Home / Mafia / Menikahi Gadis Malam / Tidak ada Penolakan

Share

Tidak ada Penolakan

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2025-11-28 23:06:55

"Bisa pelankan suara Tante ?!"

Valerian menghela nafas, lalu kembali duduk di posisinya.

"Tante dengar, besok kamu akan menikah ? Katakan kalau kabar ini tidak benar, Rizan." tanya Valerian

"Sayangnya... kabar itu benar Tante."

"HAH ? Jadi benar ? kenapa bisa tante tidak tahu soal ini, Rizan ? Tante ini pengganti Mamamu loh. Mamamu sudah menitipkanmu pada tante. Jadi apapun soal kamu, harisnya kamu libatin tante."

"Tante, bukankah beberapa minggu ini, tante sibuk juga dengan pengobatan Om Fa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Gadis Malam   persiapan ulang tahun

    Tiga hari menjelang malam puncak Hari Ulang Tahun PT Maple Syrup Atmajaya, kesibukan di mansion Rizan makin terasa. Beberapa perancang busana ternama dan penata gaya profesional sudah memenuhi ruang tengah sejak pagi, membawakan belasan gaun malam kelas atas atas perintah langsung dari Rizan.​Alin berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam berwarna biru navy berbahan sutra halus dengan potongan busana yang sangat anggun. Bintang-bintang kristal kecil menghiasi bagian dada dan lengannya, membuat Alin terlihat bak putri kerajaan.​"Luar biasa, Ibu Alin..." puji sang desainer wanita sambil merapikan bagian bawah gaun. "Gaun ini sangat cocok dengan warna kulit Ibu. Pak Rizan benar-benar tidak salah memilih warna."​Alin menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memegang dadanya yang berdesir pelan. Dulu, ia bahkan tidak pernah bermimpi bisa menyentuh kain semewah ini.​Klak.​Pintu ruang tengah terbuka. Rizan melangkah masuk dengan kemeja kasual yang rapi. Pria itu menghentikan la

  • Menikahi Gadis Malam   Makan siang dan Rencana

    Restoran privat bernuansa fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu begitu tenang. Alunan piano klasik membelah keheningan di ruangan khusus yang sengaja dipesan Rizan. Di atas meja, hidangan steak wagyu hangat sudah tersaji rapi.​Rizan duduk tegap di seberang Alin. Pria itu sudah melepaskan jas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku. Jemari panjangnya terlihat mahir memotong daging di piringnya sendiri.​Alin memperhatikan gerakan suaminya itu. "Mas Rizan masih kesal ya, gara-gara aku panggil 'suamiku' tadi di lorong?"​Rizan tidak langsung menjawab. Ia menukar piring steak miliknya yang sudah dipotong rapi menjadi dadu-dadu kecil dengan piring milik Alin yang belum tersentuh.​"Makan," ucap Rizan datar, mengabaikan pertanyaan Alin sambil meraih piring yang belum dipotong. "Jangan banyak bicara kalau sedang di depan makanan."​Alin tertegun menatap piring di hadapannya. Daging steak itu sudah terpotong sangat rapi, memudahkan

  • Menikahi Gadis Malam   Asset dan Liabilities

    Di ruang kerja CEO yang hening, Alin duduk bersila di atas sofa kulit. Jemari lentiknya sibuk membalik-balik berkas ringkasan akuntansi yang dibawakan Anton. Keningnya berkerut fokus, bibirnya sesekali bergumam kecil menghafal istilah-istilah laporan keuangan. ​Rizan duduk di balik meja kerjanya. Matanya berpura-pura menatap layar laptop, tetapi konsentrasinya buyar total. Tatapan pria itu berulang kali mencuri pandang ke arah sofa. ​Dalam hatinya, Rizan masih tidak menyangka. Gadis delapan belas tahun yang awalnya ia duga hanya akan menjadi beban di tengah intrik Atmajaya, ternyata memiliki otak yang sangat encer. Binar matanya yang jujur dan keberaniannya saat membungkam Felix tadi terus berputar di pikiran Rizan. Ada rasa bangga yang aneh, yang makin sulit Rizan sangkal. ​Rizan menekan tombol intercom di mejanya, memanggil sekretaris kepercayaannya. Tak sampai satu menit, pintu diketuk pelan dan Anton melangkah masuk. ​"Anton," panggil Rizan setengah berbisik saat Anton suda

