Share

Chapter 06

Author: Aamz Kyure
last update Last Updated: 2026-01-07 17:24:57

Ajeng sedang merasa senang karena diam-diam perempuan itu punya rencana untuk membuat Juwita tahu kelakuan putrinya.

“Tiap hari aku merasa senang.” Ajeng sedikit merapikan dasi Haekal yang telah terpasang.

“Hari ini agak beda, kamu kelihatan jauh lebih senang.” Haekal tentu ikut merasa senang jika istrinya senang.

“Ayo makan.” Ajeng menarik pelan tangan Haekal agar pria itu segera duduk.

Juwita berdecih pelan, wanita itu paling sensi setiap kali melihat momen manis Haekal dan Ajeng. Hati Juwita tidak bisa menerimanya.

“Nilam … kamu masih belum dapat kerjaan juga?” Ajeng sengaja berbasa-basi.

“Sok mengurusi Nilam, kamu aja pengangguran.” Ekskresi Juwita terlihat nyinyir. ‘Tahunya cuma menghabiskan uang putraku.’

“Pengangguran lebih baik daripada jadi jala*g,” sahut Ajeng asal.

“Beraninya kamu menyebut kata kotor itu di depan orang tua?” Juwita langsung marah.

Sementara Nilam diam-diam meneguk ludahnya dengan susah payah, bisa gawat jika Juwita sampai tahu tentang kelakuannya.

Nilam mengencani beberapa pria tua bahkan pria yang sudah beristri agar mendapatkan apapun yang dirinya inginkan.

“Ma, berhenti mengusik Ajeng.” Haekal tidak pernah merasa tenang setiap kali ibunya itu membuka mulut.

“Kamu mulai durhaka sekarang, alih-alih membela Mama–”

“Ajeng udah menjadi istriku, aku tentu harus mengutamakan dia dan memastikan dia hidup dengan nyaman.” Haekal dengan cepat memotong ucapan Juwita.

‘Dengar?’ Ajeng mengusap pelan lengan Haekal sambil tersenyum tipis.

“Aku baik-baik aja, Mama cuma punya mulut yang pedas tapi sebenarnya Mama sangat baik,” terang Ajeng.

Ekspresi Juwita masih tidak enak dipandang, hanya karena Ajeng membelanya dan sedikit memujinya Juwita mana mungkin luluh dengan mudahnya.

“Adik ipar, semoga hari ini dapat kerjaan ya,” ujar Ajeng.

“Aku selalu berusaha setiap harinya,” cicit Nilam.

‘Berusaha katanya.’ Ajeng sangat ingin tertawa kencang, entah apa yang membuat Nilam menjadi hilang arah.

Juwita sendiri tidak ada curiganya samasekali, padahal sudah berbulan-bulan Nilam mencari pekerjaan tapi tak kunjung dapat.

‘Nilam kapan sih dapat kerjanya?’ Juwita tidak bisa melihat Nilam diremehkan oleh Ajeng yang tidak ada apa-apanya.

“Pastikan kamu membantu Ajeng sebelum pergi dari rumah.” Haekal menatap Nilam.

“Lihat, kamu lebih mementingkan Ajeng daripada adik kamu sendiri,” cibir Juwita.

“Kita tinggal bersama, udah seharusnya semua pekerjaan di rumah ini dilakukan bersama,” tegas Haekal.

“Percuma bicara sama kamu.” Juwita lanjut makan dengan ekspresi yang masih ditekuk.

‘Dih.’ Yang ada Ajeng kasihan dengan Haekal karena Juwita selalu saja tidak mau kalah.

Ajeng mengangguk pelan saat Haekal menatapnya, seolah memberikan kode jika Ajeng baik-baik saja. Mental Ajeng sudah terlatih setiap harinya.

‘Akhirnya aku akan segera melihat pertunjukan yang bagus.’ Ajeng benar-benar bersemangat.

***

•Di kantor•

Sebenarnya Haekal adalah pemilik perusahaan teknologi besar yang bernama Js Company, perusahaan itu sudah memproduksi berbagi macam robot canggih.

Identitas pemilik JS Company bersifat rahasia, wajar saja jika banyak yang tidak tahu karena Haekal tidak pernah menunjukkan diri di depan publik.

Haekal lebih memilih bekerja menjadi salah satu manager di perusahaan cabang miliknya, pria itu memiliki alasan tersendiri.

‘Kalau Mama sampai tahu aku adalah pemilik JS Company, Mama pasti akan membuat keributan besar.’

‘Aku nggak mau Mama berulah dan membuat Ajeng seolah sangat nggak layak menjadi istriku.’

‘Tapi cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar.’ Jadi Haekal harus bersiap-siap untuk itu.

“Katanya kerabat Mr. Aj akan bekerja di kantor ini.”

“Perempuan? Apa mungkin itu istri rahasia Mr. Aj? Atau … saudara kandung?”

