เข้าสู่ระบบDerren menatap Catriona dengan tatapan hangatnya seperti biasa. Senyuman tulus itu tak lepas dari bibirnya. Seperti sebelumnya, sikap Derren pada Catriona tak berubah."Kau sangat ceroboh Caty, bagaimana jika tadi lelaki lain yang masuk dan melihatmu?" tanya Derren tak habis pikir."Mengapa kau ke sini tanpa mengabariku terlebih dahulu?" timpal Catriona balik bertanya."Apa kau akan mengizinkanku ke sini jika mengabarimu terlebih dahulu?" Derren membalikkan pertanyaannya."Apa aku pernah menolakmu datang kemari?" timpal Catriona.Derren hanya diam. Pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban. Nyatanya Catriona memang tak pernah menolak kedatangannya."Aku senang melihatmu kembali bekerja." ucap Derren."Dominic mengizinkanku." jawab Catriona.Derren tersenyum tipis. "Jadi, sekarang yang kau lakukan membutuhkan izin darinya?"Catriona mengangguk. "Karena Dominic adalah suamiku." ucapnya tegas.Mendengarnya tentu dada Derren terasa sesak. Kenyataan itu tak bisa dibantah, memang saat ini Catr
Victor Valdes adalah penipu ulung yang sangat licik. Meskipun demikian, keahliannya memang tak perlu diragukan lagi. Dia adalah hacker paling mengerikan dan banyak dicari kalangan elite global. Identitasnya tak pernah diketahui oleh siapapun. Ia memiliki seribu wajah dan seribu nama.Namun siapa sangka jika selama ini diam-diam Victor Valdes adalah partner sekaligus musuh bagi Dominic. Satu-satunya yang tahu identitas Victor adalah Dominic. Dan dulu mereka pernah menjadi siswa yang dikucilkan di sekolah. Dan kini keduanya berteman dekat. Juga sama-sama memiliki identitas rahasia."Di saat sulit seperti ini. Mungkinkah kita mampu membayarnya?" tanya Mark ragu. Bukan tidak percaya dengan Dominic. Tapi Mark hanya berjaga-jaga. Karena kesehatan keuangan perusahaan sedang tidak baik."Justru dia yang harus membayarku untuk ini." seringai Dominic. Ia ingat jika Victor berhutang budi padanya. Awalnya Dominic memilih melupakan hutang budi itu. Namun sepertinya, sekarang tak ada salahnya untu
Di ruang kerjanya, Dominic termenung seorang diri.Setelah Far pergi meninggalkan ruangannya, ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Tatapannya mengarah jauh ke depan melalui dinding kaca. Sorot matanya tajam, tetapi terlihat kosong, seolah pikirannya sedang bekerja jauh lebih keras daripada yang tampak dari luar.Dari tempatnya duduk, Dominic bisa melihat deretan gedung pencakar langit yang memenuhi pusat kota. Tak satu pun memiliki ketinggian yang mampu menandingi Crush Company. Gedung miliknya masih menjadi yang tertinggi di antara semuanya.Namun, ketinggian gedung itu tidak berarti apa-apa jika kekuasaan yang menopangnya mulai runtuh.Dominic terus berpikir.Ia tidak akan kalah hanya karena sebuah gertakan. Pasti ada celah yang bisa ia manfaatkan untuk menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat. Setiap orang memiliki kelemahan. Setiap rencana pasti menyisakan satu titik yang tidak terlindungi.Dominic hanya perlu menemukan titik itu.Boleh saja semua orang menyerangnya sekaran
Perusahaan Wilson Group.Seperti sudah sangat lama Catriona tak melihat perusahaannya. Begitu sampai di depan bangunan tinggi itu, mata Catriona menatap lekat ke sekeliling area perusahaan. Senyum tipis Catriona mengembang. Ia rindu dengan semua aktifitas yang sudah lama ia tinggalkan.Mark membukakan pintu untuk Catriona. Kaki Catriona mengayun turun dari mobil. High heels hitam kontras dengan kaki putih jenjangnya yang mulus. Catriona berdiri di depan mobil, menatap lurus ke depan. Saatnya kembali bekerja."Kau boleh pergi Mark." ucap Catriona yang langsung diangguki patuh oleh Mark."Selamat bekerja kembali, Nona!" seru Mark sambil menundukkan kepalanya singkat.Catriona melangkah masuk ke dalam perusahaannya. Seketika semua mata tertuju pada sosok yang sudah lama sekali tidak mereka lihat selama beberapa minggu terakhir ini. Setelah kejadian penyegelan itu, Direkturnya tak pernah muncul."Nyonya Catriona!" seru sekuriti saat melihat kedatangan Direkturnya. Ia terkejut sekaligus se
Dominic dan Catriona kini duduk di depan layar. Setelah memasang chip, profesor Salvador meminta keduanya untuk memindai barcode melalui ponselnya masing-masing.Keduanya sama-sama menyalakan ponselnya, kemudian membuka kamera depan. Setelah itu, mereka menukar ponselnya. Dominic mengarahkan chip ke layar ponsel Catriona dan begitu sebaliknya, Catriona mengarahkan ke layar ponsel Dominic. Otomatis barcode keduanya menscan dan saling memindai.BIP BIPSuara ponsel mereka bersamaan."Done!" seru Salvador tanda jika semua proses telah selesai.Nampak di layar ponsel mereka masing-masing terpampang gambar hati dengan grafik warna. Semakin ke atas warna semakin bewarna merah pekat. Dan semakin ke bawah warna menjadi hitam."Aku tidak paham dengan ini." Catriona melihat grafik tersebut dengan seksama di layar ponselnya."Jadi, begini Nyonya, jika salah satu diantara kalian mengalami penurunan perasaan maka warna hati tersebut akan meredup dan semakin hitam. Namun, jika perasaan Anda sedang
"Kita jadi bertemu profesor Salvador pagi ini?" tanya Catriona kembali merapikan pakaian Dominic yang berantakan akibat ciuman panas mereka barusan."Tentu saja. Chip itu sangat penting untuk kita." ucap Dominic.Beruntung ia segera menyuruh profesor Salvador untuk membuatkan chip itu. Dalam situasi seperti ini, mereka berdua membutuhkan chip itu, untuk saling menjaga satu sama lain."Baiklah lebih baik kita segera berangkat. Aku sudah tidak sabar untuk menyapa para pegawaiku. Aku sudah rindu dengan meja kerjaku." ucap Catriona.Dominic mengangguk. Keduanya berangkat menuju ke Crush Landmark.Sampai di Crush Landmark. Suasana di dalam nampak sibuk. Pagi hari mereka memang lebih sibuk dari jam siang. Karena saat pagi akan banyak data baru yang masuk. Dan harus segera terverifikasi.Semua orang menyambut hormat kedatangan tuan dan nyonyanya. Mereka menatap senang saat melihat tuannya tersenyum. Senyum langka yang jarang mereka lihat, sepertinya mulai hari ini akan sering mereka saksikan
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it







