LOGINDominic melepaskan pengikat yang mengikat kedua tangan mereka. Begitu ikatan itu terlepas, Catriona refleks meniup-niup kelingkingnya yang tergores, rasa perih masih tertinggal jelas.“Cepat lakukan tugasmu dan layani aku!” perintah Dominic sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, sikapnya penuh kuasa dan tuntutan.Catriona memalingkan wajah. Ia tidak sanggup. Membuka pakaian Dominic terasa terlalu memalukan, terlalu menghinakan. Ia bahkan tak berani membayangkan harus melihat tubuh Dominic tanpa busana di hadapannya. Namun jika ia terus memberontak, Dominic pasti akan bertindak lebih kasar. Bahkan mungkin mengurungnya kembali.Ia tahu, saat ini ia harus kembali memainkan perannya. Drama kepatuhan yang selama ini ia gunakan demi bertahan hidup. Yang terpenting sekarang adalah meredam amarah Dominic.“Ya… aku akan melayanimu,” ucap Catriona dengan nada selembut mungkin.Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di hadapan Dominic. Jantungnya b
"Aku sudah memotong semuanya. Sekarang giliranmu menyuapiku, ayo cepat!" perintah Dominic setelah selesai memotong steak wagyu terbaik di dunia, yang harganya bisa mencapai jutaan setiap slicenya.Steak di hadapannya nampak sangat lezat, aroma daging panggang yang khas begitu menggugah selera makan Catriona. Potongan-potongan daging tersebut terlihat juicy. Perut Catriona semakin tidak bisa diajak kompromi.Dengan rasa malas, Catriona menusuk potongan daging dengan garpunya. Ia melirik ke arah Dominic yang sudah menunggu untuk disuapi."Dia memiliki banyak cara untuk memperbudakku." batin Catriona tak mau melakukan perintah Dominic.Alih-alih akan menyuapi Dominic, Catriona malah memasukkan potongan daging tersebut ke dalam mulutnya sendiri."Kau sengaja memancingku ya?" ucap Dominic mulai geram karena Catriona tidak melakukan perintahnya."Kau memiliki garpu sendiri. Dan kau memiliki tangan kanan yang tidak terpakai. Lalu, untuk apa aku harus menyuapimu?" sungut Catriona kembali menu
Dominic dengan tegas mengakhiri makan malam bersama orang tuanya. Sambil mengusap ujung bibirnya dengan napkin, ia berdiri dan menarik tangan Catriona.“Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini,” ucapnya dingin.Ia berpamitan singkat pada Jackson dan Jenny tanpa menunggu balasan. Catriona tetap bersikap sopan, memberi hormat pada kedua orang tua Dominic, meski salamnya tak dibalas.Jackson dan Jenny hanya menatap kepergian mereka dengan sorot mata penuh makna, saling bertukar pandang setelah pasangan itu menghilang dari ruang makan.Begitu keluar dari sana, Catriona langsung memprotes. Dominic berjalan cepat, menariknya tanpa penjelasan.“Hei, kau mau membawaku ke mana?” tanyanya sambil setengah berlari menyesuaikan langkah Dominic.Dominic sama sekali tidak menjawab.“Aku kira kau akan mengajakku makan bersama mereka. Aku lapar! Sejak kemarin aku belum makan gara-gara dirimu!” omel Catriona tanpa henti.Mereka melewati koridor utama kastil. Catriona mengamati sekeliling, mengingat jalan men
Maria menyelesaikan sentuhan terakhir pada riasan wajah Catriona, lalu mundur satu langkah dengan senyum puas.“Anda terlihat sempurna, Nona.” pujinya.Catriona berdiri di depan cermin setinggi tubuhnya. Dress nude berpotongan dada V dengan lengan puff itu membalut tubuhnya dengan pas, seolah memang diciptakan khusus untuknya.Warna lembutnya mempertegas kulit Catriona yang seputih susu, memperlihatkan lekuk tubuh ramping dan anggun tanpa terlihat berlebihan. Ia memandangi pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk.“Ada acara khusus malam ini?” tanyanya pelan, tanpa menoleh. Dominic hanya menyuruhnya bersiap, tanpa penjelasan apa pun. Dan itu selalu berarti sesuatu yang tidak menyenangkan.“Tuan Dominic akan memperkenalkan Nona pada kedua orang tuanya saat makan malam.” jelas Maria.“Apa?” Catriona langsung berbalik. “Orang tuanya?”Maria mengangguk. “Mereka datang dari Yunani sejak semalam.”Jantung Catriona berdegup tak karuan. Ia tidak pernah membayangkan sandiwara ini a
Catriona kembali menjelajahi isi perjanjian tersebut. Semua tertulis dengan jelas. Hal apa saja yang harus ia lakukan selama menjadi istri palsunya. Hingga point terakhir disebutkan dilarang melakukan kekerasan fisik dalam bentuk apa pun."Kau tidak menipuku kan?" ulang Catriona."Aku selalu menepati janjiku. Dan aku bukan penipu seperti ayahmu!" tandas Dominic.Ucapan Dominic langsung mengingatkan dirinya pada sang ayah. Semua ini ia lakukan demi ayahnya yang paling ia sayangi. Ia tidak mau ayahnya menderita. Lagipula perjanjian tersebut hanya berlangsung selama enam bulan. Termasuk singkat."Oke aku setuju! Dengan semua poin yang ada di sini." ucap Catriona menyetujuinya.Dominic menyeringai puas. Ia tidak menyangka Catriona bisa masuk ke dalam permainannya begitu mudah seperti ini."Di dalam sana disebutkan jika, hutang akan dicicil selama dua kali. Untuk tanda tangan kontrak pertama, hutang itu akan dikurangi sebanyak lima triliun. Sisanya setelah kau menyelesaikan semuanya. Bagai
Catriona terlonjak kaget saat mendengar suara pintu terbuka dengan keras. Ia yang tadinya bermalas-malasan di atas sofa pun langsung bangkit."Kau!" seru Catriona hendak memaki Dominic. Namun seketika ia menelan kembali kalimat umpatan yang hampir terlontar dari mulut mungilnya itu."Dominic." ralat Catriona seketika berubah menjadi lembut. Ia tersenyum semanis mungkin menyambut kedatangan Dominic.Dominic menutup pintu dengan rapat. Ia menghunuskan tatapan tajam pada Catriona yang kini berdiri di samping sofa. Mata Dominic menelisik dari jauh penampilan Catriona yang terlihat berbeda dari terakhir ia temui tadi.Ia berjalan mendekati Catriona tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tubuh seksi Catriona yang padat di bagian dada terlihat sangat jelas dari balik mini dress transparan hitam kombinasi putih itu.Potongan dada rendah membuat dua gundukan besar milik Catriona hampir menyembul keluar. Dan paha putih nan mulus milik Catriona terekspose indah tanpa celah.Dalam hati Catri
Dominic kembali mencium bibir Catriona tanpa memberi jeda. Hisapannya kuat, bergantian pada bibir atas dan bawah, disertai gigitan kecil yang menyiksa.Kepala Catriona bergerak ke kanan dan kiri, berusaha menghindar, namun tangan Dominic menangkup rahangnya dengan kuat, memaksanya menerima ciuman i
Mobil jenazah berhenti di sebuah jalan setapak di tepi hutan. Jalan itu sunyi, tersembunyi, dan menjadi satu-satunya akses menuju kastil milik Dominic. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas di kawasan privat tersebut.Tak jauh dari sana, sebuah limosin hitam telah menunggu. Pintu mobil terbuka,
Dokter Frans akhirnya tiba di ruangan. Dominic dan Derren duduk di sofa panjang yang sama, namun Mark sengaja duduk di antara mereka, menjadi pemisah sekaligus benteng. Tidak ada sepatah kata pun terucap sejak baku hantam tadi. Hanya terdengar desis kesakitan dari bibir mereka berdua—terutama Derre
Mobil yang dikendarai Derren berhenti di apartemen Emely. Ia mengantarkan Catriona pulang setelah suasana hatinya kembali membaik."Aku harap, setelah ini kamu tidak lagi bersedih!" ucap Derren tulus pada Catriona yang bersandar lelah di kursi.Catriona mengangguk lemah. "Terima kasih banyak, Derre







