FAZER LOGINJulian memojokkan tubuhku ke arah dinding marmer kamar mandi yang dingin.Cengkeramannya pada bahu kiriku membuat luka gigitan Xavier kembali terasa perih di tubuhku."Lepaskan aku, Julian!" rintihku setengah berbisik.Aku mencoba meronta dari dekapan dingin yang menjerat seluruh tubuh kecilku.Namun, seluruh tenagaku menguap sia-sia saat Bastian melangkah mendekat ke arah kami.Bastian mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala dengan satu tangan kekarnya yang kuat."Diam, Alana. Kau harus diajar untuk lebih patuh hari ini," sahut Julian dengan senyum tipisnya yang dingin."Ayah sedang tidak ada di istana untuk melindungimu siang ini, Sayang," bisik Bastian tepat di telingaku.Aroma kulit hangat miliknya yang maskulin mengalir deras, mencekik ruang bernapasku yang sangat terbatas.Julian meraba paha bagian dalamku, menyingkap gaun katun abu-abu yang saat ini sedang kukenakan.Di tangannya, sebuah benda bulat perak kecil berkilau tajam di bawah lampu kamar mandi.Itu adala
Langkah kakiku tidak bersuara saat menyusuri koridor sayap timur istana.Aku bisa menyelinap kemari karena seluruh pengawal pribadi di sayap barat dialihkan ke gerbang utama, sibuk mempersiapkan patroli perbatasan luar kawanan.Karpet merah tebal di bawah kakiku meredam sisa getaran ketakutan dari kejadian gila di balkon tadi malam.Aku sengaja berjalan ke arah wilayah tamu ini untuk mencari tahu informasi tentang Sumpah Darah yang mengikat Xavier dan Freya.Namun, keheningan koridor pagi ini mendadak terusik oleh sebuah desisan pelan dari balik salah satu pintu kayu jati berukir.Aku menghentikan langkahku seketika.Darahku terasa membeku saat mengenali suara yang sangat kukenal di dalam ruangan tersebut."Kau yakin rencana ini tidak akan tercium oleh Xavier, Gideon?" tanya Freya dengan nada suara yang bergetar penuh kemarahan yang tertahan."Xavier sedang sangat protektif pada pelacur kecil itu sekarang."Aku menahan napas, menempelkan telingaku erat-erat pada celah kayu pintu yang
Suara musik petik dan tawa keras para tetua dewan terdengar sangat jelas dari halaman bawah.Cahaya obor dari pesta perjamuan malam itu berpendar terang, menerangi lekuk taman labirin tepat di bawah menara utama.Aku berdiri dengan kaki membeku di tengah kamar tidur utama Xavier yang luas dan sunyi.Pintu kayu besar di belakangku baru saja dikunci rapat oleh sang Alpha Tertinggi.Aroma kayu bakar panas miliknya mengalir pekat di dalam ruangan, membungkam sisa aroma vanila murniku hingga tak bersisa.Xavier melangkah mendekat, sepasang matanya yang merah menyala menatapku laksana pemangsa yang telah mengunci mangsanya."Kau pikir kau bisa tersenyum begitu saja setelah mengacaukan istanaku siang ini, Omega?" tanya Xavier dengan suara berat yang serak."Aku tidak melakukan apa pun, Xavier," jawabku sambil melangkah mundur hingga tumitku membentur pintu kaca balkon."Lady Freya yang mengunci kamarku dan membakar semua pakaianku."Xavier tidak memedulikan penjelasanku.Dia terus melangkah
Suara keributan dari lantai bawah merambat naik melewati tangga batu spiral yang sunyi.Aku berdiri di depan pintu kamarku yang kini sudah tidak lagi terkunci rapat.Sisa aroma vanila manis bercampur asap pekat yang kulepaskan tadi masih menggantung tipis di udara koridor.Namun, keharuman milikku itu seketika tergilas habis oleh sesuatu yang jauh lebih dominan dan mengerikan.Aroma kayu bakar panas milik Xavier menguap kencang di udara.Bau hangus yang sangat pekat itu menandakan kemarahan Alpha Tertinggi yang berada di puncak mutlak, menindas seluruh isi istana tanpa ampun.Seorang pengawal pribadi berdiri di dekat pintu kamarku dengan tubuh yang gemetar hebat."Alana, Alpha Tertinggi memanggilmu untuk menyaksikan ini dari lantai atas," ucapnya gugup, menolak menatap langsung ke mataku.Aku menyipitkan mata, meraba gaun tidur sutra tipis merah marun yang saat ini sedang melekat erat di tubuhku."Mengapa dia memanggilku?" tanyaku dengan nada suara yang sangat tenang."Keluar saja sek
Klik.Gagang pintu besi itu tidak bergeming saat kutekankan ke bawah dengan seluruh tenagaku.Kulit telapak tanganku memerah perih, bergesekan kasar dengan logam kuningan dingin yang membeku di bawah jari-jariku."Buka pintunya!" teriakku, menggedor permukaan kayu ek tebal itu menggunakan kepalan tangan kanan."Siapa di luar? Buka sekarang!"Suara kasak-kusuk para pelayan di luar koridor mendadak senyap, digantikan oleh derap langkah kaki yang teratur dan berwibawa."Jangan membuang tenagamu untuk melolong seperti binatang liar, Omega," sahut sebuah suara wanita dari balik pintu.Itu Clara, kepala pelayan pribadi yang dibawa langsung oleh Freya dari kawanan utara."Clara! Buka pintu ini sekarang juga!" desisku tajam, membiarkan amarah mengalir di sepanjang tenggorokanku."Ini adalah perintah karantina medis langsung dari Lady Freya," sahut Clara dengan nada datar tanpa penyesalan."Kami harus memastikan seekor Omega liar dari luar wilayah tidak membawa penyakit kotor yang bisa menular
Aku membuka mata saat cahaya fajar menembus celah gorden kamar sayap barat.Rasa pegal dan nyeri yang menusuk langsung menguasai seluruh persendian tubuhku yang letih.Aku menyibak selimut sutra abu-abu yang menutupi tubuh polosku di atas ranjang yang luas ini.Di paha bagian dalamku, sisa gairah liar dari kejadian gila di bawah meja perjamuan semalam telah mengering sepenuhnya.Bercak cairan hangat yang mengeras itu menempel di kulit paha, menjadi bukti nyata atas kepasrahan fisikku semalam.Aku menatap noda tersebut dengan sepasang mata yang kini perlahan menggelap tanpa ada air mata yang tersisa.Biasanya, siksaan fisik dan seksual dari Xavier, Julian, dan Bastian akan membuatku menangis tersedu-sedu hingga tenggorokanku tercekik.Namun pagi ini, tidak ada satu pun tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku yang masih terasa panas.Aku bangkit berdiri dengan tenang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam.Kran pancuran kuputar, membiarkan air hang
Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







