تسجيل الدخولMendengar itu, Rava terdiam cukup lama. Ia tidak marah, tapi juga tidak menunjukkan ekspresi menerima kenyataan. Ia hanya menatap Lisa, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Lisa ikut diam dan balas menatap tatapan penuh makna Rava. Setelah menyatakan sebuah kenyataan, ada sedikit rasa lega di hatinya. Tapi juga rasa bersalah yang teramat besar. Bukankah harusnya ia mengatakan itu sebelum mereka menikah? “Maksudmu?” tanya Rava setelah terdiam cukup lama. “Aku sudah tidak perawan,” jelas Lisa. Ada sedikit getar dalam suaranya. Lagi-lagi Rava diam. Ekspresi wajahnya datar. Entah ia kecewa, atau sebenarnya sudah menduga sejak awal. Lagi pula, hanya sekian persen dari perselingkuhan yang tidak berakhir di atas ranjang bukan? “Aku sudah tahu,” ucap Rava santai. Ia lalu beranjang dari atas ranjang dan melangkah ke dekat meja rias. “Hah?! Ka–kamu sudah tahu?” tanya Lisa kaget. “Eum,” angguk Rava santai. “Jadi—”“Jadi tidak usah dibahas lagi,” potong Rava cepat. Rava membuka jam tangan
“Uhuk … uhuk … uhuk ….” Raga Lisa terbatuk-batuk. Ekspresi wajah wanita itu berubah seketika. “Rava?” Rava terpaku sejenak. Ia yakin seribu persen, jika yang saat ini bersamanya bukan lagi Kayla, melainkan Lisa. Tapi pertanyaannya, kenapa bisa dua jiwa ini bertukar begitu cepat? Biasanya, kalau Kayla hadir, wanita sejuta branded itu akan bertahan lama. Bisa satu atau bahkan dua hari. Namun kali ini, tidak sampai sejam pun. “Rava? Apa yang kamu lakukan?” tanya Lisa dengan suara serak, masih setengah terbatuk karena napasnya yang terasa tertahan. Kedua mata Rava membelalak sempurna saat menyadari posisi mereka. Ia sedang mengungkung Lisa di atas ranjang dengan menahan kedua pergelangan tangan istrinya di atas kepala. Pakaian Lisa juga sudah setengah terbuka. Lembar-lembar kelopak mawar yang hancur di sekeliling mereka seolah menjadi bukti atas kegaduhan yang baru saja terjadi. Rava bagai tersengat listrik. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas. Sorot mata din
Kayla menghela napas berat, tubuhnya menegang. Rasa tidak nyaman sekaligus bersalah mulai menggerogoti hatinya. Rongga dadanya terasa sesak karena dekapan Rava yang terlalu kuat, hampir membuatnya kesulitan bernapas. Lebih dari itu, nuraninya berteriak bahwa situasi ini keliru.“Rava, ini tidak benar! Tubuh ini milik Lisa!” Kayla menaikkan nada bicaranya, kembali memberontak dan berusaha memundurkan langkah. Namun, kekuatan fisiknya sebagai jiwa yang menumpang jelas tidak sebanding dengan Rava yang sedang didera ego dan kerinduan mendalam.Bukannya melepaskan, Rava justru menangkup pinggang Kayla, mengunci pergerakannya hingga jarak di antara mereka benar-benar terkikis habis. Tatapan mata Rava yang biasanya tegas kini meredup, dipenuhi keputusasaan yang teramat sangat.“Aku tahu ini tubuh Lisa, tapi jiwamu yang ada di sini, Kayla! Jiwa yang akhir-akhir ini membuatku gila,” bisik Rava bertubi-tubi, mengabaikan penolakan fisik dari wanita di depannya. “Jangan egois dengan menyuruhku
Acara baru saja usai. Lisa dan Rava sudah berada di kamar hotel khusus pengantin yang disediakan oleh Brayan. Meski keduanya sudah resmi menjadi suami-istri, namun masih ada celah kecanggungan di diri mereka masing-masing. “Aku mau mandi dulu,” ucap Lisa seraya melangkah ke arah bilik kamar mandi kamar hotel. “Hm,” Raga hanya menyahut singkat. Lisa sudah hilang dari balik pintu, tapi tatapan Rava masih tertuju ke arah kamar mandi. Ia seperti sedang memikir sesuatu. Sesuatu yang akhir-akhir ini membuat pikirannya kacau dan tidak tenang. Setelah melalui hari-hari bersama Kayla yang ada di dalam raga Lisa, hidupnya seperti pria yang memiliki selingkuhan. Walau Kayla tidak berwujud, namun kehadiran wanita itu cukup memiliki tempat penting di hatinya saat ini. “Apa Kayla akan muncul malam ini?” tanya Rava pada diri sendiri. Tersadar, Rava pun memukul kepalanya. “Astaga, apa-apaan aku ini? Kenapa aku justru berharap Kayla yang datang? Huft!” Rava membuang napas berat, lalu mengaca
Elena berhenti melangkah mundur saat kakinya sudah tak bisa lagi diayunkan. Kedua tangannya menggenggam erat besi teralis, berusaha kuat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. “Bu Elena, aku yakin, kau pasti punya bukti itu. Kenapa kau tidak memberikannya saja kepada kami. Jika Bu Elena menyembunyikan barang bukti, Bu Elena juga bisa dipidana karena dianggap melindungi tersangka.” Elena menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seperti tak mampu lagi untuk menapak. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar. “Aku … aku tidak punya bukti apa-apa. Tapi aku punya sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk penyebab kematian Ibu Kayla,” jelas Elena. “Petunjuk? Apa itu?” tanya Ronald. “Sebentar.” Elena membuka ponselnya dan mulai menggerak-gerakkan jari-jarinya seperti sedang mencari sesuatu. Tak lama, ia pun sudah berhenti. Menunjukkan layar ponselnya pada pengacara tersebut. “Apa ini?” tanya pria itu, pandangannya mulai mengarah kepada layar benda pipih itu. “Ini video
Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram. Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu. Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada. “Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu sudah menunggu kalian,” perintah Brayan. “Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyany
Setelah lama terdiam, akhirnya Rava pun kembali menjarak dan menjauhkan tubuhnya dari Kayla. Segera ia buka lemari dan mengambil pakaiannya untuk bersiap ke kantor. Kayla juga masih berdiri di dekat lemari, tapi hanya berdiri seperti patung Liberty. Matanya tak lekang dari menatap tubuh perkasa ya
Dengan gerakan gesit, Rava pun segera mengambil celana dalamnya itu dan melemparnya ke dalam keranjang kain kotor. Tuing! Lalu mengambil sebuah kursi dan langsung memberikannya kepada Kayla. “E … kau duduk dulu ya? Aku mau mandi,” ucapnya. “Eum ….” Key mengangguk seraya tersenyum simpul. Ia la
Suara deru AC yang terlalu keras menjadi satu-satunya bunyi. Mencoba menenggelamkan detak jantung mereka yang kini berpacu kencang seperti drum yang tak terkendali. Tak Rava, tak wanita di depannya itu, mereka sama-sama terdiam sesaat. Hingga kemudian suara lembut itu kembali membakar udara di anta
“Lumayan,” jawab Lisa singkat. Masih terlalu gengsi untuk memuji makanan tersebut. Rava pun hanya tertawa pelan mendengarnya. Lalu kembali melanjutkan menyantap makanannya hingga habis tak tersisa. Selesai makan, mereka duduk sebentar sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Di luar,







