Share

Bab 3

Author: Zeevana881
last update Last Updated: 2025-10-19 13:46:28

"Kulitnya ... tidak begitu terang. Rambutnya diikat rapi dan ... saya yakin ada tato besar di bahunya! Sayangnya saya tidak bisa melihat detail tato itu, hanya siluet kehijauan di bagian bahu!."

Karra menjawab pertanyaan Max sambil memejamkan mata. Ingatan dan penglihatan gadis itu memang bagus, karena itulah ia bisa diterima di fakultas kedokteran dan menerima beasiswa. Karra cukup yakin dengan warna kulit dan gaya rambut pria tersebut, sebab sesaat sebelum jatuh, lampu depan mobil Karra tepat menyorot ke dalam mobil naas yang kacanya sebagian dibiarkan terbuka.

Karra benar-benar melihatnya.

Max membeku, mencari di dalam ingatannya, siapa kira-kira sosok yang mirip dengan pria yang disebutkan oleh gadis itu. Wajahnya tegang, dan di detik berikutnya, pria itu segera merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan ponselnya.

"Ini??" tanya Max seraya memperlihatkan foto seorang pria yang memang berambut panjang. Harris Marza, pria yang dikenalkan Ghania tahun lalu, sebagai sepupunya.

"B-benar, Paman!!" sorak Karra dengan mata mengerjap pasti. Tidak salah lagi, memang pria itulah orangnya. "Rambutnya persis seperti ini!"

"Andai benar kamu melihat tato besar di bahunya, tidak salah lagi. Itu pasti dia," ucap Max dengan sorot mata yang sedikit berbeda. Kali ini, pria itu terlihat menyedihkan.

"Tapi ke mana dia pergi? Harusnya dia juga terluka parah mengingat ketinggian jembatan yang-" Karra tiba-tiba berhenti berbicara. Sorot mata Max seolah ingin mencekik lehernya.

"M-maaf," cicit gadis itu, dan Max hanya menarik napas dalam. Harga dirinya seolah habis tak bersisa di depan si gadis bodoh. Seorang Max Draven, berhasil dikelabui dua orang brengsek yang selama ini bergantung hidup padanya? Ini sungguh memalukan. Harris bekerja di perusahaannya. Max bahkan memberinya jabatan yang bagus.

Lalu, ruangan kecil itu berubah hening. Karra hanya memainkan jemarinya sambil menunggu pria gagah itu bersuara. Tapi gadis itu tidak tahan. Max yang garang tampak semakin menyedihkan.

"Saya... juga pernah merasakan sakitnya sebuah penghianatan. Bukan pasangan, tapi ayah saya sendiri. Saya mengerti perasaan Paman!"

"Diam!" lirih pria itu. Max melirik sejenak, lalu terus saja membuang napas kasar.

"Paman masih muda. Paman juga tampan. Pasti bisa dapat pengganti yang lebih baik lagi." Karra terus saja mencari masalah dengan berbicara hingga Max kembali memandangnya tajam. Tapi, ketulusan di mata gadis itu seolah menusuk hati Max. Pria itu pun bangkit dan berlalu seperti biasa. Tanpa berpamitan, tanpa kata perpisahan.

*

Lalu hari berganti. Karra membaik dan akhirnya diperbolehkan pulang. Tidak ada siapa pun di sisinya. Tapi anehnya, tidak ada pihak kepolisian yang mendampingi padahal berita kecelakaan itu masih memenuhi timeline di sosial media.

"Nona Karra?" Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi, tiba-tiba menyembul di pintu.

"Saya?"

"Mari ikut saya!" ucap pria itu ramah. Tapi Karra tidak mengenalnya. Gadis itu hanya menatap bimbang.

"Saya utusan Pak Max," jelas pria itu. Barulah Karra mengerti dan mengangguk.

