Share

Bab 2

Author: Wanto
Suara itu berasal dari mobil yang berada paling belakang.

Aku memicingkan mata, berusaha melihat menembus derasnya hujan. Namun, pandanganku sudah terlalu buram untuk menangkap sesuatu dengan jelas.

Dari balik pintu mobil, muncul sesosok tubuh yang membungkuk. Sosok itu kemudian melambaikan tangan ke arahku.

Ternyata, orang itu adalah Kakek Ferdy, tetanggaku.

Kakek Ferdy tidak pernah memiliki anak. Istrinya pun sudah lama meninggal dunia. Sejak dulu, dia hidup seorang diri di ujung desa.

Seingatku, sejak aku mulai mengenal dunia, Kakek Ferdy sudah menyayangiku seperti cucunya sendiri.

Setiap kali Ibu menghukumku dan melarangku makan, Kakek Ferdy selalu diam-diam menyelipkan semangkuk bubur hangat lewat pintu belakang, menunggu sampai Ibu tidak memperhatikan.

Setiap Tahun Baru, dia tak pernah lupa memberi aku dan adikku masing-masing sebuah amplop. Namun, tanpa sepengetahuan siapa pun, selalu ada uang 20 ribu tambahan yang diam-diam diselipkannya ke dalam amplop milikku.

Kini, dia bergeser dari tempat duduknya, berdesakan agar bisa menyisakan sedikit ruang untukku, lalu berseru, "Nak, cepat naik! Sempit sedikit nggak masalah!"

Aku pun segera berlari menghampiri mobil itu.

Kakek Ferdy bahkan sudah mengulurkan tangan untuk membantuku masuk.

Namun, tepat ketika jemariku hampir meraih tangannya, teriakan Ibu tiba-tiba terdengar dari mobil yang berada di depan. "Kakek Ferdy itu penculik!"

Entah sejak kapan jendela mobilnya sudah diturunkan. Ibu menjulurkan separuh tubuhnya keluar, menunjuk Kakek Ferdy sambil berteriak sekeras-kerasnya,

"Dia mau culik putriku! Jangan biarin anakku naik ke mobilnya!"

Tanganku seketika terhenti di udara.

Kakek Ferdy pun terdiam. Selama tiga detik penuh, dia hanya menatap Ibu dengan wajah tak percaya.

Selama tujuh puluh dua tahun hidupnya, dia menghabiskan seluruh hidupnya di desa ini.

Namun, belum pernah sekali pun ada orang yang menuduhnya seperti itu.

"Bu ... Bu Elsa, kamu ngomong apa, sih?"

Suara Kakek Ferdy bergetar, seolah masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Aku ini Ferdy Sastro! Sudah berapa lama aku tinggal di sebelah rumahmu? Waktu ayahmu masih hidup, dia bahkan manggil aku Kakak!"

"Aku nggak peduli siapa kamu! Kamu hidup sebatang kara dan tiba-tiba kamu begitu perhatian sama anak perempuan orang. Siapa yang tahu apa sebenarnya niatmu?"

Perkataan Ibu sontak membuat suasana di dalam mobil gempar.

"Elsa, kamu sudah gila, ya? Om Ferdy yang ikut ngasuh kamu sejak kecil!"

"Benar! Tega banget kamu bilang begitu?"

Seorang bibi langsung bangkit dan memarahi Ibu.

"Peringatan bencana sudah mencapai level delapan belas! Rumahmu yang beratap genting itu bisa diterbangin angin dalam sekejap! Apa kamu benar-benar mau mempertaruhkan nyawa putrimu sendiri?"

Kakek Ferdy begitu murka sampai wajahnya memucat. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia menunjuk Ibu.

"Aku bersikap baik pada Sandra karena aku kasihan sama dia! Semua orang di desa tahu gimana kamu perlakukan dia!"

"Dia putriku! Bagaimana aku mendidiknya bukan urusanmu!"

Ibu bahkan tidak berkedip. "Putriku akan lebih aman kalau tetap berada di rumahnya sendiri!"

Aku berdiri sendirian di tengah hujan deras, menatap mobil tempat Ibu berada.

Ayah duduk di kursi penumpang depan. Dari kejauhan, kulihat tangannya perlahan meraih gagang pintu.

Namun, sebelum sempat membukanya, Ibu menoleh dan menatapnya.

