Share

Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran
Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran
Penulis: Anisnca

Bab 1

Penulis: Anisnca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 15:15:54

“Nona Lorenne.”

Suara lembut seorang pria berjas hitam terdengar saat ia membungkuk hormat di hadapan wanita cantik yang berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin putih. Tampilanya anggun walaupun perban yang menutupi kening dan penyangga leher yang dia gunakan nampak jelas, bukti sebelumnya dia mengalami kejadian buruk yang selalu terjadi menjelang hari pernikahannya yang sudah tertunda berkali-kali.

“Ya, Sir Essel?” jawab Lorenne pelan sambil menatapnya.

“Yang Mulia Duke meminta Anda kembali. Pernikahan… sekali lagi ditunda.”

Lorenne menghela napas dan tersenyum tipis. “Ini sudah tujuh puluh tujuh kali,” gumamnya pelan dan cukup jelas untuk didengar semua orang di dalam kuil.

“Tuan Duke mengkhawatirkan kondisi Anda, Nona. Terlebih setelah kecelakaan kereta kuda yang kemarin terjadi,” ucap Essel hati-hati.

“Begitu,” kata Lorenne tenang. “Lalu, mengapa bukan dia yang datang sendiri mengatakannya padaku?”

Essel menunduk lebih dalam. “Maaf, Nona Lorenne. Nona Roseane masih tidak stabil. Yang Mulia Duke masih menemaninya dan akan menemui Anda setelah beliau tenang.”

“Baiklah, Sir Essel. Aku mengerti dan kau boleh pergi.”

Essel berlalu. Lorenne lalu menoleh pada pelayannya.

“Anna, buang ini.”

Anna mendekat dan menatap ragu buket bunga lily putih di tangannya. “Nona… Anda yakin?”

Lorenne menghela napas. “Sudah tujuh puluh tujuh kali, Anna. Apa menurutmu aku masih menginginkannya?”

Ia melepas mahkota dan veil dari kepalanya, lalu melemparkannya sembarangan. Anna memungutnya dengan tangan gemetar.

“Mulai hari ini,” ucap Lorenne sambil melangkah pergi, “aku, Lorenne Valgard, tidak lagi menginginkan Duke Calix Luther sebagai calon suamiku.”

“Nona, tunggu! Anda hendak ke mana?” tanya Anna mengejar.

“Aku akan melakukan transaksi,” jawab Lorenne dingin. Ia keluar dari kuil dan naik ke dalam kereta kuda.

“Transaksi apa, Nona?” tanya Anna lagi penasaran.

Lorenne tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menatap pemandangan di luar jendela.

Tujuh puluh tujuh kali.

Demi menunda pernikahan dengan Lorenne Valgard, Duke Calix Luther telah merancang tujuh puluh tujuh kecelakaan, semuanya melibatkan nyawanya.

Kemarin adalah hari ketika Lorenne akhirnya tahu kebenaran. Bahwa semua kecelakaan yang ia kira sebagai ujian sebelum pernikahan… nyatanya adalah cara pria yang ia percaya akan menjadi suaminya itu menghancurkannya, hanya demi menenangkan hati Roseane Valgard, sepupu Lorrene yang lebih ia pilih.

Lorenne tahu kebenarannya karena ia mendengarnya sendiri.

Saat baru saja sadar dari pingsan akibat kecelakaan kereta kuda, ia mendengar bisik-bisik para pelayan dan dokter di luar ruang rawatnya. Mereka membicarakan bagaimana sang duke menyewa satu lantai perawatan mewah di Rumah Sakit Kekaisaran dan bukan untuknya, melainkan untuk Roseane Valgard, yang hanya menderita demam biasa.

Dengan tubuh masih nyeri, Lorenne menyeret dirinya keluar dari ranjang. Ia ingin melihatnya sendiri.

Jika itu benar… bukankah keterlaluan? Saat ia hampir kehilangan nyawa, Calix bahkan tidak datang menemuinya malah ia memilih menemani Roseane.

Langkah Lorenne terhenti tepat di depan ruang rawat itu.

“Cal… apakah ini tidak kelewat batas?” suara manja Roseane terdengar jelas, sementara Calix menyuapinya. “Kali ini kecelakaan kereta kuda. Kau tidak kasihan pada Lorenne?”

“Rose,” jawab Calix dengan kelembutan yang tak pernah Lorenne terima, “sekarang pikirkan saja kesehatanmu. Kau sampai demam tinggi hanya karena memikirkan aku akan menikah dengan Lorenne.”

“Maafkan aku, Cal,” ujar Roseane lirih, terdengar rapuh dan takut. “Aku sangat sedih karena Kau akan menikah dengan Lorenne, sementara aku harus menjadi istri pria kejam itu.”

Calix menenangkannya tanpa ragu.

“Kau sudah tujuh puluh tujuh kali membiarkan dia menderita. Aku jadi sedih memikirkan Lorenne yang malang,” kata Roseane.

Ucapannya terdengar penuh simpati, namun sorot matanya sarat kemenangan.

“Rose,” jawab Calix dingin, “bahkan jika itu seribu kali sekalipun, akan aku lakukan yang penting pernikahannya bisa ditunda.”

