مشاركة

Bab 3

مؤلف: Senpai
Armand mengakuinya tanpa berusaha mengelak.

"Email itu dikirim atas perintahku."

Aku melemparkan salinan email yang sudah dicetak ke atas mejanya.

"Atas dasar apa kamu nolak pekerjaan itu untukku?"

"Saat itu kita baru menikah. Setiap bulan kamu harus terbang ke belasan negara. Menurutmu, bagaimana kamu bisa punya waktu buat ngurus rumah tangga kita?"

"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau aku berhenti bekerja, kamu akan lebih sering nemani aku?"

Dia mengangkat wajah dan menatapku.

"Karena itu, aku kasih kamu kehidupan yang terbaik."

"Memblokir kartu bank dan ngambil kunci mobil juga kamu sebut kehidupan terbaik?"

"Itu hukuman, bukan kehidupan."

Dia mengatakannya dengan nada datar, seolah tidak ada yang aneh dari semua itu.

"Selama kamu menurut, semuanya bisa aku kembaliin kapan saja."

Dadaku terasa sesak. Seolah-olah ada kapas basah yang memenuhi rongga dadaku dan membuatku sulit bernapas.

Baru sekarang aku mengerti. Perhatian yang selama ini kukira tulus ternyata hanyalah hadiah yang dia berikan kepada seseorang selama orang itu memenuhi standarnya.

Begitu aku menolak menuruti keinginannya, semua yang pernah diberikannya bisa ditarik kembali kapan saja.

Pintu tiba-tiba terbuka. Irene masuk dan langsung melihat kami yang sedang bertengkar. Matanya seketika memerah.

"Ini semua salahku. Seharusnya aku nggak pakai barang-barang milik Vanda."

Dia melepas kartu identitas kerjanya yang tergantung di dada, kemudian mengambil berkas proyek.

"Aku juga nggak akan jadi penanggung jawab proyek ini lagi. Aku nggak mau kalian terus bertengkar hanya karena aku."

Armand menyodorkan berkas itu kembali kepadanya.

"Nggak ada seorang pun yang bisa merebut posisimu."

Setelah mengatakan itu, dia menoleh kepadaku.

"Jangan bawa-bawa masalah pribadi ke dalam perusahaan."

Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan meninggalkan ruangan.

Sore harinya, aku mendapat telepon dari penerbit tempat ibuku bekerja semasa hidupnya.

"Nona Vanda, acara peluncuran naskah peninggalan ibu Anda dimajukan. Kenapa Anda belum datang?"

Begitu tiba di lokasi, aku langsung melihat nama Irene terpampang di layar besar.

[Suara Tanpa Batas] adalah catatan terakhir tentang penerjemahan lisan yang diselesaikan ibuku ketika penyakitnya makin parah.

Sebelum meninggal, dia menyerahkan naskah itu kepadaku. Dia berpesan bahwa naskah tersebut baru boleh diterbitkan setelah aku kembali berdiri di meja penerjemah.

Namun sekarang, Irene justru berdiri di atas panggung sambil memegang naskah peninggalan ibuku. Dia mengklaimnya sebagai hasil kerja tim yang dipimpinnya.

Sementara itu, Armand duduk di barisan pertama dengan wajah tenang.

Aku segera naik ke panggung dan merebut mikrofon.

"Naskah ini peninggalan ibuku. Setiap halamannya berisi catatan tangannya. Apa hakmu nyantumin namamu di sini?"

Bisik-bisik langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Irene bangkit dan mengambil mikrofon dari tanganku.

"Belakangan ini kondisi emosi Vanda memang nggak stabil. Aku yang akan bertanggung jawab atas kejadian hari ini."

Kemudian dia memberi isyarat kepada petugas keamanan agar naik ke panggung.

Aku memeluk erat tumpukan naskah itu.

"Ini milik ibuku."

"Pihak penerbit sudah dapatin izin."

"Siapa yang kasih izin?"

Irene terdiam dan tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan suara pelan, "Armand bilang kalian suami istri, jadi dia berhak ngambil keputusan untukmu. Vanda, aku hanya membantu menyusun dan merapikan naskah ini. Aku nggak akan ngambil nama Tante."

Aku membuka halaman judul.

Nama ibuku masih tercantum di sana.

Tetapi namaku sudah dipotong.

Bahkan kalimat yang ditulis Ibu untukku, [Semoga Vanda selalu percaya dan yakin pada dirinya sendiri], telah ditutupi tinta hingga tidak terbaca lagi.

Tanganku terangkat, lalu sebuah tamparan mendarat di wajah Irene.

Suasana di dalam ruangan seketika berubah kacau.

Seseorang mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku menjauh dari Irene.

"Sudah puas buat keributan?"

Aku mengangkat naskah itu tepat di depan wajahnya.

"Buku ini ditinggalkan Ibu untukku."

