Share

BAB II

Author: Shine
last update publish date: 2025-10-07 18:36:49

Tanah masih basah. Udara lembab menahan sisa hujan siang tadi.

Aku berdiri agak jauh dari prosesi pemakaman, tersembunyi di balik deretan payung hitam.

Tak banyak yang datang. 

Hanya beberapa teman dekat Ayah, dan perwakilan perusahaan—orang-orang yang tampak hadir karena kewajiban.

Tak ada duka di pemakaman. Di antara gumam rendah, tak terdengar satupun doa dipanjatkan. Yang terdengar hanya percakapan tentang aset, saham, dan proyek yang belum selesai.

Kini, Ayah sudah dimakamkan. Orang-orang mulai pergi. Hujan mulai turun lagi, tipis, menyisakan aroma tanah yang berat.

Aku melangkah mendekat ke gundukan tanah. “Ayah, bilang kalau semua ini cuma mimpi.”

Rasanya aneh berbicara pada nisan. Lebih aneh lagi karena nama Ayah yang tertera di sana.

“Ayah, apakah kematian menakutkan?”

Aku tersenyum tipis. “Karena rasanya… hidup justru lebih menakutkan.”

Langit mulai gelap. “Ayah, kunjungi aku dalam mimpi. Kalau bisa… bangunkan Tama dari tidur panjangnya.”

“Selamat beristirahat, Ayah.”

Aku menunduk lama, menutup mata sejenak, membiarkan semua kenangan tentang Ayah melintas. Sunyi menyelimuti sekelilingku.

Hingga suara langkah di belakang memecah keheningan.

“Nona Anya.”

Aku menoleh. Pak Damian berdiri beberapa meter dariku, wajahnya serius tapi tenang.

“Sudah siap?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. Tidak ada yang siap untuk ini, sebenarnya. Lalu aku menghampiri Pak Damian mengikutinya sampai ke bangsal milik Tama.

Ruangan terlalu kosong untuk sebuah pernikahan—hanya cahaya redup dari lampu di langit-langit dan suara monitor di sisi tempat tidur. Aku menatap sekeliling, dada terasa sesak. “Ibu, dimana?” tanyaku. 

“Direksi belum tahu. Termasuk Nyonya Miranda.” jawab Pak Damian.

Aku menatapnya, tak percaya. “Maksudnya? Jadi aku menikah diam-diam?”

Pak Damian menatapku tanpa berkedip. “Untuk sementara, ya.”

Rasanya aneh, tak masuk akal, tapi aku bisa merasakan urgensi di matanya. “Dan kau pikir ini etis? Tanpa satupun keluarga yang hadir?”

Pak Damian diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “Ini perintah langsung dari mendiang.”

“Ini terlalu berisiko,” kataku pelan. “Aku tidak mau sesuatu terjadi—terutama pada Tama.”

“Kita harus bergerak cepat, Nona. Direksi mulai bergerak siang nanti. Kita tak bisa menundanya lagi.” tukasnya mengajakku ke bangsal milik Tama.

“Kita selesaikan sekarang.” 

Pak Damian memberi isyarat pada petugas hukum di luar.

Aku duduk di kursi, sambil mencoba menenangkan diri.

Petugas membaca naskah legal dengan suara datar—seolah membacakan laporan rutin.

“Silakan tanda tangan di sini, Nona.”

Tanganku sempat ragu. Pena terasa dingin di jari.

Begitu namaku tertulis di kertas itu, aku tahu tak akan ada jalan kembali.

Petugas mengangguk singkat. “Pernikahan telah sah secara hukum.”

Damian menerima map dari tangannya. “Terima kasih. Anda boleh keluar.”

Pintu tertutup pelan.

“Mulai hari ini, seluruh aset dan wewenang keluarga tercatat atas nama Anda dan Tuan Tama Adikara,” kata Damian datar.

“Kalau ia mati?”

Damian tak menatapku. “Anda tetap menjadi Nona Tama. Tak ada yang berubah.”

Ia meninggalkan ruangan, menutup pintu perlahan.

Aku menatap cincin di nampan logam, tak tersentuh. Kutarik kursi dan duduk di samping Tama, membiarkan jariku menyentuh tangannya. Wajah yang dulu hanya kulihat dari jauh kini terasa dekat, tapi tetap dingin, jauh dari jangkauanku.

Kini ia jadi suamiku, meski mungkin ia takkan pernah tahu. Tangan kananku bergerak tanpa sadar, menyentuh jarinya yang dingin. Kulitnya pucat, namun masih ada sedikit hangat di bawah sana—samar, nyaris tak terasa.

