Mag-log inSky panik saat mendapati Summer, putri kecilnya, menghilang. Siapa sangka, balita berusia empat tahun itu ternyata pergi untuk menghentikan lamaran Louis Harper, cinta pertama sekaligus sahabat lama ibunya. Summer tidak setuju jika Louis menikah dengan orang lain. Ia ingin Louis menikahi Sky dan menjadi ayahnya! Melihat kegigihan sang putri, Sky menjadi bimbang. Haruskah ia memaksa putrinya untuk pulang dengan kekecewaan? Atau ia harus turut memperjuangkan Louis dengan mengungkap rahasia besar yang selama ini ia simpan rapat-rapat ... tentang siapa ayah Summer yang sebenarnya?
view moreAria’s POV
It was our anniversary.
Mark Smith and I had been married for eight years, and we had a beautiful daughter. Hailey was as old as our marriage, born on the very day Mark and I said I do. Every year, her birthday and our wedding anniversary collided into one celebration. One cake. One toast. One illusion of a perfect family.
I worked as a sales manager for a real estate company owned by Desmond Howard, the only heir to the Howard estate empire. He had properties scattered across the country, and I managed one of his branches. I earned well. Well enough to carry the household.
Mark, on the other hand, worked as a food attendant at a twenty-four-hour food joint.
Technically, I earned far more than he did. So I took care of the house. The bills. The extras. And I did it gladly, because I believed in us.
We were happy. One big, happy family.
Or at least, that was what I thought, until the night before Christmas. The night of our anniversary.
Mark told me he was scheduled for the night shift. I believed him. I always did. And because I loved him, because I had spent eight years choosing him every single day, I decided to do what I always did on our anniversary.
I made dinner.
Nothing extravagant, just warm, familiar food. The kind that says home. The three of us sat together at the dining table, laughter filling the room as Christmas lights blinked softly in the background.
“Aria,” Mark said, lifting his glass of wine, “you’re God-sent. I’m glad I chose you as my wife eight years ago.”
Hailey giggled and raised her glass of fruit juice. I smiled and lifted mine too, my heart swelling.
“You’re the best thing that’s ever happened to me,” he continued. “And like I always say, every anniversary....”
“One day, you’ll make it,” Hailey cut in proudly, “and you’ll buy Mummy and me a mansion.”
We all laughed.
I had no idea that was the last time laughter would feel real.
After dinner, I cleared the table while Mark changed into his uniform. He kissed Hailey goodnight, pecked my cheek, and walked out the door.
I put Hailey to bed and, because it was only eight o’clock, settled on the balcony with a book, my favourite novel, one I’d read more times than I could count.
That was when my phone buzzed.
I glanced at it. An unfamiliar number. I frowned and picked it up, already prepared to block yet another spam message.
But my fingers froze.
If you want to know exactly where your husband is and what he is doing, call me.
My heart skipped. A thousand thoughts raced through my mind in the space of a second, but I shut them all down. Mark wouldn’t hurt me. Not Mark. Not the man I had built my life around.
I deleted the message and blocked the number.
Almost immediately, another notification came through, from a different number.
A video.
My hands began to tremble. I told myself not to open it. I meant to delete it.
Instead, I pressed play.
The world tilted.
Mark was on a couch. Naked. A woman knelt between his legs, her head buried against him. Another woman sat beside him, casually caressing his chest as if she belonged there.
“No… no, this isn’t real,” I whispered, tears spilling before I could stop them.
Another video dropped.
I watched this one too.
My husband had the woman bent over a table, thrusting into her as if his life depended on it. The sounds were unmistakable. The desperation was unmistakable.
A P*F followed.
Transaction records.
Clothes. Jewellery. Two cars.
Two names stood out like scars: Clara and Cynthia.
“No… no… no,” I sobbed, the phone slipping from my hand as it hit the floor.
“Mummy?”
Hailey’s voice.
