Mag-log inDiam-diam Mark menekan tombol intercom yang menghubungkan ke ruang dalam."Nona Catriona kau ada di sini? Sudah kubilang tuan tak bisa diganggu. Tuan sedang ingin sendiri!" teriak Mark dengan sangat lantang, sengaja agar tuannya mendengar dari dalam."Kau ini kenapa Mark!" Catriona menutup telinganya."Nona Catriona lebih baik kau pulang saja!" seru Mark semakin lantang.BUGHCatriona menendang kaki Mark dengan keras."Kau sudah gila ya!" seru Catriona tak mengerti dengan kelakuan aneh Mark.Dominic melirik ke layar CCTV. Ia menajamkan matanya di layar monitor."Honey!" gumam Dominic tak percaya Catriona ada di tempat ini.Sontak saja Dominic langsung beranjak dari tempat duduknya, dan mengayunkan langkah kakinya selebar-lebarnya hingga akhirnya berlari menuju pintu. Pintu pun terbuka otomatis. Ia melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya."Honey!" ucapnya lembut, seketika amarahnya mereda begitu saja saat melihat sosok yang ia cintai berdiri di hadapannya."Hai Dominic, aku
Satu jam berlalu, Catriona sudah selesai mandi dan sudah nampak cantik dengan dress semi formal bewarna capuccino. Ia menata rambutnya ke atas dengan simple. Catriona segera keluar dari kamarnya dan menuju ke mobil.Adena sudah berdiri di samping mobil Catriona dengan pintu yang sudah terbuka. Catriona mengulas senyum terima kasih pada Adena dan segera masuk ke dalam mobil."Hati-hati Nona!" seru Adena. Mobil pun melesat pergi meninggalkan rumah.Selang beberapa detik, satu mobil mengikuti Catriona dari belakang, itu adalah mobil pengawal yang akan menjaga kemanapun Catriona pergi.Tiga puluh menit, Catriona telah tiba di gedung pencakar langit yang megah. Crush Company milik suami palsunya yang sudah berhasil menempati ruang hatinya. Senyum Catriona pun mengembang sempurna. Sepanjang perjalanan ia tak berhenti tersenyum.Dan matanya sesekali melihat ke arah jemari tangannya yang kini tersemat cincin pernikahan mereka. Catriona sengaja memakai cincin pernikahannya khusus untuk hari in
"Tuan!" Tiba-tiba Mark masuk untuk mengabarkan sesuatu. Nampak jelas gurat serius di wajah Mark. Artinya ada suatu hal penting yang telah terjadi."Katakan Mark!" ucap Dominic.Mark berjalan melewati Salvador. Ia menatap singkat ke arah lelaki tua yang terlihat begitu syok dan masih berdiri mematung."Ehm!" Mark berdeham sebagai kode agar Salvador segera pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.Suara deheman itu, seketika membuat Salvador sadar kembali dari rasa syoknya, ia pun segera pamit untuk undur diri. Salvador membungkuk singkat, kemudian berjalan mundur dan meninggalkan ruangan. Pintu pun tertutup otomatis. Ruangan menjadi hening kembali."Ada apa, Mark?" tanya Dominic."Tuan, saya sudah mendapatkan seluruh data dari keluarga Barcklay." lapor Mark seraya menyerahkan notepad pada Dominic.Dengan tak sabar Dominic langsung menyambar notepad dari tangan Mark. Dan segera membaca seluruh isinya."Mendiang Nyonya Camelia Barcklay adalah anak tunggal dari Tuan Barcklay. Nyo
"Bagaimana dengan Wilson Group?" tanya Dominic."Tuan Jackson tidak menyentuhnya sama sekali." jawab Mark.Dominic membuang pandangannya ke arah jendela. Sangat aneh, karena Far-nya sama sekali tidak menyentuh aset sitaannya dari Wilson Group. Padahal, hampir seluruh aset yang ia miliki telah diobrak-abrik oleh Far-nya."Mark, apa kau sudah mencari tahu tentang riwayat keluarga Barcklay?" tanya Dominic seketika ingat dengan satu hal itu."Saya masih berusaha menelusurinya Tuan. Keluarga Barcklay sepertinya bukan keluarga sembarangan. Saya masih berusaha untuk bisa menembus akses mereka." jawab Mark.Dominic menerawang jauh. Nama Barcklay sangat tidak asing baginya. Ia seperti sering mendengarnya dulu. Dominic berusaha untuk mengingat hal itu. Banyak sekali teka-teki di kematian ibu Catriona.Mobil yang dikendarai Mark masuk ke dalam Crush Landmark. Ia berhenti tepat di lantai bergaris merah. Secara otomatis sekeliling lantai tersebut bergerak. Dan hanya menyisakan mobil di atas tanda
Catriona masih menelungkup di atas ranjang ketika pagi datang. Semalam ia benar-benar tidak bisa tidur. Matanya terjaga, tanpa rasa mengantuk sedikitpun. Keresahan di hatinya terus mengganggu.Tak pernah ia segelisah ini. Kegalauan menyelimuti perasaannya sejak semalam. Ia terus menunggu, berharap Dominic akan kembali ke kamarnya.Namun, hingga langit berubah terang, tidak ada tanda-tanda Dominic ingin menemuinya.Apakah kali ini Dominic benar-benar marah padanya? Mengapa perkara perasaan jadi begitu rumit?Ia pernah menjalin hubungan kekasih dengan Maxim, tapi tidak pernah sekalipun dirinya dibuat segelisah ini. Semuanya sungguh jauh berbeda. Hubungannya dengan Maxim Landai, tak ada gangguan, berjalan mulus, datar, dan tentunya terasa hambar. Tak pernah ada pertengkaran. Namun, berujung kandas karena perselingkuhan. Tentu itu menyakitkan, namun hanya sebentar. Setelah itu, seluruh rasa sakitnya telah menghilang begitu saja terbawa oleh waktu.Tapi, apa yang terjadi padanya saat ini?
Catriona meremas ujung bajunya. Semua yang dikatakan Dominic memang benar. Ia ingin pergi darinya, lelaki kejam yang merenggutnya dengan paksa. Dan saat itu, ia benar-benar membenci lelaki yang ada di hadapannya.Tapi sekarang semuanya berubah."Saat itu... aku belum mengetahui perasaanmu."Belum sempat kalimat itu selesai, Dominic sudah mengerti arah jawabannya."Ya, kau akan pergi. Kau akan meninggalkanku."Nada suaranya tetap tenang. Tidak ada bentakan atau amarah. Tapi, justru itulah yang membuat hati Catriona terasa semakin sesak, karena ucapan Dominic benar.Dominic tersenyum hambar. "Aku sudah menduganya. Itulah sebabnya aku tidak pernah bisa tenang setiap kali Derren berada di dekatmu."Catriona segera menggeleng. "Itu masa lalu. Aku tidak akan membuat pilihan yang sama sekarang."Namun, Dominic memilih berdiri. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.Punggung tegaknya kembali memancarkan wibawa seorang pemimpin yang tak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan s
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it







