LOGINUntuk sesaat tubuh Ajeng membeku kala melihat laki-laki yang ada di foto, itu adalah laki-laki yang sempat jalan dengan Nilam.
‘Hah?’ Awalnya Ajeng pikir lelaki itu sedang berjalan dengan Nilam, tapi nyatanya tidak. Ajeng lihat lelaki itu jalan dengan perempuan lain bersama dengan seorang anak. “Maaf.” Setelah itu Ajeng kembali lanjut jalan. ‘Aku mana mungkin salah lihat, dia laki-laki yang ada di foto.’ ‘Jadi … Nilam ditipu? Atau mungkin Nilam yang menjadi selingkuhan dia?’ Menurut Ajeng itu terlalu mengejutkan. Lelaki yang ada di foto itu sudah punya anak, Ajeng belum bisa langsung menyimpulkan karena tidak punya bukti lebih banyak. Sampai akhirnya, Ajeng kembali mendapatkan foto dari orang suruhannya. Orang itu sudah menemukan lokasi Nilam saat ini. “Apa lagi ini?” Untuk kesekian kalinya Ajeng dibuat shock karena kelakuan Nilam. “Apa dia udah tidak waras?” Kali ini Ajeng mendapatkan foto dimana Nilam sedang berjalan mesra dengan pria tua. “Jadi Nilam setiap hari melakukan itu? Jalan dengan laki-laki tidak jelas?” Ajeng butuh informasi lebih detail. “Aku harus melihatnya secara langsung.” Ajeng segera pergi ke lokasi yang orang suruhannya kirim. Beberapa menit kemudian…. Ajeng sudah sampai di salah satu toko pakaian, hal yang awalnya hanya Ajeng lihat lewat foto, kini Ajeng melihatnya dengan kedua matanya sendiri. Nilam bertingkah manja dengan pria tua itu, bahkan beberapa kali memberikan ciuman yang membuatnya merasa geli. ‘Kalau Mas Haekal tidak sibuk, sudah aku video call. Biar saja dia melihat kelakuan adiknya itu.’ Ajeng merasa kasihan dengan Haekal. ‘Dia pasti akan sangat kecewa.’ ‘Apa Nilam sangat kekurangan uang?’ Padahal setahu Ajeng, Haekal memberikan uang pada Nilam tiga juta perbulan. “Aissshhh.” Ajeng benar-benar tidak tahan melihat pemandangan tersebut. “Mama harus tahu kelakuan putrinya yang sangat dia bangga-banggakan itu.” “Nilam akan menjadi perempuan karir yang punya suami kaya raya?” Ajeng berdecih pelan, benar-benar omong kosong. Bahkan pria kaya-raya pun pasti pilih-pilih, mana ada pria kaya-raya yang dengan suka rela diduakan atau bahkan lebih. Meskipun ada yang mau, rumah tangga seperti apa yang akan mereka jalani? Dipikir-pikir pun sangat tidak masuk akal. Ajeng : [Cari tahu lebih detailnya] “Mampus.” Ajeng mendadak speechless untuk beberapa saat karena salah kirim. ‘Harus hapus untuk semua orang.’ Jantung Ajeng mendadak berdebar kala Haekal membalas pesannya. Husband : [Cari tahu soal apa?] Ajeng bingung bagaimana cara dirinya memberitahu Haekal soal Nilam, masalahnya waktunya tidak tepat. Ajeng : [Kebab, aku dapat informasi ada penjual kebab yang baru buka] Ajeng : [Ada pesan yang tidak terkirim ke kamu, jadi kesannya tidak nyambung] Husband : [Aku pikir kamu salah kirim] Ajeng bukannya ingin berbohong, tapi jika masalah Nilam meledak di waktu yang tidak tepat, itu akan menjadi bom untuk Ajeng. Ada kemungkinan Haekal akan percaya pada Ajeng, tapi bagaimana dengan Juwita? Pasti Ajeng juga ujung-ujungnya yang disalahkan. Mengingat mulut Juwita yang asal jeplak dan suka sekata-kata, dia pasti akan mati-matian membela putrinya. ‘Yang ada mereka akan mempersulit aku.’ Ajeng tidak mau repot padahal jelas-jelas bukan dirinya yang salah. *** Meskipun Haekal pulang agak malam karena banyak kerjaan, tapi pria itu tetap pulang membawakan kebab untuk Ajeng. Haekal juga membelikan istrinya es boba, sengaja diberi banyak es batu agar tetap dingin saat sampai di rumah. Ajeng memakan kebab itu dengan sangat lahap, Haekal pun senang melihatnya. Sampai akhirnya Juwita datang dan merusak suasana. “Kamu ini Ajeng, malam-malam malah makan makanan seperti itu. Pantas saja belum juga hamil,” celetuk Juwita. ‘Apa hubungannya sama hamil?’ Ajeng masih lanjut makan. “Kita belum punya momongan karena kita sepakat mau punya anak setelah kita benar-benar siap,” jelas Haekal. “Alasan, bisa saja Ajeng sulit punya anak. Kamu harus melakukan tes, barangkali dia mandul,” ceplos Juwita. “Mama tidak perlu khawatir, aku seratus persen subur. Mama mau punya cucu berapa? Dua puluh?” sarkas Ajeng. “Kalaupun kamu punya anak, kasihan sekali yang jadi anak kamu,” cibir Juwita. Juwita semakin dendam pada Ajeng karena perempuan itu mulai harus bersih-bersih rumah termasuk menyapu dan mengepel. Di usia yang mulai tua Juwita seharusnya bersantai, padahal itu juga karena Juwita sendiri yang menolak menyewa pembantu. Kerjaan Juwita tiap hari adalah mencari-cari kesalahan Ajeng, mungkin dia baru puas setelah putranya meninggalkan Ajeng. “Jangan terlalu dimasukkan hati, kamu lanjut makan saja,” bisik Haekal. Haekal beralih menatap Juwita. “Aku beli banyak, Mama dan Nilam bisa ambil kalau mau.” “Kalau sudah tua sebaiknya malam-malam begini tidak makan sembarangan, takutnya nanti malah penyakitan,” ucap Ajeng. Juwita mengurungkan niatnya untuk mengambil kebab yang ada di atas meja. “Kamu mengutuk Mama?” “Mengutuk? Aku khawatir pada kesehatan Mama, aku pernah dengar katanya orang jahat matinya susah.” Ajeng tersenyum manis. “Kamu–” “Karena Mama orang baik pasti akan panjang umur.” Ajeng dengan cepat memotong ucapan Juwita. Ajeng tidak terlalu peduli dengan Juwita yang sudah kelewat kesal, Ajeng justru malah sibuk menyuapi Haekal. Mereka mengobrol ringan dan tertawa pelan membuat hati Juwita semakin kepanasan. Juwita merasa kehadirannya tidak dianggap. “Kenapa kamu mencium Haekal dengan mulut kotor kamu itu?” protes Juwita. ‘Semuanya dipermasalahkan.’ Ajeng tidak peduli dan malah semakin bertingkah centil. “Kamu makan banyak hal tapi otot perut kamu masih sangat bagus.” Ajeng dengan entengnya menyentuh perut Haekal. “Lihat kelakuan istri kamu! Bisa-bisanya kamu betah punya istri yang seperti itu. Apa kamu tidak jijik dan muak dengan–” “Ma cukup.” Kadang Haekal sampai heran bagaimana bisa mulut Juwita sangat jahat seperti itu. “Mama perempuan seharusnya Mama tahu kalau hati perempuan itu sensitif,” lanjut Haekal. Ajeng lanjut makan, meskipun begitu kepalanya mengangguk setuju. Ajeng manis dan lucu begitu, Haekal jelas senang punya istri sepertinya. “Terserah.” Juwita pun meninggalkan ruang tamu. “Mulut Mama sangat kejam.” Haekal menghela nafas panjang. “Aku baik-baik saja, kalau perasaan aku sedang buruk kamu cuma perlu senyum dan membelikan aku banyak makanan enak,” ucap Ajeng. ‘Ajeng sangat perhatian.’ Haekal harus segera mengumpulkan uang untuk membeli rumah agar mereka bisa tinggal terpisah. “Apa hari ini Nilam bersikap baik? Dia mau membantu kamu bersih-bersih?” tanya Haekal. “Cuma cuci piring, tapi dia mencuci baju-bajunya sendiri dan milik Mama. Sebagian rumah ini Mama yang menyapu dan mengepelnya,” balas Ajeng. Haekal yakin Juwita tidak akan betah terlalu lama menyapu dan mengepel, mamanya itu pasti akan setuju menyewa pembantu. *** •Keesokan harinya• Ajeng meletakkan makanan di atas meja dan berlari pelan ke arah Haekal. “Aku bantu kamu pasang dasi.” Melihat hal itu Juwita langsung mendengus remeh. “Cuma bisa memasang dasi apa hebatnya?” Ajeng tidak peduli dengan ocehan Juwita, padahal sejak awal menikah dengan Haekal pun Ajeng bisa memasang dasi. Juwita saja yang tidak pernah melihatnya, terlebih sejak mertua dan adik iparnya pindah, Haekal lebih memilih memasang dasi sendiri karena Ajeng sibuk di dapur. “Kenapa pagi ini kamu terlihat sangat senang?” Haekal menarik pelan pinggang istrinya itu membuat posisi mereka semakin dekat. Bersambung….Demi agar tetap waras, Ajeng tidak perlu ambil hati. Ajeng mulai duduk dan sarapan bersama dengan suaminya, masabodo Juwita mogok makan.“Mama selalu seperti itu.” Haekal tidak bisa membuat Juwita berubah, itu bukan hal yang mudah.“Maaf kalau kamu selalu nggak nyaman dengan sikap Mama.” Haekal mengusap sebentar kepala Ajeng.“Nggak masalah.” Ajeng tersenyum seolah itu bukan apa-apa. “Kita mulai makan sekarang?”“Ya.” Sepanjang sarapan fokus mata Haekal lebih banyak tertuju pada Ajeng.Sebenarnya Haekal sangat ingin Juwita dan Nilam akur dengan Ajeng, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mereka akan akur.Terlebih saat kelakuan buruk Nilam akhirnya terbongkar dan perempuan itu malah bicara sembarangan tentang Ajeng.“Kalau kamu bosan di rumah kamu bisa pergi jalan-jalan.” Haekal tidak pernah memaksa Ajeng melakukan apapun.Haekal hanya memastikan Ajeng menjalani hari-harinya dengan bahagia. “Atau mungkin kamu butuh sesuatu?”“Sesuatu seperti apa?” tanya Ajeng.“Apapun, yang memb
Haekal merasa marah sekaligus kecewa, adik perempuan satu-satunya diam-diam melakukan hal kotor seperti itu di luaran sana.“Lihat ini.” Haekal menunjukkan beberapa video dimana para pria yang berbeda mengaku telah melakukan hal seperti itu dengan Nilam.“Kamu udah gila?! Hah?!” sentak Haekal.“Bagus kalau akhirnya Abang udah tahu.” Kedepannya Nilam tidak perlu lagi menutupi hal itu.“Apa yang kamu bicarakan?” Juwita memukul lengan Nilam dengan agak keras.Bukannya langsung minta maaf dan memasang ekspresi semenyesal mungkin, Nilam justru malah terlihat kelewat santai seolah itu bukan apa-apa.Sementara salah satu tangan Haekal perlahan mengepal, entah siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Yang jelas kalakuan Nilam tidak bisa dibenarkan.“Kamu merasa biasa aja setelah melakukan hal kotor itu?” tanya Haekal.“Banyak perempuan di luaran sana yang melakukan hal seperti itu,” balas Nilam dengan entengnya.Plak!“Diam kamu!” Juwita menunjuk Nilam setelah melayangkan tamparan pada Nila
Meskipun Randy adalah CEO dan jabatannya lebih tinggi dari Haekal, Randy tidak bisa mengatur Haekal semaunya di luar pekerjaan. “Istri saya udah nunggu di rumah, bagian mana yang nggak Pak Randy paham?” tekan Haekal dengan suara rendah. “Saya bukannya berniat memaksa Pak Haekal–” “Saya pulang.” Haekal dengan cepat memotong ucapan Randy, setelah itu Haekal pergi begitu saja. Indah pun menghampiri Randy. “Gagal? Rasanya jadi kerabat Mr. Aj seolah bukan apa-apa untuknya.” Randy masih menunjuk Haekal, dalam sekejap Randy kehilangan kata-kata. Haekal sangat keras kepala dan tidak mudah diatur. Padahal kalau Haekal dekat dengan Indah, Haekal juga yang akan mendapatkan keuntungan. Begitulah yang dipikirkan oleh Randy. “Kenapa rasanya seperti dia yang bosnya?” Randy masih tidak bisa menerimanya. “Udahlah.” “Percuma juga kamu mendekati pria seperti Pak Haekal,” lanjut Randy, dilihat-lihat pun Haekal tidak mudah tergoda dengan perempuan lain. “Apa mungkin dia sengaja jual mahal biar aku
Nilam ketahuan untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini Juwita terlihat marah dan tidak bisa lagi memikirkan hal positif seperti yang sebelumnya.‘Sial, apa lagi ini?’ Entah kenapa hidup Nilam sangat tidak tenang.“Sini kamu.” Juwita menarik kasar tangan Nilam. “Kamu udah gila?”“Ada apa ini?” Pria tua yang bersama Nilam pun mengeluarkan suara. “Jangan ikut campur! Pergi sana!” Juwita langsung mengusir pria itu, pria tersebut bahkan jauh lebih tua darinya.“Saya sudah membuat janji dengannya.” Pria itu menarik lengan Nilam yang satunya lagi. “Dan saya sudah membayar uang muka, dia tentu harus melakukan pekerjaannya.”Darah Juwita seketika mendidih, pantas saja hampir setengah tahun Nilam mencari pekerjaan dan perempuan itu tak kunjung mendapatkannya.Itu adalah hal yang tidak masuk akal, tapi dengan bodohnya Juwita samasekali tidak pernah curiga alasan Nilam tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.“Apa Mama bisa pulang?” Nilam tidak mungkin meninggalkan kliennya begitu saja. “Nanti kita
Ajeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr
Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A







