Share

Menikahi Kakakku yang Koma
Menikahi Kakakku yang Koma
Penulis: Shine

BAB I

Penulis: Shine
last update Tanggal publikasi: 2025-10-07 18:36:40

Tanganku gemetar, dingin dan tak menentu. Mataku membengkak, pedih dari menahan air mata. Semua tampak seperti bayangan yang memudar di sekelilingku. Di depanku, peti mati hitam pekat berdiri tegak, seolah menegaskan kehampaan yang kurasakan.

Bunga krisan putih dan kuning memenuhi ruangan. Aromanya tajam, bercampur dengan parfum mahal para tamu. Meninggalkan udara berat yang membuat dada sesak.

Aku menatap foto yang terbingkai rapi di samping peti mati. Matanya tajam, seolah mengawasi dari balik kaca. 

Cahaya kristal lampu gantung memantul di wajahnya, membuatnya tampak lebih hidup daripada yang seharusnya. Terlalu hidup... untuk seseorang yang telah pergi.

Nama itu terpampang jelas di depan peti mati. Ayah angkatku yang pernah menarikku keluar dari hidup yang gelap.  

Yang terlintas hanya kejadian semalam—mobil yang ditumpangi Ayah dan Kakak angkatku, Tama hilang kendali, kemudian menabrak pembatas jalan.

Ayah meninggal di tempat. Dan Tama... belum membuka matanya sejak itu.

Bahkan sekarang pun, suara mesin monitor dari ruang ICU masih terngiang jelas di kepala.

Pelan. Tapi cukup untuk mengingatkanku bahwa dia masih berjuang sendirian.

Dan kini, orang yang meninggalkanku sendiri.

Bisik-bisik pelan terdengar dari barisan kursi belakang—bukan soal kehilangan, tapi soal saham, rapat, dan warisan.

Di ruang duka ini, nama Adikara Group lebih penting daripada sosok yang terbaring di peti.

Dari kejauhan, Miranda—istri kedua Ayah—sibuk menyapa tamu.

Perempuan itu tampil terlalu sempurna untuk suasana duka— jas hitam pas badan, make-up lembut, dan senyum yang seolah sudah dilatih sebelumnya.

Setiap gerakannya seperti pertunjukan kecil. Ia melengang dengan senyum, jabat tangan, lalu senyum lagi. Rasanya, dia lebih sibuk menjaga citra daripada mengenang suaminya yang baru saja pergi.

“Rapat direksi harus dipercepat. Besok siang.”

Aku menoleh.

Rapat? Serius? Bahkan belum dua puluh empat jam sejak Ayah meninggal.

Ruang duka ini begitu aneh. Seolah hanya aku yang berduka, di antara banyaknya manusia.

Tidak ada tangis maupun pelukan. Tak ada kesedihan, tak tampak kehilangan.

Aku menunduk, menggenggam erat ujung rok hitamku yang mulai kusut.

Seharusnya aku pergi, karena kehadiranku pun tak berarti. Tapi entah kenapa, kakiku seperti tertahan.

“Nona Anya, boleh ikut saya sebentar?”

Suara berat seorang pria memecah pikiranku.

Aku mendongak—dan di sana berdiri seorang pria paruh baya dengan jas hitam rapi dan tatapan yang kukenal. Pengacara keluarga sekaligus orang kepercayaan Ayah.

Aku buru-buru mengusap sisa air mata. “I—iya, Pak,”

Langkahku ragu saat mengikutinya melewati lorong sempit di sisi aula.

Di ujung lorong, Pak Damian berhenti di depan pintu kayu tinggi dengan ukiran lambang keluarga Adikara.

“Silakan masuk,” katanya pelan. “Semua sudah menunggu.”

Aku melangkah masuk.

“Kamu ngapain disini?” suara itu terdengar tajam dan menusuk. Miranda tidak berteriak, tapi nadanya cukup untuk membuat siapa pun menunduk. “Ini urusan keluarga.”

Tentu saja, aku tahu nada itu.

Persis seperti karakter ibu tiri jahat di dongeng anak-anak.

Belum sempat aku menjawab, Pak Damian lebih dulu bicara.

“Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait wasiat dari mendiang,” ucapnya sambil mengangkat beberapa lembar kertas dari map tebal. “Dan ada kaitannya dengan Nona Anya.”

“Wasiat ini ditulis langsung oleh beliau, disaksikan oleh anak kandungnya, Tama Adikara, dan Notaris Utama keluarga, Ibu Ratna Wiryawan. Dokumen ini juga telah disahkan secara hukum.”

Ruangan tetap sunyi. Semua fokus mendengar setiap detail yang dibacakan Pak Damian—tentang aset, saham, dan jabatan.