Dirinya tidak diawasi pihak kepolisian, tapi langsung dibawa oleh keluarga korban. Karra justru berada di depan pintu kubur. Bisa saja Max yang mengerikan itu ingin membalaskan dendam secara langsung, tanpa perlu berurusan dengan hukum. Itulah isi kepala Karra saat ini.

"Bagaimana ini? Haruskah aku kabur?" batin gadis itu seraya meraih tas miliknya yang tidak berisi apa pun selain selembar pakaian ganti, dan dompet usang berisi tiga lembar pecahan lima puluh ribuan.

"T-tapi saya mau di bawa ke mana, Pak?" tanya Karra setelah mereka sampai di lobi rumah sakit. Karra pun teringat bahwa ia belum mengurus administrasi. Apa mungkin Max yang membayarkan semua tagihan? Pastilah semua itu akan diperhitungkan di kemudian hari. Begitu pikir Karra.

"Kita ke mansion keluarga Draven, Nona," jawab pria paruh baya itu. Karra menelan saliva dalam gerakan cepat. Apa ini? Apa ia akan dibantai setibanya di sana?

Karra menunduk lesu. Tapi jauh di dalam kepalanya, gadis itu sedang keras berpikir bagaimana cara untuk kabur. Karra berjanji tidak akan mengelak dari hukum tapi tidak dipersekusi sepihak seperti ini. Dan ketika pria paruh baya itu lengah, Karra melambatkan langkah dan berbelok menuju pintu yang terhubung dengan ruangan IGD. Langkahnya cepat dan pasti hingga akhirnya ia berhasil keluar dari pintu lain, dan menyetop taksi.

"Tapi aku harus ke mana?" lirihnya setelah taksi itu berhasil membawanya menjauh. "Aku harus mengambil barang-barangku dulu, lalu pergi jauh ke ruman Bibi Yasmin di desa."

*

Turun dari taksi, Karra menoleh kiri kanan dengan hati-hati. Jangan sampai orang suruhan Max mengikutinya. Syukurlah, keadaan aman. Karra membayar taksi dan melangkah cepat menuju lift. Unit apartemennya ada di lantai lima. Ia pasti bisa melakukan ini dengan cepat.

Tapi setelah berada tak jauh dari pintu masuk, Karra meremas ujung bajunya kuat-kuat.

"Aneh, kamu masih bisa pulang?" Suara sinis Sonya Harun--ibu tiri Karra terdengar sumbang. Wanita itu sepertinya baru saja tiba, bersama seorang tukang kunci yang sedang mengutak atik pintu masuk.

Karra sangat marah. Ia tidak pernah mengusik hidup si pelakor dengan sang ayah tapi lihatlah, wanita itu mencoba menerobos masuk ke dalam apartemennya seperti maling.

Tapi gadis itu sedang terburu-buru. "Minggir!" hardiknya pada si tukang kunci. Ia mengabaikan pelakor hina tersebut dan masuk. Tujuan Karra hanya satu, mengambil berkas-berkas penting dan beberapa pakaian ganti. Ia harus segera pergi agar orang suruhan Max tidak bisa menemukannya.

"HEI!" Sonya menyusul sampai ke depan kamar gadis itu.

"Kenapa kamu keras kepala? Papamu hanya memintamu menikah!!" geram wanita itu. "Lihat saja, kalau sampai masalah kecelakaanmu mengganggu kami semua, Papamu tidak akan tinggal diam, Karra!"

"Anda sendiri, bisa diam?" tegas Karra. Kepalanya semakin sakit mendengar kata-kata Sonya. "Dan lagi, siapa Anda? Anda tidak punya hak mengatur hidup saya!" Karra sempat saling tatap dengan wanita itu. Hatinya sangat sakit jika mengingat, wanita inilah yang sudah menghancurkan ibu kandungnya.

"Kamu akan menyesal, Karra! Tak lama lagi, kamu pasti membusuk di penjara. Korban yang kamu celakakan bukan orang sembarangan! Biarkan Papamu membantumu kali ini dan kamu cukup menikah dengan Roger Duan!"

