Share

Menjadi Tumbal demi Adikku
Menjadi Tumbal demi Adikku
Penulis: Wanto

Bab 1

Penulis: Wanto
Ibu memasukkannya ke dalam mobil evakuasi, kemudian menoleh kepadaku dengan nada datar.

"Kamu tetap di sini. Setelah topan berlalu, adikmu pasti akan tahu bahwa lain kali dia harus pulang lebih awal."

Seluruh warga kota kecil itu sudah mengungsi.

Satu demi satu genting beterbangan dari atap rumah, disapu angin yang makin menggila.

Aku dijadikan tumbal penerima hukuman, agar adik jera. Begitulah cara Ibu mendidik kami.

Hanya saja, kali ini si "tumbal" benar-benar akan mati.

Sudah puas sekarang?

….

"Dasar si Susan! Dia pergi ke mana lagi? Topan malam ini sangat dahsyat!"

Ibu mondar-mandir di ruang tengah dengan gelisah.

Di luar jendela, langit sudah gelap gulita. Angin menerbangkan baskom besi dari halaman, membuatnya menggelinding ke mana-mana dan berdentang setiap kali menghantam kaki dinding.

Peringatan dari pengeras suara desa sudah terdengar tiga kali.

[Peringatan bencana. Seluruh warga harus mengungsi. Mobil evakuasi akan tiba di pintu masuk desa dalam dua puluh menit!]

Tiba-tiba, Ibu menoleh kepadaku. Kemarahan tampak jelas di matanya.

"Kamu! Cepat keluar, cari adikmu!"

Aku menoleh ke luar jendela.

Hujan turun begitu deras, seolah seluruh langit sedang menumpahkan air ke bumi.

Pohon-pohon pisang nyaris rebah menyentuh tanah diterjang angin. Kandang ayam di dekat tembok halaman juga sudah terbalik, membuat beberapa ekor ayam berlarian sambil mengepakkan sayap, berusaha mencari perlindungan di bawah atap.

"Bu, tadi adik bilang dia pergi main ke rumah temannya ... Lagi pula, sekarang di luar …."

"Aku nggak peduli dia pergi ke rumah siapa! Sekarang juga cari dia dan bawa pulang! Kalau nggak ketemu, jangan pulang sekalian!"

Ibu tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan ucapanku.

Tanpa sadar, aku menoleh kepada Ayah yang duduk di sudut ruangan.

Bibirnya bergerak-gerak, seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Anginnya memang terlalu kencang. Gimana kalau kita tunggu sebentar saja ...."

"Diam!"

Ibu bahkan tidak menoleh kepadanya. "Kalau Susan sampai kenapa-kenapa, apa kamu mau tanggung jawab?"

Ayah langsung bungkam.

Aku mengenakan sandal yang solnya sudah terlepas. Begitu pintu kubuka, hembusan angin langsung menerjang hingga nyaris membuatku terjungkal.

Aku berpegangan pada dinding dan berjalan tertatih, berusaha menembus genangan air yang sudah setinggi mata kaki.

Aku baru saja hendak berlari menuju rumah teman adikku di ujung barat desa ketika sebuah suara ceria terdengar dari belakang.

"Wah, anginnya kencang! Sejuk banget!"

Aku sontak menoleh.

Adikku berlari keluar dari ujung gang. Rambutnya basah kuyup dan menempel di wajah, tetapi dia justru tersenyum lebar, sama sekali tidak terlihat takut.

Entah sejak kapan, Ibu sudah berlari sampai ke depan pintu.

Dia langsung memeluk adikku, lalu meraba tubuhnya dari kepala hingga kaki untuk memastikan tidak ada bagian yang terluka. Suaranya penuh dengan kasih sayang dan kelegaan.

"Akhirnya kamu pulang juga! Kamu kehujanan? Dingin? Cepat masuk dan ganti baju. Jangan sampai masuk angin."

Aku berdiri di tengah hujan deras, seluruh tubuhku basah kuyup dan menggigil diterpa angin.

Ibu bahkan tidak melirikku sedikit pun.