  • Menikahi Gadis Malam   Bakat yang tersembunyi

    Ruangan mendadak hening.​Senyum meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Felix mendadak luntur. Pupil matanya membesar, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka gadis delapan belas tahun yang dikira "orang desa tidak mengerti apa-apa" ini bisa menemukan selisih angka sekecil itu hanya dalam sekali pandang.​"A-apa?" Felix tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Ibu Alin pasti salah lihat. Itu cuma penyesuaian kurs mata uang asing antara euro dan rupiah—"​"Kurs mata uang asing?" potong Alin tenang, namun suaranya tegas. Ia menggeser lembaran verifikasi bank ke depan Felix. "Di sini jelas tertulis transaksinya dalam mata uang dolar Amerika, Pak Felix. Selisihnya hampir dua miliar rupiah. Apakah penyesuaian regulasi di Jerman sebiaya itu?"​Felix membisu. Peluh dingin mulai terbit di pelipisnya.​Rizan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kini menegakkan tubuh. Sorot mata hitamnya menajam, memancarkan aura dingin beracun yang sanggup

  • Menikahi Gadis Malam   Hari Pertama di Kantor Atmajaya

    Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin yang senyap, Rizan duduk tegap sambil membaca laporan di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang makin mempertegas auranya sebagai pemimpin tertinggi PT Maple Syrup Atmajaya.​Di sampingnya, Alin duduk dengan gaun formal berwarna krem pastel yang sederhana namun anggun. Ia sesekali melirik profil samping wajah Rizan. Pria itu tampak sangat fokus, seolah kejadian semalam di depan kamar tidak pernah terjadi.​"Masih mau menatap saya seperti itu?" suara Rizan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.​Alin tersenyum tipis, tidak merasa tertangkap basah. "Muka Mas Rizan hari ini datar sekali. Masih kepikiran omongan aku semalam ya?"​Rizan akhirnya mematikan layar tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap Alin dengan mata hitamnya yang tajam.​"Alin, kita sedang menuju kantor," ucap Rizan dengan nada rendah dan penuh penekanan. "Simpan godaan konyolmu itu untuk di rum

  • Menikahi Gadis Malam   Salah Tingkah

    ​"Bagus. Karena mulai esok... kamu harus berdiri di sampingku sebagai istri seorang Rizan Atmajaya."​Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan absolut. Alin memberikan anggukan kaku, sebuah penghormatan formal yang ia pelajari dalam beberapa hari terakhir. Ia melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak, meniru langkah tegas Rizan yang tidak pernah ragu.​Koridor mansion Atmajaya terasa seperti lorong penjara bagi Alin. Dinding marmer yang dingin, lukisan-lukisan keluarga yang angkuh, dan kesunyian yang menekan. semuanya menuntut satu hal, kesempurnaan.​Alin mengeratkan genggaman tangannya. Kuku-kukunya memutih. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar—klik—topeng itu retak.​Bruk.​Alin tidak mampu lagi menahan beban itu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai, tersungkur di atas karpet beludru yang tebal. Napasnya memburu, paru-parunya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.​Isakan tertahan keluar dari bibirnya, pecah menjadi suara tangis yan

  • Menikahi Gadis Malam   Makan malam pertama

    Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene

  • Menikahi Gadis Malam   Siapa Dia...

    Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.

  • Menikahi Gadis Malam   Negosiasi

    "Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark

  • Menikahi Gadis Malam   Dalam jerat Takdir

    ***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status