MasukClara memahami maksud suaminya. Ia tidak berusaha menahan. Sebaliknya, ia mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Raymond sesaat. "Jangan terlalu lama." bisiknya lembut. Raymond membalas dengan anggukan tipis. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya di lantai atas. Klik... Pintu kayu mahoni setinggi hampir tiga meter itu menutup perlahan, memisahkan Raymond dari keramaian rumah. Keheningan langsung memenuhi ruangan. Ruang kerja itu didominasi nuansa cokelat tua yang elegan. Rak-rak buku menjulang hingga mendekati langit-langit, dipenuhi koleksi buku bisnis, sejarah, hingga album keluarga. Sebuah meja kerja besar dari kayu walnut berdiri kokoh di tengah ruangan, sementara jendela kaca berukuran penuh membentang di sisi kanan, menghadap langsung ke taman depan mansion. Raymond berjalan perlahan menuju jendela. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya menembus kaca. Di luar... Halaman mansion telah kembali tenang. Tak ada lagi kilatan kamera.
Beberapa menit kemudian... Ruang makan utama di Mansion Antonio kembali dipenuhi aroma kopi arabika yang baru selesai diseduh. Uap hangat mengepul dari setiap cangkir porselen putih, bercampur dengan wangi mentega dari roti panggang yang baru keluar dari oven. Di atas meja makan sepanjang hampir lima meter yang terbuat dari kayu ek mengilap, berbagai hidangan telah tersaji dengan sempurna. Keranjang rotan berisi aneka roti hangat diletakkan di bagian tengah meja, berdampingan dengan semangkuk besar sup krim jagung yang masih mengepulkan uap tipis. Telur orak-arik berwarna keemasan, sosis panggang dengan permukaan kecokelatan, salad sayur segar, irisan buah-buahan, serta beberapa jenis selai tersusun rapi seolah menunggu untuk disantap. Namun pagi itu... Tak satu pun dari mereka benar-benar memiliki selera makan. Suasana yang beberapa saat sebelumnya diwarnai kepanikan di depan gerbang mansion masih menyisakan jejak yang sulit dihapus. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah c
Brak... Brak... Brak... Suara langkah sepatu bot para pengawal menggema serempak di halaman depan Mansion Antonio. Belasan pria bertubuh tegap itu maju satu langkah bersamaan, lalu membentuk barikade baru di belakang gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Setelan jas hitam, sarung tangan kulit, dan alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka membuat kehadiran mereka terlihat semakin mengintimidasi. Tatapan mereka lurus ke depan. Dingin. Tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada celah yang bisa dilewati. Tidak ada ruang bagi wartawan untuk mendekat. Udara pagi yang semula dipenuhi suara teriakan dan kilatan kamera kini berubah mencekam. Hanya suara embusan angin yang menggoyangkan daun-daun cemara di sepanjang jalan masuk menuju mansion. Di tengah barisan itu... Raymond berdiri tegak. Kedua bahunya tetap lurus. Dagunya sedikit terangkat. Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para wartawan di balik pagar. Amarah yang tadi meledak-ledak kini seola
Tepat pada saat itu... Terdengar suara langkah pelan dari belakang. Tok... Tok... Tok... Elena maju. Gaun panjang berwarna gading yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun sorot matanya berubah begitu tegas. Ia berdiri tepat di samping Raymond. Semua kamera langsung beralih ke arahnya. Klik! Klik! Klik! Kilatan flash kembali memenuhi halaman. Raymond menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. Mengapa Elena maju? Apa yang sedang ingin dilakukannya? Namun Elena tidak memandang Raymond. Ia menatap lurus ke arah para wartawan. "Aku..." Suaranya pelan. Namun begitu jelas. "...adalah Elena." "Adik kandung Nyonya Antonio." Kerumunan kembali gaduh. Beberapa wartawan langsung saling berteriak. "Itu dia!" "Rekam!" "Cepat!" Elena mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat agar semua diam. Keributan perlahan mereda. "Aku tidak keberatan kalau kalian mempertanyakan siapa diriku." "Kalian boleh meragukan hubung
Raymond membeku. Bukan karena terkejut. Melainkan karena otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wartawan itu. Angin pagi yang berembus pelan seakan berhenti. Kilatan kamera yang sejak tadi terus menyala kini terdengar jauh. Yang memenuhi pendengarannya hanya satu kalimat. "...mendiang Nyonya Besar Antonio pernah terlibat dalam kasus penyelundupan berskala besar..." Tatapan Raymond perlahan terangkat. Mata hitamnya yang semula tenang berubah semakin tajam. Dingin. Kelam. Berbahaya. Rahangnya mengeras hingga garis otot di kedua pipinya tampak jelas. Tulang rahangnya menonjol. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat pada punggung tangannya mulai menonjol. Dadanya naik turun perlahan. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang mati-matian menahan amarah. "Apa..." Suaranya terdengar rendah. Pe
Suaranya tidak keras. Namun cukup berat hingga terdengar jelas di tengah keributan. Ken segera mendekat. "Tuan." "Mereka mulai berkumpul sejak pukul enam pagi." "Mereka menolak meninggalkan lokasi." "Kami sudah meminta bantuan kepolisian untuk mengatur lalu lintas." Raymond mengangguk tipis. Tatapannya kembali mengarah ke kerumunan wartawan. "Siapa yang memberi kalian izin membuat keributan di depan rumah saya?" Tak seorang pun langsung menjawab. Seorang wartawan wanita berjas biru mengangkat mikrofonnya lebih tinggi. "Tuan Raymond." "Apakah benar Nyonya Elena saat ini tinggal bersama keluarga Antonio?" Raymond tetap diam. Wartawan lain langsung menyusul. "Apakah benar sedang dilakukan tes DNA?" "Apakah beliau akan memperoleh hak waris keluarga Antonio?" "Apakah hubungan darah ini sengaja disembunyikan selama puluhan tahun?" Raymond masih belum menjawab. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Di belakangnya... Clara mulai merasa tidak nyaman. Keributan, suara kamera,
Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan
Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan







