Se connecterMerebut Hati Sang Direktur (2)
*** "Tadi Ibu bilang, katanya kamu nggak usah hadir di acara tujuh bulanannya Mila!" Degh! Apa-apaan ini?! "Ibu terlanjur kecewa sama kamu, Nes. Sebagai menantu kamu dinilai nggak bisa membahagiakan hati mertua!" Aku meneguk ludah, apakah aku berkewajiban membahagiakan hati mertua hingga harus membuat tabunganku melorot?! Aku menghela nafas panjang. Jadi, aku betul-betul tak diinginkan di acara tersebut?! "Baik, jika itu yang Ibu inginkan. Aku nggak akan datang," sahutku, kembali menikmati tontonan televisi yang sedang berlangsung. Jantungku berdegup lebih kencang. Sejujurnya aku ingin marah, semarah-marahnya. Namun, energiku sudah habis. Kerjaan di kantor, dan beban yang begitu berat. Membuatku tak ingin kembali menguras tenaga! "Kamu tahu? Ibu, sampai harus minjem ke rentenir demi keberlangsungan acara Mila. Hal yang sebelumnya nggak pernah Ibu lakuin," ucapnya lagi, dengan nada yang mulai meninggi. Dahiku mengernyit, oooh jadi beliau sampai segitunya ya? "Nggak akan barokah, percaya sama aku!" Aku menggigit bibir. Nafas ini sudah tak beraturan, keluarga macam apa sih mereka? Anak belum keluar aja udah nyusahin! Harusnya mereka mikir, ada after setelah melahirkan yang butuh biaya banyak banget. Bukannya jor-joran di tujuh bulanan ini, aku yang belum punya anak aja ngerti, kenapa mereka seakan dibutakan?! "Kamu ngerti apa sih soal barokah? Pengajian juga nggak pernah, bener kata Ibu. Kamu tuh harus ikut pengajian, biar tahu cara yang bener memperlakukan mertua." Brak!! Aku berdiri dengan menatap tajam pada suamiku, Mas Arfan. Kesabaranku seakan sudah dititik paling akhir! "Bukan berarti aku nggak pernah pergi ke pangajian, lantas aku nggak tahu apa itu namanya barokah?! Acara tujuh bulanan, nggak perlu sampai harus ngundang orang sekampung. Lakukan dengan sederhana, karena Mila akan butuh biaya yang lebih besar saat dan after lahiran nanti!" "Orangtuaku di sana, itu sangat disegani. Sudah pasti acara apapun itu harus yang megah, ngundang orang banyak. Kalau kamu nggak setuju dengan ini, yaudah kamu nggak perlu datang. Karena Ibu emang nggak akan ngundang kamu!" Ucapnya, sambil lalu usai memporak-porandakan hatiku! Arggggggh! Lagi, aku menangis. Pernikahan macam apa ini? Harusnya setelah Mas Arfan menjadi pengganguran, dia makin sadar. Bukan malah makin nggak jelas, dan ngikutin keluarganya itu. Salahku, yang terlalu memberi sedari awal. Kupikir, Ibu dan Bapak akan lebih bersikap baik. Sedikit menerima kekuranganku, yang memang belum memberi seorang cucu. Nyatanya, mereka yang keenakan. Justru terus merongrong, aku bekerja untuk diriku sendiri. Oke untuk suami, boleh berbagi pada keluarganya dengan secara wajar bukan? Ternyata, ketampanan dan sikap baikmu saat kita belum menikah. Itu hanya kamuflase! *** "Loh, ini ada acara apa ya?" tanyaku, demi menatap beberapa orang di dapur. Tanpa sepengetahuanku sebelumnya, mereka tampak sibuk membuat sesuatu. "Mereka lagi bikin kue, dan segala macem. Buat acaranya Mila," ungkap, Mas Arfan. Yang tampak cuek! "Oke, tapi, kenapa di sini? Kenapa nggak di rumah Ibu aja?" "Di rumah Ibu juga lagi sibuk, bikin banyak hal. Udahlah, mereka cuma buat kue doang. Kamu kalau nggak mau bantu, atau cuma ngerecokin udah ke kamar aja nggak usah ikut nimbrung." Sesinis itukah dia sama aku? "Oke, aku emang nggak ada niat buat bantu-bantu, kok. Tapi, tolong ya. Ibu-ibu, kalau masaknya udah beres. Dirapikan dan bersihkan kembali, mohon pengertiannya. Terima kasih," titahku, yang membuat mereka semakin menunduk. Bagus! Kenapa kehadiran mereka, dan ucapan Mas Arfan membuat mood soreku ini semakin memburuk?! "Ness, kamu nggak seharusnya gitulah sama mereka. Mereka itu dikejar waktu, kayaknya nggak akan bisa kalau harus disuruh beresin juga." Mas Arfan, terus mengikutiku hingga kami mencapai pintu kamar. "Oh ya? Bukannya acaranya itu besok? Bersih-bersih doang, aku pikir itu salah satu tugas mereka ya. Abis bikin kekacauan, terus mereka pergi gitu aja? Emang kamu mau beresin semuanya sendiri?" "Ya nggaklah, itu tugas kamu. Kamu kan nggak bantuin biaya, hadir juga nggak besok. Ya minimal kamu ada gunanyalah," jawaban Mas Arfan semakin membuatku bertambah muak! "Bagian mana aku nggak ada gunanya buat kamu, Mas? Kamu nggak kerja, dan itu sudah hampir berbulan-bulan. Siapa yang ngasih kamu makan? Mobil siapa yang ngisi bensin? Siapa yang beliin kamu rokok? Kalau bukan aku! Aku yang kamu bilang nggak guna itu?! Nafasku tersengal. Bahkan aku tak sadar, sempat menunjuk-nunjuk wajahnya dengan emosi berkali-kali lipat. Mas Arfan membawaku ke dalam kamar, dan terus menguncinya. Seakan tak mau ada yang mendengar, jika dia memang hanya seorang pengangguran yang nggak tahu diri! "Kamu kenapa sih harus bahas-bahas itu? Kalau mereka denger gimana?" "Biarin mereka tahu, Mas. Kalau laki-laki yang selalu dibanggakan Ibunya, itu nggak ada apa-apanya!" Plak!! Mas Arfan menamparku? Jadi, sekarang dia sudah mulai main tangan? "Ness, aku nggak bermaksud. Aku ... Kelepasan." Aku menggeleng lemah, tak percaya dengan apa yang baru dia lakukan. "Keluar! Dan pastikan dapurku beres dari kotoran apapun itu, keluar!" Kukunci pintu kamar, menangis sejadi jadi-jadinya. Apakah ini yang dinamakan pernikahan? Kenapa harus sesakit ini? Ke mana Mas Arfan yang dulu? Dulu, begitu tampan, manis, kenapa setelah menikah beberapa tahun dan tak kunjung dikaruniai seorang anak sikapnya, juga keluarganya jauh berbeda dengan yang kutemui sedari awal?! Tanganku mengepal kuat, pipi yang terasa panas. Hati yang begitu sakit, membuatku tak ingin lagi diperlakukan sedemikian rupa! Akan kutunjukan siapa aku yang sebenarnya? Aku memang sebatang kara, tapi, dengan harta yang kupunya jelas aku mampu berdiri tanpa Mas Arfan dan keluarganya yang parasit itu! "Udah kalian fokus kerja, nggak usah dengerin istri saya. Biasalah Ibu-ibu kalau lagi pms, ya gitu ngomongnya suka ngelantur." Darahku semakin mendidih, apa katanya barusan?! Mas Arfan seakan sengaja, meninggikan suaranya keras-keras! Lihat saja kamu, Mas! Kamu jelas bukan siapa-siapa tanpa aku! Aku menggigit bibir, duduk termenung memikirkan banyak ide. Apa yang harus aku lakukan? Aku jelas tidak ingin terus-menerus hidup dalam kekangan! Ketidakbebasan! Ternyata, after menikah tak seindah bayanganku dulu. Dulu semua terasa indah, terasa berwarna. Cinta memang buta, aku sampai tertipu oleh sikap manisnya Mas Arfan. "Gimana, Fan