Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 30: Senyum yang Berbeda

Share

Chapter 30: Senyum yang Berbeda

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-25 17:48:01

Aku membuka mata saat cahaya fajar menembus celah gorden kamar sayap barat.

Rasa pegal dan nyeri yang menusuk langsung menguasai seluruh persendian tubuhku yang letih.

Aku menyibak selimut sutra abu-abu yang menutupi tubuh polosku di atas ranjang yang luas ini.

Di paha bagian dalamku, sisa gairah liar dari kejadian gila di bawah meja perjamuan semalam telah mengering sepenuhnya.

Bercak cairan hangat yang mengeras itu menempel di kulit paha, menjadi bukti nyata atas kepasrahan fisikku semalam.

A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 33: Balkon yang Berbahaya

    Suara musik petik dan tawa keras para tetua dewan terdengar sangat jelas dari halaman bawah.Cahaya obor dari pesta perjamuan malam itu berpendar terang, menerangi lekuk taman labirin tepat di bawah menara utama.Aku berdiri dengan kaki membeku di tengah kamar tidur utama Xavier yang luas dan sunyi.Pintu kayu besar di belakangku baru saja dikunci rapat oleh sang Alpha Tertinggi.Aroma kayu bakar panas miliknya mengalir pekat di dalam ruangan, membungkam sisa aroma vanila murniku hingga tak bersisa.Xavier melangkah mendekat, sepasang matanya yang merah menyala menatapku laksana pemangsa yang telah mengunci mangsanya."Kau pikir kau bisa tersenyum begitu saja setelah mengacaukan istanaku siang ini, Omega?" tanya Xavier dengan suara berat yang serak."Aku tidak melakukan apa pun, Xavier," jawabku sambil melangkah mundur hingga tumitku membentur pintu kaca balkon."Lady Freya yang mengunci kamarku dan membakar semua pakaianku."Xavier tidak memedulikan penjelasanku.Dia terus melangkah

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 32: Raja yang Membela

    Suara keributan dari lantai bawah merambat naik melewati tangga batu spiral yang sunyi.Aku berdiri di depan pintu kamarku yang kini sudah tidak lagi terkunci rapat.Sisa aroma vanila manis bercampur asap pekat yang kulepaskan tadi masih menggantung tipis di udara koridor.Namun, keharuman milikku itu seketika tergilas habis oleh sesuatu yang jauh lebih dominan dan mengerikan.Aroma kayu bakar panas milik Xavier menguap kencang di udara.Bau hangus yang sangat pekat itu menandakan kemarahan Alpha Tertinggi yang berada di puncak mutlak, menindas seluruh isi istana tanpa ampun.Seorang pengawal pribadi berdiri di dekat pintu kamarku dengan tubuh yang gemetar hebat."Alana, Alpha Tertinggi memanggilmu untuk menyaksikan ini dari lantai atas," ucapnya gugup, menolak menatap langsung ke mataku.Aku menyipitkan mata, meraba gaun tidur sutra tipis merah marun yang saat ini sedang melekat erat di tubuhku."Mengapa dia memanggilku?" tanyaku dengan nada suara yang sangat tenang."Keluar saja sek

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 31: Isolasi yang Direncanakan

    Klik.Gagang pintu besi itu tidak bergeming saat kutekankan ke bawah dengan seluruh tenagaku.Kulit telapak tanganku memerah perih, bergesekan kasar dengan logam kuningan dingin yang membeku di bawah jari-jariku."Buka pintunya!" teriakku, menggedor permukaan kayu ek tebal itu menggunakan kepalan tangan kanan."Siapa di luar? Buka sekarang!"Suara kasak-kusuk para pelayan di luar koridor mendadak senyap, digantikan oleh derap langkah kaki yang teratur dan berwibawa."Jangan membuang tenagamu untuk melolong seperti binatang liar, Omega," sahut sebuah suara wanita dari balik pintu.Itu Clara, kepala pelayan pribadi yang dibawa langsung oleh Freya dari kawanan utara."Clara! Buka pintu ini sekarang juga!" desisku tajam, membiarkan amarah mengalir di sepanjang tenggorokanku."Ini adalah perintah karantina medis langsung dari Lady Freya," sahut Clara dengan nada datar tanpa penyesalan."Kami harus memastikan seekor Omega liar dari luar wilayah tidak membawa penyakit kotor yang bisa menular

