LOGINKaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.
Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.
Keheningan menekan seperti beban di dada.
Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.
Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela.
"Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.
Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya.
"Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.
Kaisar menatap kearah Roseane yang menundukkan pandangannya.
"Apakah menikah denganku adalah beban untukmu?" Tanya Kaisar padanya.
"Tentu tidak yang mulia, hanya saja karena kaka lebih menginginkan menjadi Istri anda." jawab Roseane.
Kaisar menatap kearah Roseane lalu kemudian Lorrena yang menatap tajam kearah Roseane. Lorrene jelas kaget dengan Roseane yang melempar kotoran padanya.
"Benar begitu?" tanya Kaisar menatap Lorreane miring.
Lorreane membungkuk, " Benar yang mulia, namun jika anda tidak berkenan maka-"
“Baiklah.” Satu kata pendek dan begitu dingin.
Lorrene mematung dengan ucapan Kaisar.
"Yang Mulia-" Count ingin bicara.
Ia kembali menatap Lorenne, seolah baru sekarang benar-benar melihatnya. “Tak masalah karena dia juga perempuan."
Deg.
Alasan yang sangat sederhana, namun semua orang merasakannya seperti sesuatu yang jatuh dan pecah di dalam dada mereka. Countess terdiam dengan wajah pucat. Roseane membeku, jemarinya mencengkeram kain gaunnya. Lorenne sendiri tak bergerak, namun jantungnya berdetak keras, begitu nyata hingga rasanya bisa terdengar.
Kaisar bangkit dari kursinya. Gerakan itu membuat semua orang refleks berdiri.
“Makan malam selesai,” ucapnya tanpa emosi. “Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Tanggalnya akan ditentukan oleh kuil.”
Tak ada ruang untuk bantahan. Tidak ada celah untuk diskusi.
“Tidak akan ada lagi perubahan apa pun sampai hari pernikahan,” lanjutnya, suaranya tegas dan mutlak. “Pahami itu.”
Count Valgard segera membungkuk dalam-dalam. “Titah Yang Mulia akan kami patuhi.”
“Baik.”
Tanpa menoleh lagi, Kaisar berbalik dan melangkah pergi. Para pengawal kekaisaran segera mengikutinya. Keluarga Valgard dan seluruh orang di ruangan itu bergegas menyusul, membungkuk hingga punggung mereka terasa kaku, menunggu hingga kereta kuda kekaisaran benar-benar meninggalkan halaman.
Baru setelah suara roda kereta itu menghilang di kejauhan, ketegangan yang mencekik sejak tadi akhirnya runtuh.
Beberapa orang menghela napas lega. Ada yang nyaris terduduk lemas. Countess menutup wajahnya dengan tangan gemetar. Roseane berdiri kaku, wajahnya pucat tanpa senyum sedikit pun.
Dan Lorenne…
Ia tetap berdiri di tempatnya.
Roseane akhirnya memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, menatap Lorenne dengan senyum tipis yang tak pernah benar-benar hangat.
“Ingat baik-baik, Lorenne,” ucapnya perlahan, seolah setiap kata disengaja untuk menusuk. “Jangan sampai kau berubah pikiran.”
Countess Valgard langsung menyusul, kali ini tanpa menyembunyikan kegelisahan. Wajahnya pucat, matanya berkilat oleh ketakutan yang nyata.
“Jika kau sampai berubah pikiran,” katanya dengan suara yang nyaris bergetar, “keluarga ini akan berakhir. Semua yang kita miliki… akan hancur.”
Count Valgard mengangguk berat. Tak ada amarah di sana hanya keputusan dingin seorang kepala keluarga yang sudah menimbang segalanya. “Kau memahami tanggung jawabmu, Lorenne.”
Lorenne menghela napas pelan. Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara tenang yang hampir terlalu tenang.
“Apa maksudmu, pergi?”
Suara itu datang dari arah pintu.
Keempat orang di ruangan itu tersentak bersamaan.
Calix berdiri di sana tegak, tenang, namun sorot matanya tajam. Entah sejak kapan ia berada di sana, dan itulah yang membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Ketegangan kembali merayap, kali ini disertai rasa waspada yang tak bisa disembunyikan.
Seberapa banyak yang telah ia dengar?
