Share

Bab 2

Penulis: Anisnca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 16:00:11

Ruangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.

“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.

“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.

“Tapi, Lorenne, kau—”

“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”

Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”

Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”

“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”

Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.

“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”

Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama. Namun kenyataannya tak pernah demikian. Ia memilih menyimpan pikirannya sendiri.

“Baik, jadi jika kalian tidak mau,” kata Lorenne tanpa emosi, “tidak masalah. Aku tidak berniat membuang waktuku.”

“Ayah—” panggil Roseane, beralih pada sang Count.

Count menatap Lorenne lama, lalu berkata, “Baik. Aku setuju.”

Lorenne tersenyum tipis. “Tapi ada satu syarat.”

“Benar, kan?” Countess mendengus kesal. “Selalu saja ada yang kau inginkan. Dasar tidak tahu diri.”

“Itu terserah kalian,” balas Lorenne tenang.

“Ayah…” Roseane kembali memanggil, cemas.

“Apa syaratmu?” tanya sang Count akhirnya.

“Aku tidak peduli dengan warisan ayahku,” jawab Lorenne. “Kembalikan seluruh warisan ibuku, tanpa kurang satu sen pun.”

“Lancang!” bentak Countess marah.

“Warisan ibuku tidak sebanding dengan harta ayahku,” ucap Lorenne dingin. “Atau Bibi lupa bagaimana selama ini aku diperlakukan?”

“Selama ini kau dibesarkan dengan baik oleh Count!” balas Countess.

“Itu memang tugasnya,” kata Lorenne tanpa ragu. “Dan aku tidak berutang budi apa pun. Count memperoleh seluruh harta, gelar, dan wilayah milik ayahku.”

Countess hampir membalas, namun—

“Cukup,” potong sang Count. “Tidak perlu berdebat lagi.”

Countess mengatupkan bibir. Lorenne menatap sang Count tanpa gentar.

“Baik,” ucap sang Count akhirnya. “Aku akan mengembalikannya. Yang penting, kau setuju menikah dengan Kaisar menggantikan Roseane.”

“Tentu saja,” jawab Lorenne. “Dan sampai pernikahan itu terjadi, kalian tidak boleh mengatakan apa pun kepada Duke.”

“Kami setuju,” jawab mereka serempak.

“Kak Lorenne…” suara Roseane bergetar. “Apa kau tidak menyesal? Selama ini kau sangat mencintai Duke.”

“Tidak,” jawab Lorenne singkat.

Ia berdiri. “Aku ingin seluruh warisan ibuku diserahkan besok.”

“Baik,” jawab sang Count.

Lorenne berdiri, berniat pergi tanpa menoleh lagi. Namun sebelum langkahnya benar-benar menjauh, suara sang Count menghentikannya.

“Jangan pergi.”

Langkah Lorenne terhenti.

Ia mengernyit, menoleh perlahan, menatap pria yang selama ini lebih sering memandangnya sebagai beban daripada keluarga.

“Ada apa lagi?” tanyanya datar.

Count menarik napas singkat, seolah sedang menimbang sesuatu. “Yang Mulia Kaisar akan datang malam ini,” katanya akhirnya. “Bersiaplah. Kau akan ikut makan malam bersama.”

Untuk sesaat, Lorenne terdiam.

Kaisar… datang?

Dadanya terasa mengencang. Baru beberapa jam lalu ia dan Bearni mengambil keputusan itu, menukar takdirnya, menyerahkan dirinya pada pernikahan yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya. Dan kini, seolah takdir menertawakannya, pria yang akan menjadi suaminya justru muncul lebih cepat dari yang ia duga.

Apakah ini ujian?

Atau peringatan agar ia tak sempat menarik diri?

“Kenapa kau terkejut?” suara Roseane menyela, penuh nada menyindir. “Jangan bilang kau mematung karena takut bertemu Yang Mulia Kaisar?”

Roseane tersenyum tipis, senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus.

Lorenne menoleh padanya. Tatapannya tenang, nyaris dingin.

“Aku tidak sepertimu,” jawabnya singkat.

Roseane tertegun.

“Aku tidak gemetar hanya karena bertemu pria yang belum kukenal,” lanjut Lorenne pelan namun jelas. “Dan aku tidak berpura-pura berani dengan bersembunyi di balik orang lain.”

Ruangan mendadak hening.

Count menatap Lorenne cukup lama, seolah baru kali ini benar-benar melihat putri yang selama ini ia abaikan.

“Bersiaplah,” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Ini bukan permintaan.”

Lorenne mengangguk kecil.

“Baik,” katanya. “Aku akan turun saat waktunya tiba.”

Ia berbalik dan melangkah pergi. Namun kali ini, punggungnya tegak. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan.

Malam harinya, Lorenne turun dari lantai atas dengan langkah perlahan namun mantap. Gaun yang dikenakannya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun, berkilau lembut di bawah cahaya lampu kristal.

Rambutnya ditata rapi, sederhana namun berkelas jelas terlihat betapa para pelayan telah mencurahkan seluruh tenaga dan ketelitian mereka untuk penampilan malam ini. Namun di balik keelokan itu, wajah Lorenne tetap tenang, seolah keindahan yang melekat padanya bukanlah sesuatu yang ia upayakan.

Dari kejauhan, Roseane meliriknya dengan senyum miring yang tak berusaha ia sembunyikan.

“Hem,” desisnya pelan. “Sepertinya ada yang berniat menarik perhatian Yang Mulia Kaisar malam ini.”

