공유

Nge-date

작가: WinterBliss
last update 게시일: 2026-03-21 22:35:21
Mobil itu melaju keluar dari area kampus. Sinar matahari sore yang oranye kemerahan mulai masuk melalui kaca depan, menyinari wajah Arkana yang tetap tenang meski baru saja dipukul istrinya sendiri.

​"Tapi saya tidak menyebutkan nama," tambah Arkana pelan. Ia mengarahkan mobil bukan menuju jalan pulang ke rumah mereka, melainkan ke arah yang berbeda.

​Keira yang tadi sedang sibuk mengomel, baru sadar dengan rute jalannya. "Lho, ini bukan jalan ke rumah. Kita mau ke mana? Bapak mau buang saya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Pengganggu

    Ponsel di atas meja bergetar nyaring. Arkana melirik layar, lalu mengembuskan napas pendek. "Dekan. Saya harus ke ruangannya sebentar," ucapnya sambil berdiri. Ia menatap Keira sejenak, memberikan tatapan yang seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu. ​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan itu. Keira berpura-pura sibuk merapikan tumpukan jurnal di meja, namun ia bisa merasakan sepasang mata Sarah yang tajam menghujam punggungnya. ​"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?" suara Sarah memecah kesunyian, kali ini nadanya jauh lebih dingin dan penuh intimidasi, tanpa ada Arkana di sana. ​Keira menoleh perlahan. "Maaf, Bu? Melakukan apa?" ​Sarah melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai parket. Ia berhenti tepat di depan Keira, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Jangan berpura-pura bodoh. Saya sudah lama mengenal Arkana, jauh sebelum asisten ingusan seperti kamu masuk ke fakultas ini. M

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Godaan Arkana

    Suasana kelas Hukum Perdata pagi itu terasa sangat kontras dengan kemesraan di meja makan tadi. Arkana sudah berdiri tegak di depan podium dengan wajah "mode dosen" yang sempurna—dingin, berwibawa, dan tanpa ekspresi. Kemeja navy-nya yang pas di badan membuat beberapa mahasiswi di barisan depan berbisik kagum, sementara Keira berusaha keras untuk fokus pada buku catatannya. ​Keira merasa aman. Foundation di lehernya bekerja dengan sangat baik, menutupi semua jejak "perang" semalam. Siska yang duduk di sampingnya pun tidak menaruh curiga, ia hanya sibuk mencatat poin-poin yang dijelaskan Arkana tentang pasal-pasal perjanjian. ​Tiba-tiba, ponsel Keira yang diletakkan di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sudah menggunakan privacy protector, namun tetap saja membuat jantung Keira mencelos. ​Arkana Adhitama: Foundation-mu sangat tebal pagi ini. Tapi saya tahu persis apa yang bersembunyi di baliknya. Fokuslah, Asisten. Jangan sampai saya menghukummu karena

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Malam kedua

    Malam kedua di kamar Arkana terasa jauh lebih hangat, namun Keira masih menjaga jarak aman di sisi ranjang. Aroma martabak manis yang tadi mereka makan masih menyisakan jejak manis di udara, tapi ketegangan di dada Keira kembali memuncak saat melihat Arkana meletakkan kacamatanya di nakas. ​"Arkana... jangan sekarang ya?" bisik Keira pelan, tangannya meremas selimut abu-abu itu hingga buku jarinya memutih. "Masih... masih perih. Aku beneran nggak kuat kalau harus 'tempur' lagi kayak semalam." ​Arkana menghentikan gerakannya. Ia menatap Keira dengan tatapan yang dalam, namun kali ini tidak ada kilatan "binatang buas" seperti kemarin malam. Ia justru merangkak mendekat, gerakannya pelan dan sangat hati-hati, seolah takut membuat Keira semakin merasa terancam. ​"Saya tahu, Sayang. Saya tidak akan sejahat itu," suara Arkana terdengar sangat rendah dan menenangkan. Ia menarik tubuh Keira ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya yang hangat. ​"Lalu kenapa