I lifted my head quickly, wiping my tears.
“Why are you crying?”
“I’m not,” I said too fast. “I was cutting onions.”
She frowned. “On the balcony? I don’t see any onions, Mummy.”
She walked closer and picked up my phone before I could stop her. My heart pounded, but the cracked screen hid everything.
“Mummy,” she said softly, touching my face, “why are you crying?”
“Th...the wind,” I said. “And the story I’m reading, it’s very sad.”
She hesitated. “I can’t sleep.”
“Why, sweetheart?”
“I had a nightmare,” she said quietly. “You and Daddy were fighting… and you stabbed him with a broken wine bottle.”
My chest tightened.
I hugged her without a word, holding her tighter than I ever had before.
Later, after she fell asleep again, I blocked the numbers. All of them. I lay awake through the night, staring at the ceiling, replaying everything I’d seen. Battling between it being real or fake.
At five in the morning, Christmas Day, Mark walked into the bedroom.
I pretended to be asleep.
He placed his phone on the bedside table and went into the bathroom. Moments later, it vibrated.
For the first time in eight years, I picked up my husband's phone.
A message flashed on the screen.
Tonight was amazing. Hope you’ll spend Christmas with me.
ClaraMy breath caught.
I was still holding the phone when he stepped back into the room.
“Aria,” he said sharply. “What are you doing with my phone?”
I looked up at him.
“Who is Clara?”
He froze.
"Halo, Malaikat Kecil," bisik Emily dengan senyum yang terlampau indah untuk dideskripsikan. "Mama senang sekali akhirnya bisa memeluk kalian." Kemudian, sementara Emily mengecup satu per satu bayinya, Summer bergumam, "Ini mengharukan sekali. Jantungku sampai berkeringat melihat Bibi dan anak-anaknya. Aku bisa merasakan kasih sayang ibu yang sangat besar." "Kasih sayang ayah juga, Summer," timpal River, sama pelannya. "Lihat! Paman Cayden juga menangis bahagia. Dia pasti sangat menyayangi istri dan anak-anaknya." River menunjuk Cayden yang berdiri di sisi ranjang. Tubuh pria itu agak membungkuk, mengelus rambut Emily. Tatapannya lembut, tertuju pada para bayi yang telungkup di dada ibu mereka. Saat matanya bertemu Emily, senyumnya mengembang sempurna. "Kau benar. Paman Cayden juga sangat menyayangi bayi-bayi. Tidak. Kita semua menyayangi mereka! Karena itu," Summer melangkah maju. Ia berdeham kecil. Saat perhatian Emily beralih padanya, ia berkata, "Bibi, maaf mengganggu.
Sambil tersenyum kecil, Sky mengelus pipi gembul putrinya. "Sabar, Sayang. Mungkin posisinya lebih sulit untuk dikeluarkan." "Apakah itu normal? Maksudku, Bibi Emily dan bayi ketiga baik-baik saja, kan?" celetuk bocah laki-laki yang berdiri di sisi Summer. "Ya, itu normal. Terkadang, melahirkan seorang bayi saja bisa berjam-jam. Apalagi tiga?" River dan Summer pun bertukar pandang. Raut mereka masih saja gelisah. Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang perawat mendorong kotak inkubator ke luar. Summer dan River terbelalak melihatnya. "Apakah itu para bayi? Ada berapa bayi di dalam sana?" gumam River. Summer menggeleng lucu. "Aku tidak tahu. Ayo kita lihat!" Dua bocah tersebut berlari menghampiri sang perawat. Kemudian, mereka berjalan sambil berjinjit, mengintai ke dalam kotak yang dibawanya. Begitu melihat bayi-bayi mungil sedang berbaring di dalam sana, mata mereka berbinar terang. "Bayi ketiga sudah lahir! Anak-anak Bibi Emily lahir dengan selamat!" seru Summer deng
