مشاركة

Bab 4

مؤلف: Senpai
"Siapa yang nyuruh kamu menggeledah barang-barangku?"

Armand merebut buku catatan itu dari tanganku. Untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan yang begitu jelas di wajahnya.

Aku meletakkan lembar penilaian itu di hadapannya.

"Jadi, selama ini kamu melamarku bukan karena mencintaiku?"

"Pernikahan butuh pilihan yang rasional."

"Kalau gitu, kenapa bukan Irene? Dia dapat nilai sempurna."

Tangannya terhenti sesaat.

"Dia nggak cocok jadi bagian dari Keluarga Putradi."

Saat itu juga aku mengerti.

Keluarga Irene biasa saja. Ayahnya terlilit utang, sementara Irene sendiri tidak memiliki sesuatu yang bisa menguntungkan Keluarga Putradi.

Sementara itu, koneksi yang diwariskan ayahku dan lima belas persen saham perusahaan yang menjadi milikku cukup untuk menutupi kekurangan satu poin dalam penilaiannya.

"Jadi, aku ini apa? Hanya seseorang yang cocok?"

Armand terdiam sejenak sebelum menjawab, seolah-olah jawabannya sudah begitu jelas.

"Memangnya bukan?"

Rasa sakit di perutku makin hebat.

Aku berpegangan pada tepi meja agar tubuhku tetap tegak.

"Kamu ngejar aku selama tiga tahun. Kamu nungguin aku di depan institut penerjemahan dan bahkan nemani ibuku menjalani pengobatan terakhirnya. Semua itu juga bagian dari penilaianmu?"

"Mengenal calon pasangan itu proses yang diperlukan."

"Bukankah kamu pernah bilang aku nggak perlu dapat nilai sempurna?"

"Supaya kamu nggak terlalu waspada."

"Saat melamarku, kamu bilang aku satu-satunya yang akan kamu pilih seumur hidup."

Keningnya berkerut.

"Vanda, orang akan ngomong hal yang sesuai dengan situasi. Kenapa kamu harus permasalahkan setiap kata?"

Aku mengangguk pelan.

Jadi, setiap kata yang selama ini kusimpan sebagai kenangan berharga ternyata tidak lebih dari jawaban yang dia gunakan untuk menyelesaikan situasi.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Tangisan Irene terdengar dari seberang.

"Armand, ada yang bilang di internet aku menjiplak naskah peninggalan itu. Penerbit bahkan mau batalin konferensi pers. Bisakah datang ke sini?"

Armand langsung mengambil jasnya.

Aku berdiri di depan pintu, menghalangi langkahnya.

"Aku yang hubungin pihak penerbit."

"Cabut laporanmu."

"Nggak mungkin."

"Irene sudah janji akan tetap nyantumin nama ibumu. Kamu mau apa lagi?"

"Dia mengubah naskahnya dan menghapus pesan yang ditulis ibuku untukku."

"Pesan itu nggak ada hubungannya dengan isi naskah."

Dia tetap berjalan melewatiku.

Aku meraih lengan bajunya.

"Armand, kalau kali ini aku yang butuh kamu?"

"Jangan gunakan hal begini hanya untuk merebut perhatianku."

"Aku nggak sedang berebut perhatianmu."

Rasa sakit menjalar dari perut bagian bawah. Suaraku pun tak lagi terdengar setenang tadi.

"Aku hanya akan bertanya satu kali. Bisa nggak kamu tetap bersamaku di sini sekarang?"

Dia menatap wajahku yang pucat. Untuk sesaat, pandangannya terhenti.

Namun tangisan Irene kembali terdengar dari ponselnya.

"Armand, para wartawan sudah ada di luar. Aku benar-benar takut."

Armand melepaskan tanganku.

"Konferensi pers Irene menyangkut reputasi perusahaan. Kembali ke kamar dan istirahatlah. Setelah selesai, aku akan pulang."

Sebelum melangkah pergi, dia masih sempat meninggalkan satu kalimat.

"Begitu aku pulang, tanda tangani surat kuasa itu. Untuk sikapmu hari ini, nilaimu enam puluh."

Aku mendengar suara mobilnya perlahan menjauh. Setelah itu, kakiku kehilangan tenaga dan aku berjongkok di lantai.

Darah merembes dari balik ujung gaunku, lalu menetes satu per satu ke lantai.

Aku mengambil ponsel dan menelepon layanan darurat.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, perawat bertanya di mana keluargaku.

Pandanganku berhenti pada nomor Armand, tetapi pada akhirnya aku tidak meneleponnya.

"Nggak ada keluarga."

Anakku tidak berhasil diselamatkan.

Dokter menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku. Di dalamnya terdapat lembar hasil pemeriksaan yang berlumuran darah dan foto USG yang sudah samar.

"Janinnya sudah berusia delapan minggu. Suamimu nggak tahu?"

Aku hanya menggeleng.

Aku memasukkan kotak itu ke dalam tas, lalu mengurus kepulanganku seorang diri.

Begitu keluar dari rumah sakit, pihak penerbit mengirimkan video konferensi pers kepadaku.

Dalam video itu, Armand berdiri di depan Irene dan meyakinkan para wartawan bahwa perusahaan akan menanggung seluruh kontroversi yang muncul.

Seseorang bertanya kepadanya, siapa yang lebih penting baginya, istrinya atau Irene.

Armand menjawab dengan tenang, "Vanda adalah Nyonya Putradi. Sebagai istriku, seharusnya dia mengutamakan kepentingan bersama. Irene adalah penanggung jawab proyek. Aku nggak bisa biarkan dia diperlakukan nggak adil."

Tak lama kemudian, Irene mengirimiku sebuah pesan.

[Coba tebak, hari ini dia akan pulang nemani kamu atau nggak?]

[Vanda, istri itu hanya sebuah posisi, sedangkan aku, posisiku berbeda.]

Aku tidak membalasnya.

Sesampainya di rumah, aku menandatangani dua dokumen.

Yang pertama adalah surat pencabutan kuasa atas saham.

Yang kedua adalah surat perjanjian perceraian.

Cincin pernikahan, foto USG, dan buku catatan penilaian itu kumasukkan ke dalam sebuah kotak.

Pena perak yang dulu menjadi milikku kutaruh di atas semuanya.

Di balik lembar penilaian pranikah itu, aku menulis satu kalimat.

[Anakku tidak sempat lahir, jadi dia tidak perlu menerima penilaianmu.]

Pukul tiga dini hari, aku menyeret koper keluar dari rumah.

Armand mengirimiku pesan.

[Konferensi pers sudah selesai.]

[Surat kuasa ada di ruang kerja. Besok pagi aku mau lihat tanda tanganmu.]

Dia masih mengira aku akan tetap seperti dulu, menunggunya di rumah.

Aku tidak memblokir nomornya. Aku hanya mengirimkan pesan terakhir kepadanya.

[Sudah kutandatangani.]

Setelah itu, ponsel kumatikan. Aku menyerahkan tiket pesawat menuju Kota Jenovia kepada petugas di gerbang keberangkatan.

Pada saat yang sama, surat pencabutan kuasa atas saham yang telah kutandatangani sendiri sedang dibawa pengacara menuju rapat dewan direksi perusahaan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mentok di Nilai 89   Bab 10

    Pada hari cabang Arsea resmi berdiri, aku dipercaya memimpin proses seleksi perekrutan pertama.Setelah menyelesaikan tes penerjemahan, seorang gadis muda menghampiriku dengan wajah tegang. "Bu Vanda, kira-kira berapa nilai yang akan saya dapat?"Aku menutup buku catatan di tanganku."Kenapa harus ada nilai?""Saya takut kemampuan saya masih belum cukup baik.""Kamu sudah menyampaikan makna aslinya dengan utuh dan berhasil menangani situasi yang nggak terduga. Kalau masih ada yang perlu diperbaiki, pulang dan berlatih lagi."Gadis itu masih tampak ragu."Kalau begitu, apa saya diterima?"Aku menyerahkan kartu identitas kerjanya."Selamat bergabung."Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan menerima kartu itu.Di dekat pintu, Adrian berdiri sambil membawa dua porsi sarapan."Bu Vanda, pewawancaranya saja belum sarapan. Penilaiannya nggak lulus.""Dipotong berapa poin?""Nggak ada potongan."Dia menyodorkan segelas susu kedelai hangat kepadaku."Lain kali jangan lupa sar

  • Mentok di Nilai 89   Bab 9

    Rapat darurat Grup Hantara berlangsung selama enam jam.Ketika akhirnya keluar dari ruang rapat, Armand sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur utama.Dewan direksi menilai bahwa selama ini dia terlalu sering menyalahgunakan wewenangnya dan mengutamakan orang-orang terdekatnya. Sikap tersebut telah menyebabkan kerugian pada sejumlah proyek perusahaan.Kebocoran informasi internal yang dilakukan Irene juga membuat perusahaan harus menghadapi tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar.Ayahnya melemparkan surat pengunduran diri ke hadapannya."Demi seorang wanita, kamu sampai hancurin perusahaan seperti ini. Sekarang kamu puas?"Armand membungkuk dan mengambil surat itu."Ini kesalahanku."Malam itu, dia datang menemuiku untuk menyelesaikan penandatanganan perjanjian restrukturisasi saham yang terakhir.Aku membaca seluruh ketentuannya sebelum mengangkat kepala."Kamu menyerahkan sepuluh persen saham atas namamu sendiri?""Untuk ngasih kompensasi kepada tim luar negeri yang diberhentikan.