Namun kepalaku masih terngiang oleh kehilangan. Bagaimana hidupku setelah ini?

“Baik.” Suara Pak Damian memecah lamunanku. 

Ia menatap Miranda, lalu menurunkan pandangan ke lembar terakhir di tangannya.

“Dan ini,” katanya pelan, “Bagian utama dari wasiat mendiang Bapak Ardian Adikara.”

Kertas di tangannya bergetar halus—entah karena udara dingin, entah karena beban dari kalimat yang akan keluar sesaat lagi.

Setiap kata terasa berat saat diucapkan. “Apabila saya meninggal dunia atau berada dalam kondisi darurat, seluruh kendali dan keputusan hukum atas Adikara Group hanya sah apabila Tama Adikara telah resmi menikah dengan Anya Lavina.”

Seketika, udara di ruangan membeku. Tak ada yang bergerak. Miranda terpaku. Senyum kecil di wajahnya menghilang.

Aku hanya menatap Pak Damian, berusaha mencerna kalimat yang baru saja kudengar.

Menikah? Dengan Tama? Kakak angkatku?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXXII

    Cahaya pagi masuk perlahan melalui celah tirai, tipis dan lembut, jatuh membentuk garis panjang di lantai kamar.Udara masih tenang. Terlalu tenang, seolah rumah ini belum sepenuhnya terbangun dari malam sebelumnya.Aku sudah duduk di sofa sejak beberapa saat lalu.Tanpa suara. Tanpa gerakan yang tak perlu.Dari tempatku, aku bisa melihat Tama di atas ranjang.Aku memperhatikannya dari jauh.Ia masih terlelap. Nafasnya tenang, teratur.Wajahnya tenang. Tapi bukan tenang yang sepenuhnya ringan.Posisi tubuhnya sedikit miring ke samping, satu tangannya terletak di dekat bantal yang kosong—tempatku seharusnya berada.Selimutnya sedikit berantakan, tidak seperti biasanya.Beberapa menit berlalu, dan aku masih belum mengalihkan pandanganku.Waktu terasa begitu lambat.Kemudian— ia bergerak.Gerakan kecil. Hanya perubahan ritme nafas, lalu sedikit pergeseran di bahunya.Tangannya yang tadi diam kemudian bergerak, menyentuh permukaan kasur di sampingnya seolah mencari sesuatu.Gerakannya ti

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXXI

    Aku tidak tahu berapa lama aku tidur, sampai akhirnya aku terbangun tanpa alasan yang jelas.Kamar sudah gelap, menyisakan sedikit cahaya tipis yang masuk melalui celah tirai. Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Tanganku bergerak tanpa sadar, menyentuh seprai di tempat Tama seharusnya berada.Kosong.Aku membuka mata sepenuhnya.Selimut di sana masih rapi. Permukaannya dingin, seolah sudah cukup lama ditinggalkan.Aku menajamkan indera.Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki. Hanya keheningan yang terlalu utuh untuk sebuah rumah yang tadi dipenuhi percakapan.Aku duduk perlahan.Sekilas aku melirik jam di meja samping. Sudah lewat tengah malam.Selimut bergeser saat aku turun dari ranjang. Kakiku menyentuh lantai marmer yang dingin, membuatku terjaga sepenuhnya sekarang.Pintu balkon sedikit terbuka.Dari celah itu, udara malam masuk perlahan, membawa aroma samar tanah basah dan daun yang diam.Aku tidak langsung mendekat.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya.Ta

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXX

    Suasana tidak berubah.Namun tidak lagi terasa sama.“Kalau begitu,” kata Damian pelan, “kita sudah sampai pada kesimpulan masing-masing.”“Belum,” sahut Miranda singkat.Damian menoleh padanya.“Kau belum menjawab satu hal,” lanjut Miranda. “Semua yang kau lakukan ini—kau pikir tidak akan terlihat?”“Aku tidak menyembunyikan apa pun,” jawab Damian.“Kau tidak perlu,” sahut Tama, “Karena kau memang tak pernah melakukannya secara langsung.”Hening. Damian menatapnya.“Kalau begitu, jelaskan,” ujar Damian.Nadanya datar, tatapannya lurus pada Tama.Tama tak buru-buru menjawab.Ia membalas tatapan Damian, jarinya mengetuk meja pelan.“Informasi tidak keluar sendiri,” katanya akhirnya.“Media tak pernah menulis tanpa arah.”“Dan pesan tidak akan sampai… tanpa pengirim.”Sunyi.“Dan menurutmu itu aku?” tanya Damian.“Aku tak pernah menuduh,” jawab Tama. “Aku hanya terbiasa membaca pola.”“Dan pola itu,” katanya pelan, “selalu melibatkan orang yang sama.”Tidak ada nama disebut.Namun kali

