Share

Bingung

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-02-27 18:02:40

Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.

“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.

Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”

Ddrrrttt… Ddrrttt…

Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.

Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.

Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ambulance

    Ken sama sekali tidak bergerak. Tubuh pria itu terbaring telentang di atas hamparan aspal yang dipenuhi pecahan kaca dan serpihan logam dari SUV yang ringsek. Seragam hitam yang biasanya selalu tampak rapi kini robek di beberapa bagian. Lengan kirinya dipenuhi goresan panjang akibat pecahan jendela samping, sementara darah terus merembes dari luka robek di pelipis kanan, mengalir melewati pipi hingga membasahi kerah kemejanya. Di bawah kepalanya, darah mulai membentuk genangan kecil yang perlahan bercampur dengan air dari selang pemadam kebakaran yang digunakan petugas untuk mencegah percikan api dari mesin kendaraan. Air kemerahan itu mengalir mengikuti kemiringan jalan, menciptakan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya tercekat. Beberapa meter di belakang, SUV milik Antonio Group sudah hampir tak lagi berbentuk. Kap mesinnya terlipat seperti kertas. Mesin terdorong masuk hingga nyaris menembus kabin. Seluruh kaca depan hancur berkeping-keping. Asap putih t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken

    Di Mansion Antonio... Raymond masih berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ponsel masih menempel di telinga. "Ken..." panggilnya sekali lagi. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara statis. Lalu... Sambungan benar-benar terputus. Layar ponsel berubah gelap. Perlahan Raymond menurunkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah tajam. Naluri yang selama ini menyelamatkannya dari berbagai bahaya berteriak keras. Ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia meraih kunci mobil di atas meja. Pintu ruang kerja dibukanya dengan keras. BRAK! Langkahnya menggema di sepanjang koridor mansion. Setiap pelayan yang berpapasan langsung menyingkir. Begitu tiba di aula utama, Raymond mengangkat suaranya. "Semua ikut aku!" Bentakannya menggema hingga ke lantai dua. Para pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. "Siapkan lima kendaraan!" "Lengkap dengan tim medis!" "Hubungi rumah sakit!" "Berangkat sekarang!" "Siap, Tuan!" Suasana

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kecelakaan

    BRAAAAAAKKKK!! Benturan pertama belum sepenuhnya berhenti menggema ketika SUV hitam Toyota Land Cruiser 300 milik tim keamanan Antonio kembali kehilangan kendali. Bagian belakang kendaraan terangkat beberapa sentimeter dari permukaan aspal. Ban-ban belakang berputar liar tanpa pijakan. Asap putih pekat membubung dari gesekan karet dengan jalan raya yang panas. SKRRRRIIIIIIITTTT...! Suara decitan ban memekakkan telinga. Tubuh SUV berputar hampir sembilan puluh derajat hingga melintang di jalan dua arah yang menuju kawasan pelabuhan tua. Di dalam kabin... Seluruh penumpang terdorong ke sisi kanan. Sabuk pengaman menahan tubuh mereka dengan hentakan keras. "Ken!" teriak sopir pribadi tim keamanan Antonio. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di lengannya mencuat jelas. Ia memutar setir habis ke arah kiri, berusaha mengembalikan posisi kendaraan agar tidak terguling. Namun sebelum SUV itu kembali stabil... Raungan mes

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Lari

    Suasana seketika menegang. Ken langsung memberi isyarat cepat menggunakan jemarinya. Diam. Jangan bergerak. Jangan bernapas terlalu keras. Keempat pria itu merapat ke dinding beton yang dipenuhi lumut. Seorang pengawal bahkan memejamkan mata, berusaha mengendalikan napasnya yang mulai memburu. Di dalam gudang... Pria berjubah itu mulai berjalan. Tok... Tok... Tok... Suara sepatu kulitnya menggema di lantai semen yang retak-retak. Setiap langkah terasa semakin dekat. Semakin dekat. Bayangannya memanjang hingga hampir mencapai tempat Ken bersembunyi. Ken perlahan menyelipkan tangan ke balik jasnya. Jarinya menyentuh gagang pistol. Namun ia tidak menariknya. Perintah Raymond masih terngiang jelas di kepalanya. Mengawasi. Mengumpulkan informasi. Bukan menciptakan baku tembak. Tok... Tok... Tok... Pria itu akhirnya berhenti. Hanya dipisahkan oleh dinding kayu tua yang telah keropos. Jarak mereka... Tak sampai satu meter. Ken bahkan dapat mendengar suara napas

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Maria Antonio?

    Tudung hitam itu terangkat perlahan.Jemari pria berjubah itu bergerak tenang, menyibakkan kain hitam yang selama beberapa saat menutupi wajahnya. Gerakannya tidak terburu-buru. Justru terlalu lambat, seolah sengaja membiarkan setiap detik di dalam gudang tua itu dipenuhi ketegangan yang menyesakkan.Sinar matahari yang menyusup dari celah-celah atap seng yang berlubang jatuh tepat di sisi wajahnya. Debu-debu halus menari di udara, diterpa cahaya yang membentuk garis-garis keemasan di ruangan remang tersebut.Dari balik dinding gudang, Ken membeku.Dadanya seakan berhenti mengembang.Mata pria itu membelalak lebar.Sorot matanya tak berkedip sedikit pun.Wajah yang muncul dari balik tudung itu...Memiliki rahang tegas.Hidung mancung.Garis-garis ketegasan di sekitar bibir.Sorot mata tajam yang penuh wibawa.Bahkan guratan uban tipis di kedua pelipisnya pun terlihat begitu familiar.Ken mengenali wajah itu.Bukan...Lebih tepatnya, wajah itu terlalu sering ia lihat selama bertahun-ta

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mustahil

    Suara mesin SUV hitam milik tim keamanan Antonio nyaris tak terdengar ketika perlahan meninggalkan halaman belakang mansion. Di balik kemudi duduk salah seorang pengawal kepercayaan Ken. Sementara Ken sendiri menempati kursi penumpang depan. Di kursi belakang, dua pengawal lain telah menyiapkan perlengkapan komunikasi berukuran kecil lengkap dengan earpiece yang biasa mereka gunakan saat menjalankan operasi pengamanan. Tak ada seorang pun yang banyak bicara. Wajah mereka serius. Mereka memahami satu hal. Perintah Raymond pagi itu bukan sekadar mengikuti seseorang. Mereka sedang diminta mengungkap sebuah rahasia. Rahasia yang bahkan mungkin berkaitan dengan masa lalu keluarga Antonio. Beberapa kilometer di depan... Sedan hitam milik Elena melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kawasan elite tempat Mansion Antonio berdiri. Jalanan kota mulai ramai. Lampu lalu lintas silih berganti. Mobil dan sepeda motor memenuhi setiap persimpangan. Elena menggenggam kemudi begitu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Baku Hantam

    Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status