LOGIN“Bisakah aku pergi ke dapur?” tanyaku pada Pelayan yang sedang berjalan di depanku.
Pelayan itu berhenti. Dia menoleh padaku. Matanya yang gelap dan tajam terlihat sebal, seolah aku sedang memberikan tugas yang sangat dia benci. Ugh. Padahal aku hanya ingin menemukan dapurnya. Pada akhirnya, Pelayan itu menoleh padaku dan mengangguk sopan, “Lewat sini, Nyonya.”Bagaimana bisa orang yang menatapku dengan kebencian bisa bersikap begitu sopan? RAku tidak bisa tidur. Sekalipun waktu telah menunjukkan pukul dua pagi, kata-kata wanita itu tetap membuatku terjaga, seolah berusaha mengganjal pikiranku untuk terus terjaga. Vittorio menyembunyikan sesuatu.Aku tahu bahwa Vittorio pasti menyembunyikan sesuatu. Dia adalah seorang ketua mafia. Aku justru akan bingung jika dia tidak memiliki satu atau dua rahasia. Namun, apakah aku berani untuk mengungkap rahasia itu? Terutama ketika wanita itu terlalu, mencurigakan. Bagaimana jika itu hanya jebakan? Darimana dia tahu bahwa di air mancur tidak ada CCTV? Bagaimana jika ini hanyalah satu dari sekian kegilaan Vittorio? Vittorio itu gila. Setidaknya aku tahu sejauh itu. Namun, apakah dia akan benar-benar mencoba mengujiku?Aku tidak tahu. Namun, satu hal yang pasti, rasa penasaran ini mengalahkan rasa takut. Kemungkinan kecil bahwa tidak semua orang di rumah ini tunduk pada iblis itu membuatku mendapatkan sebuah harapan. Harapan kosong. Aku segera mendorong keraguan itu jauh-jauh. D
Pernikahanku tinggal dua hari lagi. Dua hari. Aku tidak menyangkat bahwa hari akan berjalan secepat itu, dan sekarang aku berdiri di pantulan diriku sendiri dan nyaris tidak mengenalinya. Gaun itu terlalu indah.Mungkin terlalu indah untuk seseorang yang akan berjalan menuju altar tanpa pernah menginginkannya.“Tolong berputar, Nyonya.”Aku menarik napas sebelum mengikuti perintah perempuan yang berdiri di belakangku. Begitu tubuhku berputar, kain yang lembut itu mengikuti pergerakanku dan aku berhenti. Kualitas kain ini begitu baik, terlalu baik, seolah dia sudah mempersiapkan ini sejak lama.Vittorio telah mengikutiku sejak lama, huh. Setelah melihat ini semua, rasanya sangat mengerikan ketika aku bahkan tidak menyadari keberadaan mereka sama sekali. Foto-foto itu. Ugh. Semuanya membuatku ngeri.Perempuan itu menarik tali di pinggangku, dan aku melenguh. “Ini terlalu sempit.”“Gaun ini dibuat khussu untuk ukuran anda, Nyonya. Apakah ada yang kurang tepat?”“Bagian pinggangnya terl
"Selamat datang di tempat yang paling berharga bagiku, Angelo Mio." Untuk berkata, aku sangatlah marah ketika melihatnya berusaha mencari jalan keluar akan menjadi sebuah kebohongan. Aku tahu dia sedang mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri, bahkan ketika aku telah mengancamnya bahwa aku akan menariknya dengan collar di atas altar. Namun, bukannya berhenti, dia justru berlagak seolah sedang berjalan-jalan, dan mencari jalan keluar. Aku tahu, karena dia terus mencari cara untuk melewati gerbang, meskipun dia tahu bahwa dia takkan bisa melewatinya, yang mana itu membuat segalanya menjadi sangat menarik.Itu juga alasan, aku meninggalkan pintu ini tidak terkunci karena aku ingin dia menemukannya. Aku ingin Anne mengetahui seberapa besar aku mencintainya. Bahwa obsesi ini bukanlah sebuah kebohongan. Anne Moretti ada disini bukan hanya karena ayahnya menjualnya, tetapi karena aku menginginkannya. Obsesi ini membunuhku, dan aku tidak ingin dia mengetahui betapa penting dirin