Setibanya di rumah sakit, wajah Emily sudah sangat pucat. Air matanya terus mengalir. Tanpa berlama-lama lagi, para petugas medis membawanya ke ruang bersalin. Namun, hanya satu orang yang diperbolehkan menemani Emily, yaitu Louis. Yang lain hanya bisa menunggu di luar dengan wajah gelisah. "Apakah Bibi Emily akan baik-baik saja, Mama?" tanya Summer dengan suara kecilnya. Sky tersenyum lembut. "Ya, dia pasti akan baik-baik saja." "Tapi dia tampak kesakitan," timpal Summer lirih. "Dan dia mengeluarkan banyak cairan," lanjut River, tak kalah serius. "Bibi pasti sangat lemas dan haus. Dia butuh banyak minum." "Dan pelukan!" sambung Summer, sigap. "Bibi terlihat sangat ketakutan. Kuharap Papa memeluknya dengan benar di dalam sana." Alis River berkerut. "Memangnya ada pelukan yang salah?" "Pelukan itu berbeda-beda, River. Ketika seseorang sedang takut, kita harus memeluknya seperti ini," Summer merangkulnya. "Lalu kita harus memberikan tepukan hangat di punggung sepert
Emily hanya bisa mengangguk. Sambil menggenggam tangan Sky, ia menggigit bibir. Summer dan River pun berhenti bercanda. Mereka menghampiri Emily. "Ada apa, Bibi?" tanya mereka kompak. "Dia mengalami kontraksi lagi," sahut Sky pelan. Wajah Summer berubah sendu. Ia berjongkok di dekat kaki Emily. "Apakah ini bisa membuat Bibi lebih baik?" tanyanya seraya memijat. Di sisi Emily yang lain, River melakukan hal yang sama. "Mungkin para bayi merasa gerah akibat senam tadi. Jadi, mereka meronta. Perut Bibi jadi berkontraksi?" "Kalau begitu, Bibi jangan melanjutkan senam lagi," simpul Summer tegas. "Istirahat saja di sini. Anggap kita sedang piknik. Mama, kita membawa bekal, kan? Bagaimana kalau kita membentang karpet dan mulai menata? Begitu Bibi selesai kontraksi, dia bisa menikmati makanan dan minuman yang kita siapkan." Sky mengangguk kecil. "Terima kasih, Sayang. Idemu brilian sekali." "Kalau begitu, River, ayo kita ke mobil!" ajak Summer, penuh semangat. Akan tetapi
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Summer saat memasuki ruang makan. Semua yang telah berada di sana sontak menoleh ke arahnya. "Selamat pagi, Summer," sapa mereka ramah. Namun, detik berikutnya, mereka semua mengerjap. Gigi Summer terlihat begitu putih di antara kulit wajahnya yang dipenuhi coreta
"Louis, kau dengar itu? Sepertinya, Summer mengetuk pintu. Dia memanggil kita," bisik Sky di sela desah napasnya. Bukannya berhenti untuk menyimak, Louis malah melanjutkan kegiatannya di bawah selimut. "Itu halusinasimu saja, Sayang. Dia tidak mungkin mencari kita sepagi ini. Paling-paling, di
"Lihatlah putri kita, Louis. Bukankah dia sangat lucu? Dia terlihat begitu kecil dibandingkan anak-anak lain, dan cara duduknya manis sekali," bisik Sky sembari mengintip dari jendela. Louis yang berdiri di sisi Sky pun melebarkan senyum. Matanya juga tertuju pada satu-satunya balita di kelas itu
"Sepertinya, bukan hanya Gigi yang perlu meminta maaf kepada Summer di sini, tapi ibunya juga. Bukankah Anda juga sempat menghina putri saya, Nyonya?" Louis menaikkan sebelah alis. Mulut Gloria ternganga. Ia masih kesulitan mengucapkan kata. "Y-ya, saya juga bersalah." Ia menghampiri Summer, m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore