Share

Bab 4

Author: Lailiela
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-19 16:43:57

Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya.

Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya.

Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya.

“Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Adrian masih menatapnya.

Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya.

Doni menarik napas perlahan ia harus berusaha tetap tenang.

Dengan berpura-pura tidak mengenalnya.

Karena untuk pertama kalinya setelah keluar dari penjara, Doni akhirnya berada sangat dekat dengan orang yang selama ini ingin ditemuinya.

Namun, kedekatan itu juga menjadi ancaman terbesar. Jika Adrian mengetahui identitasnya lebih dulu, Doni mungkin tidak akan pernah sempat mengungkap kebenaran.

Dewo berdehem pelan,

“Tuan, jadi apakah dia akan mulai bekerja atau …?”

“Aku akan melihat kinerjanya terlebih dahulu. Jadi, namamu Doni, ya …?”

Adrian menyipitkan mata. Entah mengapa, nama Doni terasa tidak asing di telinganya. Seolah-olah ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Namun, di mana?

Nama Doni sendiri cukup umum dan bisa dimiliki oleh banyak orang. Karena itu, Adrian tidak terlalu memikirkannya. Meski ada sesuatu yang terasa mengganjal dalam pikirannya, ia tidak mampu mengingatnya dengan jelas.

Terlebih lagi, sudah satu tahun berlalu. Ingatannya tentang kejadian-kejadian pada masa itu pun mulai memudar, sehingga Adrian sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seseorang yang pernah ia jebloskan ke penjara.

“Ehem, Doni. Cepat jawab, tadi Tuan bertanya,” bisik Dewo.

“Baik, Tuan. Saya Doni.”

“Mulai besok, setiap kali aku pergi bekerja, aku ingin kamu mengawasi istriku selama dia berada di rumah. Setelah itu, laporkan kepada Dewo jika ada sesuatu yang menurutmu mencurigakan.”

“Ah, satu lagi. Setiap kali dia pergi keluar, kamu juga harus mengikutinya. Akan jauh lebih baik jika kamu memiliki kemampuan bela diri. Sepertinya aku memang membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan seperti itu.”

Doni terdiam sejenak. Selama berada di lapas, ia sudah terbiasa berhadapan dengan sesama tahanan dan bertarung demi bertahan hidup. Tentu saja, kemampuan bertarungnya tidak bisa dianggap remeh.

Karena itu, Doni mulai berpikir untuk memanfaatkan kemampuan tersebut demi mendapatkan kepercayaan Adrian.

“Saya bisa bela diri, menyetir, dan juga melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkat barang!”

Mendengar ucapan Doni, Dewo sontak terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa teman keponakannya itu ternyata memiliki kemampuan yang justru sesuai dengan kriteria pekerja yang sedang dicari oleh majikannya.

Sementara itu, Adrian tampak puas. Ternyata, Doni mampu melakukan hampir semua pekerjaan yang ia butuhkan.

“Bagus. Kalau begitu, kamu cocok untuk bekerja di sini sekaligus menjaga istriku. Dewo, jelaskan kepadanya apa saja yang harus dia kerjakan nanti.”

“Siap Tuan,” jawab Dewo.

Adrian kembali bertanya, “Oh ya … istriku, kamu tahu dia di mana?”

“Nyonya sedang cari angin katanya di luar.”

“Sekalian nanti panggil istriku untuk masuk ke kamar. Malam ini dia harus melayaniku dengan baik.”

“Akan saya panggilkan.”

Dewo menutup pintu ruangan setelah mereka keluar. Bersama Doni, ia segera menjelaskan pekerjaan yang harus dilakukan selama bekerja di rumah tersebut.

“Pokoknya, kamu hanya perlu melayani Nyonya dan selalu berada di dekatnya. Sekarang aku akan memanggil Nyonya, jadi ikut denganku untuk menyapanya.”

Doni sempat terkejut karena ternyata ia akan langsung diperkenalkan kepada Nyonya. Meski begitu, ia tetap berusaha melanjutkan sandiwaranya.

Bekerja di rumah ini bukan hanya soal mencari pekerjaan. Doni juga ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelidiki kembali tuduhan yang pernah membuatnya dijebloskan ke penjara.

“Jadi, sekarang, Pakde?”

“Tentu saja. Mulai besok, kamu sudah harus melayani Nyonya.”

Akhirnya, mereka tiba di taman depan rumah. Di sana terdapat sebuah bangku tempat sang nyonya muda sedang duduk menikmati suasana taman.

