LOGIN"Apa?" Marsel tidak percaya dengan apa yang didengarnya.Dia berbalik, lalu melangkah mendekat dan menatap Jose. "Tuan Jose, mohon dipikirkan baik-baik. Konflik antara Tuan dan Nyonya hanya kesalahpahaman, belum sampai pada tahap harus cerai."Bagaimana Aura dan Jose bisa berjalan sampai sejauh ini, Marsel yang selalu berada di sisi Jose lebih paham daripada siapa pun. Dia benar-benar tidak tega melihat Jose dan Aura berakhir di titik ini."Lakukan saja sesuai yang kukatakan." Tatapan Jose menyapu Marsel dengan dingin dan tajam. Ekspresinya tegas, tidak memberi ruang untuk membantah.Bibir Marsel bergerak sedikit, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan berbalik pergi. Setelah keluar, dia menutup pintu ruang kerja Jose, lalu menggeleng pelan sambil menghela napas.....Saat Aura menerima telepon dari pengacara, dia baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.Ponsel berdering, Aura mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara pengacara. "Bu Aura, dari pihak P
Pria ini terus saja mengincarnya.Aura merasa, Renald ini tidak lebih dari sekadar didorong oleh hasrat menang dan kalah semata. Mendengar ucapannya, Renald tidak marah, malah mengangguk."Kalau begitu, kalau setelah diperiksa otakku nggak bermasalah, apa itu berarti Bu Aura bisa menyetujuinya?"Setuju kepalamu! Aura menahan diri agar kata kasar itu tidak terucap. Dia maju selangkah lebih dekat ke ranjang Renald, lalu membungkuk dan mendekat ke arahnya.Begitu Aura mendekat, Renald langsung mencium aroma manis yang lembut. Mirip buah yang matang. Wangi yang cukup membuat orang tergoda, tetapi sulit dijelaskan persis seperti apa. Sungguh harum.Renald mengangkat alisnya dan menatapnya. Kemudian, dia mendengar Aura mengucapkan kata demi kata, "Pak Renald, aku bukan alat untukmu membuktikan kalau kamu lebih unggul daripada Jose.""Dulu aku anggap ucapanmu hanya bercanda, tapi kalau ke depannya masih dibahas, itu sudah nggak lucu lagi." Wajah mungil Aura terlihat datar dan serius.Renald m
Saat Aura menerima telepon dari Renald, dia baru saja mengakhiri panggilan dengan Roy. Mengetahui Renald datang ke Kota Morimas, Aura sebenarnya tidak merasa heran.Saat dia sedang menatap ponsel sambil melamun, telepon dari Renald pun masuk. Dia tanpa sadar mengernyit, terdiam sejenak, lalu memilih menolak panggilan itu.Namun tak lama kemudian, Aura kembali menerima sebuah gambar yang dikirim Renald. Di foto itu, Renald terlihat terbaring di ranjang rumah sakit.[ Bu Aura, kalau kamu nggak mau bertanggung jawab, aku hanya bisa datang ke rumah Keluarga Kusuma dan meminta Pak Parviz yang bertanggung jawab lho. ]Melihat pesan dari Renald, Aura merasa tak berdaya. Dia hanya membalas dengan mengirimkan satu tanda tanya.Di rumah sakit, Renald melihat balasan dari Aura. Sudut bibirnya terangkat tipis.[ Karena aku ditabrak oleh Jose. Tapi aku nggak bisa menemukannya, jadi hanya bisa mencari Bu Aura. ]Aura mengernyit, merasa orang ini sepertinya memang ada masalah dengan otaknya. Dia lant
"Maaf, Pak Jose. Mobilmu tertabrak. Nanti perusahaanku akan mengirim orang untuk menanganinya. Aku pamit dulu."Setelah berkata demikian, Renald pun bersiap pergi. Jose tidak mengatakan apa pun.Baru setelah Renald berjalan cukup jauh, Jose membuka pintu mobil dan turun. Tadi Renald menabrak bagian belakang mobil Jose, tetapi kerusakannya tidak terlalu parah. Mobilnya masih bisa dikendarai.Jose berjalan ke sisi kursi pengemudi, membuka pintu, lalu berkata kepada Marsel, "Turun."Marsel tertegun. "Tapi mobilnya ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dia sudah melihat tatapan Jose yang mendingin. Dia langsung paham, cepat-cepat melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil, menyerahkan kursi pengemudi kepada Jose.Jose naik ke mobil, menginjak pedal gas, lalu melesat pergi, mengejar ke arah Renald pergi.Renald yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu mobil, merasakan ada kendaraan mendekat dari belakang. Dia menoleh sekilas. Yang terlihat adalah Jose mengemudikan mobil tan
Begitu Roy selesai berbicara, sekretaris pun mendorong pintu. Dengan ekspresi profesional, dia berjalan ke sisi Jose, lalu berkata, "Pak Jose, silakan."Jelas sekali, Roy memang berniat membela Aura. Jose tahu, mengatakan apa pun sekarang percuma.Dia berdiri, menatap Roy selama beberapa detik, lalu akhirnya berbalik dan pergi. Dua kali berturut-turut mendapat penolakan, wajah Jose menjadi sangat suram. Begitu duduk di dalam mobil, dia langsung menyalakan mesin pemanas.Namun, Marsel merasa suhu di dalam mobil tetap saja dingin, seolah-olah mesin pemanas tidak dinyalakan.Keduanya duduk di dalam mobil. Marsel juga tidak langsung mengemudi, karena dia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana.Sampai langit perlahan menggelap, barulah Marsel menoleh dan bertanya, "Tuan Jose, kita mau ke mana?"Namun, pertanyaannya tidak mendapat jawaban.Setelah lama terdiam, Jose akhirnya berkata, "Ke rumah Keluarga Kusuma.""Masih ke sana?" Marsel terkejut, lalu mendongak menatap Jose lewat kaca spio
Namun, semua yang dilakukannya memang telah melukai Aura. Karena itu, Roy tentu saja harus membela Aura.Saat sekretaris menyampaikan maksud Roy kepada Jose, tangan Jose yang memegang cangkir kopi langsung mengencang. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol. Namun, ekspresinya tetap tenang dan datar. "Baik, aku akan menunggu di sini."Sekretaris mengangguk, lalu keluar. Barulah Marsel menoleh ke arah Jose. "Pak Jose, bukankah Roy ini sengaja mempersulit kita? Dia baru saja kembali, rapat apa yang harus dia hadiri?"Pandangan Jose tertuju pada cangkir kopi di tangannya. Ekspresinya masih seperti biasa. "Pergi jaga pintu."Meskipun merasa tidak adil bagi Jose, Marsel tetap patuh dan pergi berdiri di depan pintu. Menghadap ke arah kantor Roy, dia menggerutu pelan.Melihat para staf keluar masuk kantor Roy, Marsel semakin kesal. Bosnya telah bertahun-tahun menjadi pimpinan tertinggi di Alatas Heir. Ke mana pun pergi, belum pernah diabaikan seperti ini.Dua jam terasa tidak cepat, t