"Kalau disimpan di rumah, naskah itu hanya akan berdebu. Lebih baik dikasih pada Irene. Dia bisa buat lebih banyak orang melihatnya. Bukankah itu makna terbesar dari keberadaan naskah ini?"

Mataku mulai terasa panas.

"Kalau yang berdiri di sini hari ini adalah ibumu, apa kamu juga akan bilang hal yang sama?"

Tatapannya seketika berubah gelap.

"Jangan bandingkan orang yang sudah meninggal."

Dia meraih naskah itu dari tanganku.

Terdengar suara kertas yang terkoyak.

Halaman judul terbelah tepat di tengah, menyisakan hanya separuh tanda tangan ibuku.

Saat itu juga, rasa nyeri tiba-tiba menghantam perutku.

Aku berpegangan pada sudut meja untuk menahan tubuhku. Keringat dingin mulai mengalir di sepanjang punggung.

Irene menutupi wajahnya dan berkata dengan suara pelan, "Sepertinya Vanda sedang nggak enak badan. Gimana kalau acara ini dihentikan sementara?"

Dia melirik ke arahku.

"Dia memang selalu pandai merusak suasana di saat-saat penting."

"Petugas keamanan, antar dia pulang."

Saat aku dibawa keluar dari ruangan, tepuk tangan kembali bergemuruh dari arah para penonton.

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ruang kerja untuk mencari dokumen izin penerbitan naskah ibuku. Namun, bukannya menemukan dokumen yang kucari, aku justru menemukan sebuah buku catatan berwarna hitam.

Setiap halamannya dipenuhi tulisan tangan Armand.

Evaluasi keseluruhan calon pasangan.

Latar belakang keluarga, 85.

Kemampuan karier, 95.

Kestabilan emosi, 76.

Risiko kehamilan, 68.

Di bagian paling akhir, tertulis namaku.

Vanda, nilai keseluruhan 89. Dapat dipertimbangkan sebagai calon istri.

Tepat di atas namaku, hanya ada satu baris penilaian.

Irene, nilai sempurna. Tak perlu dinilai untuk urusan pernikahan.

Dari luar pintu terdengar langkah kaki.

Aku buru-buru menutup buku catatan itu. Namun, selembar formulir penilaian pranikah meluncur keluar dari sela-selanya.

Tanggal yang tertera di sana adalah sehari sebelum Armand melamarku.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mentok di Nilai 89   Bab 10

    Pada hari cabang Arsea resmi berdiri, aku dipercaya memimpin proses seleksi perekrutan pertama.Setelah menyelesaikan tes penerjemahan, seorang gadis muda menghampiriku dengan wajah tegang. "Bu Vanda, kira-kira berapa nilai yang akan saya dapat?"Aku menutup buku catatan di tanganku."Kenapa harus ada nilai?""Saya takut kemampuan saya masih belum cukup baik.""Kamu sudah menyampaikan makna aslinya dengan utuh dan berhasil menangani situasi yang nggak terduga. Kalau masih ada yang perlu diperbaiki, pulang dan berlatih lagi."Gadis itu masih tampak ragu."Kalau begitu, apa saya diterima?"Aku menyerahkan kartu identitas kerjanya."Selamat bergabung."Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan menerima kartu itu.Di dekat pintu, Adrian berdiri sambil membawa dua porsi sarapan."Bu Vanda, pewawancaranya saja belum sarapan. Penilaiannya nggak lulus.""Dipotong berapa poin?""Nggak ada potongan."Dia menyodorkan segelas susu kedelai hangat kepadaku."Lain kali jangan lupa sar

  • Mentok di Nilai 89   Bab 9

    Rapat darurat Grup Hantara berlangsung selama enam jam.Ketika akhirnya keluar dari ruang rapat, Armand sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur utama.Dewan direksi menilai bahwa selama ini dia terlalu sering menyalahgunakan wewenangnya dan mengutamakan orang-orang terdekatnya. Sikap tersebut telah menyebabkan kerugian pada sejumlah proyek perusahaan.Kebocoran informasi internal yang dilakukan Irene juga membuat perusahaan harus menghadapi tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar.Ayahnya melemparkan surat pengunduran diri ke hadapannya."Demi seorang wanita, kamu sampai hancurin perusahaan seperti ini. Sekarang kamu puas?"Armand membungkuk dan mengambil surat itu."Ini kesalahanku."Malam itu, dia datang menemuiku untuk menyelesaikan penandatanganan perjanjian restrukturisasi saham yang terakhir.Aku membaca seluruh ketentuannya sebelum mengangkat kepala."Kamu menyerahkan sepuluh persen saham atas namamu sendiri?""Untuk ngasih kompensasi kepada tim luar negeri yang diberhentikan.

