Share

Curiga

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-07-22 13:13:06

Fajar menyingsing perlahan di atas Mansion Antonio.

Kabut tipis masih menggantung di antara deretan pohon cemara yang mengelilingi halaman seluas hampir dua hektare itu. Embun membasahi hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, sementara bunga mawar putih di taman mulai membuka kelopaknya, menyambut hangatnya cahaya matahari yang perlahan muncul dari ufuk timur.

Suasana pagi terasa begitu damai.

Terlalu damai.

Seolah mansion megah itu sedang berusaha melupakan badai yang mengguncangnya seh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mustahil

    Suara mesin SUV hitam milik tim keamanan Antonio nyaris tak terdengar ketika perlahan meninggalkan halaman belakang mansion. Di balik kemudi duduk salah seorang pengawal kepercayaan Ken. Sementara Ken sendiri menempati kursi penumpang depan. Di kursi belakang, dua pengawal lain telah menyiapkan perlengkapan komunikasi berukuran kecil lengkap dengan earpiece yang biasa mereka gunakan saat menjalankan operasi pengamanan. Tak ada seorang pun yang banyak bicara. Wajah mereka serius. Mereka memahami satu hal. Perintah Raymond pagi itu bukan sekadar mengikuti seseorang. Mereka sedang diminta mengungkap sebuah rahasia. Rahasia yang bahkan mungkin berkaitan dengan masa lalu keluarga Antonio. Beberapa kilometer di depan... Sedan hitam milik Elena melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kawasan elite tempat Mansion Antonio berdiri. Jalanan kota mulai ramai. Lampu lalu lintas silih berganti. Mobil dan sepeda motor memenuhi setiap persimpangan. Elena menggenggam kemudi begitu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Curiga

    Fajar menyingsing perlahan di atas Mansion Antonio. Kabut tipis masih menggantung di antara deretan pohon cemara yang mengelilingi halaman seluas hampir dua hektare itu. Embun membasahi hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, sementara bunga mawar putih di taman mulai membuka kelopaknya, menyambut hangatnya cahaya matahari yang perlahan muncul dari ufuk timur. Suasana pagi terasa begitu damai. Terlalu damai. Seolah mansion megah itu sedang berusaha melupakan badai yang mengguncangnya sehari sebelumnya. Di lantai dua, pada sebuah kamar tamu yang menghadap langsung ke taman belakang, Elena baru saja selesai merapikan tempat tidurnya. Ia mengenakan blus putih lengan panjang dan celana kain berwarna krem. Rambut hitamnya yang sebahu dibiarkan tergerai sederhana. Tatapannya kosong. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Bayangan foto Maria yang retak, kerumunan wartawan, hingga tuduhan yang dilontarkan di depan gerbang mansion terus berputar di kepalanya tanpa henti. Saat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Siapa yang Jahat?

    Kedua telapak tangan Raymond menghantam meja kerja begitu keras. Seluruh isi meja bergetar. Tempat pena terjatuh ke lantai. Pigura foto keluarga bergeser hingga hampir roboh. Cangkir kopi bergetar hebat, menumpahkan sedikit cairan hitam ke atas meja. "Cukup!" bentaknya. Suara itu menggema memenuhi seluruh ruang kerja. "Ibu tidak pernah melakukan itu!" "Ibu mengajariku arti kejujuran!" "Ibu mengajariku menghormati hukum!" "Beliau bahkan mengembalikan dompet orang asing yang tertinggal di taman!" "Beliau..." Suara Raymond mendadak terputus. Dadanya berguncang hebat. Napasnya terasa berat. Ken tetap berdiri di tempatnya. "Saya juga berharap semua ini salah, Tuan." "Sungguh." "Tetapi..." "...jejak administrasinya terlalu banyak." Ia kembali mengeluarkan beberapa dokumen lain. "Perusahaan cangkang." "Transfer dana lintas negara." "Rekening escrow." "Nominee director." "Invoice fiktif." "Bill of lading palsu." "Semuanya saling terhubung." "Modusnya menunjukkan j

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenyataan

    Ruang kerja Raymond kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa begitu menyesakkan.Tak ada lagi suara selain detak halus jam antik di sudut ruangan dan dengung pelan pendingin udara yang berembus konstan.Cahaya matahari pagi yang menembus jendela besar memantul di permukaan meja kerja dari kayu walnut, menerangi lembaran-lembaran dokumen yang kini berserakan di hadapan Raymond.Pria itu masih berdiri membeku.Tatapannya terpaku pada selembar dokumen fotokopi yang telah menguning dimakan usia.Jemarinya mencengkeram kertas itu begitu kuat hingga sudut-sudutnya mulai kusut.Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.Namun ia sama sekali tidak menyadarinya.Sorot matanya tak lagi berkedip.Seolah seluruh kesadarannya berhenti tepat pada nama yang tercetak di bagian bawah dokumen itu.Maria Antonio.Nama yang selama tiga puluh tahun lebih selalu ia hormati.Nama yang selama ini menjadi lambang ketulusan, kejujuran, dan kehormatan bagi keluarga Antonio.Kini...Nama itu berdiri

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mengejutkan

    Clara memahami maksud suaminya. Ia tidak berusaha menahan. Sebaliknya, ia mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Raymond sesaat. "Jangan terlalu lama." bisiknya lembut. Raymond membalas dengan anggukan tipis. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya di lantai atas. Klik... Pintu kayu mahoni setinggi hampir tiga meter itu menutup perlahan, memisahkan Raymond dari keramaian rumah. Keheningan langsung memenuhi ruangan. Ruang kerja itu didominasi nuansa cokelat tua yang elegan. Rak-rak buku menjulang hingga mendekati langit-langit, dipenuhi koleksi buku bisnis, sejarah, hingga album keluarga. Sebuah meja kerja besar dari kayu walnut berdiri kokoh di tengah ruangan, sementara jendela kaca berukuran penuh membentang di sisi kanan, menghadap langsung ke taman depan mansion. Raymond berjalan perlahan menuju jendela. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya menembus kaca. Di luar... Halaman mansion telah kembali tenang. Tak ada lagi kilatan kamera.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    Beberapa menit kemudian... Ruang makan utama di Mansion Antonio kembali dipenuhi aroma kopi arabika yang baru selesai diseduh. Uap hangat mengepul dari setiap cangkir porselen putih, bercampur dengan wangi mentega dari roti panggang yang baru keluar dari oven. Di atas meja makan sepanjang hampir lima meter yang terbuat dari kayu ek mengilap, berbagai hidangan telah tersaji dengan sempurna. Keranjang rotan berisi aneka roti hangat diletakkan di bagian tengah meja, berdampingan dengan semangkuk besar sup krim jagung yang masih mengepulkan uap tipis. Telur orak-arik berwarna keemasan, sosis panggang dengan permukaan kecokelatan, salad sayur segar, irisan buah-buahan, serta beberapa jenis selai tersusun rapi seolah menunggu untuk disantap. Namun pagi itu... Tak satu pun dari mereka benar-benar memiliki selera makan. Suasana yang beberapa saat sebelumnya diwarnai kepanikan di depan gerbang mansion masih menyisakan jejak yang sulit dihapus. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah c

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status