Tepat saat itu, mobil evakuasi tiba.

Cahaya lampunya menembus tirai hujan, sementara klakson terus berbunyi mendesak.

"Semua warga segera naik! Evakuasi darurat!"

Ibu membungkus tubuh adikku dengan selimut, lalu membawanya masuk ke kursi belakang.

Aku ikut mendekat dan baru saja hendak menaiki pijakan mobil ketika ….

"Kamu mau apa?"

Ibu langsung menghalangi langkahku.

"Kamu tahu sendiri aturannya. Adikmu terlalu asyik main sampai hampir nggak bisa pulang malam ini. Kamu tetap di sini. Biar dia tahu bagaimana rasanya takut."

Aku terpaku di tempat. Di dalam mobil, adikku sudah panik. Dia menempelkan wajah ke jendela sambil berteriak, "Ibu, jangan! Kakak akan celaka kalau ditinggal! Topan di luar ...."

"Sekarang kamu tahu rasanya takut? Waktu pergi main tadi, kenapa nggak takut?!"

Ibu membentaknya. "Kakakmu dihukum gara-gara kamu!"

Adikku langsung menciut. Air matanya mengalir deras.

Seorang warga yang berdiri di samping kami akhirnya tidak tahan melihatnya.

"Bu Elsa, ini topan level delapan belas! Orang bisa mati! Rumahmu yang pakai dinding bata dan beratap genting itu nggak mungkin bertahan!"

Ibu tetap tak bergeming.

Dia berbalik masuk ke rumah. Tak lama kemudian, dia keluar sambil menggendong Goldy, anjing besar keluarga kami.

Goldy dimasukkannya ke tempat kosong terakhir di dalam mobil. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Goldy ini nggak tahu mencari tempat berlindung. Aku harus bawa dia juga." Setelah itu, Ibu menatapku sekilas. "Sandra, kamu manusia! Kamu tahu cara mencari tempat untuk berlindung!"

Ayah yang duduk di kursi depan membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu.

Namun, begitu Ibu melirik tajam ke arahnya, dia langsung memalingkan wajah dan memilih menatap ke luar jendela.

Pintu mobil pun ditutup.

Dari balik kaca yang buram oleh air hujan, aku melihat adikku menempelkan wajah ke jendela sambil mengetuk-ngetuknya sekuat tenaga. Mulutnya terus bergerak, meneriakkan sesuatu kepadaku.

Namun, suara angin terlalu kencang. Aku tidak bisa mendengarnya.

Ibu menahan kepala adikku agar dia tidak bisa lagi melihat ke arahku.

Mesin mobil menyala. Lampu belakangnya membentuk dua garis merah di tengah derasnya hujan, lalu perlahan menjauh dan makin mengecil.

Sampai akhirnya, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Seluruh lampu di Kota Langsa padam satu per satu.

Tinggallah aku seorang diri, berdiri di tengah hujan dan amukan angin.

Lalu, dari tengah kegelapan, terdengar suara seseorang berteriak.

"Aku masih punya tempat!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 9

    Pada hari pemakamanku, hujan deras mengguyur Kota Langsa tanpa henti.Tim penyelamat mengantarkan barang-barang peninggalanku. Hanya sebuah buku kecil yang sudah mengembang karena basah kuyup.Itulah buku harianku.Ayah menyeret kaki pincangnya dengan susah payah. Setelah beberapa kali terhuyung, akhirnya dia berlutut di depan makamku.Adikku juga bergegas pulang dari luar kota. Tubuhnya kusut dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang.Ibu terduduk lemas di tanah yang basah dan berlumpur, memeluk erat buku harianku.Dengan tangan gemetar, Ayah membuka halaman pertama.Di sana tertulis catatan tanganku saat berusia delapan tahun.[Hari ini adik memecahkan vas bunga. Ibu sangat marah.][Aku sengaja bilang aku yang mecahin. Ibu mukul aku tiga kali dengan bilah bambu. Susan ketakutan sampai menangis dan berjanji tidak akan memecahkan barang lagi. Syukurlah, adik jadi jera. Aku tidak merasa sakit.]Halaman berikutnya berisi catatan saat aku berusia sepuluh tahun.[Hari ini adik diam-dia

