LOGINLiya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung."Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men
Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. "Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo
"Xuan!!" Liya terpekik, air mawar yang semula tenang kini bergelombang hebat akibat gerakannya yang tiba-tiba. Wajahnya yang semula pucat karena kelelahan, seketika berubah merah padam hingga ke telinga.Long Xuan sudah berada di dalam bak kayu besar itu. Tubuhnya yang kokoh dan penuh otot tampak berkilau tertimpa cahaya lilin yang temaram. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Tatapannya yang tadi dingin saat menyusun strategi dengan Lu Chen, kini berubah menjadi gelap dan intens, penuh dengan kerinduan yang tak tertahankan."Sst ... jangan berteriak, Shishi. Kau ingin seluruh pasukan Beiyuan mendobrak pintu ini karena mengira ada penyusup?" bisik Xuan, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan wajah Liya."Kau ... sejak kapan kau masuk?" Liya bertanya dengan napas terengah-engah, tangannya secara refleks menutupi dadanya yang terekspos, meski ia tahu itu sia-sia di hadapan suaminya sendiri.Xuan terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh dominasi.
Matahari belum sepenuhnya beranjak dari ufuk timur ketika kabut tipis masih menyelimuti hutan di pinggiran Danxue. Semalaman, Long Xuan tidak kembali ke gubuk persembunyian mereka. Sang Adipati menghabiskan malam yang gundah di bawah naungan pohon tua, hanya ditemani cahaya rembulan yang seolah mengejek kekalutan batinnya. Di sana, di antara akar-akar besar yang mencuat, ia akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan emosional yang luar biasa setelah mengetahui rahasia garis keturunannya.Berbeda dengan Xuan, Liya justru tidak memejamkan mata sedetik pun. Bukan kegundahan Xuan yang menjadi pusat pikirannya, melainkan wanita yang masih terbaring kaku di atas meja kayu yang dijadikan tempat tidur darurat. Na Ying masih tersiksa demam tinggi akibat luka tusuk yang dalam. Semalaman, Liya dengan telaten mengganti kain kompres di dahi pendekar wanita itu, memastikan panas tubuhnya tidak melampaui batas yang bisa merusak kesadaran. Na Ying tidur tertelungkup, napasnya terdengar berat namun
Air mata yang membasahi dada Xuan kian menderu, beradu dengan isak tangis Liya yang pecah di tengah keheningan gubuk. Liya menyadari bahwa beban rahasia ini terlalu pekat untuk dipikul sendirian. Ia menengadah, menatap paras ksatria yang selama ini berdiri kokoh sebagai pelindungnya, namun kini tampak begitu rapuh di bawah bayang-bayang ketidaktahuan. Tanpa sepatah kata, Liya merangkum wajah Xuan dengan kedua tangannya. Ia mencium suaminya, bukan dengan gairah yang menuntut, melainkan sebuah kecupan yang sarat akan pengabdian dan penghiburan. Ia ingin menyalurkan seluruh kekuatannya melalui tautan bibir itu, meyakinkan Xuan bahwa apa pun badai yang menerjang setelah ini, ia tidak akan pernah melepaskan genggamannya. Xuan awalnya terpaku, namun ia segera membalas ciuman itu dengan lembut. Di atas dipan sempit itu, dalam pelukan yang kian erat, Liya membiarkan dirinya berada dalam kuasa Xuan yang menyesapnya dalam-dalam, hingga napas suaminya yang tadinya memburu perlahan mulai tena
Angin sore menderu di celah-celah dinding kayu gubuk tua di tengah hutan terpencil. Di bawah temaram cahaya lilin yang bergoyang, suasana mencekam masih terasa meski hiruk-pikuk pedang di penginapan telah jauh tertinggal. Semalam, seseorang yang merasa iba pada pelarian mereka, telah merelakan kereta gerobaknya untuk membawa ketiganya menjauh, hingga menemukan tempat persembunyian di tengah hutan itu. Long Xuan duduk di atas dipan sempit, wajahnya pucat namun sorot matanya tetap tajam. Di depannya, Na Ying terbaring telungkup di atas meja dengan napas yang satu-satu. Sebilah pedang masih tertancap di punggung wanita itu, dengan darah yang mulai mengering. "Xuan, kainnya sudah siap," bisik Liya. Ia menyerahkan tumpukan kain yang disobek dari jubah hanfu-nya sendiri. Wajahnya yang jelita kini kotor oleh debu dan noda darah, namun jemarinya tetap cekatan. "Nan Ying, tahan sebentar. Aku akan menarik pedang dari punggungmu,"bisik Xuan sambil memberikan sebilah kayu untuk digigit yang
Suasana di kamar kecil itu perlahan mulai mendingin, menyisakan aroma uap air panas dan sisa-sisa perjuangan hidup-mati. Nie Lian kini telah dipindahkan ke atas dipan yang bersih dan kering. Teman-teman sesama pelayannya, dengan tangan gemetar namun penuh rasa syukur, telah mengganti pakaiannya
Liya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti meng
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengku
Parang tajam itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Liya ketika sebuah deru kencang membelah kesunyian. Suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta mendekat, dibarengi teriakan melengking yang menggetarkan nyali."Lepaskan dia dan menyerahlah, tikus-tikus menjijikkan!"Sesosok







