Mag-log inBab 133Keesokan harinya, tugas rutin membawaku ke area dapur utama Mansion. Namun, langkahku terhenti mendadak begitu menginjakkan kaki di ambang pintu. Aroma amis segar menyengat hidungku dengan amat tajam. Beberapa pelayan sibuk membersihkan pasokan ikan dalam jumlah besar di atas meja stanlis untuk keperluan hidangan keluarga besar.Seketika itu juga, perutku bergolak hebat. Rasa mual yang teramat sangat menyergap dadaku tanpa ampun. Udara di sekitarku terasa sangat berat untuk dihirup.Aku menutup mulut erat-erat dengan telapak tangan, berjuang menahan dorongan mual yang kian mendesak. Namun, pertahananku runtuh. Pandanganku mendadak kabur dan berkunang-kunang, sementara kedua lututku gemetar hebat hingga aku tak sanggup lagi berdiri tegak. Tubuhku hampir tersungkur jika tidak segera berpegangan pada pilar."Silvia! Kamu kenapa, Nak?" pekik seorang pelayan senior yang kaget melihat wajahku pucat pasi bagai mayat.Aku tidak sanggup mengeluarkan patah kata pun. Aku hanya bisa mengg
Hari-hari setelah pernikahan berlangsung terasa sangat lamban. Mansion Ananta yang biasanya sibuk kini terasa sepi dan hampa bagiku. Tuan Sinyo dan Nona Salma hampir tidak pernah berada di rumah.Jadwal mereka sangat padat dengan berbagai agenda setelah pernikahan. Dimulai dari konferensi pers akbar yang dihadiri puluhan media nasional, jamuan makan malam bersama para relasi bisnis, hingga menghadiri undangan dari pejabat tinggi. Tuan Sinyo benar-benar sibuk di luar, menciptakan jarak dan jeda kehadiran di Mansion yang membuat batinku terus terusik.Aku berusaha menyibukkan diri dengan menyelesaikan tugas-tugas rutin di Paviliun Lavender. Aku membersihkan ruangan, merapikan pakaian, dan memastikan keperluan tempat itu terpenuhi. Namun, makin keras aku berusaha mengalihkan perhatian, bayangan tentang Tuan Sinyo makin sering muncul di kepalaku.Aku terbayang bagaimana Tuan Sinyo berdiri di dekatku, dada bidangnya yang kokoh saat ia mengungkungku, serta sentuhan jemarinya yang lembut saa
Pesta pernikahan mewah di Mansion Ananta akhirnya usai malam ini. Perayaan itu seharusnya digelar selama tiga hari tiga malam untuk memamerkan kekuasaan dan kekayaan keluarga besar Ananta. Namun, Tuan Sinyo menolak keras tradisi seperti itu dan memotong durasi perayaan menjadi satu hari saja. Sebagai gantinya, sebuah agenda konferensi pers berskala besar telah dijadwalkan besok pagi untuk mengumumkan ikatan pernikahan mereka secara resmi ke hadapan publik dan media massa.Malam kian larut, membungkus Paviliun Lavender dalam keheningan yang dingin. Di kamar pengantin yang berada di lantai atas Mansion, aku hanya bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di balik pintu yang terkunci rapat itu. Tuan Sinyo dan Nona Salma kini telah resmi terikat sebagai suami istri. Bayangan tentang bagaimana Tuan Sinyo melewati malam pertamanya di samping Nona Salma, membagi kehangatan dan naungan yang sebelumnya menjadi milikku, terasa begitu menyiksa batin.Tak tahan terus terkurung di dalam kamar deng
Taman utama di Mansion Ananta dipenuhi kemewahan. Suara denting gelas kristal, gelak tawa tamu undangan dari kalangan pejabat, dan alunan musik klasik bergaung hingga ke lorong-lorong pribadi. Namun bagiku, setiap sudut ruangan ini terasa begitu menyiksa.Pagi-pagi sekali, aku telah mengganti balutan di lengan kananku dengan perban anti air transparan. Sebagai pelayan yang ditugaskan khusus hari ini, aku tidak punya alasan untuk menghindar. Aku harus mendampingi Nona Salma di altarnya nanti. Sekarang aku masih membantunya berhias di kamarnya sebelum prosesi pengucapan janji dimulai.Aku berdiri di belakang Nona Salma yang kini menjelma menjadi pengantin paling menawan. Gaun putih megah berlapis renda mewah membungkus tubuhnya. Jemariku dengan telaten merapikan ujung gaunnya yang menjuntai, lalu mengambil kipas tangan berbulu halus dan menyediakan kebutuhan lain di dalam tas kecilku. Ya aku jadi bridesmaid-nya hari ini, ini adalah permintaan langsung dari Nona Salma.Tugas selanjutnya
Sore harinya, perhatianku beralih penuh pada kondisi Yumna. Kondisi fisiknya memang berangsur membaik setelah mendapat perawatan intensif dan penawar racun dari dokter, namun trauma emosional akibat percobaan pembunuhan yang hampir merenggut janinnya membuat pertahanan jiwanya sangat rentan. Hans dan Ibu Diana akhirnya sepakat mengurus surat cuti kuliah Yumna agar ia bisa fokus memulihkan diri di dalam paviliun tanpa tekanan dari luar.Aku memperhatikan Yumna dari balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Ia sedang tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang dari dokter. Kedua tangannya melingkari bagian bawah perut secara refleks—sebuah gerakan naluriah penuh perlindungan yang sangat aku kenal.Secara refleks, tanganku sendiri bergerak naik mengusap perutku yang masih rata. Melihat kondisi Yumna, aku sadar betapa tipisnya batas keselamatan di rumah ini. Bisa saja aku bernasib sama malangnya dengannya. Entah aku yang lebih beruntung, atau justru hidupku yang jauh lebih menye
Pasca insiden mencekam yang menimpa Yumna, persiapan pernikahan Tuan Sinyo dan Nona Salma tetap dipaksa berjalan seolah tak terjadi apa pun.Kemurkaan Tuan Sinyo yang sempat mengancam Nyonya Rika secara terbuka rupanya menyulut dendam baru. Tak mau kehilangan kendali, Nyonya Rika mendesak Tuan Ananta untuk mempercepat pesta pernikahan. Jadwal yang seharusnya masih dua minggu lagi mendadak dipangkas menjadi tinggal seminggu. Otomatis, seluruh fokus penghuni Mansion Ananta teralihkan pada persiapan besar pernikahan putra mahkota dan putri keluarga pejabat tersebut.Kesibukan para pekerja yang hilir mudik memasang dekorasi di Mansion berbanding terbalik dengan suasana di Paviliun Lavender yang diliputi kecemasan dingin dan keheningan yang menekan.Pagi itu, aku mendapati Nona Salma sedang duduk sendirian di gazebo tepi taman. Langkahku perlahan mendekatinya seraya membawa nampan berisi teh hangat. Nona Salma yang biasanya t
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge







