LOGINBAB 83Suara dering ponsel Sebastian memecah kesunyian malam. Ponsel di saku jas pria itu bergetar tanpa henti, memutus keheningan di antara mereka.Moira melonggarkan pelukannya. Ia mundur satu langkah. Sebastian merogoh saku jas, melirik sekilas ke arah layar yang terus menyala menampilkan nama Viella, lalu mematikan suaranya.Pria itu mengabaikannya begitu saja. Panggilan itu dianggap tidak pernah ada.Moira menatap wajah tegap di hadapannya. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan dingin, benci, atau pemberontakan di mata Moira. Sorot matanya melunak, menatap Sebastian dengan keteduhan yang tulus."Terima kasih, Sebastian," bisik Moira. Suaranya terdengar sangat lembut akan rasa syukur. "Terima kasih sudah membantuku membereskan masalah ini.""Aku sudah katakan, jangan memikirkan itu lagi," sahut Sebastian datar. "Semua yang mengusikmu sudah kuhilangkan. Kau aman sekarang."Moira menjeda kalimatnya. Ia melirik ponsel Sebastian yang kembali bergetar di atas meja kecil. Layarnya be
Ares menunduk dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh lantai yang kotor. Air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya yang babak belur."M-Maafkan aku, Tuan Muda Blevins..." ratap Ares dengan suara parau yang bergetar hebat. "Aku bersumpah tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Aku hanya butuh uang untuk membayar utang judi... Moira itu putri tiriku, aku tidak bermaksud mengusik Anda!"Sebastian tidak bergeming. Ia hanya menatap Ares dengan pandangan muak, seolah pria paruh baya di hadapannya tak lebih dari sekadar serangga yang mengotori sepatunya. Ia menjentikkan abu rokoknya ke lantai, lalu beralih menatap empat rentenir yang kini bersujud tanpa sisa keberanian."Tuan Muda, kami bersumpah demi Tuhan kami tidak tahu!" bos rentenir itu memohon histeris, tubuh kekarnya bergetar seperti anak kecil. "Jika kami tahu wanita itu milik seorang Blevins, kami tidak akan pernah berani mendekati rumah sakit, apalagi mengancamnya! Tolong ampuni nyawa kami!"Sebastian mengembuskan asap rokok
Moira perlahan melonggarkan pelukannya. Ia mendongak, menatap sepasang mata gelap Sebastian dengan tatapan memohon. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, membuat raut wajahnya tampak semakin rapuh."Aku mohon... jangan membunuhnya," bisik Moira, suaranya serak dan bergetar hebat. "Cukup bantu aku membereskannya saja, Sebastian. Singkirkan dia dari hidup kami. Bagaimanapun... pria itu adalah ayah kandung Alena. Aku tidak ingin Alena membenciku jika suatu hari dia tahu ayahnya tiada karena aku."Sebastian tidak langsung menjawab. Ia menatap Moira dengan pandangan teduh, sebuah sorot mata yang sangat jarang ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia ini. Sebagai pria yang berdiri di puncak kekuasaan, ia tahu persis di mana batasannya. Ia tahu kapan harus menjadi pelindung bagi perempuan yang dicintainya, dan kapan harus menjadi algojo tanpa ampun."Jangan pikirkan hal itu lagi," ucap Sebastian lembut. Jemarinya bergerak menyeka sisa air mata di pipi Moira, lalu mengecup kening wan
Jemari Moira baru saja membuka kancing kedua pakaian tidurnya ketika sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat. Sebastian mencengkram pergelangan tangannya, menghentikan gerakan itu dengan paksa. Tatapan pria itu tajam, menghujam langsung ke manik mata Moira yang berkabut.Di bawah temaram lampu tidur yang minim, rahang Sebastian tampak mengeras."Ada yang aneh darimu," ucap Sebastian, suaranya terdengar berat dan rendah.Moira menahan napas. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, menepis kepanikan yang mulai merayap di dadanya. "Apa yang aneh?""Kamu tidak pernah membalas ciumanku tanpa dorongan," jawab Sebastian singkat dan padat. Matanya menyipit penuh menyelidik. "Kamu juga tidak pernah menelanjangi dirimu sendiri di depanku seolah kamu sedang menjalankan tugas wajib."Moira memalingkan wajahnya sesaat, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sebastian. "Aku hanya merindukanmu, Sebastian. Bukankah itu yang kamu inginkan?"Ketika Moira kembali menggerakkan jemariny
“Bagaimana kalau Ares tetap nekat memberitahu ibu?” gumamnya pelan dan mulai terisak.Dengan jantung berdegup kencang, Moira mulai membalas pesan Ares.[Ini masalahku, jangan libatkan Ibu dan Alena. Aku pasti memberimu uang sebanyak yang kau mau.]Moira mematikan ponselnya, sementara jantungnya masih berdegup kencang.Malam itu, Moira menangis tanpa suara. Air matanya luruh membasahi bantal yang terasa dingin. Di bawah bayang-bayang ancaman Ares dan foto ibunya yang diintai lintah darat, ia merasa benar-benar tidak berdaya. Dua miliar. Angka itu terus berputar di kepalanya sampai jarum jam bergeser jauh melewati tengah malam.Moira memeluk kedua lututnya di atas ranjang yang terlalu luas. Matanya menatap kosong ke arah ponsel yang tergeletak bisu. Pesan rindunya pada Sebastian sama sekali belum dibalas. Pria itu sengaja menggantungnya.‘Aku harus bagaimana sekarang?’ batin Moira, dadanya terasa sangat sesak. ‘Dua hari lagi. Kalau aku tidak mendapatkan dua miliar itu, Ares benar-benar
Suara Mauren terdengar begitu lirih. Moira terpaku. Rumah mereka satu-satunya, tempat menyimpan seluruh kenangan masa kecil, ternyata sudah lenyap."Dijual?" Moira mengulang kata itu dengan bibir gemetar. Matanya membelalak menatap ibunya. "Bagaimana bisa, Bu? Bukankah rumah itu atas nama Ibu?"Mauren tidak berani mengangkat wajahnya. Air mata wanita tua itu mulai luruh, membasahi tangannya yang keriput dan gemetar di atas pangkuannya. Kebohongan yang selama ini ia simpan rapat-rapat akhirnya runtuh."Ares..." bisik Mauren dengan suara serak menahan tangis. "Pria itu... dia memalsukan tanda tangan Ibu, Moira. Dia menjaminkan sertifikat rumah kita ke lintah darat untuk modal judi. Saat debt collector datang mengepung rumah dan mengancam akan menghabisi Alena yang waktu itu baru jatuh sakit, Ibu tidak punya pilihan. Ibu terpaksa menandatangani surat penjualan untuk melunasi sebagian utangnya."Darah Moira mendidih. Cengkeramannya pada ujung pakaiannya begitu erat hingga buku-buku jariny
Moira terkejut mendengarnya, ia menoleh pada Chris. Lalu senyuman mengembang di wajah tampannya. “Kamu bisa duduk di sana,” kata Chris seraya menunjuk ke arah sofa. Setelah mengatakan itu, Chris pergi begitu saja.Moira menutupi belahan dadanya, ia menyeka dahinya yang masih mengeluarkan keringat
Moira dan Julian terkejut, mereka kompak melirik ke arah lelaki tampan yang kini menatap mereka dari balkon seberang.“Nona, Anda butuh bantuan?” Suaranya lembut.Moira melirik ke arah Julian dan pria asing yang baru pertama kali ditemuinya.“Kau ... sebaiknya jangan ikut campur,” ucap Julian menco
Tatapan Julian lebih mengerikan dari malam kemarin. Julian semakin mendekat ke arah Moira, sementara Moira semakin mundur langkah demi langkah.“Jangan mendekat!” seru Moira.Julian tertawa. Lalu, tatapan matanya berubah menjadi marah, dan dalam sekejap Julian menangkap tubuh Moira seperti seekor s
Seketika tubuh Moira lemas, uang ini hanya cukup untuk membayar hutang keluarganya dan juga berobat awal adiknya. Jika ayah tirinya tahu ia memiliki uang sebanyak ini, pria itu pasti akan merampasnya.“Bagaimana caranya, agar aku bisa mendapatkan uang lebih banyak, untuk pengobatan Alena?” Moira mem