  • Mentok di Nilai 89   Bab 8

    Kabar tentang penonaktifan Irene dengan cepat menyebar ke seluruh Grup Hantara.Namun, sebelum perusahaan sempat mengambil langkah lebih lanjut, dia tiba-tiba muncul dalam konferensi pers dan memberikan versinya sendiri."Semua surel itu dikirim sendiri oleh Vanda."Dia mengangkat setumpuk dokumen yang sudah dicetak dan menunjukkannya kepada para wartawan."Dia memang sudah lama berniat meninggalkan Pak Armand. Karena itu, dia sengaja mengalihkan semua kesalahan kepadaku."Seorang wartawan segera mengarahkan mikrofon kepadaku."Nona Vanda, bukti apa yang Anda miliki?"Aku menyalakan proyektor yang sudah disiapkan."Pertama, alamat login saat surel pertama dikirim berasal dari kantor Presiden Grup Hantara."Layar besar menampilkan lokasi login dari sistem kantor tersebut.Ekspresi Irene seketika menegang."Siapa pun bisa masuk ke kantor itu.""Benar. Karena itu, aku juga mengajukan pemeriksaan tulisan tangan dan keaslian cap."Aku mengganti tampilan ke halaman berikutnya."Cap yang digu

  • Mentok di Nilai 89   Bab 7

    Enam bulan berlalu. Aku akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah negosiasi internasional di Jenovia.Begitu keluar dari ruang rapat, Adrian Gunadi menyerahkan termos kepadaku."Dokter sudah nyuruh kamu ngurangin kopi."Aku menerima sambil tersenyum. "Hari ini aku cuma minum satu cangkir.""Minggu lalu kamu juga bilang begitu."Aku tertawa kecil."Pak Adrian sampai harus ngurusin kebiasaan minumku sekarang?""Bukan ngurusin. Aku cuma mengingatkan."Dia menyerahkan catatan rapat yang baru saja kami selesaikan."Nggak ada yang berhak menilai keputusanmu. Termasuk aku."Aku menunduk, memandangi catatan di tanganku.Setelah kembali bekerja, rupanya kebiasaan lama masih sulit kutinggalkan. Tanpa sadar, aku terus memeriksa pekerjaanku berulang kali, bahkan memperbaiki setiap jeda kecil dalam prosesnya.Seusai rapat pertamaku, aku bahkan sempat bertanya kepada Adrian, "Menurutmu, tadi penampilanku gimana?"Dia hanya menjawab singkat, "Sudah selesai. Itu sudah cukup."Kalimat sederhana itu membua

  • Mentok di Nilai 89   Bab 6

    Selama tujuh hari penuh, Armand tidak berhasil menghubungiku.Baru pada hari kedelapan, akhirnya dia berhasil menghubungi mentorku."Di mana dia?"Mentorku menjawab dengan nada dingin, "Memangnya kamu siapa, sampai mencarinya?""Aku suaminya.""Perjanjian perceraian sudah sampai di tanganmu.""Belum aku tanda tangani.""Itu urusanmu."Armand menahan emosi, lalu berkata, "Dia baru saja kehilangan anaknya, dia butuh perawatan. Aku akan jemput dia pulang.""Saat dia paling butuh kamu, di mana kamu?"Sambungan telepon langsung terputus.Armand kemudian menunggu seharian penuh di depan lembaga penerjemahan.Dulu, ketika aku sering lembur hingga larut malam, dia juga pernah menungguku di tempat yang sama.Saat itu aku berlari menerobos hujan. Dia membukakan payung untukku, lalu menyodorkan secangkir kopi panas.Dia berkata, "Kamu selalu jadi prioritas di atas segala hal."Kini, payung yang sama kembali dipenuhi tetesan hujan. Hanya saja, kali ini tidak ada seorang pun yang datang menghampiri

  • Mentok di Nilai 89   Bab 5

    Saat Armand pulang, hal pertama yang dilihatnya adalah dokumen yang tergeletak di atas meja.Tanpa menyalakan lampu, dia langsung mengambilnya dan membalik hingga ke halaman terakhir."Setidaknya dia masih mau menurut."Namun, begitu membaca judul dokumen itu dengan jelas, gerakannya mendadak terhenti.Itu bukan surat kuasa.Melainkan perjanjian perceraian.Separuh isi ruang kerja sudah kosong.Buku-buku, pakaian, dan seluruh dokumen pribadiku telah kubawa pergi.Armand segera mengambil ponsel dan meneleponku. Namun, yang terdengar dari seberang hanya suara pemberitahuan otomatis.Irene menyusul dari belakang dan berkata pelan, "Mungkin Vanda hanya ingin nakut-nakutin kamu. Bujuk saja dia. Nanti juga dia akan pulang.""Dia nggak akan pergi."Setelah mengatakan itu, Armand terdiam sejenak, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri."Dia nggak punya pekerjaan ataupun penghasilan sendiri. Kalau pergi, dia mau ke mana?"Dia membuka pintu kamar dan melihat sebuah kotak tergeletak di sis

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status