แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Anisnca
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-03 16:41:15

Kaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.

Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.

Keheningan menekan seperti beban di dada.

Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.

“J-jika Anda keberatan… Yang Mulia maka—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela.

"Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.

Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya.

"Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.

Kaisar menatap kearah Roseane yang menundukkan pandangannya.

"Apakah menikah denganku adalah beban untukmu?" Tanya Kaisar padanya.

"Tentu tidak yang mulia, hanya saja karena kaka lebih menginginkan menjadi Istri anda." jawab Roseane.

Kaisar menatap kearah Roseane lalu kemudian Lorrena yang menatap tajam kearah Roseane. Lorrene jelas kaget dengan Roseane yang melempar kotoran padanya.

"Benar begitu?" tanya Kaisar menatap Lorreane miring.

Lorreane membungkuk, " Benar yang mulia, namun jika anda tidak berkenan maka-"

“Baiklah.” Satu kata pendek dan begitu dingin.

Lorrene mematung dengan ucapan Kaisar.

"Yang Mulia-" Count ingin bicara.

Ia kembali menatap Lorenne, seolah baru sekarang benar-benar melihatnya. “Tak masalah karena dia juga perempuan."

Deg.

Alasan yang sangat sederhana, namun semua orang merasakannya seperti sesuatu yang jatuh dan pecah di dalam dada mereka. Countess terdiam dengan wajah pucat. Roseane membeku, jemarinya mencengkeram kain gaunnya. Lorenne sendiri tak bergerak, namun jantungnya berdetak keras, begitu nyata hingga rasanya bisa terdengar.

Kaisar bangkit dari kursinya. Gerakan itu membuat semua orang refleks berdiri.

“Makan malam selesai,” ucapnya tanpa emosi. “Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Tanggalnya akan ditentukan oleh kuil.”

Tak ada ruang untuk bantahan. Tidak ada celah untuk diskusi.

“Tidak akan ada lagi perubahan apa pun sampai hari pernikahan,” lanjutnya, suaranya tegas dan mutlak. “Pahami itu.”

Count Valgard segera membungkuk dalam-dalam. “Titah Yang Mulia akan kami patuhi.”

“Baik.”

Tanpa menoleh lagi, Kaisar berbalik dan melangkah pergi. Para pengawal kekaisaran segera mengikutinya. Keluarga Valgard dan seluruh orang di ruangan itu bergegas menyusul, membungkuk hingga punggung mereka terasa kaku, menunggu hingga kereta kuda kekaisaran benar-benar meninggalkan halaman.

Baru setelah suara roda kereta itu menghilang di kejauhan, ketegangan yang mencekik sejak tadi akhirnya runtuh.

Beberapa orang menghela napas lega. Ada yang nyaris terduduk lemas. Countess menutup wajahnya dengan tangan gemetar. Roseane berdiri kaku, wajahnya pucat tanpa senyum sedikit pun.

Dan Lorenne…

Ia tetap berdiri di tempatnya.

Roseane akhirnya memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, menatap Lorenne dengan senyum tipis yang tak pernah benar-benar hangat.

“Ingat baik-baik, Lorenne,” ucapnya perlahan, seolah setiap kata disengaja untuk menusuk. “Jangan sampai kau berubah pikiran.”

Countess Valgard langsung menyusul, kali ini tanpa menyembunyikan kegelisahan. Wajahnya pucat, matanya berkilat oleh ketakutan yang nyata.

“Jika kau sampai berubah pikiran,” katanya dengan suara yang nyaris bergetar, “keluarga ini akan berakhir. Semua yang kita miliki… akan hancur.”

Count Valgard mengangguk berat. Tak ada amarah di sana hanya keputusan dingin seorang kepala keluarga yang sudah menimbang segalanya. “Kau memahami tanggung jawabmu, Lorenne.”

Lorenne menghela napas pelan. Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara tenang yang hampir terlalu tenang.

“Aku tidak akan melakukannya.” Ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan, “Dan sampai waktunya tiba… aku akan pergi.”

“Apa maksudmu, pergi?”

Suara itu datang dari arah pintu.

Keempat orang di ruangan itu tersentak bersamaan.