Karra menyeret kopernya dan bersiap pergi. Ia sengaja menyenggol wanita itu.

"Aww!!" Sonya menjerit dan tersungkur, padahal Karra hanya menyenggolnya sedikit. Gadis itu mulai mengira dirinya punya kekuatan super. Jika seminggu lalu ia berhasil menjatuhkan satu mobil dari jembatan, kini ia menjatuhkan Sonya yang gempal itu hanya sekali sentuh.

"KARRA!!" Anggoro berteriak dari arah belakang. Rupanya pria itu juga sudah hadir di sana, sedang duduk di sofa usang ruang tamu. Entah sejak kapan dia ada di situ, mungkin saat Karra sibuk mengumpulkan barang-barangnya.

"Mau ke mana kamu?" tanya Anggoro tegas.

"Papa sudah menemukan aku jadi aku harus pergi dan menghilang!"

Sonya yang masih terbujur di lantai akhirnya bangkit sendiri. Dramanya sia-sia.

"Padahal sebentar lagi akan mendekam di penjara. Untuk apa kamu bawa semua barang-barang itu?" Sonya kembali memanas-manasi.

Hening. Lalu Karra memandangi wajah ayahnya. "Aku tidak ada urusan dengan kalian jadi ... aku pergi dulu. Sejak mamaku meninggal, toh kalian juga seolah menggap aku sudah mati," ucapnya dengan suara bergetar.

Anggoro mengepalkan tangan. Ia benar-benar membutuhkan Karra kali ini demi kelangsungan bisnisnya. Investor tua itu benar-benar menyukai Karra.

"Karra tolonglah-" Pria 44 tahun itu melunak. "Hanya kamu satu-satunya darah daging Papa. Kita bisa saling bantu. Papa bebaskan kamu dari masalah kecelakaan itu, dan kamu bantu Papa dengan menikah. Itu sangat mudah!"

"Kalau mudah, kenapa bukan istri Papa saja yang menikah lagi? Toh dia mandul, setelah laki-laki tua itu bosan, Papa bisa memungutnya lagi!"

"K-Karraaa!!" Anggoro menggeram dan gadis itu lekas melarikan diri. Koper itu tidak berat. Walau tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tapi Karra masih cukup lincah.

Sialnya, tak lama kemudian seseorang membekap mulut Karra tiba-tiba dan menariknya menuju tangga darurat.

"Hmmmppp!!" Gadis itu meronta ketakutan. Siapakah ini? Roger Duan si tua bangka yang memang ingin menikahinya atau...

"Siapa yang memberimu izin untuk kabur dari pengawasan saya, gadis jalang?" Suara tajam Max seketika menusuk gendang telinga. Dan Karra rasa, hidupnya akan semakin pelik setelah ini.

-----++-----

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 13

    Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 12

    "Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 11

    Karra tersenyum samar setelah memeriksa kembali surat perjanjian yang baru saja ia buat. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa poin penting.Pertama, pernikahan sialan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan Karra sudah menulis bayaran yang ia inginkan. Sepuluh miliar rupiah. Itu bukan jumlah yang akan memberatkan Maxime, Karra yakin itu.Kedua, berhubungan ranjang layaknya suami istri hanya akan dilakukan dalam keadaan suka sama suka. Karra sudah berpikir jauh saat ingin menuliskan ini. Ia tidak mau Max memaksanya secara sepihak. Lalu ke tiga, selama mereka terikat hubungan, Max harus melindungi Karra dari ayah dan ibu tirinya. Keempat, jika hubungan mereka sudah usai, Max tidak punya hak apa pun atas diri Karra begitu juga sebaliknya dan yang terakhir, hubungan ini boleh diakhiri sepihak oleh Max kapan pun ia mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi setelah lewat masa satu tahun, kembali ke poin ke empat. Max tidak berhak memaksa.Pintu kamar terbuka, dan Karra langsung menemukan