Count Valgard langsung menoleh tajam. “Roseane,” tegurnya singkat namun penuh tekanan. “Jaga sikapmu.”

Roseane mendengus kecil, lalu membuang wajah. Sementara itu, Lorenne sama sekali tidak menanggapi. Tatapannya lurus ke depan, seolah bisik-bisik itu tak pernah sampai ke telinganya.

Tak lama kemudian, suara roda kereta kuda kekaisaran menggema di halaman depan. Semua yang berdiri di sana, keluarga inti Valgard, pelayan, dan pengawal serentak meluruskan sikap. Pintu gerbang terbuka, dan kereta berlapis lambang matahari kekaisaran berhenti dengan anggun.

Saat sosok itu turun, udara seakan menegang.

Lelaki berambut hitam legam dengan mata merah pekat melangkah maju. Wibawanya menekan, dingin, dan mutlak seperti malam yang memerintah bintang-bintang untuk tunduk. Ia adalah pusat dari segalanya.

Semua orang membungkuk dalam-dalam. “Selamat malam, dan selamat datang, Matahari Kekaisaran. Yang Mulia Kaisar Reis Czar de Zoltan.”

“Baik,” jawab sang kaisar singkat. Suaranya rendah dan datar. “Bangkitlah.”

Count Valgard segera melangkah maju dan mempersilakan tamu agung itu masuk. Mereka pun bergerak menuju ruang makan utama, ruangan luas dengan meja panjang dan lilin-lilin tinggi yang menyala tenang.

Kaisar duduk di kursi utama. Tepat di seberangnya, Count Valgard mengambil tempat. Countess Valgard duduk di sisi Roseane, sementara Lorenne duduk dengan posisi sedikit terpisah tenang, nyaris tak terlihat, namun entah mengapa justru sulit diabaikan.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tertata rapi, hingga Kaisar akhirnya membuka suara.

“Aku baru mengetahui,” katanya sambil menautkan jemarinya, “bahwa keluarga Valgard memiliki dua orang putri.”

Nada itu tidak menghakimi, namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.

Count Valgard menelan ludah sebelum menjawab. “Benar, Yang Mulia. Putri sulung keluarga Valgard adalah Lorenne.” Ia melirik sekilas ke arah Lorenne. “Ia… tidak terlalu aktif dalam pergaulan sosial. Karena itu, keberadaannya jarang disorot.”

Tatapan Kaisar beralih. Mata merah itu berhenti pada Lorenne tajam, tenang, dan sulit dibaca. Lorenne membalas dengan tunduk sopan, ekspresinya tetap terkendali.

Makan malam berlanjut dengan percakapan seperlunya. Roseane lebih banyak diam, senyum manisnya sesekali muncul namun terasa kaku. Countess tampak gelisah, jemarinya berulang kali merapikan serbet. Dan Lorenne… ia duduk dengan punggung tegak, seperti seseorang yang telah lama bersiap untuk sesuatu yang tak terelakkan.

Ketika hidangan terakhir disingkirkan, Count Valgard menghela napas panjang. Suara itu terdengar jelas di tengah keheningan.

“Yang Mulia,” katanya akhirnya. “Ada satu hal penting yang harus saya sampaikan malam ini.”

Kaisar mengangkat sedikit dagunya. “Katakan.”

Count Valgard berdiri. Wajahnya tegang, namun matanya mengandung keputusan yang tak dapat ditarik kembali. “Perihal pernikahan yang telah direncanakan antara Kekaisaran dan keluarga Valgard…”

Roseane mendongak tajam. Jantung Lorenne berdegup satu kali pelan, dalam.

“Roseane,” lanjut Count Valgard, suaranya bergetar tipis, “tidak akan melanjutkan pernikahan tersebut.”

Ruangan membeku.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Count Valgard menoleh ke arah Lorenne. “Yang akan menikah dengan Yang Mulia Kaisar… adalah putri sulung Valgard,” ucapnya lirih namun tegas. “Lorenne Valgard.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 7

    Musik iring-iringan masih mengalun, lembut namun menekan, seperti jantung yang dipaksa berdetak tenang di tengah kegelisahan. Biola dan lonceng kecil berpadu, namun tak satu pun mampu menutupi keheningan aneh yang menggantung di antara dua sosok di tengah halaman kastil itu.Semua mata tertuju pada mereka.Lorenne berdiri diam, veil putih menutupi wajahnya, sementara Kaisar Reis Czar de Zoltan berdiri di hadapannya dengan tangan terulur tetap, tegas, dan tak tergoyahkan. Tatapannya terkunci pada Lorenne, seolah dunia di sekeliling mereka lenyap begitu saja.Bisik-bisik mulai muncul di antara para bangsawan. Tidak ada yang berani berbicara keras, namun rasa ingin tahu mereka berdenyut liar. Mereka tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tidak tercantum dalam tata upacara.Di balik veil, Lorenne menarik napas dalam-dalam.Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang akhirnya utuh. Tidak ada lagi jalan mundur. Tidak ada lagi tempat untuk berharap

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 6

    Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.Hari pernikahan.Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”Lorenne m

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 5

    Hari-hari berlalu tanpa suara.Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.“Kak Lorenne.”Langkahnya terhenti.Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 4

    “Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.Begitu mereka pergi, halaman t

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 3

    Kaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.Keheningan menekan seperti beban di dada.Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.“J-jika Anda keberatan… Yang Mulia maka—”Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela."Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya."Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 2

    Ruangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.“Tapi, Lorenne, kau—”“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status