“Tama,” bisikku pelan.

Entah kenapa nama itu terasa lebih berat sekarang.

“Aku janji bakal jagain semua yang Ayah titipin. Termasuk kamu.”

Satu bunyi pelan memecah udara. Monitor di sisi tempat tidur berubah ritmenya. Detaknya naik sedikit, lalu kembali stabil. 

Aku menatap layar itu, lalu ke arah tangan Tama yang masih kugenggam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIX

    Semua masih duduk dengan posisi yang sama.Punggung tegak. Tangan bertumpu ringan di atas meja.“Kalau itu tuduhanmu,” kata Damian,, “kau harus siap dengan konsekuensinya.”Nada suaranya tetap tenang. Bahkan lebih tenang dari sebelumnya.Aku tidak menjawab.Karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu.“Kau berbicara tentang arah,” lanjutnya, matanya berpindah dari Tama… lalu kembali padaku. “Seolah semua yang terjadi ini adalah sesuatu yang bisa kau petakan dengan mudah.”Aku tidak memotongnya.Aku ingin tahu… sejauh mana ia akan melangkah.“Padahal,” lanjut Damian, “ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar kau pahami sejak awal.”“Sejak awal?” ulangku pelan.Damian tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya sedikit, seperti seseorang yang mulai melepaskan jarak yang selama ini ia jaga.“Wasiat itu,” katanya, “tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar memindahkan kepemilikan.”Hening.Aku bisa merasakan fokus semua orang di meja ini berpindah—pelan, tapi pasti—ke ara

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVIII

    Lampu gantung di atas meja memantulkan cahaya yang sama.Tidak ada yang berubah.Kecuali suasananya.Udara di meja itu terasa berbeda sekarang.Lebih padat. Lebih berat.Tak ada yang langsung berbicara setelahnya. “Atau mungkin,” ucap Tama pelan, “kau hanya terbiasa berada di posisi itu terlalu lama.”Nada suaranya tetap datar. Tidak menekan. Tidak juga menuduh.Damian menyandarkan punggungnya ke kursi. Gerakannya tenang.“Membuat sesuatu tetap berjalan dengan benar bukanlah sebuah kesalahan.”“Benar menurut siapa?” sahut Miranda.Tidak ada jeda kali ini.Damian menoleh sedikit ke arahnya. “Menurut orang yang membangunnya sejak awal.”Miranda tersenyum tipis.“Jangan membawa nama Ardian untuk membenarkan keputusanmu sendiri.”Hening.Aku bisa melihat perubahan kecil di wajah Damian.Baru kali ini aku melihatnya terganggu.Tama tidak memotong.Ia justru memberi ruang, membiarkan Damian berbicara lebih jauh.“Aku mengenalnya lebih lama dari kalian semua di meja ini,” kata Damian akh

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVII

    Tak ada yang langsung berbicara setelah itu.Tak ada pula yang mengalihkan perhatian.Miranda masih menatap Damian.Tatapannya datar, tapi terlalu lama untuk disebut biasa.Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.“Aku sempat berpikir,” katanya akhirnya, “kau hanya sulit menerima perubahan.”Nada suaranya ringan. Hampir santai.Damian tidak menjawab.“Aku memberimu waktu,” lanjut Miranda.“Lebih dari yang seharusnya.”Tangannya bergerak mengambil gelas, lalu menyesap sedikit.Tenang. Terukur.“Karena aku menghargai apa yang pernah kau lakukan untuk Ardian.” Nama itu jatuh pelan di antara kami.Damian tetap diam.“Tapi rupanya,” lanjut Miranda, “kau tidak pernah benar-benar berhenti.”Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan.Lebih seperti kesimpulan.Aku menahan napas sebentar.Tama tidak bergerak.Namun aku bisa merasakan fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada Damian.“Aku tidak yakin maksudmu,” kata Damian akhirnya.Miranda tersenyum tipis.“Tidak pe

