Mag-log inBegitu Bara meninggalkanku di kamar. Spontan aku bangkit dari kasur, mencari sesuatu di balik kasur. Tanganku menggapai bawah kasur tapi...Obat itu!Pikiranku langsung terlempar pada kenyataan bahwa tadi Bara sempat membongkar sudut ranjang ini sebelum kami bercinta. Dengan gerakan terburu-buru, aku langsung turun dari tempat tidur. Persetan dengan pakaian, aku hanya menyambar selimut seadanya, lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai kamar.Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menyisipkan tanganku lebih dalam ke celah bawah kasur, meraba-raba area gelap tempat aku menyembunyikan strip pil KB.Kosong.Dahiku mengernyit. Aku menggeser posisiku, meraba lebih jauh ke sela-sela kayu dipan. Rasa dingin langsung menjalar dari ujung jari hingga ke ubun-ubun. Aku menarik tanganku, lalu beralih menyingkap seluruh seprai baru yang dipasang Bara dengan rapi, memeriksa setiap sudut kasur, bahkan sampai membungkuk dalam-dalam untuk mengintip kolong ranjang yang berdebu. Kemasan pera
Aku terbangun saat fajar baru saja masuk dari balik celah ventilasi. Aku melirik ke samping, mendapati Bara masih tertidur dengan napas teratur. Tangan kekarnya yang semalam memelukku kini terkulai santai di atas kasur. Jarang-jarang dia kesiangan seperti ini, mungkin karena kelelahan setelah aktivitas kemarin.Dengan gerakan pelan agar kasur tidak berderit, aku bangkit, menyambar handuk, dan bergegas melangkah keluar kamar menuju kamar mandi belakang. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai dapur, perutku mendadak melilit. Rasa mulas yang tiba-tiba membuatku harus mempercepat langkah masuk ke kamar mandi.Gara-gara urusan perut yang terganggu ini, aku menghabiskan hampir empat puluh menit di kamar mandi. Aku sengaja tidak terburu-buru, berharap saat aku keluar nanti, Capybara sudah pergi.Begitu selesai, aku hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku dengan rambut yang masih setengah basah terurai begitu saja. Aku melangkah kembali ke dalam kamar, dan langsung tertegun di ambang
Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka
Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m
“Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan
Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me
“Aarrgghh...” desahan maskulin menggema di dalam kamar, tanda Bara telah mencapai puncak kenikmatannya.Sedangkan tubuhku rasanya remuk, setiap inci kulitku seolah masih merekam sentuhan kasar yang memabukkan dari Bara. Aku mencoba bergerak, tapi rasa linu di pinggang dan sisa lemas di perut akibat
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa







