LOGINHanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.
“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa pun, kini menjelma menjadi sosok pria maskulin dengan aura dingin yang menggetarkan? Dengan langkah terburu-buru, Catriona bangkit. “Hei, Cupu!” teriaknya lantang, mengejar sosok Dominic yang baru saja melintas di hadapannya. Dominic mendengar jelas panggilan itu. Tapi ia hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan langkahnya tanpa ekspresi. Julukan itu tak lagi menyakitinya, justru sangat akrab di telinganya. Julukan Cupu telah menjadi bagian dari sejarah yang tak bisa dihapus, namun kini tak lagi menyentuh hatinya. Dulu, Dominic adalah siswa yang kesepian, pendiam, tak punya teman. Tak pernah bergabung dengan kelompok mana pun. Ia lebih suka menyendiri di perpustakaan, tenggelam dalam buku-buku yang tak pernah dibaca orang lain. Setiap hari, ia diantar-jemput sopir pribadi. Membawa bekal sendiri dari rumah, meski sekolah menyediakan makanan mewah. Semua itu membuatnya tampak aneh. Dan dalam dunia remaja, keanehan adalah alasan cukup untuk dibenci. Ia dibully, dikerjai, diperas. Barang-barang mewahnya sering diambil paksa oleh geng siswa populer. Tapi Dominic tak pernah membalas. Ia hanya diam dan mencoba bertahan. Bertahun-tahun menelan luka dan hinaan, dengan satu alasan, ia malas mencari masalah. Suara musik DJ memekakkan telinga. Lampu disko menari liar, menciptakan ilusi euforia. Dominic memasuki ruangan dan membaur dengan kerumunan, seolah ia adalah bagian dari pesta. Padahal tidak. Bagi Dominic, semua ini adalah sampah. Tempat ini dan orang-orang di dalamnya tak lebih dari tikus-tikus berbaju mewah. Catriona kehilangan jejaknya. Ia berjalan membelah kerumunan, wajahnya angkuh seperti dulu. Para pria menyapanya, memuji, berusaha mencuri perhatiannya, tapi semua sia-sia. Catriona tetap arogan dan dingin. Bagi Catriona, mereka bukan kelasnya. Biasa saja. Membosankan. “Caty!” teriak seorang wanita. Catriona menoleh dan matanya langsung berbinar. “Emely!” serunya senang. Emely Smith, sahabat sejatinya sejak bangku sekolah. Mereka seperti bayangan satu sama lain. Tapi kali ini, wajah Emely tampak khawatir. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. “Tidak.” jawab Catriona jujur. Emely menggandeng tangannya, membawa Catriona ke pojok bar yang lebih sepi. “Maafkan aku, Caty. Aku yang mengirim video itu…” Emely tak sepenuhnya menyesal. Semua untuk menyelamatkan sahabatnya. “Aku justru berterima kasih. Setidaknya aku tahu siapa dia sebenarnya,” gumam Catriona datar. Tapi Emely masih tampak resah. Matanya menyorotkan sesuatu yang tak bisa disembunyikan. “Caty… sebaiknya kau pulang saja." “Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu?” Catriona curiga. Emely menggigit bibirnya, ragu. Tapi akhirnya mengangguk. “Dia ada di sini. Maxim…” "Bagus!" timpal Catriona menyeringai senang. Tanpa pikir panjang, Catriona melangkah menuju tangga menuju ruang privat di lantai dua. Matanya menyala seperti pemburu. Emely mencoba menahan, tapi tak bisa menghentikan sahabatnya itu. “Di ujung kiri…” tunjuk Emely takut-takut. Di depan ruangan berdiri seorang pengawal pribadi. “Nona, tidak bisa masuk.” ucapnya sopan, karena ia mengenal baik siapa Catriona. “Buka pintunya, atau kupecahkan dua bola senjata berhargamu itu dengan stiletto-ku.” ancam Catriona dingin. Pengawal itu tahu, ancaman Catriona bukan bualan. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu. Begitu pintu terbuka, dunia seperti berhenti sejenak. Catriona berdiri mematung. Napasnya tercekat. Mantan kekasihnya, tak berbusana. Bersama dua wanita. Dalam satu ranjang. Suara erangan memualkan menggema. Tubuh Maxim menindih salah satu wanita dari belakang, sementara yang lain berdiri di sampingnya menyodorkan dadanya ke mulut pria brengsek itu. Karena terlalu asik hingga Maxim tak menyadari kedatangannya. Catriona menatap tajam. Selama pacaran, Maxim tak pernah sekalipun menyentuhnya. Ia bilang ingin menjaga kesucian cinta. Omong kosong. Nyatanya, ia hanya menyimpannya untuk pesta binatang seperti ini. Catriona melangkah masuk, mengambil botol dari meja, dan BRAKKK! Botol menghantam kepala Maxim. “AAAAARRGH!” pekik Maxim tersungkur, darah mengalir di pelipisnya. Dua wanita menjerit panik. “CATRIONA!?” teriak Maxim terkejut. “Lelaki brengsek! Jadi ini alasanmu mengakhiri hubungan kita?!” Matanya menatap nanar milik Maxim yang masih berdiri tegak, penuh hasrat. Pemandangan itu menyesakkan dada. Seharusnya hanya ia yang melihat tubuh itu. Seharusnya, bukan seperti ini. Catriona mengangkat kakinya dan menginjaknya dengan heels setajam silet. “AAAAAAAAAGGHHHH!!” Jeritan Maxim memekikkan seluruh ruangan. Ia menggeliat, pingsan di tempat, tubuhnya mengejang. Wanita yang tadi sempat dimanja olehnya, kini menjerit histeris. “OH MY GOD! KAU MEMBUNUHNYA?!” Catriona menoleh, matanya dingin. Itu di wanita yang berada di video Emely. “Itu kekasih barumu? Bagus. Sekarang dia tanpa senjata. Selamat menikmati pria impoten!” Ia tertawa kecil, sebelum berbalik, berjalan anggun keluar ruangan, meninggalkan sisa-sisa kehancuran. Emely terpaku. Pengawal itu pucat. Tak ada yang berani menghentikan wanita bernama Catriona Wilson. Jika tak ingin harta berharganya berakhir sama. Arogan, cantik, dan berbahaya. Dia Catriona Wllson. Dan baru saja menghancurkan harga diri lelaki yang pernah mengkhianatinya.Begitu tiba di rumah. Dominic turun lebih dulu dan berjalan menuju ke kamar. Dari sana Catriona sudah bisa menilai jika suaminya tersebut sedang marah padanya. Catriona segera membuntuti Dominic masuk ke dalam kamar."Sayang!" seru Catriona membuntuti Dominic yang masuk ke dalam walk in Closet."Ya." jawab Dominic singkat sambil melepaskan jasnya."Aku akan menjelaskan semuanya." ucap Catriona segera mengambil alih jasnya dan menggantungnya kembali.Saat Dominic hendak melepaskan dasinya, Catriona langsung menyambarnya. Dan mengambil alih."Aku tahu, kamu memiliki alasan yang kuat untuk itu Honey." ucap Dominic mencoba mengerti."Maaf Sayang. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu." ucap Catriona.Catriona menceritakan semua kejadian sejak ia sampai di rumah sakit dan tak sengaja bertemu dengan Maxim. Lalu dirinya ditolong oleh Derren dan dibawa pergi menemui kakeknya Barcklay."Maxim berani melakukan hal itu padamu?" Dominic terlihat kesal.Catriona mengangguk. "Sepertinya ia m
"Maaf lama menunggu, Tuan!" Mark datang, kemudian segera masuk ke dalam mobil. Ia langsung duduk di kursi kemudinya.Mark melirik dari kaca spion, terlihat ekspresi wajah tuannya yang diselimuti kemurkaan. Amarahnya belum redam."Kau bekerja untukku atau Wilson?" ucap Dominic dingin."Maaf Tuan. Saya harus membereskan barang terlebih dahulu." jawab Mark kemudian menyalakan mobilnya. Ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Wilson.Victor yang duduk di samping Dominic hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.Sementara itu, di dalam mobil lainnya. Catriona dan Derren tak saling bicara. Sejak keluar dari mansion Barcklay, Catriona hanya diam membisu. Hampir seluruh kata-kata kakeknya membekas di hatinya.Sejak dulu memang kakeknya selalu bersikap dingin padanya. Jarang sekali sang kakek memperlakukannya seperti seorang cucu pada umumnya. Tak pernah mereka bercanda tawa layaknya kakek dan cucu.Derren pun tidak ingin menganggu Catriona. Ia tahu jika hati Catriona sedang tida