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVI

    Hidangan utama sudah hampir habis ketika suasana di meja mulai berubah.Bukan karena suara. Bukan juga karena kata-kata yang diucapkan.Tapi karena jeda di antaranya.Percakapan kembali berjalan.Tentang angka. Tentang laporan. Tentang rencana jangka pendek.Tama belum banyak bicara sejak beberapa menit terakhir.Ia hanya sesekali merespons, seperlunya.Namun justru itu yang membuatku menyadari sesuatu.Ia sedang menunggu.Miranda menyeka bibirnya dengan serbet, lalu meletakkannya kembali di pangkuan.Gerakannya tenang. Terukur.“Aku rasa,” katanya akhirnya, “kita tidak diundang ke sini hanya untuk membicarakan laporan triwulan.”Aku meletakkan garpu perlahan.Suara kecilnya terdengar lebih jelas dari seharusnya.Tama mengangkat pandangannya.“Benar,” jawabnya.Sederhana. Tanpa penekanan.Namun cukup untuk mengubah arah meja itu sepenuhnya.Hening.Hans sedikit menggeser duduknya.Damian tetap tenang. Tangannya bertumpu ringan di atas meja, seolah ia sudah menunggu kalimat itu sejak

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXV

    Ruang makan utama sudah disiapkan sejak sore tadi.Meja panjang dengan taplak berwarna gelap terbentang rapi di tengah ruangan. Lampu gantung di atasnya memantulkan cahaya hangat. Aku berdiri di ujung meja, memastikan posisi gelas dan piring sudah sejajar.Semua tampak sempurna. Terlalu sempurna.Suara langkah kaki terdengar dari belakang.“Aku sudah memastikan semuanya,” kata Tama.Aku mengangguk tanpa menoleh.“Kau siap?” tanyanya.Aku merapikan satu sendok yang sebenarnya sudah lurus.“Seharusnya aku yang bertanya padamu.”Tama tidak menjawab.Aku akhirnya menoleh.Ia berdiri beberapa langkah di belakangku, mengenakan kemeja gelap tanpa jas. Lebih santai dari biasanya, tapi tetap terlalu rapi untuk disebut santai.“Kau tahu mereka tidak akan datang tanpa persiapan,” katanya.“Aku tidak mengharapkan mereka datang tanpa tujuan,” jawabku.Hening sebentar.“Tapi setidaknya,” lanjutku, “ini bukan panggung mereka.”Tatapan Tama tertuju padaku beberapa detik. Lalu ia mengangguk kecil.

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIV

    Tama sudah berada di tempat tidur ketika aku keluar kamar mandi.Aku menutup pintu kamar mandi perlahan, membiarkan uap air tertinggal di belakangku. Kamar sudah gelap, hanya menyisakan satu lampu di sisi ranjang yang menyala redup.Tama bersandar pada kepala ranjang, membaca majalah bisnis yang baru terbit hari ini.Kakinya sedikit ditekuk, buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seolah hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Di sana, aku duduk diam selama beberapa saat. Aku memperhatikan pantulan wajahku di cermin, mencoba menghilangkan sisa ketegangan dari aula tadi sebelum akhirnya aku menyalakan lampu kecil di depanku.Percakapan kami di ruang tamu masih berputar di kepalaku.Tentang Damian. Tentang Hans.Tentang kemungkinan bahwa selama ini ada seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan permainan.Aku menatap cermin sebentar.Kuliriik bayangan Tama yang terlihat samar. “Kau masih memikirkannya?” tanya Tama tanpa menoleh padaku.“Ya,” jawabku cepat.Ia tidak me

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIII

    “Hans adalah kaki tangan Damian.”Kalimat itu masih terasa asing di lidahku, meski aku sendiri yang mengucapkannya.Tama menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia tidak mengerti.Tapi karena ia sedang memastikan aku benar-benar memahami arti dari apa yang baru saja kukataka

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXII

    Lampu kristal menggantung di langit-langit aula.Musik klasik mengalun lembut, mengisi sela-sela denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para tamu. Hari ini adalah perayaan hari jadi Adikara Group.Sebuah acara yang menjadi simbol kejayaan.Dewan, investor, dan tokoh penting berkumpul di tempat

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXI

    Mobil melaju pelan di jalan yang cukup ramai.Warna keemasan langit kini berganti menjadi keunguan, lalu secara perlahan menjadi gelap.Lampu-lampu kota lewat bergantian di kaca jendela, memantul sebentar lalu hilang.Aku tidak tahu sudah berapa lama kami diam.Tak ada yang membuka percakapan sejak

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CX

    Damian sudah pergi beberapa menit yang lalu.Aku masih disini, sibuk memperhatikan jalanan yang lebih ramai dari sebelumnya.Kafe mulai sedikit lebih lengang setelah beberapa meja kosong ditinggalkan pemiliknya.Suara mesin kopi masih terdengar, tapi tak lagi sepadat sebelumnya.Sinar sore bergeser

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status