Share

24. Ciuman Basah

Author: DF Handayani
last update publish date: 2026-06-12 23:05:11

Semua menunggu dengan suasana yang tegang. Sejak Jeny dibawa ke kamar, Miller tak bisa duduk tenang. Ia mondar-mandir, wajahnya penuh kekhawatiran, seolah bayangan masa lalu kembali menghantui.

Di dalam kamar, Dokter Frans baru saja menyelesaikan pemeriksaan. Infus terpasang di tangan kanan Jeny, napasnya stabil, tetapi ia belum juga sadar.

“Nyonya Jeny mengalami syok ringan. Saat ini yang paling ia butuhkan adalah ketenangan. Biarkan beliau beristirahat,” jelas Dokter Frans dengan suara tenang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   25. Tuntutan Menikah

    Pagi masih buta ketika Dominic terbangun. Kesadarannya kembali perlahan, hingga napasnya tertahan saat menyadari wajah cantik Catriona begitu dekat di hadapannya. Jarak mereka tak lebih dari lima sentimeter. Napas Catriona teratur, hangat, menyentuh kulit Dominic yang masih setengah sadar.Senyum tipis terlukis di sudut bibirnya.Ini bukan mimpi.Semalam mereka benar-benar tidur bersama, di ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dominic tidur tanpa mimpi buruk, tanpa kegelisahan.Ia memundurkan wajahnya sedikit, ingin menatap Catriona lebih lama. Wajah itu kini bebas dari gurat kesedihan. Catriona terlihat tenang, sekaligus indah dalam tidurnya.Tangan Dominic terangkat, menjumput helaian rambut yang menutupi wajah Catriona. Dengan gerakan lembut, ia menyelipkannya ke belakang telinga. Dadanya terasa menghangat."Sungguh indah", gumamnya dalam hati.Netra abu-abunya menyusuri setiap detail alis halus, kelopak mata lebar dengan bulu ma

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   24. Ciuman Basah

    Semua menunggu dengan suasana yang tegang. Sejak Jeny dibawa ke kamar, Miller tak bisa duduk tenang. Ia mondar-mandir, wajahnya penuh kekhawatiran, seolah bayangan masa lalu kembali menghantui.Di dalam kamar, Dokter Frans baru saja menyelesaikan pemeriksaan. Infus terpasang di tangan kanan Jeny, napasnya stabil, tetapi ia belum juga sadar.“Nyonya Jeny mengalami syok ringan. Saat ini yang paling ia butuhkan adalah ketenangan. Biarkan beliau beristirahat,” jelas Dokter Frans dengan suara tenang.Jackson segera bertanya, nada suaranya penuh cemas. “Bagaimana dengan jantungnya? Aman?”“Tidak ada masalah. Kondisi jantung Nyonya Jeny sehat dan stabil,” jawab Dokter Frans meyakinkan.Dominic mengembuskan napas lega. Ketakutan terbesarnya kejadian di masa lalu, saat Jeny hampir tak tertolong karena serangan jantung.“Kau bisa keluar, Dominic. Biar aku yang menemani.” ucap Jackson tegas namun lembut.Dominic mengangguk. Ia tahu, kehadirannya justru bisa memicu emosi jika Jeny sadar. Ia memil

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   23. Tidur Dengannya

    “Bagaimana kalian bisa mengenal Catriona?” tanya Jackson dengan sorot mata tajam, penuh selidik dan kemarahan yang tak disembunyikan.“Dia satu sekolah menengah denganku,” jawab Dominic tanpa ragu.“Dia mantan kekasihku di sekolah menengah,” sambung Maxim santai, seolah itu tak berarti apa-apa.Derren tetap diam. Tatapannya kosong, pikirannya berkelana pada masa lalu yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.Ia mengenal Catriona jauh sebelum orang-orang ini menyadarinya. Saat itu, ia masih duduk di bangku perguruan tinggi. Maxim, adiknya, masih siswa SMA. Derren kerap menjemput Maxim sepulang sekolah, dan di sanalah pertama kali ia melihat Catriona. Gadis itu selalu berdiri di depan lobi penjemputan, menunggu dengan sikap dingin dan angkuh, seolah dunia berutang penjelasan padanya.Sejak hari itu, Derren sengaja meluangkan waktu untuk menjemput Maxim. Bukan karena rasa sayang pada adiknya, melainkan demi satu alasan yaitu melihat Catriona.Ketertarikan itu perlahan berubah menjadi