Deg.

"Aku akan memberikan kompensasi yang besar untuknya nanti dan juga pernikahan, kau tidak perlu khawatir karena apapun itu perasaanmu jauh lebih penting."

Air mata jatuh membasahi pipi Lorenne. Tanpa suara, ia berbalik dan kembali ke ruang rawatnya, menyeret tubuh yang masih terluka, membawa kebenaran yang menghancurkan segalanya. Nyatanya 77 kali bahkan 1000 kali sekalipun semua kecelakaan itu adalah ulah Calix sendiri untuk menunda pernikahan.

“Nona, keretanya berhenti.”

Suara Anna membuat Lorenne membuka mata, tersadar dari ingatan pahit yang kembali menghantuinya.

Saat turun dari kereta kuda, Kastil Valgard berdiri tegak di hadapan Lorenne. Ia melangkah masuk tanpa ragu, meski tatapan para pelayan sama sekali tidak ramah.

Di ruang keluarga, ia melihat Count dan Countess Valgard duduk berdekatan, tengah memanjakan Roseane Valgard yang masih tampak pucat dan rapuh.

“Ayah, bisakah pernikahanku dibatalkan? Aku tidak mau menikah dengan pria sekejam itu,” ujar Roseane dengan suara manja kepada ayahnya.

“Rose, sayang, tidak ada yang bisa kita lakukan. Membatalkan pernikahan sama artinya dengan mati, kecuali beliau sendiri yang membatalkannya,” jawab Countess pelan.

“Ibu, aku tidak mungkin menikah dengannya. Ibu juga tahu rumor tentang wanita terakhir itu, bukan? Dia meninggal, dan itu sudah yang kesepuluh sejak wanita pertama dikirim. Aku tidak ingin berakhir seperti mereka,” kata Roseane sambil menangis.

Count menghela napas, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tatapannya berhenti pada Lorrene yang berdiri tak jauh dari sana.

“Lorenne! Ke mana saja kau pergi seharian?” seru sang Count begitu melihatnya berdiri ditempatnya bersama ana pelayan pribadinya

Countess mengernyit tajam. “Apa kau kembali setelah memaksa Duke menikahimu lagi?” cibirnya karena melihat Lorrene menggunakan gaun putih.

Lorenne menghela napas. Ia melangkah mendekat dan duduk tepat di hadapan ketiganya, membiarkan tiga pasang mata menatapnya tanpa berkedip.

“Lorenne, bisakah kau sedikit sopan?” tegur Countess.

“Kak Lorenne,” sela Roseane lembut, seolah paling pengertian di dunia, “kau seharusnya bersikap sopan di hadapan Ayah dan Ibu. Bagaimanapun, merekalah yang membesarkanmu setelah orang tuamu meninggal.”

Lorenne tersenyum tipis,tanpa kehangatan. “Itu memang sudah menjadi tugas mereka,” ucapnya tenang. “Dan hanya karena aku tidak bisa menjadi pewaris keluarga, semuanya jatuh ke tangan Paman. Bukankah kalian seharusnya berterimakasih?”

“Lancang!” bentak sang Count. "Kau tidak tahu diri!"

“Cukup.”

Satu kata itu membuat ruangan mendadak hening. Bibir sang Count terkatup rapat.

“Aku tidak datang untuk basa-basi,” lanjut Lorenne dingin sambil menatap lurus ke arah pamannya.

“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya sang Count akhirnya.

Lorenne menarik napas pelan sebelum menjawab,

“Aku akan menggantikan Roseane untuk menikah dengan Kaisar.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 7

    Musik iring-iringan masih mengalun, lembut namun menekan, seperti jantung yang dipaksa berdetak tenang di tengah kegelisahan. Biola dan lonceng kecil berpadu, namun tak satu pun mampu menutupi keheningan aneh yang menggantung di antara dua sosok di tengah halaman kastil itu.Semua mata tertuju pada mereka.Lorenne berdiri diam, veil putih menutupi wajahnya, sementara Kaisar Reis Czar de Zoltan berdiri di hadapannya dengan tangan terulur tetap, tegas, dan tak tergoyahkan. Tatapannya terkunci pada Lorenne, seolah dunia di sekeliling mereka lenyap begitu saja.Bisik-bisik mulai muncul di antara para bangsawan. Tidak ada yang berani berbicara keras, namun rasa ingin tahu mereka berdenyut liar. Mereka tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tidak tercantum dalam tata upacara.Di balik veil, Lorenne menarik napas dalam-dalam.Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang akhirnya utuh. Tidak ada lagi jalan mundur. Tidak ada lagi tempat untuk berharap

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 6

    Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.Hari pernikahan.Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”Lorenne m

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 5

    Hari-hari berlalu tanpa suara.Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.“Kak Lorenne.”Langkahnya terhenti.Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 4

    “Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.Begitu mereka pergi, halaman t

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 3

    Kaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.Keheningan menekan seperti beban di dada.Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.“J-jika Anda keberatan… Yang Mulia maka—”Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela."Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya."Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 2

    Ruangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.“Tapi, Lorenne, kau—”“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status