Calix berdiri di sana tegak, tenang, namun sorot matanya tajam. Entah sejak kapan ia berada di sana, dan itulah yang membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Ketegangan kembali merayap, kali ini disertai rasa waspada yang tak bisa disembunyikan.

Seberapa banyak yang telah ia dengar?

Lorenne menoleh. Hanya sesaat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah siap dengan jawabannya. “Aku akan pergi menemani Roseane memilih gaun pengantin.”

Nada suaranya wajar, Tidak terburu-buru dan tidak gugup.

Calix menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk kecil. Ia sepertinya percaya atau karena memang malas mencari tahu.

Roseane segera memanfaatkan momen itu. Ia merangkul lengan Calix seperti biasa, gerakan yang sudah terlalu sering dilakukan hingga tampak alami. “Itu benar,” katanya ringan. “Lorenne akan menemaniku.”

Calix menatapnya dengan tersenyum namun sorot matanya terlihat tidak suka.

Lalu, dengan senyum yang sedikit dilebarkan, ia menambahkan, “Oh ya, Yang Mulia Kaisar datang malam ini. Ia menetapkan pernikahannya bulan depan.”

Calix terdiam, raut wajahnya berubah.

“Bagaimana kalau,” lanjut Roseane, nadanya terdengar ceria, “kita menikah di hari yang sama?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Calix tidak langsung menjawab. Matanya justru beralih pada Lorenne yang berdiri diam, memalingkan wajah, seolah percakapan itu tidak melibatkannya. Sikap itu membuat dada Calix terasa aneh, seperti ada sesuatu yang luput dari genggamannya.

“Bagaimana?” desak Roseane lembut, jemarinya mencengkeram lengan Calix sedikit lebih erat.

Calix akhirnya tersenyum, meski senyum itu tampak dipaksakan. “Tentu saja.” Namun ia kembali menoleh pada Lorenne. “Menurutmu bagaimana, Lorenne?”

Sekali lagi, semua mata tertuju padanya.

Lorenne tidak menjawab dan membuat keheningan itu terlalu panjang dan terlalu berat.

Calix menghela napas dan tertawa kecil, seolah mencoba meredakan suasana. “Maaf,” katanya, kali ini nadanya lebih pelan. “Aku harus menunda pernikahan kita… lagi.”

Ia menatap Lorrene penuh penyesalan. “Aku akan mengaturnya bulan depan.”

“Aku rasa tidak perlu.” Suara itu keluar tanpa emosi berlebihan, namun justru itulah yang membuatnya terdengar mengerikan.

Calix membeku. “Apa?”

Lorenne akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, tidak bergetar dan tidak ragu. “Lebih baik tidak usah ditunda,” katanya perlahan, seolah setiap kata telah lama dipendam. “Batalkan saja.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 7

    Musik iring-iringan masih mengalun, lembut namun menekan, seperti jantung yang dipaksa berdetak tenang di tengah kegelisahan. Biola dan lonceng kecil berpadu, namun tak satu pun mampu menutupi keheningan aneh yang menggantung di antara dua sosok di tengah halaman kastil itu.Semua mata tertuju pada mereka.Lorenne berdiri diam, veil putih menutupi wajahnya, sementara Kaisar Reis Czar de Zoltan berdiri di hadapannya dengan tangan terulur tetap, tegas, dan tak tergoyahkan. Tatapannya terkunci pada Lorenne, seolah dunia di sekeliling mereka lenyap begitu saja.Bisik-bisik mulai muncul di antara para bangsawan. Tidak ada yang berani berbicara keras, namun rasa ingin tahu mereka berdenyut liar. Mereka tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tidak tercantum dalam tata upacara.Di balik veil, Lorenne menarik napas dalam-dalam.Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang akhirnya utuh. Tidak ada lagi jalan mundur. Tidak ada lagi tempat untuk berharap

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 6

    Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.Hari pernikahan.Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”Lorenne m

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 5

    Hari-hari berlalu tanpa suara.Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.“Kak Lorenne.”Langkahnya terhenti.Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 4

    “Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.Begitu mereka pergi, halaman t

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 3

    Kaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.Keheningan menekan seperti beban di dada.Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.“J-jika Anda keberatan… Yang Mulia maka—”Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela."Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya."Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 2

    Ruangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.“Tapi, Lorenne, kau—”“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status