แชร์

027 || Takdir Hidup Yang Sial

ผู้เขียน: Diva
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-24 00:22:30

“Kita akan menghancurkannya,” potong Zhao Fenglin tenang.

Ia berbalik hendak kembali ke dalam tenda, lalu berhenti sejenak.

“Pastikan dia tidak kekurangan apa pun di perjalanan,” katanya datar. “Dia membawa nama kediaman Zhao.”

Kalimat itu terdengar seperti perintah biasa.

Namun tiga orang yang berdiri di sana mengerti.

Jenderal mereka tidak pernah menganggap Yuwen Shuang sebagai istri.

Tapi sedikitpun tiidak pernah memperlakukannya sebagai orang asing.

****

“Ibu, apakah Kakak kedua sudah dalam
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   055 || Memasuki Ibu Kota

    Beberapa hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan kota kecil itu.Perjalanan menuju ibu kota kekaisaran tidaklah singkat. Rombongan Zhao Fenglin harus melewati beberapa kota kecil dan jalur pegunungan sebelum akhirnya memasuki wilayah provinsi Jingzhou.Selama beberapa hari itu, mereka beberapa kali berhenti di penginapan untuk beristirahat. Tidak ada lagi penyergapan seperti malam itu. Namun para prajurit tetap berjaga dengan kewaspadaan yang sama. Setiap kali mereka berhenti di suatu tempat, penjagaan selalu diperketat. Tidak seorang pun benar-benar merasa aman.Pagi itu, langit cerah tanpa awan. Jalan tanah yang mereka lalui mulai berubah menjadi jalan batu yang lebih lebar dan rapi. Tanda bahwa mereka telah mendekati pusat kekaisaran.Di depan rombongan, Wei Chen yang menunggang kudanya perlahan memperlambat langkah.“Jenderal,” katanya sambil menoleh ke belakang.Zhao Fenglin yang menunggang kuda hitamnya segera mengangkat pandangan. Wei Chen menunjuk ke arah depan.“Lihat i

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   053 || Bahaya

    Langkah Zhao Fenglin berhenti di depan kamar yang dimaksud.Lorong penginapan itu kini jauh lebih sunyi dibanding beberapa saat sebelumnya. Hanya terdengar suara langkah para penjaga yang masih memeriksa ruangan di lantai bawah.Lampu minyak di dinding bergoyang pelan tertiup angin malam yang masuk dari jendela-jendela yang terbuka.Wei Chen, Gu Liang, dan Shen Yu berdiri beberapa langkah di belakang Zhao Fenglin.Tatapan mereka semua tertuju pada pintu kayu di hadapan sang jenderal.“Ini kamarnya, Tuan,” kata pemilik penginapan dengan suara pelan. Ia berdiri agak jauh seolah tidak ingin terlalu dekat dengan situasi yang membuatnya gugup.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tangannya perlahan mendorong pintu itu.Pintu kamar terbuka pelan.Di dalamnya tampak sebuah ruangan sederhana seperti kamar-kamar lain di penginapan itu. Sebuah meja kecil berdiri di dekat jendela, sementara tempat tidur di sudut ruangan masih rapi.Tatapan Zhao Fenglin langsung menyapu seluruh ruangan dengan ce

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   052 || Memastikan?

    Zhao Fenglin dengan cepat menendang pedang itu dengan kuat hingga terlempar cukup jauh. Yuwen Shuang tak bernapas selama beberapa saat. Pedang itu nyaris mengenai dadanya jika saja Zhao Fenglin tak bergerak cepat menendangnya. Gadis itu menyentuh dadanya sendiri, ekspresi wajahnya begitu syok.Pria bertopeng itu menggeram saat pedangnya terlempar cukup jauh. Ia sedikit mundur untuk mengambil pedang miliknya.Dua rekannya langsung menyerang bersamaan dari dua arah berbeda. Namun Zhao Fenglin justru bergerak maju ke arah mereka.SREET!Pedangnya meluncur lurus seperti kilat. Pembunuh kedua bahkan tidak sempat bereaksi ketika bilah itu menembus bahunya.“UGH—!”Tubuh pria itu tersentak mundur. Pada saat yang sama Zhao Fenglin menarik pedangnya kembali.Darah menyembur tipis ke udara. Namun pria bertopeng dan satu pembunuh lainnya sudah menyerang dari kiri dan kanan.CLING!Zhao Fenglin menangkis satu pedang.Namun pedang lainnya hampir mengenai bahunya.SREET!Yuwen Shuang refleks meng