  • Mentok di Nilai 89   Bab 8

    Kabar tentang penonaktifan Irene dengan cepat menyebar ke seluruh Grup Hantara.Namun, sebelum perusahaan sempat mengambil langkah lebih lanjut, dia tiba-tiba muncul dalam konferensi pers dan memberikan versinya sendiri."Semua surel itu dikirim sendiri oleh Vanda."Dia mengangkat setumpuk dokumen yang sudah dicetak dan menunjukkannya kepada para wartawan."Dia memang sudah lama berniat meninggalkan Pak Armand. Karena itu, dia sengaja mengalihkan semua kesalahan kepadaku."Seorang wartawan segera mengarahkan mikrofon kepadaku."Nona Vanda, bukti apa yang Anda miliki?"Aku menyalakan proyektor yang sudah disiapkan."Pertama, alamat login saat surel pertama dikirim berasal dari kantor Presiden Grup Hantara."Layar besar menampilkan lokasi login dari sistem kantor tersebut.Ekspresi Irene seketika menegang."Siapa pun bisa masuk ke kantor itu.""Benar. Karena itu, aku juga mengajukan pemeriksaan tulisan tangan dan keaslian cap."Aku mengganti tampilan ke halaman berikutnya."Cap yang digu

  • Mentok di Nilai 89   Bab 7

    Enam bulan berlalu. Aku akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah negosiasi internasional di Jenovia.Begitu keluar dari ruang rapat, Adrian Gunadi menyerahkan termos kepadaku."Dokter sudah nyuruh kamu ngurangin kopi."Aku menerima sambil tersenyum. "Hari ini aku cuma minum satu cangkir.""Minggu lalu kamu juga bilang begitu."Aku tertawa kecil."Pak Adrian sampai harus ngurusin kebiasaan minumku sekarang?""Bukan ngurusin. Aku cuma mengingatkan."Dia menyerahkan catatan rapat yang baru saja kami selesaikan."Nggak ada yang berhak menilai keputusanmu. Termasuk aku."Aku menunduk, memandangi catatan di tanganku.Setelah kembali bekerja, rupanya kebiasaan lama masih sulit kutinggalkan. Tanpa sadar, aku terus memeriksa pekerjaanku berulang kali, bahkan memperbaiki setiap jeda kecil dalam prosesnya.Seusai rapat pertamaku, aku bahkan sempat bertanya kepada Adrian, "Menurutmu, tadi penampilanku gimana?"Dia hanya menjawab singkat, "Sudah selesai. Itu sudah cukup."Kalimat sederhana itu membua

  • Mentok di Nilai 89   Bab 6

    Selama tujuh hari penuh, Armand tidak berhasil menghubungiku.Baru pada hari kedelapan, akhirnya dia berhasil menghubungi mentorku."Di mana dia?"Mentorku menjawab dengan nada dingin, "Memangnya kamu siapa, sampai mencarinya?""Aku suaminya.""Perjanjian perceraian sudah sampai di tanganmu.""Belum aku tanda tangani.""Itu urusanmu."Armand menahan emosi, lalu berkata, "Dia baru saja kehilangan anaknya, dia butuh perawatan. Aku akan jemput dia pulang.""Saat dia paling butuh kamu, di mana kamu?"Sambungan telepon langsung terputus.Armand kemudian menunggu seharian penuh di depan lembaga penerjemahan.Dulu, ketika aku sering lembur hingga larut malam, dia juga pernah menungguku di tempat yang sama.Saat itu aku berlari menerobos hujan. Dia membukakan payung untukku, lalu menyodorkan secangkir kopi panas.Dia berkata, "Kamu selalu jadi prioritas di atas segala hal."Kini, payung yang sama kembali dipenuhi tetesan hujan. Hanya saja, kali ini tidak ada seorang pun yang datang menghampiri

  • Mentok di Nilai 89   Bab 5

    Saat Armand pulang, hal pertama yang dilihatnya adalah dokumen yang tergeletak di atas meja.Tanpa menyalakan lampu, dia langsung mengambilnya dan membalik hingga ke halaman terakhir."Setidaknya dia masih mau menurut."Namun, begitu membaca judul dokumen itu dengan jelas, gerakannya mendadak terhenti.Itu bukan surat kuasa.Melainkan perjanjian perceraian.Separuh isi ruang kerja sudah kosong.Buku-buku, pakaian, dan seluruh dokumen pribadiku telah kubawa pergi.Armand segera mengambil ponsel dan meneleponku. Namun, yang terdengar dari seberang hanya suara pemberitahuan otomatis.Irene menyusul dari belakang dan berkata pelan, "Mungkin Vanda hanya ingin nakut-nakutin kamu. Bujuk saja dia. Nanti juga dia akan pulang.""Dia nggak akan pergi."Setelah mengatakan itu, Armand terdiam sejenak, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri."Dia nggak punya pekerjaan ataupun penghasilan sendiri. Kalau pergi, dia mau ke mana?"Dia membuka pintu kamar dan melihat sebuah kotak tergeletak di sis

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status