semua aman?" Dahiku mengernyit, suara Ibu mertua seakan mendominasi. "Aman, Bu. Nessa juga udah di kamarnya, tadi sempat ada cek cok sedikit. Biasalah." "Bikin ulah apa lagi istrimu itu, Fan? Acara ini harus sukses, Ibu nggak mau gagal di mata para tetangga." Aku tak habis pikir, kenapa sifat mereka yang kayak begini justru terbukanya baru sekarang?! Kalau tahu lebih dulu, jangankan untuk menikah dengan Mas Arfan mengenalnya pun aku sepertinya tak sudi!MHSD (9)POV Arfan**"Sudah dua hari kita menggembel di kontrakan sempit ini, Arfan!" Aku menghela nafas panjang, siapa sangka ternyata perkiraanku salah! "Mana yang katamu bilang, kalau si Nessa bakalan datang mengemis. Jangankan datang, menelponmu pun dia jelas tak sudi!"Rahangku mengeras. Tangan mengepal kuat, ada apa dengan, Nessa? Tak biasanya dia begini, dulu kalau lagi ada masalah. Apapun bentuknya, dia yang akan lebih dulu meminta maaf. Mengalah, demi kami tetap bersama.Sekarang? Kenyataan apa yang sedang kuhadapi?!"Ini semua gara-gara ulah kalian! Segala pamer kemesraan di depan Nessa, begini kan jadinya?!" Ucapan Ibu, bukannya membantu malah semakin membuatku runyam!Kulirik ponsel mahalku, bahkan Nessa juga yang membelikannya. Semua permintaanku akan dia kabulkan, dia jelas kecintaan. Sebucin itu sama aku, tapi, aku yang bodoh!"Mas, aku lapar!" rengek, Milla. Dengan tampilannya yang makin lusuh, dulu aku menikahinya karena dia menarik.Wajahnya tak secantik dulu, bany
MHSD (8)**Aku pulang dengan rasa lelah, bukan hanya fisik tapi, batin! Rentetan chat dari Mas Arfan, tak ada satupun yang kubalas. Bahkan telpon darinya pun tak ingin kuangkat, hubungan pasutri seperti apa yang sedang kita jalani ini?Suara gelak tawa dari arah ruang tengah, kudengar sangat menggelegar. Membuat dada bertambah panas, kupikir mereka akan jera!Netraku membulat, melihat kedekatan Mas Arfan dan Mila yang tak biasa. Mila yang sedang tiduran di atas paha suamiku, apa-apaan ini?!Mereka tampak intim, jatohnya bukan seperti adik kakak!Dan suaminya pun, tampak sibuk memainkan game dengan cemilan yang bekas plastiknya berhamburan!"Mas!" Semua mata menatapku dengan ketus, padahal aku yang punya rumah. Aku yang berhak, bahkan sangat bisa aku mengusir semuanya saat ini juga!Mila masih tiduran di pangkuan suamiku, begitu manja. Dan yang di sekitarnya biasa saja, seakan hal ini sudah biasa dilakukan."Kupikir kamu bakalan nginep di kantor, kepincut Direktur kaya itu!" Tangank
MHSD (7)**"Mematikan telpon pada saat orang belum selesai bicara, itu bukan sebuah tindakan yang sopan!" Aku meneguk ludah, berdiri tegak di hadapan Direktur. Mati aku!"Siap, salah, Pak. Itu, a-nu ....""Anu kenapa? Kamu mau cari alasan apa?" Bicara begitu, Direktur sambil memasukan satu tangannya pada kantung sisi kanan. "Ya itu, tadi saya lagi di jalan. Nyetir sendiri, jadi takut nggak fokus. Jelas keselamatan nomor satu dong, Pak. Bukan begitu?" "Banyak alasan! Kan kamu bisa pake earphone!" "Nggak kebawa, Pak. Tadi buru-buru." Banyak tanya banget sih, Direktur!Harus banyakin sabar, Ness. Demi sesuap nasi, ingat ada suami juga yang harus dinafkahin. Malah kebalik kan!"Suami kamu nggak kerja?" Aku mendongak, untuk apa Direktur bertanya itu?"Nganggur, Pak. Sudah beberapa bulan ini," kataku, yang jadi malu."Ya cari kerja dong, usaha. Bukan malah tambah nyusahin kamu!" Aku tersenyum getir, harusnya dia ngomong langsung sih sama Mas Arfan. Bukan sama aku!"Bukannya saya mau n
