LOGIN
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan.
"Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan siapa pun yang mengenalnya. Dialah Dominic Jackson, boss mafia termuda, terkaya, dan paling ditakuti di benua hitam. Sosok yang kabarnya bisa melenyapkan satu nyawa hanya dengan satu jentikan jari. Sebuah legenda hidup di dunia kelam. Malam itu, Barbara District berdetak seperti jantung liar yang tak pernah lelah berdetak. Sebuah kota yang dijuluki sebagai surga malam, tetapi penuh dengan neraka tersembunyi. Distrik tempat semua dosa dikomersilkan dan semua batas bisa dibeli. Di salah satu diskotik termegah kota, diselenggarakan reuni besar-besaran. Seorang anak konglomerat menyewa seluruh venue demi pesta liar bertema “perpisahan masa lajang” yang sebenarnya hanyalah kedok pesta penuh lendir, minuman, dan transaksi kotor lainnya. Mobil-mobil mewah seharga puluhan miliar berjajar seperti parade keangkuhan. Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah malam para raja dosa turun dari singgasana dan bersenang-senang seperti dewa. TIN! TIN! TIIIIIIIIIN! Sebuah klakson membuyarkan pikiran Dominic. Lelaki di belakang kemudi menoleh, geram. “Tuan, izinkan saya..” Ia hendak turun. “Biarkan,” cegah Dominic ringan. “Aku tidak ingin merusak reuni pertamaku.” Reuni? Ya. Setelah belasan tahun sejak lulus sekolah menengah, malam ini untuk pertama kalinya Dominic Jackson memutuskan untuk muncul. Bukan tanpa alasan. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Seseorang, lebih tepatnya. TIN! TIIIIIIIN! “Brengsek! Mobil siapa ini?! Berani-beraninya parkir di tempatku!” teriak suara perempuan dari dalam mobil sport berwarna merah mencolok. Dengan brutal, wanita itu turun dan langsung menghantam kaca mobil Dominic menggunakan high heels mahalnya. Ia bahkan melepaskan salah satu sepatunya untuk mengetuk kaca keras-keras. TOK! TOK! TOK! “Keluar kau! Jangan membuatku marah!” teriaknya penuh emosi. Ia menunduk, mengintip ke dalam. Namun kaca gelap mobil Dominic tak memberinya apa-apa. Dominic melihat dari balik kaca dengan ekspresi geli. Wanita itu terlihat seperti anak kecil yang tantrum di supermarket. Aneh, konyol, tapi cukup menggemaskan. "Dia tidak berubah," batin Dominic sambil menyungging senyum tipis. Kenangan lama menyelusup di antara kesadarannya. Saat sang wanita kembali ke mobilnya, Dominic mengira drama sudah selesai. Tapi ternyata ia datang lagi, kali ini membawa alat pemecah kaca darurat. PRANG!! Kaca mobil Dominic retak berkeping-keping. “Tuan!” pengawal sudah menggenggam senjata. “Biarkan,” ulang Dominic santai. Sang pengawal terdiam. Tidak masuk akal. Ini Dominic Jackson yang bahkan bisa membunuh hanya karena dilirik. Tapi sekarang? Bahkan tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya senyum aneh yang menyiratkan sesuatu. “Turun kau! Atau kuhancurkan semua kacamu! Jangan macam-macam dengan wanita patah hati!” teriak sang wanita garang. Dominic menuruti. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang pria dengan postur sempurna turun, mengenakan setelan hitam klasik, wajahnya tertutup kacamata hitam. Maskulin. Aroma parfumnya menyengat. Membuat orang di sekitarnya refleks menahan napas. Wanita itu menyipitkan mata, mencoba mengenali. Dominic membuka kacamata hitamnya perlahan. “Catriona Wilson,” sapanya, seolah memanggil masa lalu. Catriona menatap, bingung. “Maaf, siapa kau? Semua alumni mengenalku. Tapi aku tak mengenalmu,” ucapnya dengan angkuh. Dominic menilai penampilannya. Gaun merah mini ketat, dada mencolok, belahan paha menantang. Tubuhnya kini jauh berbeda dari gadis kutu buku yang dulu sering mengikuti lomba debat. “Perubahan yang bagus... sayang sifat arogannya masih sama,” gumam Dominic sinis. Catriona menyilangkan