Se connecterDemi menunjukkan dukungannya kepada kekasih tercinta, Elena tidak mau tinggal di rumah. Dia ikut Victor pergi ke kantor. Tidak lupa sepanjang jalan dia memprovokasi Victor untuk bersikap tegas terhadap rekannya yang dengan sengaja berusaha untuk menghancurkan kariernya.Elena bahkan meminta Victor supaya pelaku yang mengirimkan email itu dipecat, atau kalau tidak Victor-lah yang akan mengundurkan diri.Victor menyetir sambil menyimak dengan ekspresi wajah serius. Beberapa kali dia tampak menganggukkan kepala, menyetujui saran yang diberikan Elena."Aku akan melakukannya." "Bagus, Sayang," Elena memegang tangan Victor. "Jangan beri celah sedikitpun bagi orang yang berniat buruk padamu untuk mendapat ampun." Victor menghela napas panjang. Semua yang dikatakan Elena terdengar masuk akal. Tapi, entah mengapa, untuk pertama kalinya dia merasa ragu. Perasaannya menjadi tidak enak, seolah alam bawah sadarnya memintanya untuk kembali pulang."Kamu pasti akan menjadi CEO, Sayang. Aku sangat
Rumah mewah Victor yang sebelumnya sepi menjadi begitu bising oleh pekik lantang yang bersumber dari ruang kerja."Elena! Elena!!" "Victor, ada apa?! Kenapa kamu berteriak di pagi buta begini?" Elena bertanya dengan nada kesal setelah sang tunangan membuatnya kaget dan panik."Aduh..." lirih Elena sambil memegang kepalanya yang pening karena bangun mendadak."Elena, aku kalah... Aku sudah hancur!! Argh...!" Victor mengakhiri keluhnya dengan lenguh panjang seolah tombak menusuk jantungnya.Elena yang tidak tahu apa yang terjadi, mengernyitkan dahinya dengan hati tak tenang. "Apa yang kamu bicarakan?" Victor berdiri dan menunjuk-nunjuk layar laptopnya. "Apa ini masih belum jelas?" tanyanya lantang. "Aku dipecat! Kamu dengar? Aku sudah dipecat!!" Mata Elena terbelalak seperti akan keluar dari soketnya. "APA?! Tidak, tidak." Dia tersenyum getir. "Itu tidak mungkin..." Elena membungkuk untuk melihat tulisan di laptop kerja Victor.Itu adalah sebuah email masuk dari perusahaan tempat Vic
Greg dan Rapth berdiri di dapur Ava. Mereka bergantian minum seperti orang yang kehausan di gurun pasir, tergesa dan berkali-kali.Bukan tanpa alasan keduanya melakukan itu. Bahkan setelah meneguk beberapa gelas air, napas mereka masih tersengal."Apa yang kalian lakukan di sini?!"Kedatangan Ava membuat Greg dan Rapth terkejut ketakutan hingga refleks berteriak sambil berpelukan.Tingkah keduanya mendatangkan kerutan di kening Ava. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang."Apa kalian ingin dipecat?!" bentak Ava dengan lantang.Greg dan Rapth saling melepaskan pelukan. Mereka membungkuk sambil meminta maaf pada Ava."Jika orang lain melihat tingkah kalian, tentu akan menertawakanku karena membayar seorang pecundang untuk menjadi pengawal!""Nyonya, jika anda menyaksikan apa yang kami saksikan, anda bahkan tidak akan berani keluar dari kamar." Greg berbicara masih dengan wajah pucat.Ava mendekat pada kedua pengawalnya. Dia melongok ke arah luar sebelum berbisik, “Apa yang terjadi p
Jeritan Marco memecah ruangan sebelum siapa pun sempat mengatakan apa pun.Bukan teriakan satu kali, melainkan suara panjang yang patah di tengah, berubah menjadi raungan kasar yang nyaris tak menyerupai suara manusia.“Berhenti—BERHENTI—!”Napasnya tersedak, tubuhnya menegang lalu bergetar hebat, rasa sakit itu seperti tidak akan ada ujungnya. Datang sekaligus, bukan satu titik, tapi gelombang yang membuat kepalanya kosong. Ia berteriak karena tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Kata-kata putus di tenggorokannya. Napasnya benar-benar kacau. Tubuhnya menegang, lalu gemetar.Marco memohon agar semua disudahi, biarpun dia tahu itu tidak akan menghentikan apa pun. Tapi, mana mungkin mulutnya bisa tetap diam, sedangkan rasanya dia seperti hampir menemui ajal. Setiap detik terasa terlalu panjang. Waktu seakan melambat, tapi rasa sakit tidak berkurang sama sekali.Greg dan Rapth refleks menoleh ke arah Jack.Jack tidak bergerak.Greg dan Rapth menelan ludah bersama rasa ngeri yang me