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIX

    Semua masih duduk dengan posisi yang sama.Punggung tegak. Tangan bertumpu ringan di atas meja.“Kalau itu tuduhanmu,” kata Damian,, “kau harus siap dengan konsekuensinya.”Nada suaranya tetap tenang. Bahkan lebih tenang dari sebelumnya.Aku tidak menjawab.Karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu.“Kau berbicara tentang arah,” lanjutnya, matanya berpindah dari Tama… lalu kembali padaku. “Seolah semua yang terjadi ini adalah sesuatu yang bisa kau petakan dengan mudah.”Aku tidak memotongnya.Aku ingin tahu… sejauh mana ia akan melangkah.“Padahal,” lanjut Damian, “ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar kau pahami sejak awal.”“Sejak awal?” ulangku pelan.Damian tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya sedikit, seperti seseorang yang mulai melepaskan jarak yang selama ini ia jaga.“Wasiat itu,” katanya, “tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar memindahkan kepemilikan.”Hening.Aku bisa merasakan fokus semua orang di meja ini berpindah—pelan, tapi pasti—ke ara

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVIII

    Lampu gantung di atas meja memantulkan cahaya yang sama.Tidak ada yang berubah.Kecuali suasananya.Udara di meja itu terasa berbeda sekarang.Lebih padat. Lebih berat.Tak ada yang langsung berbicara setelahnya. “Atau mungkin,” ucap Tama pelan, “kau hanya terbiasa berada di posisi itu terlalu lama.”Nada suaranya tetap datar. Tidak menekan. Tidak juga menuduh.Damian menyandarkan punggungnya ke kursi. Gerakannya tenang.“Membuat sesuatu tetap berjalan dengan benar bukanlah sebuah kesalahan.”“Benar menurut siapa?” sahut Miranda.Tidak ada jeda kali ini.Damian menoleh sedikit ke arahnya. “Menurut orang yang membangunnya sejak awal.”Miranda tersenyum tipis.“Jangan membawa nama Ardian untuk membenarkan keputusanmu sendiri.”Hening.Aku bisa melihat perubahan kecil di wajah Damian.Baru kali ini aku melihatnya terganggu.Tama tidak memotong.Ia justru memberi ruang, membiarkan Damian berbicara lebih jauh.“Aku mengenalnya lebih lama dari kalian semua di meja ini,” kata Damian akh

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVII

    Tak ada yang langsung berbicara setelah itu.Tak ada pula yang mengalihkan perhatian.Miranda masih menatap Damian.Tatapannya datar, tapi terlalu lama untuk disebut biasa.Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.“Aku sempat berpikir,” katanya akhirnya, “kau hanya sulit menerima perubahan.”Nada suaranya ringan. Hampir santai.Damian tidak menjawab.“Aku memberimu waktu,” lanjut Miranda.“Lebih dari yang seharusnya.”Tangannya bergerak mengambil gelas, lalu menyesap sedikit.Tenang. Terukur.“Karena aku menghargai apa yang pernah kau lakukan untuk Ardian.” Nama itu jatuh pelan di antara kami.Damian tetap diam.“Tapi rupanya,” lanjut Miranda, “kau tidak pernah benar-benar berhenti.”Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan.Lebih seperti kesimpulan.Aku menahan napas sebentar.Tama tidak bergerak.Namun aku bisa merasakan fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada Damian.“Aku tidak yakin maksudmu,” kata Damian akhirnya.Miranda tersenyum tipis.“Tidak pe

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CIII

    Pagi datang tanpa permisi.Cahaya matahari sudah menyelinap masuk dari sela tirai kamar ketika aku membuka mata. Garis-garis tipis cahaya itu jatuh memanjang.Malam tadi aku tidur dengan perasaan cukup tenang.Percakapan dengan Tama belum sepenuhnya selesai.Tak ada nada tinggi, namun tak ada juga

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CII

    Detik jam di dinding menjadi satu-satunya suara selama beberapa detik.Aku tidak langsung menjawab. Pikiranku bekerja cepat.Menyusun skenario, mencari pintu keluar yang bisa membebaskanku sekali lagi.Namun, Tama tak melepaskan pandangannya.Ia tak bergerak sedikitpun, mengunci pergerakan sekalig

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CI

    Hari ini berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat. Tak banyak yang kulakukan.Hanya merapikan beberapa berkas penting yang sempat terabaikan.Pikiranku masih dipenuhi dengan percakapan bersama Miranda kemarin.Padahal, aku sudah mendapatkan jawaban dari hal yang sebelumnya mengganggu.Namun ki

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB C

    Aku memarkir mobil dengan tergesa.Pertemuan dengan Miranda tadi lebih lama dari yang kubayangkan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status