Mag-log inBegitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan
Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an
Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m
Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan
Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m
Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo







