Share

Kecelakaan

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-04 09:11:14

Suara benturan itu meledak di tengah jalan seperti ledakan bom.

Kaca mobil pecah berhamburan ke segala arah. Potongan-potongan kecil berkilat di udara sebelum jatuh seperti hujan pecahan kristal.

Mobil Raymond terpental keras ke samping, ban-ban bergesekan brutal dengan aspal. Tubuh mobil itu berputar setengah lingkaran sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan suara logam yang memekakkan telinga.

Dugg!

Benturan kedua terdengar lebih keras. Dalam hitungan detik—suara klakson bersahutan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
GigiKaka
mau di skip penasaran, dibaca mbulet...kepalang tanggung endingnya mau gimana
goodnovel comment avatar
Sopia Tars
serruuuu tp. Lamaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Masih Ada Harapan?

    Nada suaranya tenang. Namun ketenangan itu justru terasa lebih menekan. Elena menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menyusun kembali ingatannya. "Aku..." "...baru pulang." "Saat melewati jalan belakang mansion..." "...aku merasa ada seseorang yang mengikutiku." Raymond tetap diam. Tidak menyela sedikit pun. Elena melanjutkan. "Aku sempat mengira itu hanya perasaanku." "Tapi ketika aku turun dari mobil..." "...orang itu tiba-tiba muncul." "Dia mengenakan jaket hitam." "Celana gelap." "Topinya ditarik sangat rendah hingga menutupi hampir seluruh wajahnya." "Aku bahkan tidak sempat melihat warna matanya." Clara menahan napas. "Lalu?" Elena memejamkan mata sejenak. "Semuanya terjadi sangat cepat." "Dia mendekat." "Aku mundur." "Lalu..." "...aku merasakan sesuatu menghantam perutku." Refleks, tangan Elena kembali menekan bagian luka. Ekspresinya berubah menahan sakit. "Aku baru sadar..." "...aku sudah ditusuk." Clara membelalak. "Ya Tuha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebetulan yang Aneh

    Raymond membeku di tempatnya. Langkah yang semula tergesa-gesa mendadak terhenti di tengah hamparan rumput taman belakang mansion. Dadanya masih naik turun akibat berlari dari halaman depan, tetapi kini napasnya terasa tercekat oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya. Tatapannya perlahan berpindah dari kedua telapak tangan Clara yang dipenuhi darah... ...ke sosok Elena yang berdiri hanya beberapa langkah di samping istrinya. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Gaun berwarna gading yang dikenakan Elena sudah tidak lagi utuh. Di sisi kiri bagian perut, kain halus itu robek memanjang sepanjang hampir lima belas sentimeter. Robekan tersebut memperlihatkan balutan sapu tangan putih yang kini telah berubah menjadi merah pekat karena terus menyerap darah. Cairan merah itu masih merembes keluar melalui sela-sela jemari Elena. Setetes... Dua tetes... Tiga tetes... Pluk... Pluk... Pluk... Butiran darah itu jatuh perlaha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Darah di Tangan Clara

    Lima SUV hitam memasuki halaman dengan kecepatan tinggi. Rem berbunyi nyaring. CIIIITTTTT!! Debu beterbangan di sepanjang jalan paving. Para pelayan yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan pekerjaannya. Beberapa pengawal spontan membuka jalan. Belum sempat kendaraan berhenti sempurna... Pintu SUV sudah dibuka dari dalam. Raymond turun hampir sambil berlari. "CLARA!" Suara itu menggema di seluruh halaman depan. Tak ada jawaban. Ia menerobos pintu utama mansion. BRAK!! Daun pintu kayu jati itu membentur dinding. Suara langkah sepatu kulitnya bergema di aula besar yang dipenuhi lantai marmer Italia. "Clara!" "Clara!" Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ruang tamu. Kosong. Ruang keluarga. Kosong. Perpustakaan. Kosong. Ia berbalik menuju ruang makan. Masih kosong. Beberapa pelayan hanya memandangnya dengan wajah bingung. "Di mana Nyonya?" tanya Raymond cepat. Tak ada yang sempat menjawab. "Noah!" teriaknya lagi. "Noah!" Dadanya mulai naik turun.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Panik

    Raymond langsung menegakkan tubuhnya di kursi belakang SUV. Ponsel masih menempel erat di telinganya. Jemarinya mencengkeram perangkat itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memucat. "Clara!" Suara pria itu menggema memenuhi kabin. "Tolong jawab aku!" Tak ada balasan. Yang terdengar hanya suara napas Clara yang memburu. Di sela-sela napas itu terdengar bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa, disusul suara seseorang memanggil dari kejauhan, namun terlalu samar untuk dikenali. "Lara...?" Raymond kembali memanggil dengan suara yang mulai bergetar. "Ada apa?" "Lara!" Tiba-tiba... Klik. Sambungan telepon terputus begitu saja. Layar ponselnya berubah gelap. Raymond membeku. Untuk sesaat, seluruh suara di sekelilingnya seolah menghilang. Ia hanya menatap layar ponsel yang kini memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Wajah yang selama bertahun-tahun dikenal selalu tenang dalam situasi apa pun. Kini... Tak ada lagi ketenangan itu. Yang tersisa hanyalah kecemasan yang perlah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuh

    Satu demi satu ambulans melesat meninggalkan lokasi menuju Rumah Sakit Pusat Sentosa, rumah sakit rujukan trauma terbesar di kota itu. Raymond tetap berdiri di tengah jalan. Tatapannya mengikuti ambulans hingga lampu rotatornya menghilang di tikungan. Angin laut berembus pelan. Membawa aroma garam, solar, serta asap kendaraan. Di sekitar lokasi, garis polisi mulai dipasang. Tim forensik kepolisian memotret setiap sudut kendaraan. Mereka mengukur panjang bekas pengereman. Mengumpulkan serpihan lampu. Serta menandai titik benturan pertama menggunakan cat semprot berwarna kuning. Raymond memutar tubuh. "John." Komandan keamanan Antonio Group segera berlari menghampiri. "Ya, Tuan." Raymond menunjuk SUV yang kini hanya tinggal rangka penyok. "Segel kendaraan itu." "Jangan ada satu baut pun dipindahkan sebelum tim investigasi keluarga datang." "Baik, Tuan." "Lalu periksa seluruh kamera CCTV." "Dari kawasan pelabuhan..." "...hingga titik kecelakaan ini

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ambulance

    Ken sama sekali tidak bergerak. Tubuh pria itu terbaring telentang di atas hamparan aspal yang dipenuhi pecahan kaca dan serpihan logam dari SUV yang ringsek. Seragam hitam yang biasanya selalu tampak rapi kini robek di beberapa bagian. Lengan kirinya dipenuhi goresan panjang akibat pecahan jendela samping, sementara darah terus merembes dari luka robek di pelipis kanan, mengalir melewati pipi hingga membasahi kerah kemejanya. Di bawah kepalanya, darah mulai membentuk genangan kecil yang perlahan bercampur dengan air dari selang pemadam kebakaran yang digunakan petugas untuk mencegah percikan api dari mesin kendaraan. Air kemerahan itu mengalir mengikuti kemiringan jalan, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya tercekat. Beberapa meter di belakang, SUV milik Antonio Group sudah hampir tak lagi berbentuk. Kap mesinnya terlipat seperti kertas. Mesin terdorong masuk hingga nyaris menembus kabin. Seluruh kaca depan hancur berkeping-keping. Asap putih t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Baku Hantam

    Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status