Mag-log inRuangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.
“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.
“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.
“Tapi, Lorenne, kau—”
“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”
Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”
Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”
“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”
Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.
“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”
Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama. Namun kenyataannya tak pernah demikian. Ia memilih menyimpan pikirannya sendiri.
“Baik, jadi jika kalian tidak mau,” kata Lorenne tanpa emosi, “tidak masalah. Aku tidak berniat membuang waktuku.”
“Ayah—” panggil Roseane, beralih pada sang Count.
Count menatap Lorenne lama, lalu berkata, “Baik. Aku setuju.”
Lorenne tersenyum tipis. “Tapi ada satu syarat.”
“Benar, kan?” Countess mendengus kesal. “Selalu saja ada yang kau inginkan. Dasar tidak tahu diri.”
“Itu terserah kalian,” balas Lorenne tenang.
“Ayah…” Roseane kembali memanggil, cemas.
“Apa syaratmu?” tanya sang Count akhirnya.
“Aku tidak peduli dengan warisan ayahku,” jawab Lorenne. “Kembalikan seluruh warisan ibuku, tanpa kurang satu sen pun.”
“Lancang!” bentak Countess marah.
“Warisan ibuku tidak sebanding dengan harta ayahku,” ucap Lorenne dingin. “Atau Bibi lupa bagaimana selama ini aku diperlakukan?”
“Selama ini kau dibesarkan dengan baik oleh Count!” balas Countess.
“Itu memang tugasnya,” kata Lorenne tanpa ragu. “Dan aku tidak berutang budi apa pun. Count memperoleh seluruh harta, gelar, dan wilayah milik ayahku.”
Countess hampir membalas, namun—
“Cukup,” potong sang Count. “Tidak perlu berdebat lagi.”
Countess mengatupkan bibir. Lorenne menatap sang Count tanpa gentar.
“Baik,” ucap sang Count akhirnya. “Aku akan mengembalikannya. Yang penting, kau setuju menikah dengan Kaisar menggantikan Roseane.”
“Tentu saja,” jawab Lorenne. “Dan sampai pernikahan itu terjadi, kalian tidak boleh mengatakan apa pun kepada Duke.”
“Kami setuju,” jawab mereka serempak.
“Kak Lorenne…” suara Roseane bergetar. “Apa kau tidak menyesal? Selama ini kau sangat mencintai Duke.”
“Tidak,” jawab Lorenne singkat.
Ia berdiri. “Aku ingin seluruh warisan ibuku diserahkan besok.”
“Baik,” jawab sang Count.
Lorenne berdiri, berniat pergi tanpa menoleh lagi. Namun sebelum langkahnya benar-benar menjauh, suara sang Count menghentikannya.
“Jangan pergi.”
Langkah Lorenne terhenti.
Ia mengernyit, menoleh perlahan, menatap pria yang selama ini lebih sering memandangnya sebagai beban daripada keluarga.
“Ada apa lagi?” tanyanya datar.
Count menarik napas singkat, seolah sedang menimbang sesuatu. “Yang Mulia Kaisar akan datang malam ini,” katanya akhirnya. “Bersiaplah. Kau akan ikut makan malam bersama.”
Untuk sesaat, Lorenne terdiam.
Kaisar… datang?
Dadanya terasa mengencang. Baru beberapa jam lalu ia dan Bearni mengambil keputusan itu, menukar takdirnya, menyerahkan dirinya pada pernikahan yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya. Dan kini, seolah takdir menertawakannya, pria yang akan menjadi suaminya justru muncul lebih cepat dari yang ia duga.
Apakah ini ujian?
“Kenapa kau terkejut?” suara Roseane menyela, penuh nada menyindir. “Jangan bilang kau mematung karena takut bertemu Yang Mulia Kaisar?”
Roseane tersenyum tipis, senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus.
Lorenne menoleh padanya. Tatapannya tenang, nyaris dingin.
“Aku tidak sepertimu,” jawabnya singkat.
Roseane tertegun.
“Aku tidak gemetar hanya karena bertemu pria yang belum kukenal,” lanjut Lorenne pelan namun jelas. “Dan aku tidak berpura-pura berani dengan bersembunyi di balik orang lain.”
Ruangan mendadak hening.
Count menatap Lorenne cukup lama, seolah baru kali ini benar-benar melihat putri yang selama ini ia abaikan.
“Bersiaplah,” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Ini bukan permintaan.”
Lorenne mengangguk kecil.
“Baik,” katanya. “Aku akan turun saat waktunya tiba.”
Ia berbalik dan melangkah pergi. Namun kali ini, punggungnya tegak. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan.
Malam harinya, Lorenne turun dari lantai atas dengan langkah perlahan namun mantap. Gaun yang dikenakannya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun, berkilau lembut di bawah cahaya lampu kristal.
Rambutnya ditata rapi, sederhana namun berkelas jelas terlihat betapa para pelayan telah mencurahkan seluruh tenaga dan ketelitian mereka untuk penampilan malam ini. Namun di balik keelokan itu, wajah Lorenne tetap tenang, seolah keindahan yang melekat padanya bukanlah sesuatu yang ia upayakan.