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   051 || Penyergapan

    Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan sudah dinyalakan, sementara sebagian besar pedagang mulai menutup lapak mereka. Suara percakapan perlahan mereda, digantikan oleh hembusan angin malam yang menyapu lorong-lorong sempit di antara bangunan.Namun ketenangan itu tidak benar-benar ada.Di atap bangunan seberang penginapan, beberapa bayangan bergerak tanpa suara.Pria bertudung yang mengenakan topeng itu masih berdiri di tepi atap, menatap ke arah jendela-jendela lantai dua penginapan.Matanya menyipit tipis.“Sudah dipastikan?” tanyanya rendah.Salah satu anak buahnya yang berlutut tidak jauh darinya segera menjawab, “Kami sudah mengawasi sejak mereka masuk.”Ia menunjuk ke arah jendela di ujung lorong lantai dua.“Target berada di kamar itu.”Pria bertopeng itu mengikuti arah yang ditunjuk. Lampu minyak di dalam kamar itu masih menyala samar di balik kertas jendela.Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,“Bagus.”Angin malam berhembus melewati atap-atap bangunan. Be

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   050 || Target

    Sekitar setengah hari kemudian, jalur hutan itu perlahan mulai berubah.Pepohonan yang tadinya rapat mulai jarang. Tanah yang sebelumnya hanya berupa jalan kecil di antara akar-akar pohon kini semakin lebar, menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan jalur utama.Tidak lama kemudian, atap-atap rumah mulai terlihat di kejauhan. Sebuah kota kecil. Tidak terlalu besar, tapi cukup ramai karena berada di jalur perjalanan menuju ibu kota.Beberapa pedagang terlihat membuka lapak di tepi jalan. Orang-orang lalu lalang membawa barang, sementara suara percakapan bercampur dengan derap kuda yang sesekali melintas.Rombongan Zhao Fenglin memasuki kota itu tanpa banyak menarik perhatian. Meskipun pakaian mereka tampak sedikit kusut karena perjalanan panjang, keberadaan prajurit berkuda di jalan seperti ini bukanlah sesuatu yang terlalu aneh.Gu Liang mengamati sekitar dengan waspada.“Setidaknya kita bisa beristirahat dengan layak malam ini,” gumamnya pelan.Wei Chen mengangguk.“Aku bahkan tid

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   049 || Bahaya

    Pria itu kembali menangkupkan tangan. “Kami sedang melakukan patroli di jalur perbatasan menuju ibu kota,” jawabnya jujur. “Kami tidak menyangka akan bertemu Jenderal Zhao di tempat seperti ini.” Gu Liang dan Wei Chen saling bertukar pandang. Patroli, berarti mereka memang kebetulan melewati jalur ini. Ekspresi Zhao Fenglin tidak berubah. Namun tatapannya kini sedikit melunak. “Di depan jalur ini,” lanjut pria itu, “sekitar setengah hari perjalanan, ada kota kecil di tepi jalan utama menuju ibu kota.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Jika Jenderal membutuhkan tempat untuk beristirahat, ada beberapa penginapan di sana.” Angin pagi kembali berhembus di antara pepohonan. Beberapa prajurit Zhao Fenglin tampak sedikit lega mendengar itu. Namun Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya sekilas jatuh pada Yuwen Shuang yang masih duduk di depannya. Wajah gadis itu tampak pucat setelah perjalanan panjang dan kurang istirahat. Setelah beberapa saat, Zhao Fenglin akhir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status