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Tanda damai

    Keira duduk di sofa ruang tengah, masih dengan napas yang sedikit memburu karena aksi "lari maraton" memakai syal tadi. Ia menatap kotak paket berukuran sedang itu dengan kening berkerut. "Perasaan aku nggak pesen apa-apa di e-commerce deh," gumamnya heran. ​Dengan perlahan, ia merobek bungkus plastiknya. Matanya seketika membelalak saat melihat kotak putih elegan dengan logo buah apel digigit di atasnya. Itu adalah ponsel keluaran terbaru, warna titanium yang sangat mewah. ​"Hah?! Ini beneran?!" ​Keira menemukan sebuah kartu kecil terselip di balik plastik pelindungnya. Tulisan tangan di sana sangat rapi dan tegas—khas tulisan seorang dosen yang terbiasa mengoreksi jurnal ilmiah. ​Untuk Keira, ​Anggap saja ini sebagai pengganti ponsel lamamu yang sering lemot saat saya telepon. Dan juga... permintaan maaf karena semalam saya sedikit kehilangan kendali. Saya tahu tubuhmu pasti terasa sakit hari ini, istirahatlah yang cukup. ​Terima kasih sudah menjadi asisten dan istri yang sang

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Vidio Arkana

    Suasana di Fakultas Ekonomi hari itu benar-benar gempar. Kabar tentang "Mencairnya Sang Gunung Es" menyebar lebih cepat daripada revisi skripsi. Arkana Adhitama, yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat dan tatapan yang bisa membekukan ruangan, hari ini melangkah dengan bahu yang lebih rileks.​Setiap kali ia melewati koridor, ada senyum tipis yang tersungging secara tidak sadar. Bahkan, saat seorang mahasiswa salah mengutip teori Adam Smith di kelas, Arkana tidak langsung menyemprotnya dengan kalimat pedas. Ia hanya berdehem, membenarkan letak kacamatanya, dan berkata, "Coba tinjau lagi bab dua, ya. Jangan melamun terus."​Siska yang duduk di barisan tengah bersama Fanya saling berpandangan horor. "Ini bukan Pak Arkana. Ini pasti alien yang nyamar jadi dia," bisik Siska.​Dengan gerakan kilat, Siska mengeluarkan ponselnya di bawah meja. Ia merekam video durasi sepuluh detik yang memperlihatkan Arkana sedang menatap layar laptopnya sambil senyum-senyum sendiri—pemandangan yang leb

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Tanda kepemilikan

    ​Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden terasa jauh lebih terang dari biasanya, seolah ikut mengolok-olok Keira yang baru saja membuka mata dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, sebuah rasa perih yang asing dan tajam menjalar dari area selangkangannya. ​"Awh..." Keira meringis, wajahnya seketika berkerut menahan nyeri. Tubuhnya terasa remuk, seolah habis berlari maraton antarkota. Memori tentang "pertempuran" panas tadi malam bersama Arkana langsung berputar di kepalanya seperti film tanpa sensor, membuat pipinya panas seketika. ​Arkana, yang ternyata sudah bangun dan sedang merapikan jam tangannya, segera menoleh saat mendengar rintihan kecil itu. Ia menghampiri ranjang, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak penuh dengan binar kepuasan yang tenang—sekaligus rasa bersalah yang terselubung. ​"Sakit sekali?" tanya Arkana, suaranya terdengar sangat lembut dan berat, sisa serak khas bangun tidur. ​"Kamu tany

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Bukan seperti Arkana

    Keira merasakan hembusan napas Arkana yang hangat di keningnya, sebuah sensasi yang sempat membuatnya hampir luluh. Namun, memori malam es krim itu kembali berputar di otaknya—saat Arkana mengusap bibirnya dengan lembut lalu pergi begitu saja seolah dia hanyalah benda mati yang baru saja dibersihka

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Balas dendam Keira

    Keira akhirnya mendongak, menatap mata Arkana dengan tatapan kosong yang paling ia latih di depan cermin tadi pagi. "Sakit? Tidak, Pak. Saya hanya sedang menerapkan prinsip 'komitmen dan tanggung jawab' yang Bapak bicarakan kemarin. Bukankah Bapak suka asisten yang disiplin?" ​Arkana terdiam sejen

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Kekesalan Keira

    Keheningan yang manis itu pecah seketika oleh suara getaran ponsel Arkana di atas meja kayu. Drrrttt... drrrttt...​Arkana tersentak, seolah baru saja ditarik paksa dari sebuah dimensi yang asing. Ia berdehem pelan, menjauhkan tangannya yang masih terasa hangat bekas menyentuh bibir Keira, lalu men

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Perkara Eskrim

    ​"Vanila saja," jawab Arkana pendek, menerima sendok yang disodorkan Keira. Ia menyiduk sedikit es krim vanila yang warnanya separah kemeja putihnya tadi pagi—bersih, lurus, dan membosankan. Sangat mencerminkan dirinya.​Sementara itu, di seberang meja, Keira sudah asyik dengan pint es krim double

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status