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 10

    "Max brengsek!!" Karra mendesis. Aliran darahnya masih begitu laju walau Max sudah menutup pintu kamar mewah itu sejak lima menit lalu. Gadis itu bangkit, lalu meremas kuat seprai penuh kelopak bunga. Ia benci situasi ini. Ia tak berdaya atas dirinya sendiri. Nyatanya saat pria itu menyentuh, Karra justru... menikmatinya. "Aaaaaaaaaakkh!!!" Karra berteriak frustasi. Dirinya adalah gadis paling munafik di seluruh penjuru. Ia bukan hanya membenci Max tapi justru pada dirinya sendiri. "Nona?" Terdengar suara Pak Rudy dari balik pintu. Dan Karra sadar, penampilannya sangat tidak layak disaksikan oleh makhluk mana pun. "S-saya baik-baik saja, Pak!" teriaknya. Gegas ia melangkah menuju lemari, lalu menyambar asal sehelai gaun. Karra membawa pakaian berbahan satin halus itu ke kamar mandi, lalu mengguyur kepalanya dengan air dingin. Lama gadis itu berdiri di bawah pancuran air. Menghukum kemunafikan yang semakin tumbuh di dalam dirinya. 'Sudahlah, Karra. Kamu bukan malaikat. Nik

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 9

    Karra tahu, pernikahan ini palsu. Tidak akan pernah sah secara hukum atau pun secara agama. Tapi nyatanya, Max tetap mempersiapkan pernikahan yang megah, di sebuah gedung besar dengan banyak sekali tamu undangan. "Silahkan, Nona!" Pak Rudy membukakan pintu mobil. Karra turun, lalu membeku saat melihat sekeliling. Karangan bunga berisi ucapan selamat berjejer hampir di sepanjang jalan menuju pintu lobi. Mereka bergegas masuk. Dan Karra lebih terkejut lagi saat melihat Anggoro Widita--ayah kandungnya. Pria itu memakai setelah jas rapi, berdiri tak jauh dari pintu menuju ballroom. "Papa tidak sangka, kamu... justru menikah dengan laki-laki yang jauh lebih hebat dibandingkan Roger!" ucap Anggoro dengan senyuman bangga. Maxime Draven tentu tidak sebanding dengan Roger Duan, laki-laki tua bangka yang kemarin sempat ingin menjadikan Karra sebagai istri dengan dalih investasi. Tapi lihatlah, senyum Anggoro menjelaskan segalanya. Ia pasti sudah mendapat kucuran dana dari Max dengan it

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 8

    Dua hari berlalu begitu cepat dan Max tidak pernah menemuinya lagi. Karra hanya sesekali dikunjungi oleh Kevin atau laki-laki paruh baya yang merupakan kepala pelayan di kediaman Max. "Kita pulang sekarang, Nona!" seru Pak Rudy--si asisten paruh baya yang baru saja selesai mengurus semua keperluan administrasi. Karra mengangguk lemah lalu mengikuti langkah pria paruh baya itu. "Nona tidak tanya ke mana perginya Pak Max?" tanya Pak Rudy lembut. Pria itu mengimbangi langkah Karra yang dan sesekali memperhatikan wajahnya yang murung. Karra menggeleng. "Saya tidak peduli," lirihnya. Max adalah seorang pebisnis besar. Dia tidak muncul, pastilah karena urusan pekerjaan. Atau mungkin dia sudah muak dengan sandiwara mereka dan berubah pikiran? Begitulah isi kepala Karra saat ini tapi... "Dia sakit, Nona!" ucap Pak Rudy dengan nada sedih. Mendengar itu, Karra mengedip cepat. "Sakit?" ulang gadis itu. "Ya. Dia sakit. Tapi dia tidak mau dirawat. Kami merawatnya di rumah." Karra tidak ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status