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   22. Tiga Lelaki Satu Wanita

    Di dalam kastil mewah bernuansa emas dan biru itu, suasana menegang. Seluruh anggota keluarga duduk menunggu dalam diam. Tidak ada percakapan, hanya tatapan yang saling bertemu lalu berpaling. Pikiran mereka sibuk dengan prasangka dan kegelisahan masing-masing.Detak pendulum jam emas berukiran naga di sudut ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Bunyi itu memantul di ruang keluarga yang luas, di antara sofa-sofa berbahan bulu domba terbaik.Keheningan itu akhirnya pecah ketika Mark masuk dengan langkah tegas. Ia menunduk hormat singkat pada tuan dan nyonya rumah.“Tuan Miller sudah tiba.” lapornya.Tak lama, seorang lelaki paruh baya masuk dengan senyum ramah yang khas. Miller Harvey.“Jackson, Jenny apa kabar?”“Tidak terlalu baik!” sahut Jenny ketus.Namun Miller Harvey tetap tersenyum hangat pada adik kandungnya itu. Jenny Harvey, adik dari pemilik tambang emas terbesar di Colombus, wilayah terpadat di Sisilia, tanah kelahiran mereka. Keluarga Miller dikenal sederhana,

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   21. Misi Menyelamatkan Catriona

    Derren dan Emely bersiap meninggalkan rumah sakit malam itu juga. Tidak ada waktu menunggu. Derren harus kabur sekarang, apa pun risikonya. Semua ini demi satu tujuan, menyelamatkan Catriona.Emely menatap Derren dari ujung rambut sampai kaki. Alisnya langsung berkerut.“Tidak mungkin kau pergi dengan pakaian seperti itu, Derren! Semua orang akan curiga!” katanya kesal.Derren masih mengenakan piyama pasien, lengkap dengan penyangga leher. Ia mendengus frustrasi.“Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak punya pilihan lain.”Emely terdiam sejenak, berpikir keras. Matanya lalu berbinar.“Aku tahu!” serunya tiba-tiba. Tatapannya mengarah ke coat panjang warna pink miliknya yang tergantung di sofa.Derren refleks menggeleng keras.“Jangan gila. Aku tidak mau pakai baju wanita!”“Hanya ini satu-satunya cara agar tidak mencolok,” sahut Emely cepat. “Kau bisa pakai syal Caty untuk menutupi penyangga lehermu.”“Bagaimana kalau anak buahku melihat?” Derren makin gusar. “Aku tidak mau!”Emely langs

  • Menjadi Budak Cinta Boss Mafia   20. Penyesalan Terlambat

    Dominic membilas tubuhnya dengan tergesa, air dingin tak mampu meredam kekacauan di kepalanya. Setiap tetes terasa menekan dadanya. Ia bahkan tak sempat berganti pakaian, hanya meraih kimono bathrobe dan keluar kamar mandi dengan langkah tergesa.“Catriona!” serunya begitu memasuki kamar.Catriona masih terbaring di sana. Posisi tubuhnya tak berubah, kedua tangan tergeletak lemah, wajahnya pucat dengan mata terpejam. Pemandangan itu menyayat hati Dominic.Ia berlari kecil mendekat, jantungnya berdentum tak beraturan. Dengan tangan gemetar, ia meraih pergelangan tangan Catriona. Dominic terdiam. Luka merah memar melingkari pergelangan tangan wanita itu, beberapa masih mengeluarkan bercak merah.“Caty…” suaranya bergetar.Dominic menggenggam tangan Catriona yang dingin. Ia menarik tubuh Catriona ke dalam pelukannya, memeluk seerat mungkin seolah bisa mengembalikan kehangatan yang telah hilang.“Maafkan aku Caty. Maaf. Aku salah menilaimu." gumamnya berulang kali, penuh penyesalan yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status