LOGINPintu kayu ek tebal di hadapanku terbuka dengan derit pelan yang bergetar rendah di udara.Seorang pengawal bertubuh kekar mendorong bahuku tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah ke dalam ruangan."Masuk. Lady Freya dan Beta Gideon tidak suka membuang waktu mereka," desis pengawal itu sebelum membanting pintu kayu di belakangku.Klik.Suara kunci kuningan yang berputar membuat darahku terasa membeku seketika.Ruang rapat kecil ini terasa sangat sunyi, dingin, dan dikuasai oleh aroma dominasi yang menyesakkan.Di tengah ruangan, Freya duduk dengan anggun di atas kursi beludru merah yang tampak mewah.Dia sedang menyesap teh hangat dari cangkir porselen berhias emas dengan gerakan yang sangat tenang.Sementara itu, Beta Gideon berdiri bersandar di dekat jendela kayu besar, menatap ke luar dengan kedua tangan di belakang punggung.Aroma manis bunga lily milik Freya bercampur dengan aroma pinus kering milik Gideon, menciptakan kombinasi pekat yang membuat perutku bergejolak mual."Lihat
Rantai besi tebal yang melilit pergelangan kakiku sengaja dilonggarkan atas perintah Julian.Para pengawal membiarkanku berjalan tanpa hambatan di sekitar sayap barat istana—sebuah kelonggaran kejam yang kuduga merupakan bagian dari eksperimen barunya untuk menguji batasan fisikku.Aku berdiri membeku, menatap pantulan diriku pada cermin besar di koridor sayap barat.Bekas cengkeraman merah kehitaman yang bengkak dan terasa panas memenuhi sepanjang leher hingga bahu kiriku.Bekas taring Xavier dan sisa gigitan Julian dari malam kemarin meninggalkan pola luka kasar yang berdenyut hebat.Paru-paruku seolah menolak menyerap udara setiap kali rasa ngilu itu menusuk ujung sarafku.Aku menyentuh luka gigitan di bahu kiriku dengan ujung jari yang gemetar, meraba tekstur kulit yang mengeras dan meradang."Sampai kapan tubuhku harus menanggung siksaan ini?" bisikku lirih pada bayanganku yang pucat.Tiba-tiba, suara riuh derap kaki kuda terdengar dari arah gerbang utama istana.Gemuruh roda ker
Cahaya pagi yang redup menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar bawah tanah. Tubuhku terasa sangat kaku dan perih saat mencoba bergerak di atas kasur beludru hitam.Rasa nyeri akibat hukuman cambuk telapak tangan Xavier semalam masih membakar kulit pantatku. Setiap kali bergeser, perut bagian bawahku mengejang hebat didera sisa efek pakta darah campuran mereka.Cairan intim yang mengering ketat di selangkangan membuatku merasa sangat kotor. Kehancuran harga diriku terasa lengkap pagi ini.Klek. Suara engsel pintu besi tebal berdering pelan, memecah keheningan kamar pengekapan.Martha melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi sarapan dan sebuah handuk bersih. Langkah kakinya terdengar sangat pelan dan gemetar."Nona Alana, tolong jangan takut," bisik Martha lirih. Dia meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu berjalan mendekati ujung ranjang tempatku meringkuk.Martha mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dari saku celemeknya. Dia membungkuk di depan kaki kiri
Langkah kakiku bergema cepat di sepanjang lorong pengawal yang gelap dan dingin. Jantungku berhantam liar di dalam rongga dada didera kepanikan maut yang mencekik.Di belakangku, jeritan kesakitan pelayan wanita yang baru saja kutusuk dengan garpu perak masih terdengar riuh. Aku terus berlari tanpa memedulikan rasa perih di telapak kakiku.Namun, pelarianku mendadak terhenti ketika sebuah bayangan raksasa menghalangi jalan di ujung lorong. Sebelum aku sempat berbalik, sepasang tangan besi mencengkeram kedua bahuku dengan kejam."Kau pikir bisa lari dariku, Alana?" geram Xavier.Suara beratnya menggelegar kejam, meremukkan seluruh harapan merdeka di dalam kepalaku. Dia menyentak tubuhku kasar, menyeretku kembali menuju kamar bawah tanah yang pengap.Tubuhku dihantam keras ke atas kasur beludru hitam hingga kepalaku terasa sangat pusing. Xavier berdiri tegak di tepi ranjang, menatapku dengan sepasang mata merah darah yang berkilat murka.Di tangan kanannya, dia memegang garpu perak yang
