Share

Mayat

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-04-11 13:59:02

Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana.

Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya.

Tatapannya tajam.

"Kenapa?" tanyanya dingin.

Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya.

"Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan."

Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku.

Clara refleks menggenggam tangan Noah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mayat

    Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana. Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam. "Kenapa?" tanyanya dingin. Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya. "Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan." Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku. Clara refleks menggenggam tangan Noah di bawah meja. Bu Eli menatap Ken dengan kaget. "Mayat?" Ken mengangguk pelan. Raymond langsung berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Aura pria itu berubah seketika. Kehangatan yang tadi sempat terlihat di meja makan lenyap begitu saja, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam yang selama ini selalu melekat padanya. "Siapkan mobil," ucap Raymond. "Baik, Tuan," sahut Ken cepat. Clara ikut berdiri. "Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Raymond menoleh ke arahnya. Wajahnya masih kera

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Melamar

    Suara Clara bergetar pelan. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, seolah ada begitu banyak emosi yang berkumpul di sana secara bersamaan—bahagia, takut, terharu, dan tidak percaya. Raymond masih berlutut di hadapannya. Tatapan pria itu yang semula penuh harap, perlahan mulai meredup. Jari-jarinya yang menggenggam tangan Clara terasa sedikit menegang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raymond benar-benar merasa takut. Takut mendengar kata tidak, takut kehilangan lagi. Dan Clara bisa melihat itu dengan jelas di matanya. "Kalau... kalau kau belum siap, aku bisa menunggu," ucap Raymond pelan. Meski suaranya tetap terdengar tenang, Clara tahu pria itu sedang menahan banyak hal. Clara menggigit bibir bawahnya pelan "Aku bukan tidak mau..." bisiknya lirih. Raymond mengangkat wajahnya perlahan, dan tatapan mereka kembali bertemu. "Aku hanya takut," lanjut Clara dengan suara bergetar. "Takut semua ini terlalu indah. Takut suatu hari nanti aku bangun dan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Romantis

    Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu, pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa. Hanya saja—kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi terlalu tajam. Kadang, diam-diam, ia akan menatap Clara yang sedang mengupas buah untuknya. Atau menatap Noah yang sibuk menggambar di sofa kecil sambil sesekali menunjukkan hasil gambarnya. “Papa, lihat! Ini gambar kita!” seru Noah semangat. Raymond menerima kertas itu. Di sana gambar tiga orang dengan garis-garis berantakan—satu pria tinggi, satu wanita berambut panjang, dan satu anak kecil di tengah. Di atasnya ada gambar rumah besar dan matahari besar berwarna kuning. Noah tersenyum lebar. “Itu Papa, Mama, sama aku.” Raymond menatap gambar itu cukup lama. Lalu perlahan,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sadar

    “Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa melihat beberapa dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang pasien Raymond. Monitor jantung berbunyi nyaring. Salah satu dokter menekan sesuatu pada infusnya, dan yang lain memeriksa monitor tekanan darah. “Tekanan darah turun drastis!” “Nadi melemah!” “Siapkan oksigen tambahan!” Setiap kalimat yang keluar dari dalam ruangan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Clara satu per satu. Kakinya melemas, kalau bukan karena Bu Eli cepat memegang lengannya, mungkin Clara sudah jatuh ke lantai. “Tidak…” bisiknya lirih. “Tidak… jangan…” Noah yang baru saja terbangun langsung menangis saat melihat ibunya. “Mama…” Clara menoleh cepat, lalu memeluk Noah erat. “Papa tidak apa-apa ka

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Saat Clara Pergi

    Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha memastikan semuanya. Untuk saat ini, kami akan memindahkan pasien ke ruang observasi setelah CT scan selesai. Tapi kondisinya memang harus diawasi ketat.” Kalimat itu seperti menghantam Clara tanpa ampun. Ia mundur satu langkah, seketika kakinya terasa lemas. Jika bukan karena kursi di belakangnya, mungkin ia sudah jatuh sejak tadi. Noah yang duduk di dekat Bibi Janeta menatap wajah ibunya dengan mata merah dan sembab. “Mama…” panggilnya lirih. Clara langsung menoleh. Anak itu turun dari kursi, lalu berjalan kecil ke arahnya. “Apa Papa sakit banget?” tanyanya pelan. Clara tidak bisa menjawab, tenggorokannya terasa terkunci. Ia hanya bisa memeluk Noah erat. Sangat erat. Seolah hanya itu sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah Sakit

    “Raymond!”Jeritan Clara pecah bersamaan dengan tubuh pria itu yang ambruk ke lantai.Bruk!Suaranya terdengar begitu keras. Sebagian orang langsung berdiri dan menghampiri. Noah langsung mundur setengah langkah, matanya membulat penuh ketakutan melihat pria yang baru saja ia panggil papa jatuh seperti itu—membuat dadanya ikut sesak.“Papa!” teriak Noah panik.Clara langsung berlutut di lantai. Tangannya gemetar saat meraih wajah Raymond.“Tuan Ray... Tuan…” suaranya pecah. “Buka mata Anda… tolong…”Wajah pria itu pucat dan bibirnya sedikit membiru. Keningnya dipenuhi keringat dingin. Raymond masih sadar samar, namun pandangannya kabur. Suara Clara terdengar jauh, seperti datang dari tempat yang sangat jauh.“Kenapa…” bisiknya pelan.Clara menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis semakin keras.“Jangan bicara… tolong jangan bicara…”Bibi Janeta langsung berdiri dengan panik. “Cepat! Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!” serunya.Noah mulai menangis, tangis kecil

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Yakin

    Keesokan paginya, rumah kecil Bibi Janeta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai tipis di ruang makan, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua yang sudah mulai kusam. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara. Clara duduk diam. Kedua tanga

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat Lembab

    Basement itu terasa semakin dingin. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di lantai semen yang lembap. Udara dipenuhi bau oli, debu, dan ketegangan yang menggantung begitu pekat. Ken dan beberapa anak buah langsung menyebar. Mereka memeriksa setiap sudut—di

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Di Telan Bumi

    DOR! Suara tembakan itu memecah keheningan seperti petir yang menyambar terlalu dekat. Dinding kamar bergetar halus, dan dalam sekejap—suasana yang tadinya hangat dan rapuh berubah menjadi tegang dan mencekam. Clara tersentak. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Refleks, ia lan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ciuman Lembut

    Kini, Clara berdiri di hadapan Raymond dengan tubuh kaku. Dadanya naik turun tak beraturan, seolah jantungnya mencoba keluar dari rongga yang terlalu sempit untuk menampung semua yang ia rasakan saat ini. Tangannya masih menggantung di udara—gemetar, ragu, dan kehilangan arah. Pakaiannya tergele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status