasa dingin, sepadan dengan aura pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Rizan menatap dokumen di tangan dengan sorot mata sehitam jelaga. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas, hanya ada ketenangan yang justru sangat berbahaya. Di depannya, Anton berdiri tegap dengan sikap sempurna. Sementara Alin duduk di kursi kulit di hadapan Rizan, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Brak. Rizan melempar map cokelat itu ke tengah meja. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membuat Alin tersentak kaget. "Bisa jelaskan ini, Anton?" suara Rizan mengalun rendah, berat, dan tanpa ampun. "Delapan Belas tahun tahun lalu, kasus penculikan bayi di rumah sakit swasta kota. Pelakunya buronan," Anton melaporkan dengan nada presisi tanpa cela. "Rustam membeli bayi itu seharga beberapa ratus ribu dari sang p
Anton maju satu langkah, menyerahkan dua lembar kertas berstempel materai kepada Pak Rustam."Tanda tangani surat perjanjian ini," ujar Rizan tenang. "Isinya sederhana. Mulai hari ini, Anda tidak boleh menghubungi, menemui, memeras, atau menagih uang dalam bentuk apa pun kepada Alin. Jika Anda melanggar satu poin saja... uang lima belas juta itu berubah menjadi utang resmi Anda kepada perusahaan saya, dan saya akan menyerahkan kasus pemerasan ini ke pihak kepolisian.""A-apa?!" Pak Rustam melotot. "Ini namanya pemutusan hubungan keluarga! Dia anak kandung saya! Mana bisa Tuan melarang saya menemui anak saya sendiri?!"Rizan menaikkan sebelah alisnya. "Anak kandung?"Pertanyaan Rizan yang begitu pelan itu entah mengapa membuat Pak Rustam bungkam seketika. Raut wajahnya mendadak berubah aneh—ada kilatan panik dan rasa salah yang tersembunyi di matanya. Di sudut lain, Bu Hanum menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mencengkeram kain sampingnya hingga kusut.Rizan menyadari reaksi gan
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.
"Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark
***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar







