Beranda / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 29: Di Bawah Meja Panjang

Share

Chapter 29: Di Bawah Meja Panjang

Penulis: Surjelly
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 14:06:51

Aku meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.

Kain beludru penutup meja perjamuan yang sangat tebal, kaku, dan menjuntai menyentuh lantai marmer sepenuhnya menyembunyikan tubuhku dari dunia luar, menciptakan sebuah lorong kedap suara dan kedap cahaya di bawah meja perjamuan dewan.

Di luar kolong meja yang sempit ini, suara langkah kaki para pelayan dan dewan tetua mulai berdatangan.

Denting alat makan perak dan aroma hidangan daging panggang yang mewah memenuhi udara tepat di atas kepalaku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 36: Tamparan yang Mahal

    Cairan hangat mengalir deras membasahi paha bagian dalamku tepat saat Freya bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat dengan selembar saputangan di tangannya.Aku meremas gaun katun abu-abuku dengan tangan yang gemetar hebat, berusaha menahan kontraksi liang intim yang terus menjepit mainan perak tersebut.Keringat dingin membasahi dahiku, membuat beberapa helai rambut cokelatku menempel acak-acakan di bahu kiriku yang memar."Berdiri, Alana!" perintah Freya sekali lagi dengan suara melengking tajam.Aku menggelengkan kepalaku panik, berjuang keras menutupi kelumpuhan fisikku dari tatapan matanya yang menakar kejam."Saya... benar-benar tidak bisa berdiri, Lady Freya," bisikku terbata-bata dengan napas yang terus memburu cepat.Aku menggigit lidahku sendiri untuk meredam desahan gairah yang terus mendesak di tenggorokanku yang kering.Freya menyipitkan sepasang mata biru es miliknya, mengamati seluruh tubuhku yang basah oleh keringat dingin dari kepala hingga kaki.Dia mela

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 35: Mainan yang Bergoyang

    Julian memojokkan tubuhku ke arah dinding marmer kamar mandi yang dingin.Cengkeramannya pada bahu kiriku membuat luka gigitan Xavier kembali terasa perih di tubuhku."Lepaskan aku, Julian!" rintihku setengah berbisik.Aku mencoba meronta dari dekapan dingin yang menjerat seluruh tubuh kecilku.Namun, seluruh tenagaku menguap sia-sia saat Bastian melangkah mendekat ke arah kami.Bastian mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala dengan satu tangan kekarnya yang kuat."Diam, Alana. Kau harus diajar untuk lebih patuh hari ini," sahut Julian dengan senyum tipisnya yang dingin."Ayah sedang tidak ada di istana untuk melindungimu siang ini, Sayang," bisik Bastian tepat di telingaku.Aroma kulit hangat miliknya yang maskulin mengalir deras, mencekik ruang bernapasku yang sangat terbatas.Julian meraba paha bagian dalamku, menyingkap gaun katun abu-abu yang saat ini sedang kukenakan.Di tangannya, sebuah benda bulat perak kecil berkilau tajam di bawah lampu kamar mandi.Itu adala

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 34: Pisau di Balik Punggung

    Langkah kakiku tidak bersuara saat menyusuri koridor sayap timur istana.Aku bisa menyelinap kemari karena seluruh pengawal pribadi di sayap barat dialihkan ke gerbang utama, sibuk mempersiapkan patroli perbatasan luar kawanan.Karpet merah tebal di bawah kakiku meredam sisa getaran ketakutan dari kejadian gila di balkon tadi malam.Aku sengaja berjalan ke arah wilayah tamu ini untuk mencari tahu informasi tentang Sumpah Darah yang mengikat Xavier dan Freya.Namun, keheningan koridor pagi ini mendadak terusik oleh sebuah desisan pelan dari balik salah satu pintu kayu jati berukir.Aku menghentikan langkahku seketika.Darahku terasa membeku saat mengenali suara yang sangat kukenal di dalam ruangan tersebut."Kau yakin rencana ini tidak akan tercium oleh Xavier, Gideon?" tanya Freya dengan nada suara yang bergetar penuh kemarahan yang tertahan."Xavier sedang sangat protektif pada pelacur kecil itu sekarang."Aku menahan napas, menempelkan telingaku erat-erat pada celah kayu pintu yang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 33: Balkon yang Berbahaya