tangan, menutupi dadanya. “Jangan kurang ajar padaku!” Dominic mendekat, begitu dekat hingga nafas mereka hampir menyatu. “Bukannya kau sendiri yang pamer?” bisiknya. “Padat. Tapi... sayang, palsu.” “Apa kau bilang?!” bentaknya merah padam. Dominic tiba-tiba menunduk, jarak wajah mereka hanya sejengkal. Catriona terpaku, detak jantungnya kacau. Wajahnya memerah entah karena marah atau gugup. “Pal-su,” bisik Dominic di telinganya. Catriona tersentak. Ia mundur. Tergelincir. Dan… BUGH! Bongkahan pinggulnya mencium aspal dengan keras. “AAARGH! Lelaki gila!” umpatnya, meringis sambil memegangi pahanya. Dominic berdiri tenang, tetap memandang ke arahnya dengan santai. “Kaca mobilku. Kau harus menggantinya.” “Dalam mimpimu, brengsek!” Dominic tersenyum dingin. Kacamata kembali terpasang. Ia membalikkan badan, melangkah pergi, meninggalkan Catriona yang masih duduk di aspal dengan emosi membara. “Kau akan menanggung akibatnya, Kucing Arogan.” DEG! Catriona mematung. Suara itu... panggilan itu... seolah membawa ingatannya kembali ke satu sosok culun, pemalu, berkacamata tebal, dengan tas penuh buku dan wajah tanpa ekspresi. Matanya membelalak. Nafasnya tertahan. “Kau… si Cupu?!” serunya tak percaya. Dominic hanya menyeringai tanpa menoleh. Langkahnya mantap memasuki arena reuni. Sementara Catriona masih terpaku, matanya membara campur aduk oleh rasa malu, penasaran, dan entah apa lagi yang bergemuruh di dadanya."Selamat Pagi kakek Barcklay!" sapa Derren dengan nada suaranya yang berat. Terlihat kegelisahan dan sedikit takut di wajah Derren."Derren, lama tak berbicara denganmu. Sepertinya kau sangat sibuk akhir-akhir ini. Atau kau sengaja untuk menghindari ku?" satir Barcklay."Maaf kakek, hanya ..." Belum Derren selesai berbicara, Barcklay sudah memotong pembicaraan mereka."Hanya kau gagal mendapatkan yang seharusnya menjadi milikku. Haruskah kakek kecewa padamu Derren? Saudaramu secara terang-terangan mengambilnya darimu. Tapi kau tak bisa berbuat apa pun!" sergah Barcklay seketika membungkam mulut Derren.Tangan Derren sedikit bergetar. Ini bukanlah hal baik. Dari nada bicara Barcklay, menunjukkan sebuah kemarahan yang besar. Tenggorokan Derren rasanya tercekat hebat. Napasnya tiba-tiba tak beraturan."Jika kau tak bisa menyelesaikannya, maka aku sendiri terpaksa turun tangan. Tunggu aku di bandara Barbara, Derren." ucap Barcklay kemudian menutup sambungan teleponnya.Nada sambungan tele
"Bangun Honey! Kau tak ingin melihat matahari terbit di sana!" Dominic mencoba membangunkan Catriona yang masih lelap dalam tidurnya.Selalu saja, Dominic yang pertama kali bangun. Dan Catriona selalu masih tertidur pulas. Alih-alih semalam mereka tidur, nyatanya keduanya melanjutkan pergumulan panasnya kembali.Baik Dominic maupun Catriona sama-sama lepas kendali. Bagaikan sebuah candu bagi mereka, tak ada rasa puas, ingin lagi dan lagi. Hingga keduanya terkulai setelah pelepasan terhebatnya.Dan benar saja. Sekarang Catriona seperti kehilangan daya di tubuhnya. Jangankan bangun, untuk membuka mata saja rasanya tak sanggup, seperti ada lem di kelopak matanya."Hm." Catriona hanya menggeliat dan merubah posisi tidurnya saja."Honey, kau akan terlambat jika tidak segera bangun." ucap Dominic mengingatkan."Hm." Hanya suara itu yang muncul dari bibir Catriona.Dominic juga tak mau terlambat bekerja. Sepertinya terpaksa ia harus membangunkan paksa dan memandikannya segera. Dominic mengan