Tenggorokan Ava seperti tercekik. Rasanya seolah ada duri tajam di dalamnya, hingga dia kesakitan saat menelan ludah. Tuan Hall bahkan seperti bisa membaca pikirannya. Tidak dipungkiri, sebelumnya Ava memang berniat untuk memperingatkan Laura dengan keras ketika mereka sudah lepas dari pengawasan Tuan Hall. Tapi sekarang, Ava benar-benar tidak berani untuk mencoba-coba membangkang."Baik, Tuan Hall," Ava tersenyum ketakutan, "Anda bisa mempercayaiku." Ava tersenyum lagi pada Laura. "Mari, Nona." Dia mendadak menjadi seorang yang ramah, santun, dan berbudi luhur."B-bagaimana dengan kami, Tuan?" tanya Greg memberanikan diri. Rapth pun menanti jawaban."Tetap di sini. Pindahkan lelaki tua ini ke atas ranjang. Saat dokter datang, dia akan menerima ganjarannya."Ava yang baru saja melewati ambang pintu, membulat matanya mendengar ucapan Jack. Dia tentu khawatir Jack akan berubah pikiran karena dia terlalu lamban menjalankan perintah, lantas membuatnya menerima ganjaran pula sebagaimana
Jack melirik Laura sekilas, sebelum kembali melihat Marco. Tatapan itu menyimpan amarah yang besar, hingga membuat matanya memerah.“Kamu memperlakukan Nona Kills seperti benda mati,” katanya sambil menggertakkan gigi. “Kamu menikmati rasa sakitnya. Kamu membangun kesenangan dari jeritannya, dari traumanya.”Rahang Jack mengeras.“Orang sepertimu tidak pantas diberi akhir yang cepat.”Marco menggeleng lemah. “A-aku… aku bisa membayar. Berapa pun yang kamu mau...”Jack mengabaikannya.Dia mengeluarkan ponsel dari saku. Gerakannya tenang, terlalu tenang untuk situasi sekejam ini. Jack menekan satu nomor yang belakangan sering dia hubungi.“Halo, Tuan Hall. Ada yang perlu saya lakukan?" kata sekretaris Jack, Rafael Lewis, dengan nada hormat.“Aku butuh dokter bedah khusus,” lanjut Jack singkat dan jelas. “Yang terbaik. Datangkan ke Paradise Roadway dalam waktu sepuluh menit.”Dia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban di seberang sana.“Ya. Kasus darurat,” tutupnya. “Pastikan dia datang.
[Selamat Tuan, sekarang mata anda sudah normal.]Jack meraba-raba matanya, mengulang untuk memakai kacamata hanya untuk dilepaskan kembali, menutup sebelah mata bergantian, dan membuka mata lebar-lebar untuk menatap sekeliling. Dia tersenyum haru, sebelum tertawa lepas. Jack tidak bisa menahannya.
Lift terbuka saat sampai di lantai satu. Jack keluar dari sana setelah selesai mengamati kebahagiaan dari para tamu undangan yang berada di lantai atas. Dia berjalan perlahan, duduk di kursi yang dipesan, persis di ujung ruangan, tanpa meja.Jack tersenyum puas mengetahui para pelayan memperlakukan
Rahang Victor dan Elena seketika jatuh ke lantai. Mereka mengerjapkan mata karena tidak percaya dengan apa yang dilihat.Ini memang kali pertama bagi Elena datang ke SweetSky, tapi tidak dengan Victor. Dia sudah sering ke sana, tapi belum pernah sekalipun dia melihat gelandangan masuk. Jangankan par
Dalam perjalanan menuju restoran, sebuah pemandangan menyita perhatian Jack ketika skuternya berhenti di persimpangan lampu merah. Terlihat dalam naungan sebatang pohon besar yang rindang, anak-anak jalanan duduk melingkar mengerubungi makanan yang dibawa seorang wanita muda. Mereka tampak bahagia m