Dewo segera menghampiri Aurel bersama Doni.

“Nyonya Aurel, saya membawa seorang pelayan yang akan melayani Nyonya mulai besok.”

Aurel perlahan berdiri dari tempat duduknya. Namun, wajahnya tampak tidak senang. Lagi-lagi, ia harus menerima pekerja baru untuk melayaninya.

Dalam hati, Aurel sudah merasa pesimis. Ia yakin pekerja yang satu ini pun tidak akan bertahan lama. Selama ini, tak ada seorang pun yang sanggup bekerja di sisinya lebih dari satu bulan.

“Jadi suamiku mengirim seseorang lagi untuk mengawasiku?”

Aurel menghela napas panjang. Tatapannya kemudian beralih kepada Doni yang berdiri menunduk di samping Dewo.

“Nyonya tahu, Tuan hanya ingin melindungi Nyonya,” ujar Dewo.

Dengan nada menyindir, Aurel menjawab, “Ya, kali ini dia bahkan mengirim seorang pria tampan. Apa dia sengaja ingin mengujiku?”

“Tentu saja tidak—”

Belum sempat Dewo menyelesaikan ucapannya, Aurel mengangkat telapak tangannya, menghentikannya.

“Sudahlah, tidak perlu dijelaskan. Aku mau masuk sekarang.”

Tanpa memberi kesempatan kepada Doni untuk menyapa atau memperkenalkan diri, Aurel langsung berbalik dan berjalan melewatinya begitu saja.

Melihat Aurel yang bergegas masuk ke dalam rumah. Dewo segera mengikutinya dari belakang.

“Tuan sedang menunggu di kamarnya.”

Mendengar itu wajah kesal Aurel terlihat semakin jelas. Akan tetapi ia tetap melangkah menuju kamar utama menemui suaminya.

Doni yang menyaksikan sikap Aurel tentu bisa menyadari bahwa hubungan antara suami dan istri itu sedang tidak baik-baik saja. Meski begitu, ia justru melihat celah yang mungkin bisa dimanfaatkannya.

Dewo memperhatikan tatapan Doni yang masih tertuju pada Aurel. Bahkan, sudut matanya terus mengikuti langkah wanita itu hingga sosoknya semakin menjauh.

Melihat hal tersebut, Dewo merasa perlu kembali mengingatkan Doni tentang batasan yang harus dijaga antara seorang majikan dan pelayan.

“Hubungan mereka tidak bagus, jadi jangan coba-coba untuk ambil kesempatan. Aku harap kamu tidak sampai jatuh hati padanya.”

Mendengar ucapan itu Doni langsung tertawa,

“Nggaklah, Pakde bisa aja! Nyonya emang cantik. Tapi ya, kali aku berani suka sama istri majikan. Kan, nggak mungkin.”

“Bagus, pokoknya di sini kita hanya perlu bekerja. Mulai besok setelah bekerja kamu harus memberikan laporan mengenai apa saja yang dilakukan nyonya.”

“Siap Pakde, besok pokoknya aku akan langsung kasih tahu.”

Doni mengangguk dengan manut selayaknya seorang pria polos yang patuh.

“Bagus, kalau gitu kamu bisa pergi ke kamarmu sekarang. Tapi ingat, ada ruangan yang tidak bisa kamu datangi saat tengah malam.”

“Hah?”

Dewo mendekat, lalu berbisik dengan nada tegas, “Ingat baik-baik. Area lantai dua, ruang tamu, dan ruang makan bukan tempat yang boleh kamu masuki sembarangan. Jangan sekali-kali menginjakkan kaki ke sana jika tidak dipanggil oleh majikan. Mengerti?”

Meski tidak tahu apa-apa Doni dengan cepat mengangguk.

“Iya Pakde, tapi …”

“Shuut! Pokoknya jangan tanya dan nurut aja, oke!”

Doni kembali menganggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi.

“Sekarang balik ke kamarmu!”

Setelah itu, Dewo segera menghampiri para pekerja lainnya untuk mengingatkan bahwa waktu kerja mereka telah selesai. Ia meminta mereka segera kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat tepat waktu.

Di rumah mewah itu, hanya ada lima pelayan inti yang tinggal di dalam. Sementara para pekerja lainnya tinggal di bangunan khusus yang berada di bagian belakang rumah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 6

    Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 5

    Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 4

    Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 3

    Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 2

    Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 1

    Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status