Aku tidak bisa berhenti memikirkan ruangan yang tidak bisa kubuka itu. Pelayan yang menemukanku berdiri disana dengan sigap membawaku mengelilingi rumah, tetapi tidak pernah mau menjawab apa ruangan itu. Sesungguhnya, itu menggangguku. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Vittorio? Tidak. Tentu saja ada lebih banyak hal yang tidak kutahu tentang Vittorio daripada hal yang kutahu tentangnya. Vittorio tidak pernah memperkenalkan dirinya kecuali fakta bahwa dia bernama Vittorio de Luca dan orang yang akan menikahiku. Bahkan kedudukannya sebagai Don dari keluarga De Luca juga kudapatkan dari jalanan.Sejauh apa rumor tentang Vittorio sebagai pembunuh berdarah dingin benar? Aku tidak tahu. Namun, kemungkinannya besar sekali. Apakah di balik pintu itu adalah ruang penyiksaan? Atau sesuatu yang lebih mengerikan? Mengapa mata Pelayan itu menatapku begitu tajam, dan segera—secara teknis—menarikku pergi? Aku berguling di tempat tidur.Rasa penasaran ini membunuhku dan aku tidak bi
“Bisakah aku pergi ke dapur?” tanyaku pada Pelayan yang sedang berjalan di depanku.Pelayan itu berhenti. Dia menoleh padaku. Matanya yang gelap dan tajam terlihat sebal, seolah aku sedang memberikan tugas yang sangat dia benci. Ugh. Padahal aku hanya ingin menemukan dapurnya.Pada akhirnya, Pelayan itu menoleh padaku dan mengangguk sopan, “Lewat sini, Nyonya.”Bagaimana bisa orang yang menatapku dengan kebencian bisa bersikap begitu sopan? Rasanya semua kebohongan itu terasa begitu mudah untuk dilakukan hingga aku tidak bisa mempercayainya lagi.Pelayan itu membawaku ke dapur dimana seorang koki yang sedang mengiris sayuran segera mendongak. Bahunya menegang ketika melihatku berjalan masuk. Kemudian matanya kembali menatapku tajam penuh penghakiman.Tidakkah mereka tahu bahwa aku dipaksa menikah dengan Vittorio? Bukan sebaliknya. Kalau mereka tidak ingin aku disini, bilang saja pada Vittorio agar dia membiarkanku pe
Setiap memejamkan mata, aku kembali mendengar suara Vittorio yang berbisik di telingaku, “Aku akan menyeretmu di altar dengan collar.” Rasa ngeri itu merambat di punggungku dan membuatku terbangun, sehingga aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.Apa yang salah dengan lelaki itu? Kenapa dia bersikap begitu gila dan obsesif? Tentu saja. Apa yang kuharapkan dari seorang Mafia Don yang mendapat julukan Iblis.Aku mengusap wajah kasar. Berusaha untuk mengenyahkan rasa lelah.Ruangan yang diberikan Vittorio cukup besar. Lebih dari besar. Tempat ini hangat, mewah, dan nyaman. Kemewahan yang tak pernah kurasakan bahkan ketika Ibu masih hidup, dan perusahaan Moretti berada di masa jayanya. Meski begitu, tidak peduli seberapa mewah ruangan ini, penjara tetaplah penjara. Vittorio memaksaku untuk menikah dengannya, dan itu tidak berubah. Beberapa jam telah berlalu, dan aku tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan. Jadi, untuk menghabiskan waktu, aku berjalan di lorong masion yang sunyi. Orang-orang







