ログインDi Istana Elang yang dulunya dingin dan angker, kini suasana berubah drastis. Alun-alun istana dipenuhi oleh para pejuang Merpati yang melantunkan lagu-lagu kuno—nada yang sempat terkubur oleh ketakutan selama bertahun-tahun.Api unggun menari-nari, memantulkan bayangan hangat di dinding-dinding batu, sementara gelak tawa dan aroma masakan memenuhi udara.Namun, di dalam ruang utama yang megah, suasana sangat kontras. Roni duduk di kursi kayu berukir, bahunya merosot menahan lelah yang meresap hingga ke tulang.Di balik kemejanya, Hati Bumi dan liontin itu masih berdenyut ritmis, seolah jantung kedua yang mencoba menyinkronkan diri dengan detak jantungnya sendiri.Eldrin melangkah masuk, memecah keheningan dengan denting cangkir. Ia meletakkan secangkir minuman herbal yang mengepul hangat di depan Roni."Minumlah. Kau layak mendapatkan istirahat panjang setelah hari ini, Nak. Kaisar sudah tumbang. Kekuasaannya—yang dulu terasa abadi—kini hanyalah puing-puing sejarah."Roni meraih cang
Langit di atas Istana Elang masih kelabu, menyisakan sisa-sisa awan badai yang menggantung rendah. Namun, suasana di alun-alun jauh dari kesan muram.Udara pagi itu terasa tegang, dan sarat dengan aroma logam serta tanah basah. Ini adalah hari penentuan—hari di mana mereka akan mengakhiri mimpi buruk yang telah mencengkeram tanah ini selama bertahun-tahun.Roni berdiri di atas balkon batu yang menjorok, menatap lautan wajah di bawahnya. Ada para pejuang Merpati yang wajahnya dipenuhi parut luka, sekutu dari desa tersembunyi yang membawa busur-busur kayu jati, hingga tim intinya yang setia. Di dadanya, Liontin dan Hati Bumi berdenyut seirama, memberikan aliran kekuatan yang hangat sekaligus membebani pundaknya dengan tanggung jawab yang tak terlukiskan.Ia menarik napas panjang, meresapi setiap detak jantungnya yang berpacu."Kita sudah merebut Istana dan Gunung Hitam, tapi pertempuran sesungguhnya menunggu di sana," suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang membuat ribuan orang
Kemenangan di Gunung Hitam memang membawa secercah harapan, namun di balik tembok-tembok istana yang kini berada di bawah kendali mereka, suasana belum sepenuhnya tenang.Roni berdiri terpaku di balkon utama, matanya menatap tajam ke arah ufuk timur di mana dimensi mulai memancarkan cahaya samar.Sensasi hangat dari Hati Bumi dan liontin yang tersemat di dadanya terasa semakin menyatu. Namun, kebersamaan itu datang dengan harga, bisikan Mother Earth kini terdengar lebih sering, mendesak, dan begitu jelas di benaknya, seolah sang entitas sedang menuntut sesuatu yang belum terpenuhi.Eldrin melangkah pelan mendekat, membawa secangkir ramuan hangat yang uapnya masih mengepul lembut."Minum dulu, Nak," ucapnya dengan nada kebapakan. "Tubuhmu butuh waktu untuk pulih setelah dua pertempuran hebat itu. Jangan terlalu memforsir diri."Roni menerima gelas tanah liat itu, jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh hangatnya keramik. Ia memberikan senyum tipis yang tak sampai ke matanya."Terima k
Gunung Hitam itu seolah hidup, menjulang angkuh dengan aura menyesakkan yang memancar dari setiap celah batunya. Kabut hitam pekat bergulung-gulung menuruni lereng, tampak seperti jubah maut yang siap membungkam siapa pun yang berani mendekat.Roni berdiri di garis depan, matanya tajam membelah kegelapan. Di belakangnya, tim inti—Dewi, Shinta, Kirana, serta dua pejuang terbaik dari Desa Merpati—berbaris rapat.Di dalam dada Roni, "Hati Bumi" berdenyut kencang, sebuah ritme konstan yang terasa seperti peringatan akan bahaya yang kian mendekat."Tetap dalam formasi dan waspada," bisik Roni pelan, tangannya terangkat memberi isyarat berhenti. "Kaisar bukan orang bodoh. Dia pasti sudah menebar jebakan di setiap sudut tikungan gunung ini."Kirana, yang sedari tadi terbang rendah sebagai mata-mata, mendarat dengan gerakan sehalus bulu."Tuan, di depan ada gerbang energi hitam. Penjaganya bukan prajurit biasa, ada puluhan elit di sana. Kita tidak mungkin menembusnya lewat jalur utama."Shint