"Kalau kamu berani buka pintu itu, besok juga akan kubawa kedua putri kita pulang ke rumah orang tuaku. Setelah itu, jangan pernah berharap bisa ketemu mereka lagi seumur hidupmu."

Jari-jari Ayah yang semula menggenggam gagang pintu perlahan mengendur, satu demi satu.

Akhirnya dia memalingkan wajah dan memilih untuk tidak menatapku lagi.

Aku tetap berdiri di tempat. Hujan terus mengguyur kepalaku, mengalir masuk ke mata dan membasahi seluruh wajah. Aku bahkan tidak tahu apakah yang mengalir di pipiku itu air hujan atau sesuatu yang lain.

Kepala tim penyelamat turun dari mobil pertama. Begitu melihat keadaan langit, wajahnya seketika berubah pucat dan tegang.

"Pemberitahuan terakhir! Pusat topan akan melintasi wilayah ini satu jam lagi! Kalau kalian nggak segera pergi, setelah itu nggak akan ada seorang pun yang bisa keluar!"

Dua warga desa segera menopang Kakek Ferdy dan membawanya kembali ke dalam mobil.

Lelaki tua itu mencengkeram kusen pintu erat-erat, lalu berteriak kepadaku, "Nak, lari! Pergilah ke balai leluhur di ujung desa! Bangunannya terbuat dari batu! Tempat itu masih bisa bertahan!"

"Kamu dengar, 'kan?! Pergilah ke balai leluhur ...."

Pintu mobil akhirnya ditutup dari dalam.

Satu demi satu, mesin mobil mulai menyala.

Aku hanya berdiri di tempat, memandangi lampu belakang mobil-mobil itu yang perlahan menjauh, lalu menghilang satu per satu.

Sampai akhirnya, lampu terakhir pun lenyap dari pandangan.

Seluruh Kota Langsa seketika jatuh ke dalam kegelapan.

Aku berbalik dan berlari menuju ujung desa.

Balai leluhur yang dimaksud Kakek Ferdy berada jauh di bagian terdalam desa. Untuk mencapainya, aku harus melewati seluruh jalan tua.

Namun, angin yang mengamuk terlalu kuat. Aku bahkan tak sanggup berlari. Setiap kali melangkah, aku harus berpegangan pada dinding agar tidak terseret hembusannya.

Genting-genting beterbangan dari atas kepalaku satu demi satu, kemudian pecah berkeping-keping begitu menghantam tanah.

Tak lama kemudian, angin mencabut pohon beringin besar di tengah jalan tua hingga ke akar-akarnya. Pohon itu tumbang melintang di jalan dan menutup seluruh jalanku.

Aku tidak punya pilihan selain kembali ke rumah.

Atap genteng rumah itu kini tinggal separuh.

Air hujan langsung tercurah masuk melalui bagian yang terbuka dan menggenangi seluruh lantai ruang utama.

Aku segera meringkuk di sudut bawah tungku dapur.

Tiga sisinya masih terlindungi dinding bata, sementara lempengan beton di atasnya menjadi satu-satunya pelindung yang tersisa untuk menjaga kepalaku dari hujan.

Namun, air tetap merembes masuk melalui celah-celah pintu dan dinding.

Mula-mula, air hanya menggenangi mata kaki. Perlahan, permukaannya terus meninggi hingga mencapai betis.

Aku memeluk lutut erat-erat dan meringkuk serapat mungkin. Seluruh tubuhku gemetar hebat sampai gigiku bergemeletuk menahan dingin.

Tepat pada saat itulah, ponsel yang tersimpan di saku bajuku tiba-tiba berdering.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 9

    Pada hari pemakamanku, hujan deras mengguyur Kota Langsa tanpa henti.Tim penyelamat mengantarkan barang-barang peninggalanku. Hanya sebuah buku kecil yang sudah mengembang karena basah kuyup.Itulah buku harianku.Ayah menyeret kaki pincangnya dengan susah payah. Setelah beberapa kali terhuyung, akhirnya dia berlutut di depan makamku.Adikku juga bergegas pulang dari luar kota. Tubuhnya kusut dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang.Ibu terduduk lemas di tanah yang basah dan berlumpur, memeluk erat buku harianku.Dengan tangan gemetar, Ayah membuka halaman pertama.Di sana tertulis catatan tanganku saat berusia delapan tahun.[Hari ini adik memecahkan vas bunga. Ibu sangat marah.][Aku sengaja bilang aku yang mecahin. Ibu mukul aku tiga kali dengan bilah bambu. Susan ketakutan sampai menangis dan berjanji tidak akan memecahkan barang lagi. Syukurlah, adik jadi jera. Aku tidak merasa sakit.]Halaman berikutnya berisi catatan saat aku berusia sepuluh tahun.[Hari ini adik diam-dia

