LOGINAjeng sedang merasa senang karena diam-diam perempuan itu punya rencana untuk membuat Juwita tahu kelakuan putrinya.
“Tiap hari aku merasa senang.” Ajeng sedikit merapikan dasi Haekal yang telah terpasang. “Hari ini agak beda, kamu kelihatan jauh lebih senang.” Haekal tentu ikut merasa senang jika istrinya senang. “Ayo makan.” Ajeng menarik pelan tangan Haekal agar pria itu segera duduk. Juwita berdecih pelan, wanita itu paling sensi setiap kali melihat momen manis Haekal dan Ajeng. Hati Juwita tidak bisa menerimanya. “Nilam … kamu masih belum dapat kerjaan juga?” Ajeng sengaja berbasa-basi. “Sok mengurusi Nilam, kamu aja pengangguran.” Ekskresi Juwita terlihat nyinyir. ‘Tahunya cuma menghabiskan uang putraku.’ “Pengangguran lebih baik daripada jadi jala*g,” sahut Ajeng asal. “Beraninya kamu menyebut kata kotor itu di depan orang tua?” Juwita langsung marah. Sementara Nilam diam-diam meneguk ludahnya dengan susah payah, bisa gawat jika Juwita sampai tahu tentang kelakuannya. Nilam mengencani beberapa pria tua bahkan pria yang sudah beristri agar mendapatkan apapun yang dirinya inginkan. “Ma, berhenti mengusik Ajeng.” Haekal tidak pernah merasa tenang setiap kali ibunya itu membuka mulut. “Kamu mulai durhaka sekarang, alih-alih membela Mama–” “Ajeng udah menjadi istriku, aku tentu harus mengutamakan dia dan memastikan dia hidup dengan nyaman.” Haekal dengan cepat memotong ucapan Juwita. ‘Dengar?’ Ajeng mengusap pelan lengan Haekal sambil tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja, Mama cuma punya mulut yang pedas tapi sebenarnya Mama sangat baik,” terang Ajeng. Ekspresi Juwita masih tidak enak dipandang, hanya karena Ajeng membelanya dan sedikit memujinya Juwita mana mungkin luluh dengan mudahnya. “Adik ipar, semoga hari ini dapat kerjaan ya,” ujar Ajeng. “Aku selalu berusaha setiap harinya,” cicit Nilam. ‘Berusaha katanya.’ Ajeng sangat ingin tertawa kencang, entah apa yang membuat Nilam menjadi hilang arah. Juwita sendiri tidak ada curiganya samasekali, padahal sudah berbulan-bulan Nilam mencari pekerjaan tapi tak kunjung dapat. ‘Nilam kapan sih dapat kerjanya?’ Juwita tidak bisa melihat Nilam diremehkan oleh Ajeng yang tidak ada apa-apanya. “Pastikan kamu membantu Ajeng sebelum pergi dari rumah.” Haekal menatap Nilam. “Lihat, kamu lebih mementingkan Ajeng daripada adik kamu sendiri,” cibir Juwita. “Kita tinggal bersama, udah seharusnya semua pekerjaan di rumah ini dilakukan bersama,” tegas Haekal. “Percuma bicara sama kamu.” Juwita lanjut makan dengan ekspresi yang masih ditekuk. ‘Dih.’ Yang ada Ajeng kasihan dengan Haekal karena Juwita selalu saja tidak mau kalah. Ajeng mengangguk pelan saat Haekal menatapnya, seolah memberikan kode jika Ajeng baik-baik saja. Mental Ajeng sudah terlatih setiap harinya. ‘Akhirnya aku akan segera melihat pertunjukan yang bagus.’ Ajeng benar-benar bersemangat. *** •Di kantor• Sebenarnya Haekal adalah pemilik perusahaan teknologi besar yang bernama Js Company, perusahaan itu sudah memproduksi berbagi macam robot canggih. Identitas pemilik JS Company bersifat rahasia, wajar saja jika banyak yang tidak tahu karena Haekal tidak pernah menunjukkan diri di depan publik. Haekal lebih memilih bekerja menjadi salah satu manager di perusahaan cabang miliknya, pria itu memiliki alasan tersendiri. ‘Kalau Mama sampai tahu aku adalah pemilik JS Company, Mama pasti akan membuat keributan besar.’ ‘Aku nggak mau Mama berulah dan membuat Ajeng seolah sangat nggak layak menjadi istriku.’ ‘Tapi cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar.’ Jadi Haekal harus bersiap-siap untuk itu. “Katanya kerabat Mr. Aj akan bekerja di kantor ini.” “Perempuan? Apa mungkin itu istri rahasia Mr. Aj? Atau … saudara kandung?” “Dia langsung menjadi sekretaris CEO, aku benar-benar iri dengan dia.” “Ternyata jaman sekarang memiliki koneksi masih sangat diperlukan demi keuntungan pribadi ya.” Haekal tidak sengaja mendengar tentang gosip tersebut, AJ adalah nama samarannya. Lantas siapa perempuan yang mengaku sebagai kerabatnya? Haekal bahkan baru tahu sekretaris CEO yang bekerja di tempatnya saat ini telah berhenti bekerja, padahal dia sangat kompeten. ‘Kerabatku? Ajeng? Nilam?’ Haekal kembali mendengar suara para karyawan yang sedikit ribut. “Itu dia datang, wah dia sangat cantik ya.” ‘Siapa perempuan itu?’ Haekal samasekali tidak mengenalnya. *** “Aku sadar beberapa hari ini aku udah banyak menyinggung Mama, mungkin aku bisa menembusnya. Bagaimana … kalau kita pergi ke mall?” “Mama bisa pakai uang punyaku untuk beli pakaian yang Mama suka,” lanjut Ajeng. Juwita berdecih pelan. ‘Pakai uang putraku aja sok berlagak mau membelikan aku pakaian. Ajeng sudah mendapatkan informasi tempat dimana Nilam sedang berada saat ini, Ajeng cuma perlu mempertemukan Nilam dengan Juwita. “Mama nggak mau?” tanya Ajeng. “Tentu aja mau,” balas Juwita cepat. Ajeng mengangguk pelan. “Kalau gitu Mama pergi bersiap, aku juga akan bersiap.” “Kita mau pergi ke mall, apa uang kamu cukup?” Juwita tidak mau berujung malu karena ternyata uang milik Ajeng cuma pas-pasan. “Aku akan memakai tabunganku, jaga-jaga kalau uangnya kurang,” terang Ajeng. “Haekal jangan sampai tahu soal ini.” Bisa-bisa Juwita dituduh yang tidak-tidak dan berakhir buruk di mata Haekal. “Aku nggak akan bilang ke Mas Haekal, ini rahasia di antara kita,” sahut Ajeng. •Beberapa menit kemudian• Mereka berdua akhirnya sampai di mall, sebenarnya Juwita tidak sudi jalan berdua dengan Ajeng seperti sekarang ini. Meskipun pakaian yang Ajeng cukup bagus, tapi tetap saja itu beli pakai uang Haekal. Juwita beranggapan Ajeng selalu memeras uang putranya. “Kamu itu jangan sering-sering belanja, beli ini, beli itu, beli hal-hal nggak jelas. Kamu pikir uang langsung jatuh dari langit?” “Lihat baju yang kamu pakai, pasti harganya mahal. Kalau nggak punya uang sendiri seenggaknya jangan terlalu foya-foya lah.” “Kamu paham nggak?” Juwita akhirnya menatap Ajeng karena tidak mendapatkan respon apapun. “Jadi maksud Mama kita nggak perlu membeli apapun? Kita bisa jalan-jalan di mall tanpa beli apapun,” sahut Ajeng. “Kamu udah gila ya? Kalau buat Mama ya boleh-boleh aja, kan Haekal putra Mama.” Juwita seketika langsung sewot. Sepertinya membawa Juwita ke mall adalah cara yang salah, Ajeng agak menyesal. Seharusnya Ajeng menggunakan cara yang anti-mainstream. Seperti mencetak banyak-banyak foto Nilam yang bermesraan dengan berbagai pria, lalu memenuhi kamar Juwita dengan semua foto tersebut. Juwita pasti langsung shock jika hal tersebut sampai terjadi, tapi ada kemungkinan Juwita akan mengira semua foto itu hanya editan. “Kita makan dulu.” Ajeng tiba-tiba saja menarik tangan Juwita dan masuk ke salah satu tempat makan. “Kamu ini makan mulu kerajaannya.” Juwita menyingkirkan tangan Ajeng. “Apa kamu ini babi?” ‘Moncong mamaknya si Nilam emang nggak pernah difilter.’ Tiba-tiba saja Ajeng disamakan dengan babi. “Aku tiba-tiba lapar, kalau aku pingsan di tengah jalan Mama mau angkat aku dan bawa aku ke rumah sakit?” balas Ajeng. “Eh Ma … perempuan itu mirip Nilam ya?” Ajeng menatap Nilam yang bermesraan dengan pria tua. Bersambung….Demi agar tetap waras, Ajeng tidak perlu ambil hati. Ajeng mulai duduk dan sarapan bersama dengan suaminya, masabodo Juwita mogok makan.“Mama selalu seperti itu.” Haekal tidak bisa membuat Juwita berubah, itu bukan hal yang mudah.“Maaf kalau kamu selalu nggak nyaman dengan sikap Mama.” Haekal mengusap sebentar kepala Ajeng.“Nggak masalah.” Ajeng tersenyum seolah itu bukan apa-apa. “Kita mulai makan sekarang?”