Dari kejauhan, Roseane meliriknya dengan senyum miring yang tak berusaha ia sembunyikan.
Count Valgard langsung menoleh tajam. “Roseane,” tegurnya singkat namun penuh tekanan. “Jaga sikapmu.”
Roseane mendengus kecil, lalu membuang wajah. Sementara itu, Lorenne sama sekali tidak menanggapi. Tatapannya lurus ke depan, seolah bisik-bisik itu tak pernah sampai ke telinganya.
Tak lama kemudian, suara roda kereta kuda kekaisaran menggema di halaman depan. Semua yang berdiri di sana, keluarga inti Valgard, pelayan, dan pengawal serentak meluruskan sikap. Pintu gerbang terbuka, dan kereta berlapis lambang matahari kekaisaran berhenti dengan anggun.
Saat sosok itu turun, udara seakan menegang.
Lelaki berambut hitam legam dengan mata merah pekat melangkah maju. Wibawanya menekan, dingin, dan mutlak seperti malam yang memerintah bintang-bintang untuk tunduk. Ia adalah pusat dari segalanya.
Semua orang membungkuk dalam-dalam. “Selamat malam, dan selamat datang, Matahari Kekaisaran. Yang Mulia Kaisar Reis Czar de Zoltan.”
“Baik,” jawab sang kaisar singkat. Suaranya rendah dan datar. “Bangkitlah.”
Count Valgard segera melangkah maju dan mempersilakan tamu agung itu masuk. Mereka pun bergerak menuju ruang makan utama, ruangan luas dengan meja panjang dan lilin-lilin tinggi yang menyala tenang.
Kaisar duduk di kursi utama. Tepat di seberangnya, Count Valgard mengambil tempat. Countess Valgard duduk di sisi Roseane, sementara Lorenne duduk dengan posisi sedikit terpisah tenang, nyaris tak terlihat, namun entah mengapa justru sulit diabaikan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tertata rapi, hingga Kaisar akhirnya membuka suara.
Nada itu tidak menghakimi, namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
Count Valgard menelan ludah sebelum menjawab. “Benar, Yang Mulia. Putri sulung keluarga Valgard adalah Lorenne.” Ia melirik sekilas ke arah Lorenne. “Ia… tidak terlalu aktif dalam pergaulan sosial. Karena itu, keberadaannya jarang disorot.”
Tatapan Kaisar beralih. Mata merah itu berhenti pada Lorenne tajam, tenang, dan sulit dibaca. Lorenne membalas dengan tunduk sopan, ekspresinya tetap terkendali.
Makan malam berlanjut dengan percakapan seperlunya. Roseane lebih banyak diam, senyum manisnya sesekali muncul namun terasa kaku. Countess tampak gelisah, jemarinya berulang kali merapikan serbet. Dan Lorenne… ia duduk dengan punggung tegak, seperti seseorang yang telah lama bersiap untuk sesuatu yang tak terelakkan.
Ketika hidangan terakhir disingkirkan, Count Valgard menghela napas panjang. Suara itu terdengar jelas di tengah keheningan.
“Yang Mulia,” katanya akhirnya. “Ada satu hal penting yang harus saya sampaikan malam ini.”
Kaisar mengangkat sedikit dagunya. “Katakan.”
Count Valgard berdiri. Wajahnya tegang, namun matanya mengandung keputusan yang tak dapat ditarik kembali. “Perihal pernikahan yang telah direncanakan antara Kekaisaran dan keluarga Valgard…”
Roseane mendongak tajam. Jantung Lorenne berdegup satu kali pelan, dalam.
“Roseane,” lanjut Count Valgard, suaranya bergetar tipis, “tidak akan melanjutkan pernikahan tersebut.”
Ruangan membeku.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Count Valgard menoleh ke arah Lorenne. “Yang akan menikah dengan Yang Mulia Kaisar… adalah putri sulung Valgard,” ucapnya lirih namun tegas. “Lorenne Valgard.”
Satu tahun berlalu begitu cepat.Musim dingin telah berganti dengan musim semi, dan Istana Kekaisaran yang dahulu dipenuhi intrik serta pertumpahan darah kini dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Lorrene sering kali merasa waktu bergerak terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia berjuang mempertaruhkan nyawanya di ruang persalinan, namun kini ketiga bayinya sudah mampu merangkak ke sana kemari dan membuat seluruh istana sibuk mengejar mereka.Ketiga anak itu diberi nama Rhea Asteria, putri sulung Kekaisaran, serta dua pangeran kembar, Ronan Aurelius dan Rhydian Cael.Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, ketiganya tumbuh dengan sangat mirip ayah mereka.Rambut hitam pekat dan mata merah menyala.Bahkan Duke Kurtcher masih sering mengeluh bahwa keluarga Kurtcher benar-benar kalah telak dalam urusan pewarisan wajah.Hari itu, aula utama istana dipenuhi para bangsawan, pejabat tinggi, serta anggota keluarga kekaisaran. Semua berkumpul untuk menyaksikan salah satu tradisi tertua ke
Cahaya matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar permaisuri, menerangi ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Kini, suasananya jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara napas pelan dan sesekali tangisan kecil dari salah satu bayi yang sedang tertidur di dalam boksnya.Lorrene perlahan membuka mata.Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya pun terasa jauh lebih lemah daripada biasanya. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Namun begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Reis yang duduk tidak jauh dari ranjang.Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak meninggalkan ruangan sejak semalam.Begitu melihat Lorrene membuka mata, Reis langsung berdiri dan menghampirinya. Untuk seseorang yang biasanya selalu tenang, gerakannya terlihat terlalu cepat."Syukurlah kau bangun," katanya pelan, meskipun ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya. "Dokter itu ternyata berkata jujur ketika mengatakan bahwa kau hanya
Malam telah berganti menjadi dini hari ketika seluruh proses persalinan akhirnya benar-benar selesai. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Istana Permaisuri perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar hingga beberapa pelayan bahkan terlihat diam-diam menyeka air mata mereka.Lorrene masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Wajahnya tampak pucat dan lelah setelah melewati perjuangan panjang, namun napasnya kini teratur. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, ia dapat beristirahat dengan tenang.Tidak jauh dari ranjang, tiga buah boks bayi berjajar rapi.Di dalamnya, ketiga bayi itu tertidur lelap, dibungkus kain hangat yang tebal. Bayi perempuan yang lahir lebih dulu berada di tengah, sementara dua bayi laki-laki yang lahir melalui pembedahan tidur di sisi kanan dan kirinya. Sesekali terdengar suara kecil atau gerakan mungil dari mereka, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum tanpa sadar.Reis berdiri di depan ketiga boks itu sejak beberapa
Ruangan itu dipenuhi suara napas yang dipaksa, kain yang diremas, dan instruksi pendek para tabib yang terdengar seperti potongan perintah perang.Lorrene sudah tidak banyak bicara. Ia hanya bisa bertahan.Tubuhnya menegang setiap beberapa detik, lalu runtuh lagi dalam gelombang rasa sakit yang membuat seluruh wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Giginya terkatup kuat, dan suara yang keluar hanya erangan tertahan yang tidak pernah benar-benar selesai.Di sampingnya, Reis duduk diam dan tegak seperti patung.Namun tangan yang menggenggam tangan Lorrene sama sekali tidak tenang. Terlalu kuat. Terlalu kaku. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.“Sekarang. Dorong!” suara tabib utama terdengar tajam.Lorrene memaksakan tubuhnya.Satu dorongan.Tidak cukup.Rasa sakit langsung menghantam lagi, membuat tubuhnya melengkung, napasnya terputus.“Sekali lagi!”Lorrene mengeluarkan suara tertahan. Tangannya bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba mencengkera
Laporan dari utara tiba di istana pada malam yang sama ketika salju mulai turun tipis di ibu kota.Pengawal yang membawa dokumen itu tidak berani berlama-lama di dalam ruang audiensi. Ia hanya membungkuk dalam, menyerahkan gulungan perkamen dengan kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa suara.Reis menerima laporan itu tanpa terburu-buru. Jarinya membuka segel lilin hitam di ujung perkamen, lalu membacanya dalam diam.Setelah beberapa saat, ia menurunkan laporan itu sedikit dan berbicara dengan nada datar."Jadi mereka semua hanya bertahan selama satu bulan saja?"Pengawal yang masih berdiri di dekat pintu segera membungkuk."Benar, Yang Mulia."Reis terdiam sesaat.Lalu ia mengeluarkan tawa kecil ringan, hampir seperti hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya."Aku kira mereka akan lebih tahan dari itu," ucapnya pelan. "Dengan semua kebencian dan ambisi mereka… kupikir mereka akan saling membunuh lebih lama sebelum akhirnya mati."
Badai salju semakin menggila.Angin dingin menerjang celah-celah gubuk yang telah setengah runtuh, membawa serta suara jeritan dari kejauhan. Koloni kecil tempat Calix dan yang lainnya bertahan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai akhirnya."Mereka sudah masuk!" teriak seseorang dari luar sebelum suara itu berubah menjadi jeritan yang mendadak terputus.Calix segera bangkit sambil meraih tombaknya. Di belakangnya, Helena berdiri dengan wajah pucat. Bahkan wanita itu yang biasanya selalu tenang kini tidak mampu menyembunyikan ketakutan di matanya.Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Banyak bahkan erlalu banyak.Kemudian—BRAK!"Musuh! Mereka datang!"Teriakan itu segera disusul jeritan mengerikan."AAAAAAAH!"Suara seseorang mendadak terputus.Helena langsung bangkit."Kelompok Utara?"Calix tidak menjawab. Wajahnya sudah berubah pucat.BRAK!Dinding gubuk di sebelah mereka runtuh.Orang-orang berlarian di tengah salju."Tahan mereka!""Jangan biarkan mereka mengambil persed