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 30: Senyum yang Berbeda

    Aku membuka mata saat cahaya fajar menembus celah gorden kamar sayap barat.Rasa pegal dan nyeri yang menusuk langsung menguasai seluruh persendian tubuhku yang letih.Aku menyibak selimut sutra abu-abu yang menutupi tubuh polosku di atas ranjang yang luas ini.Di paha bagian dalamku, sisa gairah liar dari kejadian gila di bawah meja perjamuan semalam telah mengering sepenuhnya.Bercak cairan hangat yang mengeras itu menempel di kulit paha, menjadi bukti nyata atas kepasrahan fisikku semalam.Aku menatap noda tersebut dengan sepasang mata yang kini perlahan menggelap tanpa ada air mata yang tersisa.Biasanya, siksaan fisik dan seksual dari Xavier, Julian, dan Bastian akan membuatku menangis tersedu-sedu hingga tenggorokanku tercekik.Namun pagi ini, tidak ada satu pun tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku yang masih terasa panas.Aku bangkit berdiri dengan tenang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam.Kran pancuran kuputar, membiarkan air hang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 29: Di Bawah Meja Panjang

    Aku meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.Kain beludru penutup meja perjamuan yang sangat tebal, kaku, dan menjuntai menyentuh lantai marmer sepenuhnya menyembunyikan tubuhku dari dunia luar, menciptakan sebuah lorong kedap suara dan kedap cahaya di bawah meja perjamuan dewan.Di luar kolong meja yang sempit ini, suara langkah kaki para pelayan dan dewan tetua mulai berdatangan.Denting alat makan perak dan aroma hidangan daging panggang yang mewah memenuhi udara tepat di atas kepalaku."Pastikan semua cangkir anggur terisi penuh," terdengar suara kepala pelayan memberi perintah di luar sana.Aku menahan napas saat sepasang sepatu bot kulit hitam besar melangkah mendekat ke arah meja perjamuan.Itu adalah Bastian.Dia menarik kursi kayunya, lalu duduk tepat di depanku.Aroma hangat kulitnya yang maskulin seketika memenuhi kolong meja yang terbatas ini.Tidak lama kemudian, sepasang sepatu bot lain yang lebih ramping ikut duduk di sebelahnya.Julian.Aroma peppermint miliknya ya

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 28: Dendam yang Diam

    Asap cerutu yang pekat menggantung di udara aula utama, membuat mataku perih.Aku berdiri merapatkan tubuhku di sudut pilar marmer yang gelap, berusaha keras agar kehadiranku tidak disadari siapa pun di ruangan ini.Di tengah aula, para tetua dewan duduk mengelilingi meja panjang dengan ekspresi wajah yang sangat tegang."Laporan dari perbatasan menunjukkan peningkatan aktivitas rogue yang mencurigakan, Alpha Tertinggi," ujar Tetua Caleb dengan suara serak.Dia mengetukkan abu cerutunya ke dalam wadah perak di atas meja kayu ek yang kokoh."Kita membutuhkan pengawasan yang lebih ketat sebelum para penyusup itu berani melintasi sungai pembatas wilayah," tambahnya lagi.Di sebelah takhta besar Xavier, Freya duduk dengan anggun di atas kursi berlapis emas.Kursi berlapis emas itu adalah takhta suci yang hanya diperuntukkan bagi Luna sejati dari kawanan ini, sedangkan Freya di sini hanyalah seorang tamu politik.Dia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang sangat mewah, memancarkan ke

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 8: Bayangan yang Mengawasi

    Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di dalam tubuhku.Luka gigitan Xavier di bahu kiriku tidak hanya berdenyut perih—luka itu bermutasi menjadi siksaan biologis yang mengerikan.Ketika aku menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar, kulit di sekitar bekas taringnya terasa sepanas besi membara,

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status