Istana Elang yang baru saja jatuh ke tangan mereka tidak terasa seperti kemenangan yang sesungguhnya. Dinding-dinding batu yang biasanya kokoh kini terasa dingin, seolah enggan mengakui penguasa baru.Obor-obor hijau yang kini berkobar di setiap sudut memang telah membuang aura hitam sang Kaisar, namun bayangan-bayangan masa lalu seakan masih betah mendekam di sela-sela lantai yang retak.Roni berdiri mematung di balkon utama, menatap hamparan dimensi gelap yang membentang di bawah sana. Angin dingin menusuk kulitnya, tapi itu tidak sebanding dengan sensasi detak di dadanya.Hati Bumi itu berdenyut pelan, konstan, dan terasa semakin berat—seolah sebuah peringatan bahwa kemenangan ini hanyalah permukaan dari badai yang jauh lebih besar.Tangan Eldrin mendarat di bahunya, memberikan tekanan yang menenangkan."Kau tidak perlu meragukan dirimu sendiri, Roni. Apa yang kita lakukan malam ini adalah sejarah. Simbol kekuasaan mereka selama ratusan tahun akhirnya runtuh di bawah telapak kaki k
Ruang tengah Istana Elang bukan lagi sekadar ruangan, itu adalah pusat badai. Gema benturan energi beradu dengan dentuman keras yang membuat struktur bangunan berguncang hebat.Roni berdiri tegak di barisan depan, sosoknya diselimuti pendaran hijau pucat dari Hati Bumi dan liontin kuno yang terus berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Cahaya itu bukan hanya pelindung, melainkan perisai hidup yang menolak untuk padam.Di seberang ruangan, Kaisar Elang berdiri dengan angkuh. Sayap raksasanya terbentang, menutupi sebagian besar cahaya obor di dinding, menciptakan siluet yang menekan nurani. Aura hitam pekat yang ia pancarkan membuat udara terasa dingin, seolah-olah oksigen di ruangan itu dibekukan oleh kebenciannya."Kau berani mencemari sarangku dengan napasmu yang fana itu," suara Kaisar menggelegar, mengguncang debu dari langit-langit. "Kekuatan Mother Earth yang kau bawa hanyalah benih yang layu. Kau datang ke sini bukan untuk membebaskan, tapi untuk menjemput kematian, Ramalan."
Pagi kedua dalam perjalanan menuju Desa Merpati Tersembunyi terasa jauh lebih menuntut. Kabut tipis di Jalan Utara masih menggantung rendah, seolah enggan menyingkap jalan yang harus mereka tempuh.Roni melangkah di barisan depan bersama Eldrin, tubuhnya masih menyimpan sisa kelelahan setelah perte
Energi dari Hati Bumi menyeruak, menghantam tubuh Roni dengan tekanan yang luar biasa. Itu bukan sekadar kekuatan, melainkan memori yang menyakitkan—ratapan ras-ras kuno yang telah lama punah, isak tangis anak-anak Merpati, hingga dendam yang membusuk selama berabad-abad.Lutut Roni bergetar hebat,
Kuil tua itu terasa hidup. Dinding-dinding batunya berdenyut seirama napas yang berat. Udara lembap membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga liar yang ganjil.Eldrin memimpin jalan, obor mantra hijau di tangannya membelah kegelapan. Di belakangnya, Roni melangkah waspada. Liontin dan cincinn
Paginya, Roni duduk di ruang tamu, tubuhnya masih terasa kaku meski ramuan Dewi mulai meredakan nyerinya. Setiap gerak kecil membuatnya sadar betapa tipis garis antara hidup dan mati yang mereka lalui tadi malam.Eldrin berdiri mematung di dekat jendela, tatapannya jauh menerawang ke arah kota yang