Begitu murkanya Dominic hingga berhasil menghempaskan Mark dan Victor yang sejak tadi berusaha menahan amarahnya. Kini Dominic sudah mencekik leher Wilson dengan kuat."Jika kau membunuhku, maka kupastikan Catriona akan membencimu seumur hidup!" seru Wilson dengan senyum liciknya.Dominic semakin mengeratkan cekikan tangannya pada leher Wilson. "Kau bukan manusia Wilson. Kau adalah iblis!" Dominic seperti kehilangan kesadaran.Nampak Wilson kesulitan bernapas. Ia terengah-engah berusaha mencari oksigen. Wajahnya memerah karena darah yang berhenti mengalir."Catriona akan meninggalkanmu jika kau membunuhku!" ucap Wilson masih berusaha berbicara.Seketika tangan Dominic bergetar. Ia tahu Catriona begitu sayang pada Ayahnya. Seburuk apa pun ia tetap sayang pada ayahnya yang seperti iblis. Perlahan Dominic merenggangkan tangannya."Kau tak layak untuk hidup!" seru Dominic masih menyala-nyala."Tapi kau masih membutuhkanku. Cepat atau lambat Barcklay dan Harvey akan melangsungkan pernikaha
Dominic mulai membaca seluruh kronologi kejadian kematian Camelia. Benar, ternyata Camelia meninggal karena bunuh diri. Ia meregang nyawanya sendiri dengan menembuskan butir peluru ke kepalanya sendiri. Dan, semua dilakukan di rumah sakit. Tepatnya di depan mata kepala Jenny dan Jackson.Fakta mencengangkan tersebut sontak membuat tangan Dominic bergetar. Ia tak percaya jika kedua orang tuanya terlibat. Wajah Dominic seketika membuat saat mengetahui fakta tersebut.Namun, belum jelas apa alasan Camelia menghabisi nyawanya di depan kedua orang tuanya. Mata Dominic yang memancar pias menyorot pada Wilson untuk mencari kejelasan."Itu faktanya. Camelia berkorban untuk ibumu. Sebagai balas budi." ucap Wilson.Dominic semakin syok. Dadanya hampir meledak mendengarnya."Apa maksudnya?" tanya Dominic."Camelia menebus hutangku pada keluargamu dengan cara memberikan jantungnya pada ibumu." ungkap Wilson dengan gamblang.Sontak Dominic telonjak kaget. Seketika seluruh tubuhnya terasa tak berda
Dominic dan Wilson berada di dalam satu ruangan yang sama. Keduanya berbincang tenang, tidak seperti awal pertama mereka bertemu saat perjanjian hutang.Suasana hati keduanya lebih tenang. Bicara dari hati ke hati. Saat ini, tujuan mereka sama, untuk melindungi Catriona dari ancaman Barcklay.Selama mengalami kesulitan dan melihat pengorbanan Catriona untuknya, akhirnya mampu membuat hati Wilson tergugah. Jujur, dulu ia hampir tak pernah peduli pada Catriona.Sejak dulu, Wilson selalu dibutakan dengan harta. Baginya harta adalah segala-galanya. Keluarga hanya sebagai alat pelicin. Dan salah satu alasan ia menikahi Camelia juga karena kekayaan yang dimiliki oleh Camelia."Sejak dulu aku tidak pernah menyukai Barcklay. Karena dia tidak memiliki hati sama sekali. Bahkan dengan anaknya sendiri Camelia. Aku pikir, Barcklay adalah satu-satunya orang tua yang kejam. Ternyata tidak, justru aku yang lebih kejam darinya." Wilson mengakui kesalahannya selama ini.Dominic hanya menatap dingin pad
Catriona menerobos dan melenggang masuk begitu saja. Ia langsung mencari sosok yang membuatnya sejak tadi penasaran. Derren mengikuti langkah Catriona dari belakang."Kakek!" panggil Catriona dengan suara lantangnya. "Kakek Barcklay!" panggilnya lagi seraya menyusuri ruangan. Ia clingak-clinguk kesana kemari mencari keberadaan kakeknya."Kakek!" serunya lagi, ia masuk ke dalam salah satu ruangan baca. Dan benar di sanalah kakeknya duduk santai sambil membaca buku.Catriona tersenyum saat melihat sosok kakeknya yang sudah lama sekali tak pernah dilihatnya. Terakhir kali bertemu, saat ia masih berusia lima belas tahun. Setelah itu, mereka tak pernah lagi saling menyapa. Seakan sengaja saling menghindari.Ia berjalan mendekati sang kakek. "Apa kakek tidak ingin menyapaku?" ujar Catriona.Barcklay yang sibuk dengan bukunya, akhirnya meletakkannya di atas meja. Ia memindai pandangannya dari buku ke arah Catriona."Apa benar ini cucuku?" tanya Barcklay menimpali dengan wajah datarnya.Catri
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it







