Se connecterPerusahaan Wilson Group.Seperti sudah sangat lama Catriona tak melihat perusahaannya. Begitu sampai di depan bangunan tinggi itu, mata Catriona menatap lekat ke sekeliling area perusahaan. Senyum tipis Catriona mengembang. Ia rindu dengan semua aktifitas yang sudah lama ia tinggalkan.Mark membukakan pintu untuk Catriona. Kaki Catriona mengayun turun dari mobil. High heels hitam kontras dengan kaki putih jenjangnya yang mulus. Catriona berdiri di depan mobil, menatap lurus ke depan. Saatnya kembali bekerja."Kau boleh pergi Mark." ucap Catriona yang langsung diangguki patuh oleh Mark."Selamat bekerja kembali, Nona!" seru Mark sambil menundukkan kepalanya singkat.Catriona melangkah masuk ke dalam perusahaannya. Seketika semua mata tertuju pada sosok yang sudah lama sekali tidak mereka lihat selama beberapa minggu terakhir ini. Setelah kejadian penyegelan itu, Direkturnya tak pernah muncul."Nyonya Catriona!" seru sekuriti saat melihat kedatangan Direkturnya. Ia terkejut sekaligus se
Dominic dan Catriona kini duduk di depan layar. Setelah memasang chip, profesor Salvador meminta keduanya untuk memindai barcode melalui ponselnya masing-masing.Keduanya sama-sama menyalakan ponselnya, kemudian membuka kamera depan. Setelah itu, mereka menukar ponselnya. Dominic mengarahkan chip ke layar ponsel Catriona dan begitu sebaliknya, Catriona mengarahkan ke layar ponsel Dominic. Otomatis barcode keduanya menscan dan saling memindai.BIP BIPSuara ponsel mereka bersamaan."Done!" seru Salvador tanda jika semua proses telah selesai.Nampak di layar ponsel mereka masing-masing terpampang gambar hati dengan grafik warna. Semakin ke atas warna semakin bewarna merah pekat. Dan semakin ke bawah warna menjadi hitam."Aku tidak paham dengan ini." Catriona melihat grafik tersebut dengan seksama di layar ponselnya."Jadi, begini Nyonya, jika salah satu diantara kalian mengalami penurunan perasaan maka warna hati tersebut akan meredup dan semakin hitam. Namun, jika perasaan Anda sedang
"Kita jadi bertemu profesor Salvador pagi ini?" tanya Catriona kembali merapikan pakaian Dominic yang berantakan akibat ciuman panas mereka barusan."Tentu saja. Chip itu sangat penting untuk kita." ucap Dominic.Beruntung ia segera menyuruh profesor Salvador untuk membuatkan chip itu. Dalam situasi seperti ini, mereka berdua membutuhkan chip itu, untuk saling menjaga satu sama lain."Baiklah lebih baik kita segera berangkat. Aku sudah tidak sabar untuk menyapa para pegawaiku. Aku sudah rindu dengan meja kerjaku." ucap Catriona.Dominic mengangguk. Keduanya berangkat menuju ke Crush Landmark.Sampai di Crush Landmark. Suasana di dalam nampak sibuk. Pagi hari mereka memang lebih sibuk dari jam siang. Karena saat pagi akan banyak data baru yang masuk. Dan harus segera terverifikasi.Semua orang menyambut hormat kedatangan tuan dan nyonyanya. Mereka menatap senang saat melihat tuannya tersenyum. Senyum langka yang jarang mereka lihat, sepertinya mulai hari ini akan sering mereka saksikan
Dominic kembali ke kamarnya. Sorot matanya yang tajam kembali meredup, kala menatap sang istri yang tertidur lelap di atas tempat tidur megahnya. Tempat tidur yang jarang bertuan itu, kini sudah ada yang menghuni.Seorang wanita, yang berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Membuatnya begitu candu untuk selalu bisa menyentuh, mendekap, dan menatapnya tanpa pernah bosan. Menjadikannya satu-satunya ratu di dalam hatinya.Wanita yang sejak pertama kali melihatnya sudah berhasil mencuri hatinya. Wanita arogan yang tidak pernah mengenal takut, berani menentang apa pun yang dianggapnya tidak benar. Wanita yang sulit untuk ditaklukkan kini berada dipelukannya. Menemaninya sepanjang waktu dengan statusnya sebagai seorang istri.Meskipun Dominic mendapatkannya dengan cara paksa, namun pada akhirnya berhasil membuat hatinya luluh dengan caranya yang indah. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tapi terkadang pemaksaan bisa menumbuhkan cinta. Jika sudah saling mencintai, maka tidak ada yang sa
Sementara itu, di koridor kastil menuju ke pintu utama."Derren, aku perlu berpamitan dengan Dominic terlebih dahulu." sergah Dayana ketika berjalan menuju pintu kastil.Derren menghentikan langkah kakinya. Ia menyerongkan badannya sedikit. Menatap Dayana dengan tatapan tak seperti biasanya. Ada gurat kecewa di wajah Derren pada wanita berparas garang tersebut."Untuk apa? Dominic tidak akan peduli kau pergi dari sini." ucap Derren.Dayana mendengus kesal. Ia menghentakkan kakinya keras ke lantai. Derren kembali melengos dan berjalan keluar dari kastil."Derren!" panggil Dayana lagi.Derren berdiri tepat di samping mobilnya. Ia melihat Dayana yang bersikeras ingin menemui Dominic sebelum ia pergi. Derren menyandarkan punggungnya ke mobil."Apa lagi Dayana?" tanya Derren."Mengapa kau terlihat begitu kesal padaku?" tanya Dayana heran. "Kau yang mengajakku kemari, Derren." Dayana mengingatkan tentang hal itu."Ya, aku memang mengajakmu kemari untuk menasehati Dominic. Bukan yang lain."
Dominic mengangkat wajah dari layar ponsel. Pandangannya sekilas tertuju pada pintu kamar di belakangnya.Catriona tidak boleh tahu. Ia tidak ingin pria bernama Derren itu mendekati Catriona, bahkan sekadar menimbulkan gangguan di antara mereka.Tanpa membuang waktu, Dominic berbalik. Langkahnya panjang dan tegas menyusuri koridor kastil.Tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya. Tidak ada yang perlu bertanya ke mana pemilik kastil itu pergi.Ketika Dominic Jackson berjalan dengan wajah seperti itu, semua orang tahu bahwa seseorang sedang berada dalam masalah besar.Mark sengaja meminta Derren menunggu di ruang kerja Dominic.Ruangan itu merupakan tempat paling aman jika tiba-tiba Catriona terbangun dan mencarinya. Setidaknya, Dominic bisa memastikan pertemuan itu tidak sampai diketahui istrinya.Pintu ruang kerja terbuka. Dominic masuk.BRAK!Pintu tertutup kembali di belakangnya.Derren yang sejak tadi duduk santai di sofa mengangkat pandangan. Senyuman tipis muncul di waja
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp







