Share

22. Bersembunyi

Author: Marssky
last update publish date: 2026-05-10 19:22:17

"Ngapain dia di sini? Apa dia tinggal di lingkungan ini juga?" gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri.

Aku terus memperhatikan sosok itu sampai dia hilang di balik pintu mobil. Rasanya aneh, bagaimana bisa dunia sesempit ini.

"Lihat apa kamu, Nak? Kok melamun?"

Suara Ayah membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan langsung menoleh.

"Yah, apa Mas Daren dan Kak Alda juga tinggal di sini?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Ayah kelihatan kaget mendengar pertanyaanku. "Gimana kamu bisa tahu?"

Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Merebut Suami Kakakku   32. Pulang Bersama

    Mas Daren tidak langsung menjawab sapaan Rafa. Pria itu perlahan berlutut di atas lantai marmer, menyamakan tingginya dengan putraku. Tatapannya begitu lekat."Iya, ini Om yang tadi," jawab Mas Daren dengan suara yang terdengar sedikit serak. Dia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Kuenya enak, Rafa?""Enak banget, Om! Om mau?" Rafa dengan polosnya menyodorkan piring kecilnya, membuat Mas Daren tertegun menahan gejolak emosi di dadanya.Ayah yang menyadari kehadiran menantunya itu langsung menepuk pundak Mas Daren. "Eh, Daren. Kamu dari mana saja? Itu sudut bibirmu kenapa? Kok agak merah begitu?" tanya Ayah dengan nada menyelidik, menatap memar kecil di wajah Mas Daren.Pertanyaan Ayah membuat suasana mendadak tegang. Mas Daren sempat melirikku sekilas sebelum kembali menatap mertuanya itu dengan tenang. "Ah, ini tidak apa-apa, Yah. Tagi di luar agak gelap, Daren kurang hati-hati dan sempat terserempet ranting pohon yang agak rendah."Aku hanya bisa mencibi

  • Merebut Suami Kakakku   31. Ciuman Paksa

    "Aku tidak percaya!"Suara Mas Daren menggelegar di keheningan taman sepi itu. Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, dia kembali memburu langkahku. Dengan satu sentakan kasar, dia memutar tubuhku hingga punggungku membentur batang pohon besar di belakangku.Kedua tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan kepalaku. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh amarah dan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun."Jangan bohongi aku, Alina! Aku bukan orang bodoh!" bentaknya, napasnya yang panas menerpa wajahku. "Kamu bisa menyangkalnya sekeras apa pun, tapi mata anak itu, senyumnya, bahkan caranya menatapku tadi... itu darah dagingku! Katakan yang sebenarnya! Mengaku, Alina!""Bukan!" teriakku tepat di depan wajahnya, mataku balas menatapnya dengan penuh kebencian yang dipaksakan. "Dia bukan anakmu! Sampai mati pun dia bukan anakmu, Daren!""Alina!!"Kemarahannya pecah. Kehilangan kendali atas penolakanku yang begitu keras, Mas Daren tiba-tiba menundukkan kepalanya. Sebelu

  • Merebut Suami Kakakku   30. Rafa Anakku?

    Tanpa memedulikan tatapan beberapa pasang mata yang mungkin menyadari pergerakan kami, Mas Daren tiba-tiba melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh langsung menyambar pergelangan tanganku, mencengkeramnya erat, lalu menarikku paksa membelah kerumunan tamu menuju pintu keluar darurat di sudut ballroom."Mas! Lepas! Apa-apaan sih?!" desisku tertahan, mencoba menahan langkah kakiku di atas lantai marmer.Aku tidak bisa berteriak kencang karena tidak ingin membuat keributan di pesta kolega Ayah, namun aku terus memberontak, berusaha menyentak tanganku dari genggamannya.Mas Daren sama sekali tidak bergeming. Dia terus menarikku menyusuri lorong sepi yang menuju ke arah taman samping hotel yang pencahayaannya cukup temaram.Begitu kami tiba di area taman yang sepi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menyentak tanganku kembali. "Lepas, Mas Daren! Kamu gila, ya?!" bentakku dengan suara tertahan, napas daku memburu karena emosi.Aku melangkah mundur satu pijakan, memegangi pergelang

  • Merebut Suami Kakakku   29. Kenapa Menatapku?