“Dia langsung menjadi sekretaris CEO, aku benar-benar iri dengan dia.”

“Ternyata jaman sekarang memiliki koneksi masih sangat diperlukan demi keuntungan pribadi ya.”

Haekal tidak sengaja mendengar tentang gosip tersebut, AJ adalah nama samarannya. Lantas siapa perempuan yang mengaku sebagai kerabatnya?

Haekal bahkan baru tahu sekretaris CEO yang bekerja di tempatnya saat ini telah berhenti bekerja, padahal dia sangat kompeten.

‘Kerabatku? Ajeng? Nilam?’ Haekal kembali mendengar suara para karyawan yang sedikit ribut.

“Itu dia datang, wah dia sangat cantik ya.”

‘Siapa perempuan itu?’ Haekal samasekali tidak mengenalnya.

***

“Aku sadar beberapa hari ini aku udah banyak menyinggung Mama, mungkin aku bisa menembusnya. Bagaimana … kalau kita pergi ke mall?”

“Mama bisa pakai uang punyaku untuk beli pakaian yang Mama suka,” lanjut Ajeng.

Juwita berdecih pelan. ‘Pakai uang putraku aja sok berlagak mau membelikan aku pakaian.

Ajeng sudah mendapatkan informasi tempat dimana Nilam sedang berada saat ini, Ajeng cuma perlu mempertemukan Nilam dengan Juwita.

“Mama nggak mau?” tanya Ajeng.

“Tentu aja mau,” balas Juwita cepat.

Ajeng mengangguk pelan. “Kalau gitu Mama pergi bersiap, aku juga akan bersiap.”

“Kita mau pergi ke mall, apa uang kamu cukup?” Juwita tidak mau berujung malu karena ternyata uang milik Ajeng cuma pas-pasan.

“Aku akan memakai tabunganku, jaga-jaga kalau uangnya kurang,” terang Ajeng.

“Haekal jangan sampai tahu soal ini.” Bisa-bisa Juwita dituduh yang tidak-tidak dan berakhir buruk di mata Haekal.

“Aku nggak akan bilang ke Mas Haekal, ini rahasia di antara kita,” sahut Ajeng.

•Beberapa menit kemudian•

Mereka berdua akhirnya sampai di mall, sebenarnya Juwita tidak sudi jalan berdua dengan Ajeng seperti sekarang ini.

Meskipun pakaian yang Ajeng cukup bagus, tapi tetap saja itu beli pakai uang Haekal. Juwita beranggapan Ajeng selalu memeras uang putranya.

“Kamu itu jangan sering-sering belanja, beli ini, beli itu, beli hal-hal nggak jelas. Kamu pikir uang langsung jatuh dari langit?”

“Lihat baju yang kamu pakai, pasti harganya mahal. Kalau nggak punya uang sendiri seenggaknya jangan terlalu foya-foya lah.”

“Kamu paham nggak?” Juwita akhirnya menatap Ajeng karena tidak mendapatkan respon apapun.

“Jadi maksud Mama kita nggak perlu membeli apapun? Kita bisa jalan-jalan di mall tanpa beli apapun,” sahut Ajeng.

“Kamu udah gila ya? Kalau buat Mama ya boleh-boleh aja, kan Haekal putra Mama.” Juwita seketika langsung sewot.

Sepertinya membawa Juwita ke mall adalah cara yang salah, Ajeng agak menyesal. Seharusnya Ajeng menggunakan cara yang anti-mainstream.

Seperti mencetak banyak-banyak foto Nilam yang bermesraan dengan berbagai pria, lalu memenuhi kamar Juwita dengan semua foto tersebut.

Juwita pasti langsung shock jika hal tersebut sampai terjadi, tapi ada kemungkinan Juwita akan mengira semua foto itu hanya editan.

“Kita makan dulu.” Ajeng tiba-tiba saja menarik tangan Juwita dan masuk ke salah satu tempat makan.

“Kamu ini makan mulu kerajaannya.” Juwita menyingkirkan tangan Ajeng. “Apa kamu ini babi?”

‘Moncong mamaknya si Nilam emang nggak pernah difilter.’ Tiba-tiba saja Ajeng disamakan dengan babi.

“Aku tiba-tiba lapar, kalau aku pingsan di tengah jalan Mama mau angkat aku dan bawa aku ke rumah sakit?” balas Ajeng.

“Eh Ma … perempuan itu mirip Nilam ya?” Ajeng menatap Nilam yang bermesraan dengan pria tua.

