登入Malam di Gunung Yu terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam kamarnya, Xiao Cui duduk gelisah di tepi dipan. Jemarinya terus mengusap permukaan halus gelang giok berwarna hijau lumut di tangannya. Kata-kata Fan Yi sore tadi terus terngiang seperti gema yang tak mau hilang. “Tanya pada Nyonya jika kau tidak mengerti.”Rasa penasaran yang membuncah akhirnya mengalahkan rasa kantuknya. Dengan langkah ragu, ia menyusuri koridor kayu menuju kamar Liya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Nyonya Mudanya sedang duduk tenang menyeduh teh, uap hangatnya menari-nari ditiup angin malam."Nyonya ... Nyonya belum tidur?" bisik Xiao Cui setelah mengetuk pelan.Liya mendongak dan tersenyum lembut. "Belum, Xiao Cui. Tuanmu masih di aula, memberikan arahan terakhir untuk pasukan yang akan berangkat fajar nanti. Kau sendiri kenapa belum istirahat?"Xiao Cui menggeleng, lalu masuk dan duduk bersimpuh di dekat meja teh. Wajahnya tampak mendung oleh keresahan yang nyata. "Ada sesuat
Aula utama markas Gunung Yu terasa mencekam. Udara dingin pegunungan menyelinap di antara celah dinding kayu, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau besi dari senjata-senjata yang diasah. Di tengah ruangan, Long Xuan berdiri menatap peta wilayah Beiyuan yang terbentang di atas meja batu, sementara Fan Yi dan beberapa perwira bandit lainnya menyimak dengan saksama."Jadi, Murong Guan benar-benar akan merekrut prajurit baru dalam skala besar?" tanya Long Xuan, suaranya berat dan bergema di langit-langit aula."Benar, Ketua," jawab salah satu mata-mata yang baru saja kembali. "Kekalahan telak pasukannya di perbatasan tempo hari membuatnya paranoid. Ia butuh tenaga baru untuk memperkuat benteng Beiyuan."Long Xuan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang menandakan strategi sedang tersusun di kepalanya. "Ini adalah celah yang kita tunggu. Kita akan menghancurkan mereka dari dalam. Jika kita menyerang dari luar, tembok Beiyuan terlalu kokoh, tapi jika rayap sudah ada di dal
Matahari sudah merangkak tinggi, cahayanya menembus celah-celah kisi jendela paviliun dan jatuh tepat di atas wajah Liya. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang terasa tertinggal di alam mimpi. Ketika ia mencoba menggerakkan bahunya untuk meregangkan tubuh, rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke seluruh persendiannya. Tubuhnya terasa seolah baru saja dipaksa menempuh perjalanan ribuan mil tanpa henti. "Oh, Xuan ... kau benar-benar binatang buas," gumam Liya dengan suara parau. Ia menyingkap selimut sutranya sedikit dan mendesah pasrah. Di bawah cahaya pagi yang terang, tanda-tanda merah keunguan berserakan di leher, bahu, hingga dadanya, jejak-jejak absolut dari kegilaan suaminya yang seolah ingin membalas dendam atas tiga tahun pernikahan yang hambar hanya dalam satu malam. Tok, tok, tok. "Nyonya, ini Xiao Cui. Hamba diminta membangunkan Nyonya karena matahari sudah tinggi. Hamba juga sudah menyiapkan air hangat untuk Nyonya berendam,
Cahaya lilin di sudut ruangan berkedip lemah, seolah malu menyaksikan dua tubuh yang kini saling membelit di atas dipan kayu yang berderit keras. Udara di dalam kamar terasa semakin tipis, dipenuhi oleh aroma balsem herbal yang bercampur dengan hawa maskulin Long Xuan yang membakar.Tangan Xuan yang kasar namun penuh perasaan merayap perlahan dari pinggang menuju punggung polos Liya. Ia menarik tubuh istrinya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Liya bisa merasakan detak jantung Xuan yang berdebar kencang, seirama dengan degup jantungnya sendiri yang seakan ingin melompat keluar.Xuan menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Liya dengan tatapan yang sangat intens. "Apakah kau yakin, Shishi? Aku tidak ingin memaksamu jika kau belum siap. Kau nanti akan menanggung penyakit Darah Iblis juga."Liya menggeleng, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam Xuan yang lembap, menarik pria itu kembali mendekat. "Jangan berhenti ... aku ingin menjadi milikmu seutuhnya malam ini. Aku tidak
Malam merayap semakin larut di markas Gunung Yu. Aroma tanah basah dan sisa asap yang menempel di pakaian para prajurit perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut. Seluruh Pasukan Bandit Gunung Yu telah kembali ke markas. Di dalam kamar Ketua, udara terasa begitu kaku, seolah-olah ketegangan siang tadi belum sepenuhnya menguap. Liya berdiri mematung di dekat meja kayu, tangannya gemetar saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen. Di belakangnya, ia bisa mendengar derap langkah Long Xuan yang berat. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri di sungai, rambutnya yang hitam panjang masih tampak lembap, menjuntai di bahunya yang lebar. "Minumlah," ujar Liya pendek tanpa menoleh. Suaranya dingin, sedingin embun malam di puncak gunung. Long Xuan menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sambil matanya terus mengunci punggung istrinya. "Terima kasih, Shishi." Liya tidak menyahut. Ia melangkah ke lemari kayu, mengambil setelan jubah tidur yang b
Langit Desa Qing Lu yang biasanya biru jernih kini tertutup jelaga kelabu yang menyesakkan dada. Aroma kayu terbakar dan jerit histeris penduduk desa memecah keheningan siang. Long Xuan, dengan wajah yang tercoreng abu dan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri di tengah kekacauan, memerintah pasukannya dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. "Wan Yi, bawa beberapa orang! Bantu padamkan api di sebelah sana sebelum merembet ke lumbung!" teriak Xuan sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan yang sudah dilalap si jago merah. "Siap, Ketua!" Wan Yi menyahut lantang, segera memimpin sekelompok pria berbaju gelap menuju rumah tersebut. Penduduk desa bahu-membahu dengan para bandit Gunung Yu, mengalirkan air dari sumur-sumur terdekat menggunakan ember kayu. Telinga Xuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara lirih di tengah deru api. Sebuah teriakan melengking dari dalam rumah yang atap ilalangnya sudah hampir runtuh sepenuhnya. "Ketua, sangat berbahaya jika kita masuk se
Liya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti meng
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengku
Debu beterbangan di lereng bawah Gunung Yu saat derap kaki kuda pasukan khusus "Gagak Hitam" terhenti seketika. Di barisan paling depan, Long Xuan menarik tali kekang kudanya dengan sentakan kasar hingga hewan itu meringkik nyaring. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya memancarkan kedinginan mau
Malam makin merayap di Paviliun Phoenix, namun suasana di dalam kamar Long Xuan masih terperangkap dalam sisa-sisa ketegangan malam yang liar. Song Liya terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia baru saja menyentuh rahasia terbesar suaminya, tanda lahir daun lotus itu, ketika sebuah gerakan t







