Share

Nostalgia

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-30 05:18:33

Charles Antonio.

Begitu pria tua itu melangkahkan kaki memasuki ruang perawatan VIP, suasana yang semula mulai menghangat kembali berubah dalam sekejap.

Suara hentakan tongkat kayu eboni berukir kepala singa yang sedari tadi terdengar mantap di koridor mendadak terhenti tepat di ambang pintu.

Tok.

Keheningan pun mengambil alih.

Sinar matahari pagi yang menembus jendela besar memantulkan cahaya lembut di lantai marmer mengilap, tetapi tidak seorang pun lagi memperhatikannya.

Semua mata ter
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pintu Koridor

    Tawa hangat kembali memenuhi ruang makan utama Mansion Antonio. Suara Noah yang sesekali tertawa lepas, disusul canda ringan Bu Eli dan Clara, berpadu dengan denting lembut sendok porselen yang beradu dengan piring makan. Aroma teh melati yang baru diseduh masih memenuhi udara, bercampur dengan harum kayu mahoni tua yang menjadi ciri khas rumah besar itu. Untuk pertama kalinya sejak rentetan musibah yang menimpa keluarga Antonio... Rumah megah yang selama beberapa minggu terakhir dipenuhi keheningan, kecemasan, dan doa-doa panjang itu kembali dipenuhi suara-suara kecil yang menghangatkan hati. Bagll Para pelayan saling bertukar senyum tanpa perlu mengucapkan apa pun. Tuan mereka kembali tersenyum. Nyonya mereka selamat. Tuan muda Noah kembali berlari dan tertawa seperti biasanya. Dan untuk pertama kalinya... Mansion Antonio kembali terasa seperti rumah. *** Malam perlahan menyelimuti kota. Langit berubah menjadi hamparan biru gelap yang luas, dihiasi ribuan bintang kecil

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berjalan Normal

    Hari-hari berikutnya kembali berjalan dengan ritme yang perlahan menemukan keseimbangannya. Mansion Antonio yang beberapa waktu lalu dipenuhi langkah kaki tergesa-gesa, suara dokter yang keluar masuk, serta wajah-wajah penuh kecemasan, kini kembali hidup dengan kehangatan yang telah lama menghilang. Setiap pagi, ketika matahari baru muncul dari balik perbukitan di sebelah timur kota, sinarnya menerobos jendela-jendela tinggi Mansion Antonio. Cahaya keemasan itu memantul di lantai marmer Italia yang mengilap, membuat seluruh ruangan tampak hangat dan hidup. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang, mentega hangat, dan sup ayam yang dimasak khusus untuk Clara memenuhi ruang makan utama. Pelayan lalu-lalang dengan langkah tenang sambil menata sarapan di atas meja makan sepanjang hampir empat meter yang terbuat dari kayu mahoni tua. Di ujung meja... Clara sudah duduk dengan nyaman. Sebuah bantal kecil menopang punggungnya agar ia tidak cepat lelah.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kembali

    Elena tersenyum tipis, meski senyum itu tampak sedikit kaku. Di telapak tangan kanannya, ponsel yang sejak beberapa detik lalu terus bergetar masih menyala, menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak disimpan di daftar kontak. Getarannya berhenti sesaat. Lalu kembali bergetar. Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt... Elena menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang mendadak tak beraturan. "Maaf..." ujarnya lirih sambil memandang Raymond dan Clara bergantian. "Sepertinya aku harus mengangkat telepon ini sebentar." Clara mengangguk sambil tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Bibi." Raymond tidak mengatakan apa pun. Namun matanya mengikuti setiap gerakan wanita itu. Elena membalas anggukan kecil, lalu berbalik dan melangkah menjauh dari rombongan. Hak sepatu krem yang dikenakannya mengetuk lantai marmer koridor rumah sakit dengan irama pelan. Tok... Tok... Tok... Setiap langkahnya terdengar jelas di koridor yang mulai lengang menjelang siang. Semakin jauh