    Suara musik petik dan tawa keras para tetua dewan terdengar sangat jelas dari halaman bawah.Cahaya obor dari pesta perjamuan malam itu berpendar terang, menerangi lekuk taman labirin tepat di bawah menara utama.Aku berdiri dengan kaki membeku di tengah kamar tidur utama Xavier yang luas dan sunyi.Pintu kayu besar di belakangku baru saja dikunci rapat oleh sang Alpha Tertinggi.Aroma kayu bakar panas miliknya mengalir pekat di dalam ruangan, membungkam sisa aroma vanila murniku hingga tak bersisa.Xavier melangkah mendekat, sepasang matanya yang merah menyala menatapku laksana pemangsa yang telah mengunci mangsanya."Kau pikir kau bisa tersenyum begitu saja setelah mengacaukan istanaku siang ini, Omega?" tanya Xavier dengan suara berat yang serak."Aku tidak melakukan apa pun, Xavier," jawabku sambil melangkah mundur hingga tumitku membentur pintu kaca balkon."Lady Freya yang mengunci kamarku dan membakar semua pakaianku."Xavier tidak memedulikan penjelasanku.Dia terus melangkah

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 32: Raja yang Membela

    Suara keributan dari lantai bawah merambat naik melewati tangga batu spiral yang sunyi.Aku berdiri di depan pintu kamarku yang kini sudah tidak lagi terkunci rapat.Sisa aroma vanila manis bercampur asap pekat yang kulepaskan tadi masih menggantung tipis di udara koridor.Namun, keharuman milikku itu seketika tergilas habis oleh sesuatu yang jauh lebih dominan dan mengerikan.Aroma kayu bakar panas milik Xavier menguap kencang di udara.Bau hangus yang sangat pekat itu menandakan kemarahan Alpha Tertinggi yang berada di puncak mutlak, menindas seluruh isi istana tanpa ampun.Seorang pengawal pribadi berdiri di dekat pintu kamarku dengan tubuh yang gemetar hebat."Alana, Alpha Tertinggi memanggilmu untuk menyaksikan ini dari lantai atas," ucapnya gugup, menolak menatap langsung ke mataku.Aku menyipitkan mata, meraba gaun tidur sutra tipis merah marun yang saat ini sedang melekat erat di tubuhku."Mengapa dia memanggilku?" tanyaku dengan nada suara yang sangat tenang."Keluar saja sek

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 31: Isolasi yang Direncanakan

    Klik.Gagang pintu besi itu tidak bergeming saat kutekankan ke bawah dengan seluruh tenagaku.Kulit telapak tanganku memerah perih, bergesekan kasar dengan logam kuningan dingin yang membeku di bawah jari-jariku."Buka pintunya!" teriakku, menggedor permukaan kayu ek tebal itu menggunakan kepalan tangan kanan."Siapa di luar? Buka sekarang!"Suara kasak-kusuk para pelayan di luar koridor mendadak senyap, digantikan oleh derap langkah kaki yang teratur dan berwibawa."Jangan membuang tenagamu untuk melolong seperti binatang liar, Omega," sahut sebuah suara wanita dari balik pintu.Itu Clara, kepala pelayan pribadi yang dibawa langsung oleh Freya dari kawanan utara."Clara! Buka pintu ini sekarang juga!" desisku tajam, membiarkan amarah mengalir di sepanjang tenggorokanku."Ini adalah perintah karantina medis langsung dari Lady Freya," sahut Clara dengan nada datar tanpa penyesalan."Kami harus memastikan seekor Omega liar dari luar wilayah tidak membawa penyakit kotor yang bisa menular

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status