Lorenne menoleh. Hanya sesaat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah siap dengan jawabannya. “Aku akan pergi menemani Roseane memilih gaun pengantin.”
Nada suaranya wajar, Tidak terburu-buru dan tidak gugup.
Calix menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk kecil. Ia sepertinya percaya atau karena memang malas mencari tahu.
Roseane segera memanfaatkan momen itu. Ia merangkul lengan Calix seperti biasa, gerakan yang sudah terlalu sering dilakukan hingga tampak alami. “Itu benar,” katanya ringan. “Lorenne akan menemaniku.”
Calix menatapnya dengan tersenyum namun sorot matanya terlihat tidak suka.
Lalu, dengan senyum yang sedikit dilebarkan, ia menambahkan, “Oh ya, Yang Mulia Kaisar datang malam ini. Ia menetapkan pernikahannya bulan depan.”
Calix terdiam, raut wajahnya berubah.
“Bagaimana kalau,” lanjut Roseane, nadanya terdengar ceria, “kita menikah di hari yang sama?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Calix tidak langsung menjawab. Matanya justru beralih pada Lorenne yang berdiri diam, memalingkan wajah, seolah percakapan itu tidak melibatkannya. Sikap itu membuat dada Calix terasa aneh, seperti ada sesuatu yang luput dari genggamannya.
“Bagaimana?” desak Roseane lembut, jemarinya mencengkeram lengan Calix sedikit lebih erat.
Calix akhirnya tersenyum, meski senyum itu tampak dipaksakan. “Tentu saja.” Namun ia kembali menoleh pada Lorenne. “Menurutmu bagaimana, Lorenne?”
Sekali lagi, semua mata tertuju padanya.
Lorenne tidak menjawab dan membuat keheningan itu terlalu panjang dan terlalu berat.
Calix menghela napas dan tertawa kecil, seolah mencoba meredakan suasana. “Maaf,” katanya, kali ini nadanya lebih pelan. “Aku harus menunda pernikahan kita… lagi.”
Ia menatap Lorrene penuh penyesalan. “Aku akan mengaturnya bulan depan.”
“Aku rasa tidak perlu.” Suara itu keluar tanpa emosi berlebihan, namun justru itulah yang membuatnya terdengar mengerikan.
Calix membeku. “Apa?”
Lorenne akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, tidak bergetar dan tidak ragu. “Lebih baik tidak usah ditunda,” katanya perlahan, seolah setiap kata telah lama dipendam. “Batalkan saja.”
Satu tahun berlalu begitu cepat.Musim dingin telah berganti dengan musim semi, dan Istana Kekaisaran yang dahulu dipenuhi intrik serta pertumpahan darah kini dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Lorrene sering kali merasa waktu bergerak terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia berjuang mempertaruhkan nyawanya di ruang persalinan, namun kini ketiga bayinya sudah mampu merangkak ke sana kemari dan membuat seluruh istana sibuk mengejar mereka.Ketiga anak itu diberi nama Rhea Asteria, putri sulung Kekaisaran, serta dua pangeran kembar, Ronan Aurelius dan Rhydian Cael.Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, ketiganya tumbuh dengan sangat mirip ayah mereka.Rambut hitam pekat dan mata merah menyala.Bahkan Duke Kurtcher masih sering mengeluh bahwa keluarga Kurtcher benar-benar kalah telak dalam urusan pewarisan wajah.Hari itu, aula utama istana dipenuhi para bangsawan, pejabat tinggi, serta anggota keluarga kekaisaran. Semua berkumpul untuk menyaksikan salah satu tradisi tertua ke
Cahaya matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar permaisuri, menerangi ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Kini, suasananya jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara napas pelan dan sesekali tangisan kecil dari salah satu bayi yang sedang tertidur di dalam boksnya.Lorrene perlahan membuka mata.Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya pun terasa jauh lebih lemah daripada biasanya. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Namun begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Reis yang duduk tidak jauh dari ranjang.Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak meninggalkan ruangan sejak semalam.Begitu melihat Lorrene membuka mata, Reis langsung berdiri dan menghampirinya. Untuk seseorang yang biasanya selalu tenang, gerakannya terlihat terlalu cepat."Syukurlah kau bangun," katanya pelan, meskipun ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya. "Dokter itu ternyata berkata jujur ketika mengatakan bahwa kau hanya