MHSD (6)**Aku pulang dengan tubuh yang lelah, kerjaanku kembali bertambah dengan hadirnya Cassie di kantor. Sepertinya setelah ini aku harus mencarikan orang, untuk mengurus anaknya Direktur itu. Gila aja, aku yang harusnya fokus kerja malah harus momong anak juga!Dahiku mengernyit, suara-suara bising terdengar begitu menusuk di ruang tengah. Ada tamukah? Kenapa aku nggak tahu?!"Ibu? Mila?!" Aku meneguk ludah, pemandangan macam apa ini?! "Ada apa ini, Mas? Kok, kamu nggak bilang kalau Ibu akan datang?"Bukan hanya Ibu dan Mila, Mas Arfan juga ikut serta memboyong suaminya Mila! Apa-apaan sih ini?"Memangnya kenapa, Nessa? Kamu nggak suka kalau Ibu nginep di rumahmu yang gedongan ini?"Hah, apa? Mereka mau nginep? Yang bener aja sih?!"Aah, Ibu mau nginep? Mila juga sama suaminya?" Aku pura-pura polos, kaget dan bingung."Ya iyalah, orang rumah Ibu disita." Netraku membulat, plot twist apalagi sih ini?"Udahlah, Nessa. Kamu jangan pelit! Rumah kamu ya rumah Arfan juga, anak Ibu.
Merebut Hati Sang Direktur (5)***"Masih sore, udah tidur aja kamu, Mas." Aku mengendikan bahu, ia tampak membelakangiku. Capek kali ya, abis acara tujuh bulanan? Pasti badan remuk, mungkin acaranya lebih mirip ke pesta nikahan kalau aku nggak salah nebak."Kasihan aku sama Ibu, abis acara bukannya seneng. Utang malah di mana-mana," katanya, membuatku terkikik pelan. "Kamu seneng, Ness? Bisa-bisanya!""Ya gimana nggak? Aku bahkan udah pernah bilang, tujuh bulanan tuh biasa aja. Nggak usah yang heboh gimana-gimana," sahutku, merasa puas mendengarnya.Andai aku ada di acara itu, setidaknya aku bisa menyaksikan wajah-wajah keluarga Mas Arfan yang panik, hahhahaa."Ini soal harga diri, Ness. Kamu nggak akan ngerti, percuma punya banyak duit kalau cuma buat ditimbun. Dosa kamu, nggak bantuin mertua!" Mas Arfan menatapku nyalang, apa katanya dosa?!"Aku bahkan baru sekali ini aja nggak bantu kamu, Mas. Tapi, kamu bicara seakan aku nggak pernah bantu." Miris!Aku melipat kedua tangan di d
Merebut Hati Sang Direktur (4)***"Oh really? First time loh, anaknya Pak Direktur mau diatur begitu." Reina tampak antusias, usai mendengar penuturanku pagi ini."Maybe, dia lagi capek aja nggak sih? Kemarin tuh aku cuma ngasih makanan yang dia suka, terus aku juga nggak banyak omong. Takut dianya nggak nyaman, dia lebih banyak main gadget sih." Aku pikir, anak kecil itu fotocopyan Bapaknya banget. Jadi akunya yang harus paham, kapan masuk. Kapan cuma diam aja ada untuk menemani, meksipun lelahnya bukan hanya di fisik aja kemarin tuh."Ness, andai aja kita berdua tuh masih single. Kita sama-sama bersaing buat dapetin hatinya Pak Direktur, aaaaaaah gemeees." Aku mendelik heran, Reina masih saja menggatal!"Dan untungnya, kamu udah punya laki! Udah deh nggak usah halu!" Capek banget tiap hari, harus ngeladenin omongan-omongan Reina yang kadang di luar nalar itu.Aku dan Reina berpisah, kembali pada ruangan masing-masing. Hari ini aku harus lebih fokus lagi, nggak peduli dengan perdeb







