Share

Bingung

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-27 18:02:40

Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.

“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.

Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”

Ddrrrttt… Ddrrttt…

Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.

Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.

Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tak Ingin Kehilangan

    Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gelap malam. Yang tersisa hanya napas Clara yang memburu dan tubuhnya yang masih gemetar hebat di samping Raymond. Perlahan, dengan kaki yang terasa lemas seperti kehilangan tenaga, Clara melangkah mendekati tepi gedung. Pandangannya kosong, sementara air mata masih membasahi pipinya tanpa henti. Raymond yang berdiri di belakangnya langsung menahan lengannya cepat. “Jangan,” ucapnya rendah, suaranya serak karena kelelahan. Namun Clara tetap menunduk ke bawah. Dan detik berikutnya, napasnya langsung tercekat. Tubuh Thomas terlentang di halaman belakang gedung kosong itu, jatuh menghantam beton keras beberapa puluh meter di bawah sana. Lampu jalan yang redup menerangi tubuhnya yang tidak b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bunuh Diri

    “Aku baik padamu…” suaranya mulai pecah. “Aku selalu ada untukmu…” Ia tertawa lagi, tetapi kali ini air mata mulai jatuh membasahi pipinya. “Aku membunuh semua orang yang menyakitimu…” “Itu bukan cinta!” bentak Clara sambil menangis. “Itu obsesi!” Thomas langsung terdiam. “Bahkan kau membunuh Kakek Charly!” Tubuh Thomas menegang. “Kau hampir membunuh Bibi Janeta!” “Itu karena kamu!” bentak Thomas tiba-tiba. Suaranya menggema penuh emosi yang kacau dan tidak stabil. “Aku takut kehilanganmu!” “Karena aku mencintaimu!” “Tidak!” Clara menggeleng keras sambil menangis. “Cinta tidak menghancurkan orang lain! Cinta tidak membunuh!” Wajah Thomas perlahan berubah hancur. Benar-benar hancur. Sementara itu, diam-diam Clara melirik ke bawah sekilas. Raymond mulai berhasil naik sedikit demi sedikit. Tangan dan tubuhnya sudah naik ke atas. Clara langsung kembali menatap Thomas, mencoba mengulur waktu. “Kalau kau benar mencintaiku…” suaranya bergetar pelan, “…kau t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hancurnya Hati Sang Psikopat

    “RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur oleh air mata. “Raymond! Raymond!” Tangannya mencengkeram pembatas beton dingin saat ia menunduk panik ke bawah. Dadanya terasa nyaris berhenti berdetak. Lalu detik berikutnya— “Ah…” Napas Clara tercekat. Beberapa meter di bawah sana, tubuh Raymond terlihat—pria itu masih hidup. Satu tangannya masih mencengkeram batang besi karatan yang mencuat dari sisi gedung. Tubuh pria itu menggantung di udara gelap, hanya bertahan dengan kekuatan lengannya sendiri. Sepatunya sesekali membentur dinding beton kasar, sementara angin malam terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Wajah Raymond penuh luka dan darah. Napasnya terdengar berat bahkan dari atas. Namun matanya masih terbuka, masih menatap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Terjatuh

    Tubuh Clara gemetar hebat. “Tidak…” suaranya hancur. Raymond langsung mengangkat tangan menghentikan semua orang. “Turunkan senjata.” “Tapi Tuan—” “SEKARANG!” Bentakan Raymond membuat seluruh anak buahnya terdiam. Perlahan, satu per satu senjata diturunkan. Thomas tersenyum puas melihat itu. “Bagus…” Namun Raymond tidak memedulikan siapa pun selain Clara. Tatapannya melembut sedikit ketika menatap wanita itu. “Clara…” suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari amarah di wajahnya tadi. “Lihat aku.” Clara menangis sambil mengangguk kecil. “Aku takut, Ray…” Kalimat itu menusuk dada Raymond begitu dalam sampai napasnya terasa berat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lirih. “Aku di sini.” Thomas langsung menatap Raymond penuh kebencian. “Kenapa?” suaranya mulai bergetar. “Kenapa dia selalu memilihmu?” Raymond tetap menatap Clara. “Karena dia mencintaiku.” Kalimat itu seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Thomas. Wajah pria itu langsung berubah. Retak. Marah. Dan hancur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Atap Gedung

    Suara langkah kaki itu semakin jelas menggema di sepanjang lorong tangga gedung tua yang lembap dan gelap. Dentumannya berat, cepat, dan penuh amarah, bercampur dengan suara napas memburu yang memantul di dinding beton kusam. Tap. Tap. Tap. Thomas langsung menoleh tajam ke arah bawah tangga. Rahangnya mengeras seketika, sementara jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Clara semakin kuat sampai wanita itu meringis kesakitan. Sedangkan Clara membelalak penuh harapan. Lalu suara itu akhirnya terdengar. “CLARA!” Suara Raymond mengguncang seluruh bangunan kosong itu. Tubuh Clara langsung tersentak keras. Air matanya jatuh semakin deras, sementara dadanya terasa sesak karena campuran takut, lega, dan putus asa yang datang bersamaan. “Raymond!” teriaknya tanpa sadar. Dan hanya dalam satu detik, wajah Thomas berubah mengerikan. Sorot matanya yang tadi sudah tidak stabil kini benar-benar dipenuhi emosi brutal. Ada kemarahan, kecemburuan, dan kegilaan yang bercampur menjadi sesu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ingin Pergi

    Clara menatap layar ponselnya lama sekali sebelum akhirnya ibu jarinya bergerak. Dadanya masih terasa sesak, perihnya belum benar-benar hilang, bukan hanya di tubuhnya tetapi jauh lebih dalam dari itu. Nama tanpa identitas itu masih terpampang di layar.Ia menekan tombol panggil.Nada sambung terde

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bidak Para Penguasa

    Raymond mematung sejenak. Waktu terasa terhenti detik itu juga. Sofia dan Ken spontan menutup mulut mereka dengan tangan, napas mereka tercekat. Raymond melangkah masuk perlahan. Tangannya bergerak refleks ke pinggang. Dan dalam satu gerakan cepat, pistol telah berada dalam genggamannya, moncongny

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rencana Adrian dan Sofia

    Semuanya gelap dan berat. Seperti tubuh Clara tenggelam jauh ke dasar laut yang tak bertepi.Kesadarannya mengapung perlahan, naik sedikit demi sedikit ke permukaan. Kepalanya berdenyut hebat, napasnya terasa sesak oleh sisa aroma menyengat yang masih menempel di rongga hidungnya. Ia perlahan menc

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Belum Pulang

    Keesokan harinya, mentari pagi menyusup lembut melalui tirai kamar Clara, tetapi hatinya tetap terasa berat seperti diselimuti kabut yang tak kunjung menipis. Ia berdiri lama di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang sedikit pucat namun berusaha tegar. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status