Malam telah berganti menjadi dini hari ketika seluruh proses persalinan akhirnya benar-benar selesai. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Istana Permaisuri perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar hingga beberapa pelayan bahkan terlihat diam-diam menyeka air mata mereka.Lorrene masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Wajahnya tampak pucat dan lelah setelah melewati perjuangan panjang, namun napasnya kini teratur. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, ia dapat beristirahat dengan tenang.Tidak jauh dari ranjang, tiga buah boks bayi berjajar rapi.Di dalamnya, ketiga bayi itu tertidur lelap, dibungkus kain hangat yang tebal. Bayi perempuan yang lahir lebih dulu berada di tengah, sementara dua bayi laki-laki yang lahir melalui pembedahan tidur di sisi kanan dan kirinya. Sesekali terdengar suara kecil atau gerakan mungil dari mereka, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum tanpa sadar.Reis berdiri di depan ketiga boks itu sejak beberapa
Ruangan itu dipenuhi suara napas yang dipaksa, kain yang diremas, dan instruksi pendek para tabib yang terdengar seperti potongan perintah perang.Lorrene sudah tidak banyak bicara. Ia hanya bisa bertahan.Tubuhnya menegang setiap beberapa detik, lalu runtuh lagi dalam gelombang rasa sakit yang membuat seluruh wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Giginya terkatup kuat, dan suara yang keluar hanya erangan tertahan yang tidak pernah benar-benar selesai.Di sampingnya, Reis duduk diam dan tegak seperti patung.Namun tangan yang menggenggam tangan Lorrene sama sekali tidak tenang. Terlalu kuat. Terlalu kaku. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.“Sekarang. Dorong!” suara tabib utama terdengar tajam.Lorrene memaksakan tubuhnya.Satu dorongan.Tidak cukup.Rasa sakit langsung menghantam lagi, membuat tubuhnya melengkung, napasnya terputus.“Sekali lagi!”Lorrene mengeluarkan suara tertahan. Tangannya bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba mencengkera
Laporan dari utara tiba di istana pada malam yang sama ketika salju mulai turun tipis di ibu kota.Pengawal yang membawa dokumen itu tidak berani berlama-lama di dalam ruang audiensi. Ia hanya membungkuk dalam, menyerahkan gulungan perkamen dengan kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa suara.Reis menerima laporan itu tanpa terburu-buru. Jarinya membuka segel lilin hitam di ujung perkamen, lalu membacanya dalam diam.Setelah beberapa saat, ia menurunkan laporan itu sedikit dan berbicara dengan nada datar."Jadi mereka semua hanya bertahan selama satu bulan saja?"Pengawal yang masih berdiri di dekat pintu segera membungkuk."Benar, Yang Mulia."Reis terdiam sesaat.Lalu ia mengeluarkan tawa kecil ringan, hampir seperti hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya."Aku kira mereka akan lebih tahan dari itu," ucapnya pelan. "Dengan semua kebencian dan ambisi mereka… kupikir mereka akan saling membunuh lebih lama sebelum akhirnya mati."
Badai salju semakin menggila.Angin dingin menerjang celah-celah gubuk yang telah setengah runtuh, membawa serta suara jeritan dari kejauhan. Koloni kecil tempat Calix dan yang lainnya bertahan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai akhirnya."Mereka sudah masuk!" teriak seseorang dari luar sebelum suara itu berubah menjadi jeritan yang mendadak terputus.Calix segera bangkit sambil meraih tombaknya. Di belakangnya, Helena berdiri dengan wajah pucat. Bahkan wanita itu yang biasanya selalu tenang kini tidak mampu menyembunyikan ketakutan di matanya.Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Banyak bahkan erlalu banyak.Kemudian—BRAK!"Musuh! Mereka datang!"Teriakan itu segera disusul jeritan mengerikan."AAAAAAAH!"Suara seseorang mendadak terputus.Helena langsung bangkit."Kelompok Utara?"Calix tidak menjawab. Wajahnya sudah berubah pucat.BRAK!Dinding gubuk di sebelah mereka runtuh.Orang-orang berlarian di tengah salju."Tahan mereka!""Jangan biarkan mereka mengambil persed