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tawa Bahagia

    Koridor utama Rumah Sakit Antonio Medical Center pagi itu bermandikan cahaya keemasan matahari. Sinar mentari menembus dinding-dinding kaca setinggi langit-langit, memantulkan bayangannya pada lantai marmer putih yang mengilap hingga tampak seperti permukaan air yang tenang. Aroma khas rumah sakit—perpaduan antiseptik, cairan disinfektan, dan bunga lili segar yang diletakkan di sudut-sudut koridor—masih samar tercium, tetapi kini tidak lagi terasa mencekam. Suasana yang beberapa hari lalu dipenuhi langkah kaki tergesa-gesa, suara alat medis yang bersahutan, dan wajah-wajah penuh kecemasan, kini berubah menjadi jauh lebih damai. Hari itu... Mereka akhirnya pulang. Raymond berdiri di belakang kursi roda Clara dengan kedua tangan menggenggam erat pegangan berlapis kulit hitam itu. Jemarinya yang besar mencengkeram begitu kuat, seolah ia sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kursi roda. Perlahan ia mulai mendorongnya menyusuri koridor. Sangat perlahan.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pulang

    Charles perlahan melepaskan pelukan. "Kabarmu bagaimana?" tanyanya lembut. Elena tersenyum pahit. Kalau saja hidupnya berjalan baik... Mungkin ia tidak akan pernah datang ke Mansion Antonio. "Kalau aku baik-baik saja..." "Mungkin hari ini aku tidak akan berdiri di sini." Charles mengangguk pelan. "Aku mendengar suamimu telah meninggal." Elena menunduk. "Empat tahun lalu." "Lalu tiga tahun setelahnya..." "Anakku juga pergi karena kecelakaan." Suara wanita itu kembali bergetar. "Aku kehilangan semuanya." Charles menepuk bahunya dengan penuh empati. "Mulai hari ini..." "Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian lagi." Elena mengangguk sambil menyeka air matanya. Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arah Clara. Tatapannya berubah jauh lebih lembut. Ia melangkah perlahan menghampiri ranjang. Gerakannya hati-hati, seolah khawatir mengganggu kondisi wanita yang baru saja selamat dari masa kritis akibat preeklampsia berat. "Kau pasti Clara." Clara mengangguk sambil

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Nostalgia

    Charles Antonio. Begitu pria tua itu melangkahkan kaki memasuki ruang perawatan VIP, suasana yang semula mulai menghangat kembali berubah dalam sekejap. Suara hentakan tongkat kayu eboni berukir kepala singa yang sedari tadi terdengar mantap di koridor mendadak terhenti tepat di ambang pintu. Tok. Keheningan pun mengambil alih. Sinar matahari pagi yang menembus jendela besar memantulkan cahaya lembut di lantai marmer mengilap, tetapi tidak seorang pun lagi memperhatikannya. Semua mata tertuju pada dua orang yang saling berhadapan. Charles Antonio... Dan Elena Ardelia. Tatapan Charles yang semula tenang perlahan berubah. Kerutan di dahinya semakin dalam, sementara sorot matanya yang tajam membeku pada wajah wanita yang berdiri tidak jauh dari ranjang Clara. Seolah waktu berhenti berputar. Tongkat di tangan kanannya tak lagi bergerak. Jemarinya justru mencengkeram gagangnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sisi lain, Elena benar-benar membeku. Bibirnya se

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keluarga Kecil

    Menjelang siang, suasana mansion berubah jauh lebih santai dibanding biasanya. Para pengawal Raymond tetap berjaga di luar dengan pakaian hitam dan alat komunikasi di telinga mereka, tetapi aura mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah itu perlahan memudar. Kini vas bunga segar menghiasi meja-m

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Senyum Bahagia

    “MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hancurnya Hati Sang Psikopat

    “RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status