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 8

    Bulan pertama setelah Ayah pindah bekerja di pabrik batu bata tua di luar kota, kakinya tertimpa tumpukan batu bata lumpur yang roboh hingga patah.Nyawanya memang berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi sejak saat itu dia menjadi pincang.Karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan selanjutnya, dia diusir dari rumah sakit dan terpaksa kembali terpincang-pincang ke gubuk reyot di ujung desa.Setiap malam, suara tangisnya yang memilukan terdengar dari dalam gubuk itu.Setiap kali ada tetangga yang lewat, mereka bisa mendengar suara Ayah berbicara sendiri dari dalam."Sandra ... Ayah tahu Ayah sudah salah ... seharusnya waktu itu Ayah tarik kamu naik ke mobil ...."Namun, tak akan pernah ada lagi yang menjawabnya.Adikku pun akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.Sejak kecil, selalu ada aku yang menanggung kesalahannya. Karena itu, dia tidak pernah benar-benar tahu apa itu aturan, apalagi memahami arti bertanggung jawab.

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 7

    Adikku menarik kopernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ayah buru-buru mengejarnya.Baru sampai di ujung gang, Ayah berhasil menghadangnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan segepok uang kertas yang sudah kusut, lalu memaksa memasukkannya ke tangan adikku."Susan! Dengar Ayah. Pulanglah!"Mata Ayah memerah, suaranya bergetar menahan kepedihan."Kakakmu sudah nggak ada. Ayah nggak boleh kehilangan kamu juga .... Kamu pasti sangat terpukul. Ayah juga sama menderitanya! Waktu itu Ayah sebenarnya ingin nyelamatin kakakmu, tapi ibumu ...."Adikku menunduk dan memandangi uang yang tergenggam di tangannya.Sesaat kemudian, dia mengangkat kepala dan menepis tangan Ayah."Berhenti berpura-pura!"Tatapan adikku dipenuhi kebencian sambil tertawa sinis."Waktu Ibu nekan kepala Kakak ke dalam sungai, Ayah ngapain?""Waktu Ibu maksa Kakak makan beras mentah sampai mulutnya berdarah, Ayah ngapain?""Hari itu, saat semua orang dievakuasi, bahkan Goldy saja dapat tempat untuk duduk. Kakak justr

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 6

    Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!""Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras."Mendidik? Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara seperti ini?!""Badai topan level delapan belas! Kamu ninggalin dia sendirian di zona berbahaya. Bahkan setelah sampai di rumah sakit, kamu masih nahan surat persetujuan dan menolak menandatanganinya! Ini bukan mendidik, tapi mengantarkan anakmu sendiri menuju kematian!"Orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, sebagian bahkan terang-terangan mencaci maki Ibu.Wajah Ibu memerah karena marah, tetapi dia masih terus berteriak, "Aku ibu kandungnya! Mana mungk

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 5

    Ibu masih menggenggam erat surat penyesalan yang sudah basah kuyup itu.Selama dua detik, dia hanya terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya."Dokter, Anda bersekongkol dengan anak ini untuk bohongi saya, ya? Sejak kecil dia memang pandai berpura-pura."Tanpa memedulikan siapa pun, dia langsung melangkah hendak menerobos masuk ke ruang gawat darurat."Sandra! Bangun! Jangan pura-pura mati di sini! Kalau kamu tetap nggak bangun, jangan harap Ibu beliin satu pun dari dua gaun baru itu untukmu!"Suasana di dalam ruang gawat darurat mendadak sunyi.Tak seorang pun menghiraukannya.Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih.Ibu segera menghampiri dan menarik kain putih itu dengan tergesa-gesa.Tubuhku terbaring diam di atas ranjang. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru, rambutku menempel di dahi, dan tetesan air dingin masih mengalir dari ujungnya.Dengan tangan gemetar, Ibu mengulurkan jari ke bawah hidungku, seolah ma

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 4

    Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius."Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"Semua orang di sana sontak terdiam."Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status