“Ya.” Sepanjang sarapan fokus mata Haekal lebih banyak tertuju pada Ajeng.Sebenarnya Haekal sangat ingin Juwita dan Nilam akur dengan Ajeng, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mereka akan akur.Terlebih saat kelakuan buruk Nilam akhirnya terbongkar dan perempuan itu malah bicara sembarangan tentang Ajeng.“Kalau kamu bosan di rumah kamu bisa pergi jalan-jalan.” Haekal tidak pernah memaksa Ajeng melakukan apapun.Haekal hanya memastikan Ajeng menjalani hari-harinya dengan bahagia. “Atau mungkin kamu butuh sesuatu?”“Sesuatu seperti apa?” tanya Ajeng.“Apapun, yang memb
Haekal merasa marah sekaligus kecewa, adik perempuan satu-satunya diam-diam melakukan hal kotor seperti itu di luaran sana.“Lihat ini.” Haekal menunjukkan beberapa video dimana para pria yang berbeda mengaku telah melakukan hal seperti itu dengan Nilam.“Kamu udah gila?! Hah?!” sentak Haekal.“Bagus kalau akhirnya Abang udah tahu.” Kedepannya Nilam tidak perlu lagi menutupi hal itu.“Apa yang kamu bicarakan?” Juwita memukul lengan Nilam dengan agak keras.Bukannya langsung minta maaf dan memasang ekspresi semenyesal mungkin, Nilam justru malah terlihat kelewat santai seolah itu bukan apa-apa.Sementara salah satu tangan Haekal perlahan mengepal, entah siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Yang jelas kalakuan Nilam tidak bisa dibenarkan.“Kamu merasa biasa aja setelah melakukan hal kotor itu?” tanya Haekal.“Banyak perempuan di luaran sana yang melakukan hal seperti itu,” balas Nilam dengan entengnya.Plak!“Diam kamu!” Juwita menunjuk Nilam setelah melayangkan tamparan pada Nila
Meskipun Randy adalah CEO dan jabatannya lebih tinggi dari Haekal, Randy tidak bisa mengatur Haekal semaunya di luar pekerjaan. “Istri saya udah nunggu di rumah, bagian mana yang nggak Pak Randy paham?” tekan Haekal dengan suara rendah. “Saya bukannya berniat memaksa Pak Haekal–” “Saya pulang.” Haekal dengan cepat memotong ucapan Randy, setelah itu Haekal pergi begitu saja. Indah pun menghampiri Randy. “Gagal? Rasanya jadi kerabat Mr. Aj seolah bukan apa-apa untuknya.” Randy masih menunjuk Haekal, dalam sekejap Randy kehilangan kata-kata. Haekal sangat keras kepala dan tidak mudah diatur. Padahal kalau Haekal dekat dengan Indah, Haekal juga yang akan mendapatkan keuntungan. Begitulah yang dipikirkan oleh Randy. “Kenapa rasanya seperti dia yang bosnya?” Randy masih tidak bisa menerimanya. “Udahlah.” “Percuma juga kamu mendekati pria seperti Pak Haekal,” lanjut Randy, dilihat-lihat pun Haekal tidak mudah tergoda dengan perempuan lain. “Apa mungkin dia sengaja jual mahal biar aku
Nilam ketahuan untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini Juwita terlihat marah dan tidak bisa lagi memikirkan hal positif seperti yang sebelumnya.‘Sial, apa lagi ini?’ Entah kenapa hidup Nilam sangat tidak tenang.“Sini kamu.” Juwita menarik kasar tangan Nilam. “Kamu udah gila?”“Ada apa ini?” Pria tua yang bersama Nilam pun mengeluarkan suara. “Jangan ikut campur! Pergi sana!” Juwita langsung mengusir pria itu, pria tersebut bahkan jauh lebih tua darinya.“Saya sudah membuat janji dengannya.” Pria itu menarik lengan Nilam yang satunya lagi. “Dan saya sudah membayar uang muka, dia tentu harus melakukan pekerjaannya.”Darah Juwita seketika mendidih, pantas saja hampir setengah tahun Nilam mencari pekerjaan dan perempuan itu tak kunjung mendapatkannya.Itu adalah hal yang tidak masuk akal, tapi dengan bodohnya Juwita samasekali tidak pernah curiga alasan Nilam tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.“Apa Mama bisa pulang?” Nilam tidak mungkin meninggalkan kliennya begitu saja. “Nanti kita
Ajeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr
Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A







