LOGIN“MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masuk kembali ke kamar, lalu spontan menahan tawa kecil begitu melihat putranya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi frustrasi. Dasi hitam mungil di leher Noah kusut berantakan dan bentuknya sudah tidak jelas. Anak itu sibuk menarik-narik kain dasinya sambil mengerucutkan bibir kesal. “Ini susah…” gerutunya. “Kenapa orang nikah harus pakai tali beginian sih?” Clara terkekeh pelan. Pagi itu Noah mengenakan tuxedo kecil berwarna hitam dengan kemeja putih rapi yang membuatnya terlihat seperti versi mini Raymond. Rambutnya disisir ke samping dengan sedikit gel agar tetap rapi, sementara pipinya yang masih bulat membuat wajah seriusnya justru terlihat lucu. Clara berjalan mendekat lalu
Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa
Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gelap malam. Yang tersisa hanya napas Clara yang memburu dan tubuhnya yang masih gemetar hebat di samping Raymond. Perlahan, dengan kaki yang terasa lemas seperti kehilangan tenaga, Clara melangkah mendekati tepi gedung. Pandangannya kosong, sementara air mata masih membasahi pipinya tanpa henti. Raymond yang berdiri di belakangnya langsung menahan lengannya cepat. “Jangan,” ucapnya rendah, suaranya serak karena kelelahan. Namun Clara tetap menunduk ke bawah. Dan detik berikutnya, napasnya langsung tercekat. Tubuh Thomas terlentang di halaman belakang gedung kosong itu, jatuh menghantam beton keras beberapa puluh meter di bawah sana. Lampu jalan yang redup menerangi tubuhnya yang tidak b
“Aku baik padamu…” suaranya mulai pecah. “Aku selalu ada untukmu…” Ia tertawa lagi, tetapi kali ini air mata mulai jatuh membasahi pipinya. “Aku membunuh semua orang yang menyakitimu…” “Itu bukan cinta!” bentak Clara sambil menangis. “Itu obsesi!” Thomas langsung terdiam. “Bahkan kau membunuh Kakek Charly!” Tubuh Thomas menegang. “Kau hampir membunuh Bibi Janeta!” “Itu karena kamu!” bentak Thomas tiba-tiba. Suaranya menggema penuh emosi yang kacau dan tidak stabil. “Aku takut kehilanganmu!” “Karena aku mencintaimu!” “Tidak!” Clara menggeleng keras sambil menangis. “Cinta tidak menghancurkan orang lain! Cinta tidak membunuh!” Wajah Thomas perlahan berubah hancur. Benar-benar hancur. Sementara itu, diam-diam Clara melirik ke bawah sekilas. Raymond mulai berhasil naik sedikit demi sedikit. Tangan dan tubuhnya sudah naik ke atas. Clara langsung kembali menatap Thomas, mencoba mengulur waktu. “Kalau kau benar mencintaiku…” suaranya bergetar pelan, “…kau t
“RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur oleh air mata. “Raymond! Raymond!” Tangannya mencengkeram pembatas beton dingin saat ia menunduk panik ke bawah. Dadanya terasa nyaris berhenti berdetak. Lalu detik berikutnya— “Ah…” Napas Clara tercekat. Beberapa meter di bawah sana, tubuh Raymond terlihat—pria itu masih hidup. Satu tangannya masih mencengkeram batang besi karatan yang mencuat dari sisi gedung. Tubuh pria itu menggantung di udara gelap, hanya bertahan dengan kekuatan lengannya sendiri. Sepatunya sesekali membentur dinding beton kasar, sementara angin malam terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Wajah Raymond penuh luka dan darah. Napasnya terdengar berat bahkan dari atas. Namun matanya masih terbuka, masih menatap
Tubuh Clara gemetar hebat. “Tidak…” suaranya hancur. Raymond langsung mengangkat tangan menghentikan semua orang. “Turunkan senjata.” “Tapi Tuan—” “SEKARANG!” Bentakan Raymond membuat seluruh anak buahnya terdiam. Perlahan, satu per satu senjata diturunkan. Thomas tersenyum puas melihat itu. “Bagus…” Namun Raymond tidak memedulikan siapa pun selain Clara. Tatapannya melembut sedikit ketika menatap wanita itu. “Clara…” suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari amarah di wajahnya tadi. “Lihat aku.” Clara menangis sambil mengangguk kecil. “Aku takut, Ray…” Kalimat itu menusuk dada Raymond begitu dalam sampai napasnya terasa berat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lirih. “Aku di sini.” Thomas langsung menatap Raymond penuh kebencian. “Kenapa?” suaranya mulai bergetar. “Kenapa dia selalu memilihmu?” Raymond tetap menatap Clara. “Karena dia mencintaiku.” Kalimat itu seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Thomas. Wajah pria itu langsung berubah. Retak. Marah. Dan hancur
Keesokan harinya, cahaya pagi masuk melalui jendela kecil kamar Clara. Udara terasa segar, membawa semangat baru yang tidak ia rasakan sejak lama.Clara berdiri di depan cermin sambil mengenakan pakaian yang diberikan Thomas kemarin—blazer krem itu pas di tubuhnya. Kemeja putih bersih membuatnya te
Beberapa detik hanya ada suara napas di seberang telepon. Jantung Clara tiba-tiba berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Lalu suara seorang wanita terdengar profesional. “Selamat malam. Apakah ini Nona Clara Amanda?”Clara langsung duduk lebih tegak di tepi tempat tidur. “Iya… benar saya.”“
Jennifer meletakkan dokumen itu di meja, lalu menatap Clara dengan lebih tajam.“Pertama,” katanya datar, “siapa namamu?”Clara menelan ludah. “Clara.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, seolah ingin menjaga jarak dengan masa lalunya. “Tapi… panggil saja saya Amanda.”Jennifer menatapnya
Nama itu terdengar asing di telinganya, namun cara Bibi Janeta menyebutnya membuat Clara merasa tempat itu cukup besar dan bergengsi. Bibi Janeta mengangguk sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir mereka.“Iya. Hotel itu baru dibangun beberapa tahun yang lalu. Besar sekali, banyak sekali ora