Langit seperti sedang mendukung mereka. Jika banyak orang bilang tempat paling indah melihat bulan dan bintang adalah di tepi pantai, memang benar jawabnya.Hari ini, Dominic dan Catriona memilih untuk bersantai di luar campervan. Beralaskan karpet tebal, ditemani lilin juga secangkir coklat panas. Beratapkan langit yang sangat cerah. Nampak keduanya sedang saling melemparkan candaan.Setelah pergumulan panas yang cukup lama, mereka berdua mandi bersama. Saling membantu membilas dan menggosok tubuh satu sama lain. Sepanjang malam ini mereka berdua tak henti bersenda gurau.Dunia hanya milik sepasang suami istri yang sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Tak ada lagi beban yang menghantui mereka. Semuanya kesedihan dan kegelisahan telah sirna tergerus oleh kebahagiaan.Keduanya memutuskan berkomitmen untuk saling mempercayai dan mencintai. Tak lagi peduli pada siapa saja yang ingin memisahkan mereka. Keduanya akan sama-sama bertahan.Dominic mendekap erat tubuh Catriona yang berbaring
Dominic menggesekkan kedua hidung mereka. Senyum pun terlukis di bibir Catriona yang sudah kehilangan lipstiknya, namun tetap bewarna pink alami.Bibir keduanya saling bertemu dan kembali memberikan kenikmatan satu sama lain. Kini Dominic melakukannya dengan lembut, tak mau tergesa-gesa dan membuat Catriona cepat sampai ke puncak lebih dulu. Ia ingin mencapainya bersama-sama.Kecupan itu tak lagi berada di bibir, melainkan sudah turun ke leher Catriona. Sudah banyak jejak kepemilikan yang ditinggalkan Dominic di sana. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, kala Dominic mulai bermain intens di dua bukit favoritnya.Tubuh Catriona mulai bergerak gelisah. Ia benar-benar masih sensitif. Namun, Dominic sudah kembali menjelajahi tubuhnya. Tak mau melewatkan sejengkal pun yang nampak di depan matanya. Gigitan-gigitan lembut menyambut erangan yang lembut, suara Catriona sudah terdengar parau.Dominic melepaskan genggaman tangannya. Tangan kokoh itu tak lagi menganggur. Ia sudah bergerak
"Aku tak mau memaksa!" Dominic ingat betul bagaimana saat Catriona tersiksa karena melakukan hal itu. Itu sebabnya ia tak pernah lagi melakukannya saat bercinta."Aku sendiri yang menginginkannya!" ucap Catriona.Perlahan Dominic pun melepaskan cengkraman-nya, ia tak lagi menghalangi Catriona.Jemari lentik Catriona sudah berhasil meloloskan short pendek yang dikenakan suaminya. Dan hanya menyisakan satu-satunya penutup tubuh suaminya yang kekar nan atletis itu."Honey ..." Dominic mati-matian menahan hasrat yang hampir meledak. Saat Catriona mengusap lembut perut ratanya.Catriona duduk dengan tegap, dan sedikit mendorong tubuh Dominic."Aku tak mau memaksamu untuk melakukannya, Honey!" Dominic kembali mengingatkan. Catriona mendongak lalu mengulas senyumnya."Bagaimana jika aku yang menginginkannya?" timpal Catriona dan berhasil meloloskannya dari penutup terakhir.Catriona memejamkan mata sebentar begitu benda tersebut terpampang nyata di depannya. Dominic benar-benar tak percaya C
Dominic menutup pintu mobil campervan miliknya. Dan menghempaskan tubuh Catriona di atas sofa bed yang dilapisi dengan bulu-bulu lembut.Sejak di atas gendongan Dominic, mata Catriona sudah menatap heran pada campervan yang tiba-tiba sudah terparkir di samping motor Dominic.Entah bagaimana caranya mobil yang sudah dimodifikasi mirip mini camp tersebut ada di sana. Tapi, kembali lagi, Catriona harus sadar siapa lelaki yang kini bersama dengannya. Dia adalah Dominic, lelaki penguasa yang memiliki kekayaan tak berseri. Apa pun bisa dia lakukan dalam sekejap."Bagaimana caranya mobil ini sudah ada di sini?" tanya Catriona.Dominic tak menjawab ia malah menarik pinggang Catriona hingga tubuh keduanya tak lagi memiliki jarak. Tangan Catriona berusaha menahan di depan dada. Tapi, dengan cepat Dominic menyingkirkannya. Tubuh keduanya masih sama-sama basah."Setidaknya biarkan aku membilas tubuh dulu." pinta Catriona tiba-tiba merasa sangat gugup melihat sorot mata Dominic yang berbeda.Mata
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it







