LOGINYuwen Shuang masih berdiri di tempatnya. Kerudung merah menutupi wajahnya, membatasi pandangan, seolah mengurungnya dalam ruang sempit yang sunyi. Dari balik kain itu, ia mendengar suara-suara pelan yang begitu jelas di pendengarannya.
“Jenderal Zhao pergi setelah upacara pernikahan selesai .…” “Aku melihatnya keluar aula seorang diri.” “Ya, Tuan Putri masih berada di dalam Aula.” Kabar itu menyebar cepat, bahkan sebelum Aula benar-benar kosong. Beberapa pejabat yang masih berada di halaman istana menyaksikan sendiri bagaimana Zhao Fenglin meninggalkan tempat itu tanpa menoleh. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin, langkah kudanya tegas dan tanpa ada keraguan. Seorang pengantin pria yang meninggalkan upacara pernikahannya sendiri, di hadapan seluruh kekaisaran. Yuwen Shuang mendengar semuanya. Dadanya terasa sesak, tetapi wajahnya tetap tenang di balik kerudung. Ia tidak bergerak, tidak memanggil, tidak menahan. Ia hanya pasrah menerima keadaan yang kini menimpanya. Mei'er dan Yunxi menatapnya khawatir, tapi tak ada satupun kata yang lolos dari bibir keduanya. Langkah kaki terdengar mendekat. Seseorang berhenti di hadapannya. “Putri Yuwen.” Suara itu terdengar lembut, penuh kehati-hatian. Yuwen Shuang mengangkat kepalanya sedikit. Di hadapannya berdiri seorang wanita paruh baya dengan sikap tegak dan tenang. Pakaian yang dikenakannya begitu sederhana, tatapannya lembut. Ia tak tahu siapa wanita di depannya ini. “Aku Han Ruoxi,” ucap wanita itu perlahan. “Ibu dari Zhao Fenglin.” Ia menunduk. Bukan tunduk formal seorang bangsawan, melainkan gestur tulus yang membuat Yuwen Shuang terdiam. “Maafkan kami,” lanjutnya lirih. “Atas tindakan anakku hari ini dan atas penghinaan yang harus kau terima.” Yuwen Shuang terdiam. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kata-kata itu terdengar jelas, namun seolah melayang begitu saja di udara. Dadanya terasa semakin berat. Han Ruoxi mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan wanita itu tidak menyiratkan pembelaan, tidak pula mencari alasan. “Seharusnya hari ini kau tidak berdiri sendirian,” lanjutnya pelan. “Apa yang terjadi bukan sesuatu yang pantas kau terima.” Yuwen Shuang menggenggam ujung lengan bajunya di balik kerudung merah. Jemarinya dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menunduk dengan gerakan kecil. “Ini bukan kesalahan Anda,” ucapnya lirih. “Semua ini terjadi karena titah Baginda.” Jawaban itu sopan, tenang, dan datar. Namun justru karena itu, Han Ruoxi merasa dadanya semakin sesak. Ia tahu, kalimat itu bukan penerimaan melainkan bentuk pasrah. “Bagaimanapun,” kata Han Ruoxi kemudian, suaranya sedikit lebih tegas meski tetap lembut, “kau kini adalah menantu keluarga Zhao.” Ia menoleh sejenak ke arah Aula yang hampir kosong. Lentera merah masih bergantung, namun suasananya terasa dingin dan hampa. “Seharusnya Fenglin membawamu pulang,” lanjutnya, dengan sorot sendu. “Namun ia pergi tanpa memberi penjelasan. Bahkan aku tak sempat menahannya.” Han Ruoxi kembali memandang Yuwen Shuang. “Jika kau berkenan,” katanya, “ikutlah bersamaku ke kediaman Zhao. Setidaknya, kau tidak perlu kembali ke Istana ini sendirian.” Dada Yuwen Shuang menghangat seketika. Ternyata ada orang yang memahami dirinya, meskipun sedikit. Ia mengangguk perlahan di balik kerudung merah. “Baik,” jawabnya singkat. Han Ruoxi menghela napas lega, meski kegelisahan masih jelas tersisa di raut wajahnya. Keduanya mulai berjalan keluar dari Aula pernikahan. Han Ruoxi menggandeng tangan Yuwen Shuang dengan lembut. Di belakangnya Mei'er dan juga Yunxi, mengikutinya dengan langkah pelan. “Suamiku sedang menyusul Fenglin. Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan putraku, Putri.” Han Ruoxi kembali berbicara. Tangannya semakin mengeratkan lengan Yuwen Shuang. “Kau tidak salah. Apa yang dilakukan oleh putramu itu hal yang wajar. Tidak ada yang mau menikah dengan orang yang tidak dia cintai, hanya saja titah kaisar tak dapat dibantah.” Yuwen Shuang menundukkan kepala sedikit. Di balik kerudung merah itu, matanya terasa panas, tetapi ia menahannya. Langkahnya tetap berjalan, meski dadanya sesak. Seakan ada bongkahan batu yang mengganjal di dadanya sejak tadi. “Aku dengar, Jenderal Zhou Fenglin pergi ke Barak!” “Kasihan Putri, baru saja menikah tapi langsung ditinggal pergi ke Barak oleh suaminya.” “Mungkin sejak awal Jenderal Zhou Fenglin hanya terpaksa menerima pernikahan ini. Dan kepergiannya hari ini bentuk dari ketidakterimaannya.” Samar, tapi Yuwen Shuang mendengar pembicaraan itu. Ia tidak menoleh ke arah sumber suara, ia tetap berjalan lurus. Statusnya yang merupakan putri buangan membuat dirinya tak begitu dihargai oleh pelayan maupun prajurit. Sebulan lebih ia tinggal di Istana, perlakuan mereka berbeda saat bersamanya. Yuwen Shuang dapat merasakan tangan Han Ruoxi pada lengannya semakin kuat. “Abaikan ucapan-ucapan itu, Putri,” bisik Han Ruoxi, lirih. Wanita itu menatap para pelayan yang membicarakan tentang kepergian putranya dengan tajam. “Shuang'er, aku sangat tidak terima dengan perlakuan Jenderal itu padamu!” Suara seseorang menghentikan langkah Yuwen Shuang dan juga Han Ruoxi.Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih
Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan
“Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni
Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk
“Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl
“Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem







