LOGINLangkahku terhenti tepat di depan pintu perpustakaan kayu yang masih terkunci rapat dari dalam. Aku tidak berbalik untuk melihat Julian, tetapi aku tahu pria itu sedang menatap punggungku dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokannya."Kau tidak bisa pergi begitu saja, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang bergetar menahan gairah fisik yang menyiksa tubuhnya. "Pemeriksaan medis ini belum selesai, dan kau harus memberikan sampel darahmu sore ini."Aku tersenyum tipis mendengarnya, lalu berbalik perlahan untuk menatap wajah tampannya yang kini tampak sangat kacau. "Apakah kau masih berpikir bahwa kau memiliki otoritas untuk memerintahku di dalam menara ini, Julian?"Julian mencengkeram pinggiran meja kerjanya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih bersih. "Aku adalah arsitek yang merancang seluruh sistem kesehatan dan kelangsungan hidup rahimmu di istana ini.""Sistem kesehatan?" tanyaku dengan nada meremehkan yang sangat jelas terdengar di ruangan sepi ini. "Atau s
Pintu perpustakaan menara timur berdentang kaku saat Julian menguncinya dari dalam. Suara anak kunci yang berputar tiga kali bergema di seluruh penjuru ruangan yang sunyi ini.Aku tidak berbalik untuk melihat pintu itu dan tetap berdiri tenang di tengah ruangan penuh rak buku tua. Pandanganku langsung tertuju pada Julian yang sedang berdiri tegak di balik meja kerjanya yang luas.Pria itu memegang tumpukan berkas berisi lembar analisis medis kehamilanku dengan ekspresi sedatar es. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, mencoba menekan mental Omegaku secara perlahan."Duduklah, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang sangat tenang dan tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu mendiskusikan grafik perkembangan janin di dalam rahimmu yang mengalami lonjakan tidak wajar sore ini."Aku tersenyum tipis, mulai melangkah mendekatinya dengan gerakan kaki yang sangat lambat dan santai. Aku tidak menuju ke arah kursi kosong di depan mejanya, melainkan terus berjalan memutari meja k
Langkah kakiku terdengar pelan di sepanjang koridor sayap timur yang sunyi. Udara dingin istana menusuk kulitku, tetapi dadaku terasa jauh lebih hangat setelah konfrontasi dengan Xavier tadi pagi.Aku baru saja melewati persimpangan pilar batu besar ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalanku. Aku menghentikan langkah dan mendongak perlahan untuk melihat siapa yang berani menghentikanku.Bastian berdiri di sana dengan tubuh raksasanya yang tampak sedikit berguncang lemah. Rahang tegasnya masih dibalut perban putih bersih sisa pertarungan brutalnya dengan Xavier kemarin malam di depan ruang dewan.Aroma kulit hangat miliknya yang biasa terasa sangat dominan kini tercium sangat asam. Bau feromonnya dipenuhi oleh kepedihan dan rasa bersalah yang teramat sangat menyengat hidungku.Dia menatapku dengan mata emasnya yang terlihat sangat suram dan redup. Kedua tangannya yang besar tergantung gemetar di sisi tubuhnya seolah dia tidak tahu harus berbuat apa di hadapanku.Alana, tolong he
Aku tidak dilahirkan untuk mati sebagai alat penetas yang patuh.Aku menolak menjadi wadah kosong yang hanya menerima benih keji mereka.Meskipun semalam Xavier sempat kolaps bersimbah darah hitam akibat terkurasnya energi titah miliknya, pagi ini dia sudah dipaksa bangkit oleh serum penstabil saraf milik Julian. Namun, sisa-sisa kelumpuhan itu masih membayang di wajah kasarnya.Pintu kamar tidur terbuka pelan, memperlihatkan Xavier yang melangkah masuk membawa nampan berisi makanan hangat.Aroma gurih daging panggang segar menguap, mencoba menyamarkan bau darah yang masih tersisa di sudut bibirnya.Aku berdiri di dekat jendela, membiarkan jubah sutra tidurku bergesekan pelan dengan marmer yang dingin."Bagaimana keadaanmu pagi ini setelah ketegangan malam pembantaian dewan kemarin, Alana?" tanya Xavier dengan suara baritonnya yang berat.Aku tidak memalingkan wajahku, tetap menatap lurus ke arah halaman luar istana yang membeku oleh salju."Aku merasa sangat baik, Xavier," sahutku de
Suasana kamar tidur utama sangat sunyi malam ini setelah badai feromon sore tadi mereda. Aku bangkit dari ranjang beludru tanpa menimbulkan suara sedikit pun."Aku harus menyelesaikan ini sekarang," bisikku lirih pada kegelapan kamar. "Kunci perak ini harus menemukan jawabannya malam ini," lanjutku sembari meraba saku gaunku.Aku melangkah perlahan menuju permadani dinding besar yang tergantung di dekat lemari kayu jati. Di balik kain tebal itu, pintu rahasia yang tersembunyi selama ini menungguku.Aku mengeluarkan kunci kuno perak berukir lambang serigala Bloodmoon yang kuambil dari laci Xavier dulu. Kunci itu masuk dengan pas ke didera lubang pintu kayu yang dingin."Klik," suara mekanisme besi yang terbuka terdengar sangat keras di telingaku. "Tolong beri aku petunjuk," ucapku lirih sembari mendorong pintu itu perlahan.Sebuah tangga batu melingkar yang sangat gelap dan curam terbentang di hadapanku. Aku menyalakan lampu minyak kecil yang kuambil dari meja rias sebelum melangkah tu
Kabut emas beraroma madu manis yang pekat perlahan-lahan mulai menipis di udara Aula Tengah.Aku menarik napas dalam-dalam, secara sadar menutup kembali gerbang feromon Level tiga di kelenjar leherku pagi ini.Meskipun aromanya telah menyusut, keheningan yang mencekam masih membekukan marmer aula yang dingin.Ketiga Alpha perkasa itu masih terkapar tidak berdaya dengan napas yang memburu sangat kacau di lantai.Bastian meremas dadanya yang bidang dengan kedua tangannya yang kotor oleh sisa pertempuran perbatasan.Matanya yang semula menyala merah murni kini tampak berkaca-kaca karena menahan gairah paksa yang menyiksa saraf otaknya."Aroma ini... mengapa tubuhku tidak bisa menolak pengaruhmu, Alana?" tanya Bastian dengan suara parau yang sangat lirih.Dia mencoba menggerakkan kaki kekarnya untuk berdiri, namun lututnya mendadak lemas kembali hingga dia terjatuh."Lututku tidak bisa bergerak... sistem sarafku terasa lumpuh sepenuhnya..." rintih Bastian sambil mengepalkan tangan di atas
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