Lantai marmer yang dingin menekan kedua lututku yang gemetar tanpa pelindung. Di sekelilingku, kegelapan murni terbentang di bawah kolong meja perjamuan kayu mahoni yang panjang.Kain beludru hitam penutup meja ini sangat tebal, kaku, dan menjuntai hingga menyentuh lantai marmer sepenuhnya. Kondisi tersebut menciptakan lorong kedap suara dan kedap cahaya yang mengisolasiku di bawah meja dewan."Kita harus memusnahkan Omega murni pelarian itu sekarang juga!" seru Tetua Kael dari atas meja. Suaranya yang berat menggelegar kencang, diikuti hantaman kepalan tangan yang memukul meja berulang kali karena perdebatan politik.Kebisingan politik di atas meja mahoni itu sangat bising didera amarah para tetua. Suara benturan piring porselen berhasil menutupi setiap suara gesekan halus di bawah meja."Merangkaklah lebih dekat, Alana," bisik Julian dari arah kanan. Sebuah tangan besar menerobos masuk dari celah kain meja, mencengkeram rambut cokelatku secara kasar."Jangan bersuara jika kau masih
Sinar matahari sore menembus celah ventilasi kamar bawah tanah yang pengap. Cahaya pucat itu jatuh tepat di atas seprai beludru hitam tempatku meringkuk lemas.Borgol perak di pergelangan kaki kiriku berdenting nyaring saat tubuhku ditarik paksa ke tengah ranjang. Logam dingin itu mengunci pergerakanku, menempel erat di kulitku yang lecet akibat malam sebelumnya.Bastian dan Julian berdiri tegak di sisi ranjang tanpa mengenakan pakaian atas. Otot-otot dada mereka berkilat oleh keringat tipis di bawah cahaya sore yang minim."Lepaskan aku... kumohon jangan lakukan ini lagi," rintihku sembari mencoba merapatkan kedua pahaku erat-erat. Air mataku mulai mengalir deras, membahasahi bantal beludru hitam yang terasa sangat dingin di pipiku."Tidak ada kata menyerah hari ini, Alana," sahut Julian dengan senyuman dingin.Dia meraih sebotol minyak lavender hangat dari atas nakas kayu di dekat ranjang."Apakah kau takut dia akan hancur jika kita menyentuhnya bersama, Bastian?" tanya Julian mempr
Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di dalam tubuhku.Luka gigitan Xavier di bahu kiriku tidak hanya berdenyut perih—luka itu bermutasi menjadi siksaan biologis yang mengerikan.Ketika aku menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar, kulit di sekitar bekas taringnya terasa sepanas besi membara,
"Kau punya waktu tiga puluh menit sebelum Julian kembali," bisikku pada diri sendiri di tengah keheningan yang membekukan.Rencana gila ini sudah kususun selama berhari-hari di dalam kepalaku, dan malam ini adalah satu-satunya kesempatan yang kupunya sebelum takdir sialan ini melahapku hidup-hidup.
Bunyi retakan tulang itu... dan darah segar yang memercik langsung ke ujung gaun katun putihku.Aku ingin muntah.Rasa muak dan ngeri merayap di dadaku, mencekikku dengan kesadaran yang teramat pahit—pria tua itu sekarat karena aku. Karena secercah senyum ramah yang dia berikan padaku siang ini."B
"Kau tidak akan pernah bisa membawa rahasia kematianmu keluar dari perpustakaan ini, Alana."Bisikan sedingin es milik Julian mendadak berembus tepat di ceruk leher belakangku.Sebelum aku sempat berteriak, sepasang lengan jangkungnya telah mengunci tubuhku dengan rapat ke rak kayu ek, menjepitku d