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 8

    Bulan pertama setelah Ayah pindah bekerja di pabrik batu bata tua di luar kota, kakinya tertimpa tumpukan batu bata lumpur yang roboh hingga patah.Nyawanya memang berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi sejak saat itu dia menjadi pincang.Karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan selanjutnya, dia diusir dari rumah sakit dan terpaksa kembali terpincang-pincang ke gubuk reyot di ujung desa.Setiap malam, suara tangisnya yang memilukan terdengar dari dalam gubuk itu.Setiap kali ada tetangga yang lewat, mereka bisa mendengar suara Ayah berbicara sendiri dari dalam."Sandra ... Ayah tahu Ayah sudah salah ... seharusnya waktu itu Ayah tarik kamu naik ke mobil ...."Namun, tak akan pernah ada lagi yang menjawabnya.Adikku pun akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.Sejak kecil, selalu ada aku yang menanggung kesalahannya. Karena itu, dia tidak pernah benar-benar tahu apa itu aturan, apalagi memahami arti bertanggung jawab.

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 7

    Adikku menarik kopernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ayah buru-buru mengejarnya.Baru sampai di ujung gang, Ayah berhasil menghadangnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan segepok uang kertas yang sudah kusut, lalu memaksa memasukkannya ke tangan adikku."Susan! Dengar Ayah. Pulanglah!"Mata Ayah memerah, suaranya bergetar menahan kepedihan."Kakakmu sudah nggak ada. Ayah nggak boleh kehilangan kamu juga .... Kamu pasti sangat terpukul. Ayah juga sama menderitanya! Waktu itu Ayah sebenarnya ingin nyelamatin kakakmu, tapi ibumu ...."Adikku menunduk dan memandangi uang yang tergenggam di tangannya.Sesaat kemudian, dia mengangkat kepala dan menepis tangan Ayah."Berhenti berpura-pura!"Tatapan adikku dipenuhi kebencian sambil tertawa sinis."Waktu Ibu nekan kepala Kakak ke dalam sungai, Ayah ngapain?""Waktu Ibu maksa Kakak makan beras mentah sampai mulutnya berdarah, Ayah ngapain?""Hari itu, saat semua orang dievakuasi, bahkan Goldy saja dapat tempat untuk duduk. Kakak justr

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 6

    Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!""Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras."Mendidik? Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara seperti ini?!""Badai topan level delapan belas! Kamu ninggalin dia sendirian di zona berbahaya. Bahkan setelah sampai di rumah sakit, kamu masih nahan surat persetujuan dan menolak menandatanganinya! Ini bukan mendidik, tapi mengantarkan anakmu sendiri menuju kematian!"Orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, sebagian bahkan terang-terangan mencaci maki Ibu.Wajah Ibu memerah karena marah, tetapi dia masih terus berteriak, "Aku ibu kandungnya! Mana mungk

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 5

    Ibu masih menggenggam erat surat penyesalan yang sudah basah kuyup itu.Selama dua detik, dia hanya terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya."Dokter, Anda bersekongkol dengan anak ini untuk bohongi saya, ya? Sejak kecil dia memang pandai berpura-pura."Tanpa memedulikan siapa pun, dia langsung melangkah hendak menerobos masuk ke ruang gawat darurat."Sandra! Bangun! Jangan pura-pura mati di sini! Kalau kamu tetap nggak bangun, jangan harap Ibu beliin satu pun dari dua gaun baru itu untukmu!"Suasana di dalam ruang gawat darurat mendadak sunyi.Tak seorang pun menghiraukannya.Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih.Ibu segera menghampiri dan menarik kain putih itu dengan tergesa-gesa.Tubuhku terbaring diam di atas ranjang. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru, rambutku menempel di dahi, dan tetesan air dingin masih mengalir dari ujungnya.Dengan tangan gemetar, Ibu mengulurkan jari ke bawah hidungku, seolah ma

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 4

    Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius."Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"Semua orang di sana sontak terdiam."Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status