    Mas Daren menatap uluran tanganku seolah-olah tangan itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Tangannya yang besar perlahan terangkat, bergetar sedikit saat telapak tangan kami akhirnya bersentuhan. Genggamannya begitu erat, seolah-olah ia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali menghilang bagai asap."Alina... ini benar-benar kamu?" bisiknya lirih, mengabaikan kebisingan suara denting gelas dan obrolan para pengusaha di sekitar kami. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun."Iya, Mas. Ini aku," jawabku tenang, tetap mempertahankan senyum anggun di bibirku. Aku dengan sengaja menarik tanganku perlahan dari genggamannya sebelum ada orang lain yang menyadari keintiman yang janggal ini.Sengaja ingin menyiksanya dengan rasa penasaran, aku langsung memutar tubuh, mengabaikan Mas Daren yang masih terpaku. Aku beralih pada kolega Ayah yang berdiri di sebelah kami, melempar senyum manis dan mulai menanggapi obrolan mereka tentang bisnis dan kabark

  • Merebut Suami Kakakku   28. First Meet

    Malam pun tiba, membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Rafa makan malam dan kembali terlelap di kamarnya, aku berjalan menuju balkon lantai dua. Aku sengaja tidak menyalakan lampu balkon, membiarkan diriku melebur dalam kegelapan malam sambil memandangi rumah di ujung sana.Benar saja dugaan dugaanku. Mas Daren masih belum tenang.Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat siluetnya di balik jendela kaca ruang kerjanya yang terang di lantai dua rumahnya. Dia berjalan mondar-mandir, sesekali menyibakkan gorden dan menatap ke arah rumahku. Dia tampak seperti pria yang kehilangan arah, tersiksa oleh teka-teki yang sengaja kubiarkan menggantung.Sementara itu, di lantai bawah rumah mereka, lampu ruang tengah tampak temaram. Aku bisa membayangkan bagaimana dinginnya atmosfer di dalam sana. Kak Alda pasti sedang kebingungan menghadapi sikap suaminya yang mendadak jauh lebih berubah menjadi lebih sekat dan melamun sejak pulang dari minimarket tadi pagi.Aku menyilangkan d

  • Merebut Suami Kakakku   27. Jangan Terburu-buru

    Seluruh tubuhku rasanya seperti tersengat listrik. Kesadaran bahwa penyamaranku hampir terbongkar dalam detik pertama membuat instingku langsung mengambil alih.Tanpa menjawab sepatah kata pun, aku memalingkan muka, menjatuhkan keranjang belanjaan kosong begitu saja ke lantai, dan melangkah cepat melewati tubuhnya. Aku setengah berlari menuju pintu keluar minimarket."Alina! Tunggu!"Suara Mas Daren terdengar panik. Dari suara derap langkahnya yang tergesa-gesa, aku tahu dia berbalik dan langsung mengejarku. Langkahnya yang lebar dengan cepat memangkas jarak di antara kami.Tanganku baru saja hendak mendorong pintu kaca minimarket ketika langkahnya hampir berhasil meraih pundakku."Mas Daren! Kamu mau ke mana?!"Suara cempreng Kak Alda tiba-tiba menggema, melengking dari arah kasir. Langkah kaki di belakangku mendadak terhenti."Itu tisunya udah ketemu, kok malah kamu tinggal sih? Mas!" panggil Kak Alda lagi, nada suaranya terdengar kesal dan menuntut perhatian.Celah beberapa detik i

  • Merebut Suami Kakakku   20. Menghancurkannya Pelan-Pelan

    Ayah terlihat sangat marah kali ini.“Cukup, Bu!” bentaknya. “Jangan keterlaluan!”Namun Ibu tetap bersikeras.“Kalau kamu mau menerima dia silakan. Tapi jangan harap aku akan melakukan hal yang sama.”Aku berdiri diam di tempatku, menatap wajah wanita yang melahirkanku itu. Empat tahun berlalu tap

  • Merebut Suami Kakakku   19. Sikap yang Sama

    “Ibu…!”Rafa yang tadi terjatuh langsung berlari ke arahku. Ia memelukku erat sambil menyembunyikan wajahnya di perutku. Tubuh kecilnya gemetar ketakutan.Aku membelai kepalanya pelan, mencoba menenangkannya, meski sebenarnya dadaku sendiri terasa sesak.Perlahan aku mengangkat wajah dan menatap wa

  • Merebut Suami Kakakku   18. Kembali

    Akhirnya aku sampai di depan rumah orang tuaku.Saat ini aku masih duduk di dalam taksi, bersama Rafa yang tertidur pulas di pangkuanku. Kepalanya bersandar nyaman, napasnya teratur seolah perjalanan panjang ini sama sekali tidak melelahkannya.Aku menatap lurus ke depan. Rumah itu, masih berdiri k

  • Merebut Suami Kakakku   17. Empat Tahun Berlalu

    “Kamu yakin ingin pulang sekarang?”Aku mengangguk mantap. “Sudah empat tahun aku di sini. Sudah waktunya aku pulang. Kasihan Ayah, dia sudah terlalu lama menunggu kepulanganku.”“Tapi Nenek khawatir. Bagaimana kalau ibumu murka saat mengetahui kebenarannya? Nenek takut kamu kembali diusir olehnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status