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 09

    Ajeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 08

    Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 07

    Biar saja Juwita lihat sendiri kelakuan putri yang selalu dibangga-banggakan, kalau bisa mereka berdua harus ribut agar suasana semakin memanas. “Jangan ngada-ngada kamu, sekarang ini Nilam sedang sibuk mencari kerja.” Suara Juwita terdengar agak sewot. “Beneran loh Ma, mirip banget sama Nilam. Dia lagi cium pipi aki-aki, benar-benar gila,” ujar Ajeng. “Mana ada–” Juwita mengikuti arah pandang Ajeng. ‘Itu Nilam?’ “Meskipun agak mirip–” “Bukan mirip lagi, tapi itu memang Nilam.” Ajeng dengan cepat memotong ucapan Juwita. “Ayo kita samperin dia.” “Kita cuma salah lihat, itu bukan Nilam.” Juwita masih saja denial. Juwita tidak bisa menerima fakta bahwa putrinya yang sarjana itu berkencan dengan aki-aki yang bahkan usianya lebih tua dibanding Juwita. ‘Keburu si Nilam kabur kalau seperti ini caranya.’ Ajeng langsung menghampiri Nilam, masabodo dengan Juwita. “Ajeng mau kemana kamu?” Juwita dengan cepat langsung menyusul Ajeng. “Nilam? Katanya lagi cari kerja, tapi malah pacaran d

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 06

    Ajeng sedang merasa senang karena diam-diam perempuan itu punya rencana untuk membuat Juwita tahu kelakuan putrinya. “Tiap hari aku merasa senang.” Ajeng sedikit merapikan dasi Haekal yang telah terpasang. “Hari ini agak beda, kamu kelihatan jauh lebih senang.” Haekal tentu ikut merasa senang jika istrinya senang. “Ayo makan.” Ajeng menarik pelan tangan Haekal agar pria itu segera duduk. Juwita berdecih pelan, wanita itu paling sensi setiap kali melihat momen manis Haekal dan Ajeng. Hati Juwita tidak bisa menerimanya. “Nilam … kamu masih belum dapat kerjaan juga?” Ajeng sengaja berbasa-basi. “Sok mengurusi Nilam, kamu aja pengangguran.” Ekskresi Juwita terlihat nyinyir. ‘Tahunya cuma menghabiskan uang putraku.’ “Pengangguran lebih baik daripada jadi jala*g,” sahut Ajeng asal. “Beraninya kamu menyebut kata kotor itu di depan orang tua?” Juwita langsung marah. Sementara Nilam diam-diam meneguk ludahnya dengan susah payah, bisa gawat jika Juwita sampai tahu tentang kelak

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 05

    Untuk sesaat tubuh Ajeng membeku kala melihat laki-laki yang ada di foto, itu adalah laki-laki yang sempat jalan dengan Nilam.‘Hah?’ Awalnya Ajeng pikir lelaki itu sedang berjalan dengan Nilam, tapi nyatanya tidak.Ajeng lihat lelaki itu jalan dengan perempuan lain bersama dengan seorang anak. “Maaf.”Setelah itu Ajeng kembali lanjut jalan. ‘Aku mana mungkin salah lihat, dia laki-laki yang ada di foto.’‘Jadi … Nilam ditipu? Atau mungkin Nilam yang menjadi selingkuhan dia?’ Menurut Ajeng itu terlalu mengejutkan.Lelaki yang ada di foto itu sudah punya anak, Ajeng belum bisa langsung menyimpulkan karena tidak punya bukti lebih banyak.Sampai akhirnya, Ajeng kembali mendapatkan foto dari orang suruhannya. Orang itu sudah menemukan lokasi Nilam saat ini.“Apa lagi ini?” Untuk kesekian kalinya Ajeng dibuat shock karena kelakuan Nilam.“Apa dia udah tidak waras?” Kali ini Ajeng mendapatkan foto dimana Nilam sedang berjalan mesra dengan pria tua.“Jadi Nilam setiap hari melakukan itu? Jala

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 04

    Ajeng masih tenang meskipun dituduh yang tidak-tidak, masa depan Ajeng suram? Justru kehadiran Juwita lah yang membuat hidup Ajeng menjadi suram. “Kenapa Mama bilang seperti itu?” Suara Haekal terdengar dingin. “Kamu ini Haekal, bela aja terus istri kamu itu.” Suara Juwita terdengar sangat sewot. “Kalau adik ipar tidak mau ya udah, seharusnya aku udah terbiasa melakukan semuanya sendiri,” ujar Ajeng. ‘Apa dia sengaja sok sedih seperti itu?’ Juwita harus membela diri. “Apa maksud kamu mengerjakan semuanya sendirian?” “Kamu sengaja menjelek-jelekkan Mama di depan putra Mama sendiri? Kamu mengatai Mama malas? Iya?” “Kedengarannya seperti bukan pertanyaan, tapi pengakuan,” sarkas Ajeng. Juwita semakin geram, kemana Ajeng yang tidak pernah berani membalas ucapannya? Kalau seperti ini Juwita bisa mati cepet karena kesal. “Kamu ….” Juwita menunjuk Ajeng. “Ma cukup.” Haekal tidak ingin mendengar perdebatan apapun. “Nilam, kamu seharusnya lebih peka.” “Selama ini apa pernah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status